Tampilkan postingan dengan label my notes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my notes. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 November 2012
The Best Santri Meraih Hadiah Umroh 2013
Santri kami ini bernama Ibrahim. Dia sekarang kelas XI IPS di SMA Maryam Surabaya. Bulan yang lalu santri kami ini mendapatkan penghargaan sebagai The Best Santri atas prestasi yang telah dia ukir. Ibrahim ini orangnya biasa-biasa saja. Berdasarkan test IQ yang dia jalani, diketahui bahwa skor IQnya di bawah rata-rata. Dia juga memiliki kesulitan untuk berkomunikasi secara verbal, agak gagap. Nilainya di sekolahan juga biasa-biasa saja, tidak istimewa. Namun begitu, santri yang hobi melukis ini memiliki berbagai kelebihan yang jarang atau bahkan tidak dimiliki oleh santri lain di Pondok Darul Hikmah. Pertama, Ibrahim merupakan santri yang paling rajin jama'ah sholat. Dia tipe otomatis. Kalau mendengar adzan otomatis segera mengambil wudlu dan siap sedia melaksanakan sholat berjama'ah di musholla atau masjid. Kedua, Ibrahim adalah santri yang rajin belajar dan memiliki kemauan keras untuk bisa. Seperti yang sudah kami sampaikan di awal, IQnya di bawah rata-rata, jadi perlu ketelatenan ekstra untuk mendampinginya belajar. Namun begitu, semangatnya yang terus menyala-nyala membuat siapa saja rela untuk bersabar dalam mendampinginya belajar. Justru inilah poin plus bagi dia. Dia selalu ingin bisa. Walaupun dia tahu bahwa dia kesulitan, dia tetap ingin belajar dan belajar. Ketiga, Ibrahim merupakan santri yang tidak pernah atau sangat jarang melakukan pelanggaran baik di pesantren maupun di sekolah. Di pesantren dia sangat sregep mengikuti kegiatan dan pengajian. Dia biasa datang di sekolah tepat waktu dan hampir tidak pernah membuat guru-guru di sekolah marah. Keempat, Ibrahim adalah santri yang suka bersih dan rapi. Dia senantiasa menjalankan tugas piket dengan maksimal. Bersih cling. Karena semua itulah, banyak orang yang menyukai Ibrahim dan hampir tidak ada orang yang memusuhinya. Dan akhirnya di bulan yang lalu, kami menganugerahi dia sebagai The Best Santri Darul Hikmah. Kami memberinya hadiah satu kardus yang berisi mie instan, sarung, sajadah, buku gambar dan crayon (dia hoby melukis dan kaligrafi), serta prize money. Alhamdulillah...
Kemarin ini kami mengikuti Jalan Sehat dalam rangka menyambut tanggal 1 Muharram 1434 H bersama jama'ah masjid dan santri TPA se kelurahan Airlangga. Tak ketinggalan Bu Risma, Walikota Surabaya, turut serta memeriahkan dan mendukung acara ini. Pesan utama beliau, "Mari selamatkan generasi SMP kita dengan mengajak mereka turut serta kegiatan dan acara yang bernafaskan agama. Kalau sejak usia SMP selamat, insyaalloh selanjutnya selamat. Karena kerusakan moral remaja biasanya dimulai ketika usia SMP".
Saya pikir-pikir ada benarnya juga pernyataan Bu Risma ini. Biasanya, terutama di kota besar seperti Surabaya ini, anak-anak usia SD masih semangat pergi ke musholla dan masjid setiap sore untuk mengikuti TPA. Tapi setelah lulus SD, mereka mulai jarang ke musholla dan masjid. Dan lama-kelamaan, babar blas... Mereka jauh dari musholla dan masjid. Mereka jauh dari kegiatan dan acara yang bernafaskan agama. Itulah salah satu alasan kenapa Yayasan kami berniat mendirikan Madrasah Diniyyah di jalan Gubeng Kertajaya 5 C /5 Surabaya. Semoga Madrasah Diniyyah itu bisa menjadi lanjutan pembinaan untuk anak usia SMP dan SMA. Semoga.
Setelah kami berjalan sehat-ria menyusuri jalan Dharmawangsa dan Kertajaya, tibalah saat yang dirunggu-tunggu. Pengundian kupon hadiah. Anak-anak senang karena ada diantara mereka yang mendapatkan hadiah dispenser. Dan puncak kegembiraan kami adalah ketika diumumkan bahwa Ibrahim mendapatkan undian UMROH GRATIS untuk tahun 2013. Lengkap sudah kegembiraan kami dan juga dia. Memang pantas, sesuai amal perbuatan. hehehe.
(tj)
http://alumnipbsbunair.blogspot.com/
Label:
Cerita Bagus,
hadiah,
muharram,
my notes,
ngasuh,
teladan,
umroh gratis
Selasa, 13 November 2012
Ke Mana Tujuan Kita..?? (Renungan Akhir Tahun)
Saudaraku yang dicintai
Alloh ta’ala,
Mari kita berhitung,
andaikan saja kita diberi oleh Alloh ta’ala “jatah hidup” di dunia selama 60
tahun. Kalau kita terbiasa tidur selama 8 jam setiap hari, makan-minum selama 2
jam setiap hari, bekerja mencari nafkah selama 8 jam setiap hari, menonton TV
selama 2 jam setiap hari, ngobrol-ngobrol ringan selama 2 jam tiap hari, maka
hal itu berarti kita…
Tidur
selama 8/24 x 60 tahun = 20 tahun seumur hidup
Makan
minum selama 2/24 x 60 tahun = 5 tahun seumur hidup
Bekerja
mencari nafkah selama 8/24 x 60 tahun = 20 tahun seumur hidup
Menonton
TV selama 2/24 x 60 tahun = 5 tahun seumur hidup
Ngobrol-ngobrol
ringan selama 2/24 x 60 tahun = 5 tahun seumur hidup
Lalu,
Berapa jam (dalam
sehari), atau berapa tahun (dari jatah umur kita di dunia) yang kita pergunakan
untuk sholat, membaca al-Quran, berdzikir, berdoa, bertaubat, dan mendekat
kepada Alloh ta’ala?
Berapa jam (dalam
sehari), atau berapa tahun (dari jatah
usia kita di dunia) yang kita pergunakan untuk bershodaqoh, berinfaq, membantu
saudara kita yang kesulitan, menanam pohon, membersihkan bumi dari polusi, dan
menebar manfa’at serta maslahat kepada sesama manusia dan alam semesta?
