Tampilkan postingan dengan label pendidikan karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan karakter. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2013

Belajar Parenting dari Ayah Ibrahim


Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Pada kesempatan yang baik kali ini marilah sejenak kita menengok perjalanan hidup seseorang yang mendapat julukan “kekasih Allah” (khalilullah), seseorang yang menjadi bapaknya para nabi. Bahkan Allah ta’ala memuji beliau sebagai seseorang yang layak menjadi tauladan. Siapakah orang itu? Benar. Beliau adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا (۱٢۵)
“Dan Allah mengangkat Ibrahim sebagai kekasih.” (An-Nisa`: 125)

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
 “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada (Nabi) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia….” [al-Mumtahanah: 4]
Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Namun pada kesempatan yang singkat ini, saya mengajak Anda untuk belajar kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam hal mendidik keluarga. Apa saja pelajaran tentang pendidikan keluarga yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam?
Pertama, berdoa kepada Allah ta’ala agar diberi keturunan yang sholih.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (۱۰۰)  فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (۱۰۱)
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar“ (ash Shoffat: 100-101)
Sudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh orang tua adalah kenakalan anak-anak, terutama ketika mulai memasuki masa remaja. Bahkan ada yang bilang, kenakalan remaja sekarang sungguh di luar batas, sungguh mengherankan, sungguh tak pernah terbayangkan, sungguh mengiris-iris hati, sungguh terlalu..!! Mulai dari suka bolos sekolah, suka berantem, suka ngerokok, suka minum miras, suka narkoba, suka mencuri, suka merampok, suka mendekati zina, suka berbuat zina, suka menjual teman sekolah untuk para pezina, suka ninggalin sholat, dan suka-suka yang lain... Sungguh, Na'udzu billah min dzalik...
Pada bulan Syawwal 1434 H yang lalu, saya mengikuti Istihlal jama'ah pengajian al-Kayyis di ndalem Ust. H. Junaidi Sahal di daerah Jemursari. Di dalam taushiyah acara tersebut, Abina KH. M. Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa seorang mukmin itu sudah diberi senjata yang maha ampuh oleh Allah ta'ala untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup, bahkan sebelum persoalan itu datang. Senjata yang maha ampuh itu adalah DOA. 
Sederhana saja. Kita mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini -semuanya- tidak terlepas dari "tangan" kekuasaan dan kehendak Allah ta'ala. Jika kita datang kepada Allah ta'ala, mengakui ke-sangatkurang-an kita, mengakui ke-sangatlemah-an kita, mengakui ke-sangatbutuh-an kepada -Nya, kemudian kita menghaturkan hajat kita dan Allah ta'ala mengabulkannya, maka bereslah permasalahan hidup kita. Sesederhana itukah?
"Barangsiapa mengetuk pintu terus menerus, niscaya dia bisa memasukinya"
Olehkarena itu, selayaknya kita berdoa kepada Allah ta’ala bukan hanya ketika kita menghadapi masalah saja... tetapi kita berdoa kepada Allah sebelum masalah itu datang, kita berdoa kepada Allah setiap saat, kita berdoa kepada Allah sebagai sarana munajat kita kepada-Nya...
Kembali kepada permasalahan kenakalan remaja yang sering dikeluhkan oleh orang tua. Ada sebuah pertanyaan yang ingin kami sampaikan. Apakah dulu sebelum menikah, ketika menikah, ketika memproses wujudnya anak, ketika hamil, ketika anak baru saja lahir, ketika remaja itu masih balita, ketika remaja itu masih berupa anak yang belum baligh, para ayah dan bunda senantiasa berdoa kepada Allah ta'ala? Berdoa agar Allah ta'ala menjadikan anak-anak ayah-bunda anak-anak yang sholih sholihah, anak-anak yang baik?
Kepada siapa saja yang berharap anak-anak yang sholih-sholihah, anak-anak yang baik, Allah ta'ala telah menyiapkan untuk kita semua sebuah senjata yang maha ampuh. Dahulu kala Bapak kita, nabi Ibrahim 'alaihissalam, menggunakan senjata yang maha ampuh ini. Beliau pun terkenal sebagai Bapak para Nabi karena keturunan beliau banyak yang diangkat oleh Allah ta'ala menjadi nabi. Diantaranya adalah Nabi Ishaq, Nabi Ismail, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Ayyub, Nabi Dzul Kifli, Nabi Syu’aib, Nabi Yunus, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Isa, serta Nabi Muhammad ‘alahimush sholatu wassalam. Senjata yang maha ampuh itu adalah doa:
رَبّ هَبْ لِى مِنَ الصَالِحِيْن
"robbi hab li minash-sholihin..."
-wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (anak-anak) yang termasuk orang-orang yang sholih-
Selain itu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga berdoa:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (۴۰)
“robbij’alni muqimash-sholati wa min dzurriyyati robbana wa taqobbal du’a`”
-wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan sholat, dan juga keturunanku. Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doaku- (QS. Ibrahim: 40)
Saya yakin bahwa kita semua menginginkan anak-anak yang sholih-sholihah. Merekalah sumber kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Ketika kita masih hidup, mereka berbakti dengan berbuat baik kepada kita, memandang wajah kita dengan tatapan kasih sayang, berbicara kepada kita dengan bahasa yang menyenangkan dan senantiasa berusaha membahagiakan kita. Ketika kita sudah meninggal dunia, mereka berbakti kepada kita dengan senantiasa berdoa dan memohonkan ampun untuk kita.
Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam pernah bersabda, ” Apabila manusia mati, terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: Shadaqah jariah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan untuk orang tuanya.”(HR.Muslim dari Abu Hurairah)
Lebih lanjut, Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa setelah meninggal dunia, derajat orang masih bisa diangkat. Si mayit yang merasa diangkat derajatnya terkejut dan berkata,” Ya Allah, apa ini?” maka akan dijawab, ” Itu karena anakmu selalu memintakan ampun untukmu.” (HR.Bukhori dalam Adab al-Mufrad, dari Abu Hurairah).
Yakin dalam berdoa
Salah satu hal yang sangat penting adalah, kita harus yakin dalam berdoa. Yakin terhadap ke-MahaBesar-an Alloh ta’ala. Yakin bahwa Alloh ta’ala Maha Mampu mewujudkan doa-doa kita.
Al-‘Alim Sufyan bin Uyainah pernah mengatakan:
“Jangan sekali-kali pesimis dalam berdoa. Optimislah. Iblis saja doanya dikabulkan, ketika dia minta umur yang panjang”.
Nah, Iblis saja doanya dikabulkan oleh Alloh ta’ala. So. Yakin, yakin, yakin..!!
Sabar dalam berdoa
Nabi Ibrahim diberi karunia oleh Alloh ta’ala, berupa anak yang sangat sabar yaitu Nabi Isma’il, ketika beliau berusia 86 tahun. Benar. Sudah cukup sepuh. Namun begitulah. Beliau sangat sabar dalam berdoa. Beliau tidak pernah putus asa. Beliau tidak pernah berhenti. Beliau sangat ngeyel dalam berdoa. Beliau senantiasa berbaik sangka kepada Alloh ta’ala. Sungguh, Alloh ta’ala Maha Mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.
Saudaraku. Marilah kita menteladani Ayah kita, Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala agar diberi keturunan yang sholih-sholihah. Kapan kita berdoa? Kapan pun dan di mana pun. Lebih sering lebih baik. Terutama setiap selesai sholat fardlu karena waktu tersebut merupakan salah satu waktu yang mustajabah.