Berapa pula waktu yang
kita sediakan untuk mempelajari agama Islam, agama kita sendiri, agama yang
kita yakini bisa mengantarkan kita untuk meraih kebahagiaan di dunia dan
akhirat?
Saudaraku, umat Islam
kebanggaan Nabi Muhammad shollallohu
‘alaihi wa sallam,
Marilah kita
instropeksi, marilah kita mengevaluasi diri kita, apa sebenarnya tujuan akhir
hidup kita ini?
Kesejahteraan di dunia
saja?
Atau kebahagiaan di
akhirat?
Mari kita simak
baik-baik, dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih, surat cinta dari
Kekasih sejati kita, Alloh ta’ala…
Maksudnya:
“siapa
menghendaki keuntungan akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya. Dan
siapa yang menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian
darinya (keuntungan dunia), dan dia tidak akan mendapatkan bagian di akhirat”
(Q.S. asy-Syuro [42]: 20)
Perhatikan baik-baik.
Ayat tersebut dengan jelas mengingatkan kita bahwa jika kita menjadikan
kebahagiaan akhirat sebagai tujuan hidup kita, sebagai prioritas utama kita,
maka kita ‘kan mendapatkan kebahagiaan akhirat tersebut plus tambahan, yaitu
kebahagiaan di dunia. Sebaliknya, jika kita menjadikan keuntungan dunia sebagai
tujuan akhir hidup kita, sebagai prioritas utama kita, maka kita ‘kan
mendapatkan sebagian (tidak semuanya) dari keuntungan di dunia tersebut dan
kelak di akhirat kita tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, alias rugi..!!
Nabi kita tercinta,
Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam
pernah bersabda,
مَا لِى
وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ
شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
Maksudnya:
“Aku
tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku
tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan
beristirahat, lalu meninggalkannya.” (H.R. Imam at-Tirmidzi)
Dzul Hijjah berarti "yang mempunyai tujuan". Marilah kita semua, di akhir bulan Dzul Hijjah ini, yang juga berarti akhir tahun 1433 H ini, menentukan tujuan hidup kita di dunia secara jelas. Apa sih sebenarnya tujuan kita hidup di dunia? Kalau saya boleh usul, tujuan kita adalah tinggal di surga dan bertemu Alloh ta'ala.
Saudaraku, di sisa
“jatah hidup” yang diberikan oleh Alloh ta’ala ini, marilah kita meningkatkan
semangat beribadah kita. Marilah kita meningkatkan kualitas ibadah kita, baik
berupa ibadah yang berhubungan langsung kepada Alloh ta’ala seperti sholat
fardlu, sholat sunnah rowatib, tahajjud, witr, dan dluha, dzikr, istighfar,
membaca al-Quran, memahami dan mengamalkan al-Quran, dan doa, maupun berupa
ibadah yang berhubungan dengan sesama manusia seperti shodaqoh, berdamai,
membantu keluarga dan tetangga yang sedang kesulitan, berkontribusi dalam
pembangunan dan pengelolaan masjid, madrasah, dan pesantren.
Saudaraku, marilah kita
meningkatkan semangat kita dalam mempelajari agama kita ini, agama Islam. Mari
kita sempatkan untuk menghadiri kajian, membaca buku agama islam, dan
berkonsultasi dengan ahli agama, ustadz atau Kyai yang ada di sekitar kita. Kalau
bukan kita yang belajar agama kita sendiri, siapa lagi?
Saudaraku, kita tidak
tahu kapan habisnya jatah hidup kita di dunia ini. Yang jelas, pergantian hari,
bulan, dan tahun berarti bahwa jatah umur kita semakin berkurang. Kita semakin
dekat dengan kematian. Marilah kita memperbanyak minta ampun kepada Alloh
ta’ala. Mari kita membaca istighfar dengan penuh ketundukan dan kerendahan hati
kepada Alloh ta’ala…
Astaghfirulloh….
Astaghfirulloh…
Astaghfirulloh…
Pada kesempatan yang
baik ini, marilah kita membaca doa yang diajarkan oleh ulama-ulama kita. Kami
mendapatkan doa ini dari guru kami, Abina K.H.M. Ihya Ulumiddin, pengasuh
Pondok Pesantren Nurul Haromain Pujon, Malang, dan Ketua Umum Hai`ah
ash-Shofwah. Mari kita baca bersama-sama…
éNi äi
ée=ZUã å<
é^æ
äj~Y énÏZ1ãp
Robbighfir li ma madlo
Wahfadzni
fi ma baqiy..
“Wahai Tuhanku,
ampunilah aku, atas dosa-dosa yang telah aku lakukan. Dan jagalah aku di sisa
umurku”.
Semoga Alloh ta’ala senantiasa
membimbing kita menuju jalan yang diridloi-Nya. Semoga Alloh ta’ala senantiasa
menjaga iman yang ada di sanubari kita ini. Semoga Alloh ta’ala menolong kita
agar kita bisa menjadikan keuntungan dan kebahagiaan di akhirat sebagai tujuan
utama kita hidup di dunia yang fana ini. Amin. (tj)
Label:
dzul hijjah,
inspirasi,
motivasi,
my notes,
ngaji
Kamis, 01 November 2012
Cita Yang Tertunda
Sekitar empat tahun yang lalu saya pernah memiliki "krentek" untuk mengumpulkan kisah-kisah perjuangan saya dan teman-teman dalam berjuang dan paserah meraih dan menerima beasiswa PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Kemenag RI dalam sebuah buku. Pikiran saya pada waktu itu, kumpulan kisah-kisah tersebut tentu bisa menambah rasa syukur kami karena telah mendapatkan anugerah yang besar dari Alloh ta'ala berupa full-scholarship sekaligus -mungkin- dapat menjadi sumber inspirasi bagi adik-adik kami di pesantren yang belum atau sudah punya keinginan untuk meraih beasiswa serupa. Minimal, kisah-kisah tersebut dapat menjadi salah satu kenangan indah dalam sejarah hidup kami.
Alhamdulillah, "krentek" saya itu belum bisa terwujud bahkan sampai saya lulus dari Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya pada Oktober 2011 yang lalu. Ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam mewujudkan "krentek" saya itu. Diantaranya adalah
- saya terlalu sibuk di organisasi, tercatat selama kurun 2008-2010 saya aktif di sedikitnya 6 organisasi baik yang level fakultas, universitas, maupun nasional. Kesibukan dan keterlenaan saya di beberapa organisasi tersebut membuat saya "lupa" terhadap "krentek" saya untuk mengumpulkan kisah-kisah itu.