Kedua, mengajarkan ketauhidan kepada anak
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (۱۳۱) وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (۱۳٢)
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (al Baqoroh: 131 – 132)
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Sebagai orang tua, kita wajib untuk memenuhi kebutuhan anak kita. Selain memenuhi kebutuhan berupa baju, makanan dan tempat tinggal, orang tua juga harus memperhatikan pendidikan anak, terutama pendidikan tauhid. Orang tua perlu mengenalkan Allah ta’ala kepada anaknya sedari dini. Orang tua semestinya senantiasa berusaha agar anak-anaknya mengenal Allah ta’ala, mengetahui kewajiban mereka kepada-Nya, memahami hak-hak Allah ta’ala terhadap mereka, sehingga mereka kelak tumbuh di bawah naungan cahaya ketuhanan.
Mari kita jujur. Berapa banyak waktu yang kita luangkan, tenaga dan pikiran yang kita curahkan, serta harta yang kita belanjakan untuk mendidik anak kita agar mengenal dan senentiasa dekat dengan Allah ta’ala? Bandingkan dengan waktu, tenaga, pikiran, dan harta yang kita habiskan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan anak. Padahal, ketauhidan dan keterikatan kepada Allah ta’ala inilah yang akan menjadi kontrol bagi anak-anak kita agar senantiasa melakukan kebaikan dan meninggalkan kema’shiatan. Ketauhidan inilah yang menjanjikan kebahagiaan dan keselamatan anak-anak kita di dunia dan akhirat.
Ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberikan teladan bahwa hendaknya orangtua mengajarkan ketauhidan kepada anaknya. Salah satu efeknya bisa kita lihat dalam ayat berikut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (۱۰٢)
“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada Anda; insyaallah Anda akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As Shofat : 102)
SubhanAllah… Itulah jawaban yang keluar dari mulut seorang anak yang tumbuh dalam bimbingan ketauhidan. Walaupun perintah itu sangat berat, karena keyakinannya kepada Allah ta’ala, karena husnudzonnya kepada Allah ta’ala, sang anak menjawab pertanyaan ayahnya dengan mantap tanpa sedikitpun keraguan, “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan –oleh Allah- kepada Anda”.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Alkisah, ada seorang guru yang memanggil semua muridnya. Guru tersebut memberikan seekor burung kepada setiap murid dan menyuruh mereka menyembelih burung itu. Sang guru mengingatkan, “Kalian harus menyembelihnya di sebuah tempat yang tidak dilihat dan diketahui oleh siapa pun.”
Maka para murid pun berangkat melaksanakan tugas yang diberikan gurunya. Di antara mereka ada yang pergi ke puncak bukit. Ada yang pergi ke gua terpencil. Bahkan ada yang pergi ke balik pepohonan tinggi yang tersembunyi. Ketika merasa tak ada yang melihat, mereka segera menyembelih burung yang dibawanya.
Tak lama kemudian, mereka kembali dengan membawa burung sembelihannya. Kecuali satu murid. Sang Guru lalu bertanya kepadanya," Kenapa kamu tidak menyembelih burung itu?"
Murid tersebut menjawab, "Tadi guru menyuruhku menyembelih burung di tempat yang tak terlihat oleh siapa pun. Tapi, aku tak dapat menemukan tempat seperti itu. Allah kan Maha Melihat dan akan melihat perbuatanku."
Itulah gambaran seorang anak yang hidup dalam keterikatan dengan Allah ta’ala. Kapan pun dan di mana pun, sang anak merasa senantiasa diawasi oleh Allah ta’ala.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Sungguh. Setiap anak lahir dalam keadaan fitroh, memiliki kecenderungan kepada Allah ta’ala. Setiap anak terlahir dengan membawa anugerah berupa kecenderungan berbuat baik. Mungkinkah, ketika anak kita lahir, di benaknya terbesit, “aku ingin menjadi anak nakal”, “aku ingin melawan orang tuaku”, “aku ingin berma’shiat kepada Alloh”? Mungkinkah hal seperti itu terjadi?
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi….
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Marilah kita menteladani ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dalam mendidik anak. Diantaranya adalah dengan senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala agar dianugerahi anak dan keturunan yang sholih serta mengajarkan ketauhidan kepada anak. Semoga Allah ta’ala memberikan pertolongan kepada kita sehingga kita mampu menteladani ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dalam mendidik anak-anak kita. Amin.
[tije/LP2A PBSB Kemenag]