- pada waktu itu saya belum begitu gandrung dengan dunia tulis-menulis.
- dasarnya saya yang memang belum pantas menerima anugerah keberhasilan menulis dan mengumpulkan kisah-kisah perjuangan itu.
Pada awal tahun 2012, hasrat untuk mengumpulkan kisah-kisah itu kembali muncul di benak saya. Kemunculan hasrat tersebut terjadi karena beberapa stimulus. Diantaranya adalah
- adik angkatan saya di FIB yang bernama Huda menjadi inspirator bagi teman-temannya sesama peraih beasiswa Bidik Misi dalam membuat buku kumpulan kisah perjuangan meraih beasiswa Bidik Misi
- setelah saya membaca buku yang berjudul Dermaga Impian tersebut, tercetuk di pikiran saya, bahwa saya dan teman-teman saya di PBSB (organisasi mahasiswanya bernama CSS MoRA) sangat bisa membuat buku serupa dengan kualitas yang lebih baik
- saya memiliki anggota keluarga baru yang ternyata seorang novelist muda berbakat, namanya Azri KD 2010.
Saya pun kemudian menghubungi novelist muda tersebut dan mengutarakan "krentek" saya. Gayung bersambut, dia pun setuju dan mendukung. Tidak hanya itu, teman-teman di organisasi CSS MoRA pun ikut mendukung dan menyatakan siap menyediakan modal untuk mencetak naskahnya nanti. Langsung saja kami umumkan dan kami ajak teman-teman kami di CSS MoRA Unair untuk menulis kisah mereka ketika berjuang untuk mendapatkan beasiswa PBSB. Kami berusaha untuk meyakinkan kepada teman-teman bahwa mereka bisa dan layak menuliskan kisah hidup mereka. Sekitar dua bulan kemudian, terkumpul lebih dari 30 kisah di team kami. Selanjutnya kami pun melakukan seleksi dan editing dasar. Kami membuat tiga kriteria (1) Accepted (2) Doubt (3) Sorry. Yang pertama untuk naskah yang 99% "masuk kotak". Yang kedua untuk naskah yang kami masih perlu pertimbangkan lagi. Dan yang ketiga untuk naskah yang "mohon maaf tidak masuk kotak". Proses seleksi pun berlanjut dan akhirnya terpilih 13 kisah pilihan. Selain kualitas tulisan, isi, teknik menulis, kami pun juga mempertimbangkan nilai keunikan, kekhasan santri, dan persebaran wilayah.
Langkah selanjutnya adalah masuk di dapur penerbitan. Setelah mencari dan menilik beberapa penerbit, kami (atas jasa Azri) memutuskan untuk memilih Khalista, penerbit buku-buku pesantren, untuk menerbitkan naskah kami. Namun Abah Ma'ruf, owner Khalista, menyatakan bahwa beliau tidak bisa menerbitkan naskah dengan oplah di bawah 3000, padahal budget kami hanya cukup untuk menyetak 1000 eksemplar. Tapi beliau memberikan jalan keluar dengan mengenalkan kami kepada salah satu murid beliau yang juga bergerak di bidang percetakan. Adalah mas Rijal dengan Imtiyaznya yang bersedia menjadi patner kami dalam menerbitkan naskah kami itu. Karena sama-sama santri, kami pun cepat akrab. Setelah melalui proses meeting beberapa kali, editing beberapa kali, dan sedikit penundaan, akhirnya dengan penuh rasa syukur, buku berjudul Mahasantri Airlangga tersebut berhasil dicetak dan diterbitkan di bulan Oktober 2012.
Dan pada hari Ahad 14 Oktober 2012, kami berhasil menyerahkan 1 eksemplar buku Mahasantri Airlangga tersebut kepada Pak Ruchman Basori yang merupakan Kasi PBSB di lingkungan Kemenag RI pada saat acara Istihlal CSS MoRA se Jawa Timur di SAC IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kami juga menitipkan 2 eks untuk Kasubdit Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Pak Imam Syafi'i dan Direktur PD Pontren, Bapak Saifudin. Semoga buku tersebut bisa membuat bapak-ibu kami di Kemenag tersenyum. hehehe
Selanjutnya, kami berencana melakukan tour dan bedah buku di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. Semoga lancar dan barokah.
salam pengabdian
-mas tije-
link
http://www.alumnipbsbunair.blogspot.com/
Alhamdulillah, "krentek" saya itu belum bisa terwujud bahkan sampai saya lulus dari Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya pada Oktober 2011 yang lalu. Ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam mewujudkan "krentek" saya itu. Diantaranya adalah
- saya terlalu sibuk di organisasi, tercatat selama kurun 2008-2010 saya aktif di sedikitnya 6 organisasi baik yang level fakultas, universitas, maupun nasional. Kesibukan dan keterlenaan saya di beberapa organisasi tersebut membuat saya "lupa" terhadap "krentek" saya untuk mengumpulkan kisah-kisah itu.
- pada waktu itu saya belum begitu gandrung dengan dunia tulis-menulis.
- dasarnya saya yang memang belum pantas menerima anugerah keberhasilan menulis dan mengumpulkan kisah-kisah perjuangan itu.
Pada awal tahun 2012, hasrat untuk mengumpulkan kisah-kisah itu kembali muncul di benak saya. Kemunculan hasrat tersebut terjadi karena beberapa stimulus. Diantaranya adalah
- adik angkatan saya di FIB yang bernama Huda menjadi inspirator bagi teman-temannya sesama peraih beasiswa Bidik Misi dalam membuat buku kumpulan kisah perjuangan meraih beasiswa Bidik Misi
- setelah saya membaca buku yang berjudul Dermaga Impian tersebut, tercetuk di pikiran saya, bahwa saya dan teman-teman saya di PBSB (organisasi mahasiswanya bernama CSS MoRA) sangat bisa membuat buku serupa dengan kualitas yang lebih baik
- saya memiliki anggota keluarga baru yang ternyata seorang novelist muda berbakat, namanya Azri KD 2010.
Saya pun kemudian menghubungi novelist muda tersebut dan mengutarakan "krentek" saya. Gayung bersambut, dia pun setuju dan mendukung. Tidak hanya itu, teman-teman di organisasi CSS MoRA pun ikut mendukung dan menyatakan siap menyediakan modal untuk mencetak naskahnya nanti. Langsung saja kami umumkan dan kami ajak teman-teman kami di CSS MoRA Unair untuk menulis kisah mereka ketika berjuang untuk mendapatkan beasiswa PBSB. Kami berusaha untuk meyakinkan kepada teman-teman bahwa mereka bisa dan layak menuliskan kisah hidup mereka. Sekitar dua bulan kemudian, terkumpul lebih dari 30 kisah di team kami. Selanjutnya kami pun melakukan seleksi dan editing dasar. Kami membuat tiga kriteria (1) Accepted (2) Doubt (3) Sorry. Yang pertama untuk naskah yang 99% "masuk kotak". Yang kedua untuk naskah yang kami masih perlu pertimbangkan lagi. Dan yang ketiga untuk naskah yang "mohon maaf tidak masuk kotak". Proses seleksi pun berlanjut dan akhirnya terpilih 13 kisah pilihan. Selain kualitas tulisan, isi, teknik menulis, kami pun juga mempertimbangkan nilai keunikan, kekhasan santri, dan persebaran wilayah.
Langkah selanjutnya adalah masuk di dapur penerbitan. Setelah mencari dan menilik beberapa penerbit, kami (atas jasa Azri) memutuskan untuk memilih Khalista, penerbit buku-buku pesantren, untuk menerbitkan naskah kami. Namun Abah Ma'ruf, owner Khalista, menyatakan bahwa beliau tidak bisa menerbitkan naskah dengan oplah di bawah 3000, padahal budget kami hanya cukup untuk menyetak 1000 eksemplar. Tapi beliau memberikan jalan keluar dengan mengenalkan kami kepada salah satu murid beliau yang juga bergerak di bidang percetakan. Adalah mas Rijal dengan Imtiyaznya yang bersedia menjadi patner kami dalam menerbitkan naskah kami itu. Karena sama-sama santri, kami pun cepat akrab. Setelah melalui proses meeting beberapa kali, editing beberapa kali, dan sedikit penundaan, akhirnya dengan penuh rasa syukur, buku berjudul Mahasantri Airlangga tersebut berhasil dicetak dan diterbitkan di bulan Oktober 2012.
Dan pada hari Ahad 14 Oktober 2012, kami berhasil menyerahkan 1 eksemplar buku Mahasantri Airlangga tersebut kepada Pak Ruchman Basori yang merupakan Kasi PBSB di lingkungan Kemenag RI pada saat acara Istihlal CSS MoRA se Jawa Timur di SAC IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kami juga menitipkan 2 eks untuk Kasubdit Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Pak Imam Syafi'i dan Direktur PD Pontren, Bapak Saifudin. Semoga buku tersebut bisa membuat bapak-ibu kami di Kemenag tersenyum. hehehe
Selanjutnya, kami berencana melakukan tour dan bedah buku di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. Semoga lancar dan barokah.
salam pengabdian
-mas tije-
link
http://www.alumnipbsbunair.blogspot.com/
Label:
buku,
buku baru,
inspirasi,
Kesan Baca,
motivasi,
my notes,
novel remaja muslim,
resensi buku
Rabu, 03 Oktober 2012
Mengapa anak suka berbohong?
Ayah bunda yang bijaksana, dibandingkan dengan tindak kejahatan lain, berbohong sebenarnya berada pada level teratas. Mengapa demikian? Mari kita lihat kondisi bangsa ini, berapa banyak orang yang melakukan korupsi? Dan kita tahu, korupsi itu berawal dari sebuah kebohongan. Kebohongan adalah awal dari berbagai kerusakan dan hanya membawa kita kepada keburukan.
Oleh karena itu, jika
anak (suka) berbohong, orang tua perlu segera mencari solusinya karena
dampaknya berat sekali. Tekankan dan pahamkan kepada anak bahwa berbohong adalah
kebiasaan yang sangat buruk dan berakibat buruk baik di dunia dan akhirat. Di
dunia, pembohong tidak akan dipercaya oleh orang lain. Di akhirat, pembohong
mendapatkan siksa karena berbohong itu termasuk perbuatan dosa.
Berdasarkan pengalaman
ayah Edy, seoarang pakar parenting, anak
(suka) berbohong karena pada awalnya mencontoh
orang-orang terdekatnya, siapapun orang itu dan sekecil apa pun kebohongan itu.
Salah satu contoh kebohongan kecil yang
(mungkin) sering dilakukan orang tua adalah ketika ada tamu tak diundang yang
bernama pengemis, orang tua berkata, “Dek, bilang mama gak ada ya…”. Karena
melihat orang-orang terdekatnya berbohong, si anak mengira bahwa bebohong itu
wajar-wajar saja dan boleh dilakukan. Akhirnya si anak pun mulai berbohong. Jadi,
faktor pertama anak (suka) berbohong adalah karena ada yang dicontoh. Tidak
mungkin seorang anak tiba-tiba suka berbohong jika tidak ada yang dicontoh.
Faktor kedua, orang tua
seringkali ingin jawaban yang bagus-bagus dari sang anak. Jika anak cerita
tantang sesuatu yang jelek, yang tidak menyenangkan, sering kali orang tua
marah-marah. Orang tua tidak siap dengan jawaban yang tidak bagus. Jadinya,
kejujuran anak seringkali dibalas dengan emosi. Contoh: suatu hari sang anak
bolos sekolah, lalu orang tua mengatahui kalau anaknya bolos sekolah.
“adek
tadi bolos sekolah ya?”
“iya” jawab sang anak
“Adek ini, mama sudah
susah-susah nyekolahin, malah sekolah gak bener..!! mau jadi apa kamu!!”
Nah, kebanyakan orang
tua suka marah-marah seperti ini. Jadinya di kesempatan berikutnya si anak
berbohong karena takut dimarahi orang tuanya. Sebenarnya si anak tidak memiliki
niat jahat. Ia hanya ingin cari aman saja. Padahal kalau orang tua gak
marah-marah, orang tua mau mencari penyebab kenapa anak bolos sekolah, kemudian
membantu anak untuk menyelesaikan permasalahannya, malah orang tua mau
menasehati sang anak dengan lembut dan memotivasi anak agar lebih giat belajar,
kemungkinan besar anak tidak akan berbohong.