Selasa, 16 April 2013

ORANG YANG JUJUR, MUJUR DI DUNIA, MUJUR DI AKHIRAT



Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Kita semua tahu bahwa jujur itu sifat yang sangat mulia. Jujur adalah sifat mulia yang disematkan kepada para nabi dan rosul. Para manusia termulia di jagat raya ini. Sifat jujur sangat terkait dengan keimanan seseorang. Bahkan Rosululloh pernah menyatakan bahwa seseorang yang di dalam hatinya tertanam iman yang kuat, tidak mungkin berbuat bohong atau dusta. Suatu ketika sahabat bertanya kepada Nabi, "Ya Rasulullah, apakah orang beriman ada yang penakut? Beliau menjawab,'Ya.' Maka ada yang bertanya kepada beliau, 'Apakah orang beriman ada yang bakhil (pelit, kikir).' Beliau menjawab, 'Ya.' Ada lagi yang bertanya, 'Apakah ada orang beriman yang pendusta?' Beliau menjawab, 'Tidak.' (HR. Imam Malik)
Lebih jauh lagi, Alloh ta’ala mengecap pembohong sebagai orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh. “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. An-Nahl :105)
Begitulah, sifat dan perilaku jujur sangat erat kaitannya dengan iman seseorang kepada Alloh ta’ala. Seseorang yang beriman tentu saja merasa bahwa dia senantiasa diawasi oleh Alloh. Dia takut berbohong karena sudah tentu Alloh yang Maha Tahu mengetahui kebohongannya.
Saudaraku yang berbahagia dengan rohmat Alloh ta’ala. Nabi kita tercinta, Muhammad ibnu ‘Abdillah adalah seseorang yang terkenal dengan kejujurannya. Sejak kecil beliau senantiasa berkata dan berbuat jujur. Saking jujurnya, beliau mendapatkan gelar al-amin (yang terpercaya) dari penduduk Makah pada waktu itu. Beliau adalah satu-satunya manusia yang mendapat gelar kehormatan seperti itu. Salah satu contoh peristiwa yang menunjukkan bahwa orang-orang Makah mengakui kejujuran Nabi Muhammad adalah ketika beliau mengumpulkan orang-orang Makah di bukit Shofa kemudian beliau berkata, “Apa pendapat kalian jika kukabarkan bahwa di lembah ini ada sepasukan kuda yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?” Orang-orang Makah serempak menjawab, “kami tidak pernah mempunyai pengalaman bersama engkau kecuali kejujuran”. Keterangan ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori.
Kita semua tahu bahwa Nabi Muhammad, dengan kejujurannya, adalah manusia terbaik dan paling mulia sepanjang sejarah. Bahkan, seorang penulis Yahudi yang bernama Michael H. Hart dalam bukunya yang terkenal, The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History, mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang paling berpengaruh di sepanjang sejarah peradaban manusia. Benar. Nabi kita, Nabi umat Islam adalah manusia yang terkenal dengan sifat jujurnya. Bagaimana dengan pengikutnya? Bagaimana dengan kita?
Pada kesempatan kali ini kami mengajak Anda sekalian untuk menelaah manfaat sifat jujur baik di dunia maupun di akhirat. Semoga dengan memahami manfaat-manfaat ini kita semakin termotivasi untuk senantiasa berlaku jujur. Disamping itu kami juga mengajak Anda sekalian untuk menelusuri kerugian sifat bohong baik di dunia maupun di akhirat. Semoga dengan memahami kerugian-kerugian ini kita semakin meneguhkan diri untuk menghindari dan menjauhi perbuatan bohong.

Manfaat sifat jujur di dunia
Ada beberapa manfaat dari sifat jujur bagi seseorang selama hidupnya di dunia. Diantaranya adalah hati yang tenteram, dipercaya orang lain, usaha semakin barokah, dan dicintai oleh Alloh ta’ala dan Rosululloh.
Orang yang senantiasa berkata dan berlaku jujur menjalani hidup dengan tenang. Perkataannya mudah dipahami, jelas, dan tidak berbelit-belit. Pendapatnya kuat. Pendiriannya teguh. Ia tidak merasa kawatir karena memang ia senantiasa berkata apa yang sebenarnya sesuai dengan kenyataan. Jadilah dia hidup dalam ketenangan. Orang yang seperti ini, tentu hidup di dunia dengan penuh kebahagiaan. Hidup dengan hati yang tenteram.
Selanjutnya, orang yang jujur senantiasa mengungkapkan kebenaran. Dia teguh menyampaikan apa yang sebenarnya, walaupun kadangkala terasa kurang enak. Dalam kesehariannya ia tidak pernah berbohong. Pantas saja orang-orang di sekitarnya menaruh kepercayaan kepadanya. Hal ini berdampak positif bagi hidupnya sehari-hari. Jika dia sedang kesusahan dan memerlukan hutang, orang-orang akan dengan ringan tangan membantunya dengan memberi hutangan. Mereka sudah percaya kepadanya. Jika dia jualan, orang-orang dengan senang hati membeli barang dagangannya. Orang-orang itu tidak kawatir bahwa dia akan menipu mereka. Jika dia membutuhkan rekan bisnis, orang-orang akan bahagia bekerjasama dengannya. Mereka sudah yakin bahwa orang itu tidak mungkin berkhianat. Tentu, sangat membahagiakan sekali, hidup sebagai orang yang dipercaya.
Selain itu, sifat jujur juga bermanfaat bagi para wirausahawan, pebisnis, maupun karyawan. Usaha yang dilakukan akan bertambah-tambah berkahnya. Usaha yang barokah kan senantiasa mengantarkan pemiliknya untuk lebih dekat kepada Alloh ta’ala. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda (yang maksudnya), ''Dua orang yang berjual beli mempunyai pilihan (untuk melanjutkan transaksi ataupun membatalkannya) selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan barangnya maka akan diberkahi jual beli mereka, dan jika mereka merahasiakan dan berdusta maka dihilangkan keberkahan jual beli mereka.'' (HR Bukhari)
Tidak hanya itu, perilaku jujur menyebabkan pelakunya dicintai oleh Alloh ta’ala dan Rosululloh. Jika kita sudah mendapatkan cinta dari Alloh ta’ala dan Rosululloh, insyaalloh, kita mampu menjalani hidup di dunia ini dengan penuh kebahagiaan. Insyaalloh, Alloh ta’ala akan memudahkan segala urusan kita.
Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau ingin dicintai oleh Alloh ta’ala dan Rosul-Nya, maka tunaikanlah jika engkau diberi amanah, jujurlah jika engkau bicara, dan berbuat baiklah terhadap orang di sekililingmu” (HR. ath-Thobroniy)

Kerugian sifat bohong di dunia
Walaupun sekilas kelihatannya bermanfaat, sesungguhnya perilaku bohong banyak merugikan pelakunya selama hidup di dunia. Diantara kerugian yang diakibatkan dari perilaku bohong adalah hidup tidak tenang (senantiasa waswas), tidak dipercaya orang lain, dibenci orang lain, dan
Orang yang berbohong hidup dalam ketidaktenangan. Dia senantiasa kawatir kebohongannya diketahui oleh orang lain. Hatinya dipenuhi dengan waswas. Omongannya sering mencla-mencle. Tentu saja, karena dia mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Ketika berbicara dan berbohong, sebenarnya hati nuraninya menolak, ingin berontak. Orang seperti ini hidupnya tidak tenang. Hidupnya dipenuhi dengan keraguan. Benarlah sabda Nabi kita tercinta (yang maksudnya);
"Maka sesungguhnya jujur adalah ketenangan dan bohong adalah keraguan." (HR. Imam Turmudzi)
Jika sudah sering berbohong, orang lain akan mengecap dia sebagai pembohong. Orang lain akan sulit percaya kepada apa yang dia katakan. Ketika dia sedang kesusahan, orang lain enggan membantunya. Ketika dia perlu hutang, orang lain enggan memberinya hutang. Takut tidak dibayar. Ketika sang pembohong berjualan barang, orang lain enggan membelinya. Takut dibohongi. Jangan-jangan barangnya sudah diutak-atik, spart-partnya yang asli deganti dengan yang palsu. Bisa Anda bayangkan, sungguh tidak enak sekali, hidup sebagai orang yang tidak dipercaya.
Tidak hanya itu, biasanya, masyarakat membeci pembohong. Lihat saja, ketika ada seorang calon pemimpin ketahuan berbohong, pasti masyarakat ramai-ramai mencacinya. Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang dikenal sebagai pembohong, biasanya dibenci oleh masyarakat. Tentu saja, omongannya tidak bisa dipegang. Ketika dipercaya justru dia berkhianat. Ketika berjanji justru dia mengingkari. Manusia mana yang mau bersahabat dengan orang seperti ini? Saya yakin, seorang pembohong pun, akan marah jika dibohongi.