Lalu bagaimana
solusinya?
Kalau penyebabnya
karena ada yang dicontoh, solusinya adalah mengubah sikap yang dicontoh. Jika
bunda merasa pernah berbohong kepada anak, katakana pada anak, “sayang, kalau
kamu berbohong karena mencontoh mama, maafkan mama ya. Mama berjanji tidak akan
berbohong lagi. Tolong bantu mama ya.. kalau mama berbohong, tolong adek
ingatkan”. Jadi memang harus ada komitmen yang dibangun oleh orang tua untuk
mengoreksi diri. Kalau orang tua mau berubah, insyaalloh anak pun akan berubah.
Kemudian, jika selama
ini orang tua sering marah-marah kalau mendengar atau mengetahui bahwa si anak
(mungkin) melakukan kesalahan, maka mulai sekarang kebiasaan ini harus dirubah.
Dengarkan jawaban anak tanpa memarahinya. Apapun jawabannya. Kita sebagai orang
tua mestinya bersyukur jika anak kita masih mau berkata jujur kepada kita. Jadi
anak kita masih percaya kepada kita. Ingat..!! marah tidak akan bisa
menyelesaikan masalah. Bayangkan kalau anak sudah terlanjur memakai narkoba.
Kalau orang tuanya marah-marah saja, apa ini akan menyelesaikan masalah?!
Justru melihat orang tuanya marah, mungkin ia malah akan terus melakukannya. Sebaliknya,
jika orang tua mau menerima si anak apa adanya, orang tua mau membantu anak
menyelesaikan masalahnya, orang tua mau bekerja sama dengan anak, kemungkinan
besar “kerusakan” itu bisa diperbaiki sedikit demi sedikit.
Cara bepikir seperti
ini seringkali luput dari pemikiran orang tua karena kebanyakan orang tua
merasa diri mereka paling benar. Kalau anaknya salah, mereka pikir itu hanya
kesalahan anak semata. Padahal kesalahan anak adalah kesalahan orang tua juga;
mungkin si anak kurang mendapat perhatian dan kasih sayang, akhirnya si anak
mencari teman, nah tanpa sengaja si anak mendapat teman yang salah, teman yang
buruk, lama-kelamaan si anak mengikuti apa yang dilakukan temannya itu karena
ia merasa nyaman bersama mereka. Oleh
karena itu, STOP marah ya Ayah Bunda.
Kalau anak melakukan
sesuatu yang dinilai salah, sebaiknya kita cari tahu dulu apa penyebabnya. Anak
bolos sekolah mungkin saja disebabkan karena ada gurunya yang galak, ada
temannya yang suka menyakiti, atau sebab yang lain. Kita cari tahu dulu
penyebabnya apa, kemudian kita bantu anak kita untuk menyelesaikan masalah-masalah
tersebut. Seperti ini lebih baik dan insyaalloh
si anak akan tetap berkata jujur kepada orang tua.
Bagaimana
kalau si anak masih berbohong?
Kita
sebaiknya membuat kesepakatan dengan anak. Kalau anak masih berbohong, kita
perlu memberikan sanksi yang tegas. Contoh, “adek tidak boleh berbohong, karena
berbohong itu dosa. Kalau adek berbohong lagi, akhir bulan ini adek tidak boleh
ikut rekreasi ke kebun binatang”. Jika kemudian si anak “ketangkap” berbohong
lagi, sanksi ini harus dijalankan. Konsistenlah agar anak mengerti bahwa
berbohong itu adalah perbuatan buruk yang harus dihindari.
Selain
itu, biasakanlah memberikan apresiasi kepada anak ketika dia berkata jujur.
Orang tua bisa mengucapkan, “terimakasih adek berkata jujur. Bunda akan tambah
sayang kepada adek”. Dan sesekali boleh juga kita, orang tua, memberikan hadiah
kepada anak karena sang anak konsisten berkata jujur. Insyaalloh dengan cara seperti ini anak-anak kita akan terbiasa dan
termotivasi untuk senantiasa berkata jujur. Ingat, biasakan setiap hari berdoa
agar Alloh ta’ala membersihkan hati anak-anak kita, agar Alloh ta’ala menolong
kita dan anak-anak kita menjadi orang-orang yang jujur. Semoga.
(Dikutip dari buku Ayah
Edy Menjawab: 100 persoalan sehari-hari orang tua yang tidak ada jawabannya di
kamus manapun, hal 31-35. 2012. Jakarta: Noura Books. Dengan beberapa
modifikasi dan tambahan)
Rabu, 26 September 2012
Surat Cinta untuk Pak Haji dan Bu Hajah
Pak Haji dan Bu
Hajah yang semoga dirahmati Alloh ta’ala. Bolehkah saya bertanya? Tahun ini
bapak/ibu berangkat haji untuk yang ke berapa? Dua, tiga, atau empat? Semoga
haji Anda diterima oleh Alloh ta’ala. Pak Haji dan Bu Hajah, tahun ini berapa
kali Anda berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan umroh..? Selama ini sudah
berapa kali Anda berangkat umroh? Dua, empat, enam..? Semoga umroh Anda
diterima oleh Alloh ta’ala.
Pak Haji dan Bu
Haji, tahukah Anda bahwa berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per
Maret 2012, di Indonesia ada warga yang tergolong miskin sebanyak 29,13 juta
orang (11.96%)..? Dengan garis kemiskinan 248.707 perkapita . Artinya orang di
Indonesia yang penghasilan rata-ratanya lebih kecil dari pada 248.707 rupiah
per bulan (atau 8.290 rupiah per hari) berjumlah 29,13 juta jiwa . Sedangkan
penduduk yang tergolong hampir miskin berjumlah 27,82 juta jiwa (11,5 %). Jadi
total penduduk yang miskin dan hampir miskin sejumlah sekitar 57 juta jiwa
(surabaya.okezone.com). Sementara itu, jumlah penduduk yang tergolong miskin di
Jawa Timur ada 5,071 juta jiwa (13,40 %) dengan garis kemiskinan 233.202 per
kapita. Artinya warga Jawa Timur yang berpenghasilan rata-rata lebih kecil dari
pada 233.202 rupiah per bulan (7.773 ribu per hari) berjumlah 5,071 juta jiwa
(jatim.bps.go.id). Kesimpulan sederhana, orang miskin (secara ekonomi) di
Indonesia masih “cukup” banyak, orang miskin di Jawa Timur juga masih “cukup”
banyak.
Jika Anda warga
Surabaya, silahkan berkunjung ke Kecamatan Semampir, tepatnya Kelurahan Ujung,
Pegirian, Wonokusumo dan Sidotopo. Anda bisa juga menengok saudara Anda di
Kelurahan Gading Kecamatan Tambaksari dan Kelurahan Simokerto Kecamatan
Simokerto. Atau jika Anda berada di daerah Surabaya Utara, silahkan
bersilaturrahim ke warga pesisir di daerah Bulak. Di sana Anda akan bertemu
dengan saudara-saudara Anda yang sangat membutuhkan “sedikit” bantuan dari
Anda.
Pak Haji dan Bu
Hajah, bolehkah saya bertanya, sudahkah Anda membayar zakat tahun ini? Sudahkah
Anda menyisihkan sebagian kecil (hanya 2,5 %) dari harta Anda untuk diberikan
kepada mereka yang berhak; orang-orang miskin? Untuk berangkat haji dibutuhkan
dana tidak kurang dari 35 juta. Dan untuk yang haji plus dibutuhkan biaya dua
kali lipat, sekitar 70 juta. Sedangkan untuk umroh (sunnah) diperlukan uang
tidak kurang dari 15 juta. Kita tentu sudah mengerti bahwa mengeluarkan zakat
itu hukumya wajib, fardlu ‘ain. Sedangkan berhaji untuk yang ke-dua, tiga, dan
seterusnya itu hukumya sunnah. Berangkat umroh pun demikian, hukumnya sunnah. Memang,
uang itu milik Anda sendiri. Namun, bukankah Alloh ta’ala yang memberikan rizki
kepada Anda? Dan bukankah kita tahu bahwa Alloh ta’ala memerintahkan kita untuk
membayar zakat?
“Dan dirikanlah
shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS.
Al-Baqarah: 43)
Semoga dengan
membayar zakat, Alloh ta’ala menerima haji dan umroh Bapak-Ibu sekalian. Semoga
zakat itu bisa membantu saudara-saudara kita yang sedang kesusahan untuk sekolah
dan berobat, bahkan untuk sekedar makan. Tentu jauh lebih baik dan lebih mulia
jika Bapak-Ibu bukan hanya mengeluarkan zakat, tetapi juga berinfaq dan
bershodaqoh. Contoh, Bapak-Ibu berinfaq/bershodaqoh 5%, 10%, 20%, atau 40% dari
harta yang Bapak-Ibu miliki. Bukankah senantiasa berinfaq, menganggarkan
sebagian harta untuk dinafkahkan di jalan Alloh ta’ala, atau untuk membatu
saudaranya yang sedang kesusahan, itu merupakan ciri orang yang bertaqwa..?
Mari kita baca bersama surat Ali Imron ayat 133-134 (yang
maksudnya): “dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhanmu
dan kepada surga yang seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu
lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.
Selain
menjanjikan surga bagi orang-orang yang bertaqwa, Alloh ta’ala juga menjajikan
anugerah-anugerah yang lain bagi mereka. Dan inilah sebagian anugerah Alloh
ta’ala yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa.
“Barang siapa yang bertaqwa kepada
Allah maka Allah jadikan baginya jalan keluar (dari setiap permasalahannya).
Dan Dia (Allah) akan memberi rizji dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan
barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan) nya.
Dan barang siapa yang bertaqwa kepada
Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam setiap urusannya .
Dan barang siapa yang bertakwa kepada
Allah niscaya Dia (Allah) akan melebur kesalahan-kesalahannya dan melipat
gandakan pahala baginya.”
(QS. At- Tholaq [65] : 2 -5 )
(QS. At- Tholaq [65] : 2 -5 )
Semoga Alloh ta’ala senantiasa
menolong kita semua untuk menjadi bagian dari golongan orang-orang yang
bertaqwa. Amin. (tj)
Label:
dzul hijjah,
haji,
Ibadah,
my notes,
ngaji,
opini,
seri bulanan...,
zakat
Minggu, 09 September 2012
Makna Istihlal (bukan halal bi halal)
Pada bulan Syawwal jamak dijumpai umat Islam di Indonesia menyelenggarakan Istihlal. Saya menggunakan kata "istihlal" karena memang kata ini lebih tepat untuk digunakan daripada frase "halal bi halal". Saya tanya, "halal bi halal" itu artinya apa..??
halal = halal, bi = dengan, halal = halal.
Jadi "halal bi halal" berarti halal dengan halal, boleh dengan boleh. Maksudnya apa..?? Nah lho... (???)
Sekarang kita beralih ke kata "istihlal". Kata istihlal merupakan bentuk masdar dari kata istahlala ('ala wazni istaf'ala) yang berfaedah "tholab", artinya "minta halal". Sama dengan kata istighfar (istaghfaro) yang berarti minta ampun. Jadi "istihlal" berarti minta halal (atas kesalahan yang pernah diperbuat).
Namun memang, minta halal (minta dimaafkan) atas kesalahan atau kedzaliman yang telah diperbuat ini hendaknya tidak hanya kita lakukan ketika momen idul fithri atau bulan Syawwal, tetapi kapan saja kita berbuat salah atau dzalim, hendaknya kita segera minta dihalalkan (dimaafkan).
Kemarin, Ahad 9 September 2012, saya menghadiri Istihlal yang diselenggarakan oleh Persyadha (Persyarikatan Dakwah al-Haromain), di Ketintang Barat I Surabaya. Selain agar bisa bertemu dengan Asatidz dan sahabat saya untuk beristihlal, tujuan saya datang ke acara tersebut adalah untuk "ngaji" kepada Abina K.H. M. Ihya Ulumiddin yang merupakan Aminul 'Am Persyadha. Taushiyah dari Abi adalah acara yang paling saya nantikan karena memang beliau adalah sumber ilmu dan adab yang "langka". Keluasan dan kedalaman ilmunya, tawadlu'nya, kesabarannya, kegigihannya, ruarrr biasa.
Abi Ihya menjelaskan bahwa Ihtihlal itu marilah kita maknai sebagai momentum "pengakuan". Iya, pengakuan. Kita mengakui bahwa kita banyak dosa dan salah kepada Alloh ta'ala. Kita mengakui bahwa kita punya banyak kesalahan dan kedzaliman kepada saudara dan sahabat kita. Kita ngaku, dan kemudian minta maaf.