Manfaat sifat jujur di akhirat
Selain banyak bermanfaat di dunia, sifat jujur juga bermanfaat besar bagi pelakunya di akhirat kelak. Malah, sebenarnya manfaat di akhirat ini nilainya jauh lebih besar daripada manfaat di dunia. Kenapa? Karena kehidupan di akhirat adalah kekal, sementara kehidupan di dunia hanyalah sementara.
Pada hari kiamat kelak, dikatakan kepada manusia:
هَذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ
Ini adalah suatu hari di mana kejujuran orang-orang yang jujur bermanfaat bagi mereka. …". (QS. Al-Maidah :119)
Sifat jujur menjadikan pelakunya senantiasa dekat dengan kebaikan, cenderung melakukan amal-amal baik. Otomatis amal kebaikannya senantiasa bertambah dan bertambah. Jika kejujuran ini senantiasa dia jaga hingga akhir hayatnya, kemungkinan besar dia meninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah. Tentu, dengan izin dan ridlo dari Alloh ta’ala. Apa yang terjadi kepada orang yang semasa hidupnya di dunia banyak mengerjakan amal-amal kebaikan? Di akhirat nanti, dia dijanjikan oleh Alloh ta’ala, untuk dimasukkan ke surga-Nya yang penuh dengan nikmat.
Dari ibnu Mas’ud rodliyallohu anhu, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Berlakulah jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu mengantarkan ke surga. Seseorang senantiasa bersikap jujur dan senantiasa berusaha berlaku jujur hingga ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.” (HR. Bukhori-Muslim)
Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam pun menjamin bahwa orang yang senantiasa jujur akan dimasukkan oleh Alloh ta’ala ke dalam surga-Nya kelak…
“Berikanlah kepadaku enam perkara. Niscaya aku akan jamin engkau masuk surga: jujurlah jika engkau bicara, tepatilah jika engkau berjanji, tunaikanlah jika engkau diberi amanat, jagalah kemaluanmu, tundukkan pandanganmu, dan jagalah tanganmu” (HR. Imam Ahmad)

Kerugian sifat bohong di akhirat
Di sisi lain, sifat dan perilaku bohong menyebabkan pelakunya menanggung kerugian yang sangat besar di akhirat kelak. Orang yang suka berbohong otomatis akan terperangkap ke dalam lingkaran kebohongan. Dia akan melakukan kebohongan dan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan yang dia lakukan pertama kali. Tidak hanya demikian, kebohongan yang dilakukannya akan menyebabkan dia cenderung berbuat kejelekan dan kejahatan. Apa yang terjadi kepada orang yang selama hiduponya di dunia banyak berbuat kejelekan dan kejahatan? Ia dimurkai oleh Alloh ta’ala. Di akhirat nanti dia akan mendapatkan siksa yang sangat pedih. Terjerembab ke dalam neraka yang penuh dengan siksaan.
Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam mengingatkan: “Janganlah berlaku dusta, karena sesungguhnya dusta itu menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan itu mengantarkan ke neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan senantiasa berusaha berdusta hingga ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (Muttafaqun ‘alaih).
Demikianlah saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Sifat dan perilaku jujur itu sangat bermanfaat bagi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, sifat dan perilaku bohong itu sangat merugikan bagi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, mari kita jujur, berbicara jujur, berlaku jujur, dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kejujuran dalam diri kita. Sungguh, jujur sama dengan mujur. Kejujuran membawa pelakunya kepada kemujuran. Mujur di dunia. Mujur di akhirat.
[tj/LP2A PBSB]

Kamis, 24 Januari 2013

Segera Tinggalkan Sekolah..!! (introduction)


Suatu hari di Sekolah XXX kelas A

Pak Guru : Assalamua'alaikum anak-anak
Murid-Murid : Wa'alaikumsalam Pak Guru.
Pak Guru : anak-anak hari ini kita belajar Trigonometri. Silahkan buka buku paket halaman 56.
(kemudian pak guru menjelaskan apa itu Trigonometri. Menuliskan rumusnya di papan tulis. memberikan contah soal. mengerjakan contoh soal. kemudian...)
Pak Guru : anak-anak, sudah paham? ada yang ditanyakan?
Murid-Murid : sssttt ........... (diam tidak menjawab)
Pak Guru : anak-anak, silahkan buka LKS. kerjakan soal-soal halaman 24-25.
(dan anak-anak pun segera melaksanakan apa yang Pak Guru perintahkan. sampai ketika...)
Pak Guru : anak-anak. waktu habis. silahkan dikumpulkan. sampai ketemu anak-anak. assalamu'alaikum ...
Murid-Murid : Wa'alaikum salam Pak Guru.