Selanjutnya kita ngaku bahwa ketika bulan Romadlon yang lalu kita belum bisa maksimal dalam memanfaatkan madrasah Romadlon. Kita masih bolong jama'ah sholat fardlunya. Kita masih bolong qiyamul-lailnya. Kita masih bolong tilawah al-Qurannya. Kita masih bolong infaq-shodaqohnya. Iya, memang benar kita berpuasa, menahan lapar dan haus. Tapi kita belum bisa maksimal untuk menahan diri dari perkataan kotor, perkataan yang tidak berguna, perkataan yang menyakitkan orang lain. Kita belum bisa berpuasa dari "ngerasani" (ghibah) dan dusta. Kita masih sering berbohong (kecil). Kita belum bisa berpuasa dari iri-dengki. Kita belum bisa berpuasa dari riya` dan sum'ah, 'ujub dan takabbur. Ayo kita NGAKU..!!
Astaghfirullohal'adhim...
Faidah.
Selanjutnya, setelah kita ngaku akan kesalahan dan kekurangan kita, marilah kita senantiasa berdoa dan mendoakan saudara kita dengan doa:
"taqobbalallohu minna wa minkum"
(semoga Alloh menerima [ibadah, khususnya di bulan Romadlon] dari kami dan kalian)
Konon, dulu para sahabat Nabi mengamalkan doa ini selama kurang lebih 6 bulan. Jadi mulai tanggal 1 Syawwal sampai bulan Robi'ul Awwal, para sahabat Nabi, jika bertemu saudara dan sahabatnya, beliau mengucapkan doa "taqobbalallohu minna wa minkum".
Kenapa beliau-beliau sampek segitunya..??
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni.
"idza salimat al-jum'ah, salimat al-ayyam. idza salima Romadlon, salimat as-sanah"
(jika hari jum'at selamat, selamatlah hari-hari selama sepekan. jika bulan Romadlon selamat, selamatlah tahun).
Perhatikan dengan seksama. Muslim itu, jika jum'at nya selamat, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang pekan. Ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi kita umat Islam di Indonesia. Salah satu kegagalan terbesar kita adalah jum'at tidak menjadi hari libur. Sehingga kita tidak bisa menggunakan hari jum'at untuk fokus mendekatkan diri kepada Alloh ta'ala. Kita masih disibukkan oleh sekolah dan pekerjaan. Kita pun akhirnya melaksanakan sholat jum'at dengan kurang sempurna; telat, ngantuk pisan. Walaupun memang ada sekolah yang menjadikan hari jum'at sebagai hari libur. Biasanya sekolah-sekolah itu dikelola oleh yayasan pendidikan islam seperti Pondok Pesantren. Contohnya sekolah MTs dan MA Walisongo tempat saya belajar dahulu kala. Namun jumlahnya tidak banyak. Masih banyak yang liburnya hari Ahad. Pada saat saudara kita umat Kristiani melaksanakan ibadah di Gereja.
Selanjutnya, mari kita perhatikan sabda Nabi kita tercinta. Muslim itu, jika bulan Romadlonnya selamat, bisa diartikan jika ibadah-ibadahnya di bulan Romadlon diterima oleh Alloh ta'ala, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang tahun. Nah, inilah rahasianya kenapa para sahabat Nabi itu dengan segitunya mengamalkan doa "taqobbalallohu minna wa minkum" sampai 6 bulan pasca Romadlon. Jadi jika doa tersebut dikabulkan oleh Alloh ta'ala, maka efeknya akan ruarrr biasa bagi kehidupan para sahabat itu; selamat sepanjang tahun. Siapa yang gak mau..??
Maka, marilah kita mentauladai para sahabat Nabi yang mulia itu. Mari kita senantisa berdoa dan mendoakan saudara dan sahabat kita dengan doa "taqobbalallohu minna wa minkum". Semoga doa kita dikabulkan oleh Alloh ta'ala. Amin.
"idza salimat al-jum'ah, salimat al-ayyam. idza salima Romadlon, salimat as-sanah"
Semoga bermanfaat. Wallohu a'lam bish-showab.
(tj)
halal = halal, bi = dengan, halal = halal.
Jadi "halal bi halal" berarti halal dengan halal, boleh dengan boleh. Maksudnya apa..?? Nah lho... (???)
Sekarang kita beralih ke kata "istihlal". Kata istihlal merupakan bentuk masdar dari kata istahlala ('ala wazni istaf'ala) yang berfaedah "tholab", artinya "minta halal". Sama dengan kata istighfar (istaghfaro) yang berarti minta ampun. Jadi "istihlal" berarti minta halal (atas kesalahan yang pernah diperbuat).
Dari Abu
Hurairah bahwasanya Rasulullah –shallallohu ‘alaihu wa sallam- bersabda: “Barang
siapa melakukan kezhaliman kepada saudaranya, hendaklah meminta dihalalkan
(dimaafkan) darinya; karena di sana (akhirat) tidak ada lagi perhitungan dinar
dan dirham, sebelum kebaikannya diberikan kepada saudaranya, dan jika ia tidak
punya kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya itu akan diambil dan diberikan
kepadanya”. (HR. al-Bukhari nomor 6.169)
Namun memang, minta halal (minta dimaafkan) atas kesalahan atau kedzaliman yang telah diperbuat ini hendaknya tidak hanya kita lakukan ketika momen idul fithri atau bulan Syawwal, tetapi kapan saja kita berbuat salah atau dzalim, hendaknya kita segera minta dihalalkan (dimaafkan).
Kemarin, Ahad 9 September 2012, saya menghadiri Istihlal yang diselenggarakan oleh Persyadha (Persyarikatan Dakwah al-Haromain), di Ketintang Barat I Surabaya. Selain agar bisa bertemu dengan Asatidz dan sahabat saya untuk beristihlal, tujuan saya datang ke acara tersebut adalah untuk "ngaji" kepada Abina K.H. M. Ihya Ulumiddin yang merupakan Aminul 'Am Persyadha. Taushiyah dari Abi adalah acara yang paling saya nantikan karena memang beliau adalah sumber ilmu dan adab yang "langka". Keluasan dan kedalaman ilmunya, tawadlu'nya, kesabarannya, kegigihannya, ruarrr biasa.
Abi Ihya menjelaskan bahwa Ihtihlal itu marilah kita maknai sebagai momentum "pengakuan". Iya, pengakuan. Kita mengakui bahwa kita banyak dosa dan salah kepada Alloh ta'ala. Kita mengakui bahwa kita punya banyak kesalahan dan kedzaliman kepada saudara dan sahabat kita. Kita ngaku, dan kemudian minta maaf.
Selanjutnya kita ngaku bahwa ketika bulan Romadlon yang lalu kita belum bisa maksimal dalam memanfaatkan madrasah Romadlon. Kita masih bolong jama'ah sholat fardlunya. Kita masih bolong qiyamul-lailnya. Kita masih bolong tilawah al-Qurannya. Kita masih bolong infaq-shodaqohnya. Iya, memang benar kita berpuasa, menahan lapar dan haus. Tapi kita belum bisa maksimal untuk menahan diri dari perkataan kotor, perkataan yang tidak berguna, perkataan yang menyakitkan orang lain. Kita belum bisa berpuasa dari "ngerasani" (ghibah) dan dusta. Kita masih sering berbohong (kecil). Kita belum bisa berpuasa dari iri-dengki. Kita belum bisa berpuasa dari riya` dan sum'ah, 'ujub dan takabbur. Ayo kita NGAKU..!!
Astaghfirullohal'adhim...
Faidah.
Sementara
orang menganggap bahwa frase ‘Id al-Fithri berarti “kembali ke suci”. Hal ini
–mungkin- didasarkan kepada sebuah hadits yang menjelaskan bahwa barang siapa
berpuasa Romadlon dengan iman dan ihstisab maka diampunilah dosanya yang telah
lampau. Sehingga beberapa orang tersebut mengganggap bahwa orang yang dia beri ucapan
selamat ‘Id al-Fithri adalah orang yang diampuni segala dosa-dosanya yang telah
lampau. Apakah hal tersebut benar? Agaknya kita tidak bisa membenarkan argumen
tersebut begitu saja. Karena Nabi Muhammad shollallohu
‘alaihi wa sallam pun mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa yang tidak
memperoleh pahala apa pun kecuali hanya lapar dan dahaga karena dia tidak
menjaga diri dari berkata kotor, berbohong, dan memfitnah ketika dia berpuasa.
Secara
ilmu bahasa, pendapat yang menyatakan bahwa Id al-Fithri berarti “kembali ke
suci” adalah tidak benar. Frase ‘Id al-Fithri terbentuk dari dua kata, ‘Id yang
berarti kembali, dan al-Fithri (afthoro –
yufthiru – ifthoron) yang berarti sarapan atau berbuka. Bukan al-fithroh (yang berarti; asal
kecenderungan yang baik, asal kejadian, agama yang lurus, dan kesucian). Jadi
frase Id al-Fithri tersebut bermakna “selamat sarapan atau berbuka kembali”
yang menandai bahwa bulan Romadlon telah usai dan tibalah tanggal 1 Syawwal.
Bukankah ketika hari Raya ‘Id al-Fithri kita diharomkan untuk berpuasa dan
disunnahkan untuk sarapan? Agaknya makna seperti ini lebih rasional dan
mendekatkan kita kepada pemahaman yang benar.
Selanjutnya, setelah kita ngaku akan kesalahan dan kekurangan kita, marilah kita senantiasa berdoa dan mendoakan saudara kita dengan doa:
"taqobbalallohu minna wa minkum"
(semoga Alloh menerima [ibadah, khususnya di bulan Romadlon] dari kami dan kalian)
Konon, dulu para sahabat Nabi mengamalkan doa ini selama kurang lebih 6 bulan. Jadi mulai tanggal 1 Syawwal sampai bulan Robi'ul Awwal, para sahabat Nabi, jika bertemu saudara dan sahabatnya, beliau mengucapkan doa "taqobbalallohu minna wa minkum".
Kenapa beliau-beliau sampek segitunya..??
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni.
"idza salimat al-jum'ah, salimat al-ayyam. idza salima Romadlon, salimat as-sanah"
(jika hari jum'at selamat, selamatlah hari-hari selama sepekan. jika bulan Romadlon selamat, selamatlah tahun).
Perhatikan dengan seksama. Muslim itu, jika jum'at nya selamat, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang pekan. Ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi kita umat Islam di Indonesia. Salah satu kegagalan terbesar kita adalah jum'at tidak menjadi hari libur. Sehingga kita tidak bisa menggunakan hari jum'at untuk fokus mendekatkan diri kepada Alloh ta'ala. Kita masih disibukkan oleh sekolah dan pekerjaan. Kita pun akhirnya melaksanakan sholat jum'at dengan kurang sempurna; telat, ngantuk pisan. Walaupun memang ada sekolah yang menjadikan hari jum'at sebagai hari libur. Biasanya sekolah-sekolah itu dikelola oleh yayasan pendidikan islam seperti Pondok Pesantren. Contohnya sekolah MTs dan MA Walisongo tempat saya belajar dahulu kala. Namun jumlahnya tidak banyak. Masih banyak yang liburnya hari Ahad. Pada saat saudara kita umat Kristiani melaksanakan ibadah di Gereja.
Selanjutnya, mari kita perhatikan sabda Nabi kita tercinta. Muslim itu, jika bulan Romadlonnya selamat, bisa diartikan jika ibadah-ibadahnya di bulan Romadlon diterima oleh Alloh ta'ala, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang tahun. Nah, inilah rahasianya kenapa para sahabat Nabi itu dengan segitunya mengamalkan doa "taqobbalallohu minna wa minkum" sampai 6 bulan pasca Romadlon. Jadi jika doa tersebut dikabulkan oleh Alloh ta'ala, maka efeknya akan ruarrr biasa bagi kehidupan para sahabat itu; selamat sepanjang tahun. Siapa yang gak mau..??
Maka, marilah kita mentauladai para sahabat Nabi yang mulia itu. Mari kita senantisa berdoa dan mendoakan saudara dan sahabat kita dengan doa "taqobbalallohu minna wa minkum". Semoga doa kita dikabulkan oleh Alloh ta'ala. Amin.
"idza salimat al-jum'ah, salimat al-ayyam. idza salima Romadlon, salimat as-sanah"
Semoga bermanfaat. Wallohu a'lam bish-showab.
(tj)
Label:
halal bi halal,
Idul fithri,
istihlal,
menulis,
my notes,
ngaji,
opini,
syawwal
Langganan:
Postingan (Atom)