Suatu hari di Sekolah XXX kelas B

Bu Guru : Assalamu'alaikum anak-anak
Murid-murid : wa'alaikum salam bu Guru.
Bu Guru : anak-anak, hari ini kita belajar Past Tense. Rumus Past Tense adalah S + V2. contoh... I went to school.
(begitulah seterusnya... kemudian bu Guru menjelaskan apa kegunaan PastTense itu)
Bu Guru : anak-anak. PastTense digunakan untuk menyatakan aktifitas yang terjadi pada masa lampau.
(Bu Guru pun menunjukkan beberapa contoh kalimat yang semula Present Tense kemudian dirubah menjadi PastTense. kemudian...)
Bu Guru : anak-anak, ada pertanyaan?
Murid-Murid : ssstttt.... (diam tidak bersuara)
Bu Guru : baiklah. sekarang buka LKS kalian. kerjakan soal-soal halaman 35-36. nanti dikumpulkan sebelum bel istirahat.
(murid-murid pun mengerjakan soal-soal di LKS, hingga pada saat...)
Bu Guru : oke anak-anak. waktu habis. silahkan LKSnya dikumpulkan. see you... assalamualaikum
Murid-murid : wa'alaikumsalam. Horey!! istirahat..


Seperti itulah proses yang disebut sebagai "belajar - mengajar" yang terjadi di sekolahan XXX. Bagaimana dengan sekolah Anda? Seperti itukah?
Lalu apa yang diharapkan dari sekolah jika yang dilakukan di dalam kelas-kelas hanyalah aktifitas semacam itu? Apakah hal-hal tersebut bermanfaat bagi murid di kehidupannya saat itu dan di masa depannya? Apakah model pengajaran seperti itu bisa membekali murid untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan hidupnya?


Tahan sebentar....
Sampai ketemu di kesempatan selanjutnya. Semoga kita diberi Alloh ta'ala panjang umur yang barokah. Amin.


Senin, 10 Desember 2012

SURAT CINTA UNTUK REMAJA MUSLIM


Wahai remaja muslim. Bagaimana kabarmu? Semoga kalian senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat. Bagaimana kabar hatimu? Apakah di dalam hatimu masih ada ruang untuk cintamu kepada Alloh ta’ala? Semoga saja ada dan senantiasa ada. Bukankah Alloh lah tempat kita berasal dan Alloh lah tempat kita kembali kelak?
Wahai remaja muslim, Alloh ta’ala mengundangmu ke surga-Nya. Jagalah dirimu, jagalah tubuh yang telah Alloh ta’ala percayakan kepadamu. Tutuplah aurotmu. Pakailah pakaian yang bersih, baik, pantas, dan menutup aurot. Bagi wanita muslimah, pakaiannya menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Bagi laki-laki muslim, bajunya menutup badan dan celananya sampai di bawah lutut.
Wahai remaja muslim, apakah kalian sudah mengetahui bagaimana seharusnya kita, umat nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam, berpakaian? Yuk, kita belajar bareng-bareng. Bismillah…
Kriteria pakaian yang seharusnya remaja muslim pakai itu ada empat: 
Yang pertama, pakaian kita itu menutup aurot. Apakah aurot itu? Aurot adalah bagian tubuh yang (menurut syariat) harus ditutup. Kita sudah tahu kan batasan aurot itu?       
Aurot wanita muslimah itu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya….” (QS. An Nuur [24] : 31).
Menurut Ibnu Umar RA. yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan.
Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh SAW dengan pakaian yang tipis, lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata : “Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini dan ini [sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan]”. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).
Menutupkan khumur (jilbab) ke dada.
“…. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada…” (QS. An Nuur [24] : 31).
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59).
Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurot yang harus ditutup.
Sedangkan aurot laki-laki muslim adalah antara pusar dan lutut.
Dari Muhammad bin Jahsyi, ia berkata: Rasulullah Saw melewati Ma’mar, sedang kedua pahanya dalam keadaan terbuka. Lalu Nabi bersabda: “Wahai Ma’mar, tutuplah kedua pahamu itu, karena sesungguhnya kedua paha itu aurot.” [HR. Ahmad dan Bukhari, lihat Ahkamush Sholat, Ali Raghib].
Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ali ra: “Janganlah engkau menampakkan pahamu dan janganlah engkau melihat paha orang yang masih hidup atau yang sudah mati.” [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni].
Yang kedua, pakaian kita itu tidak tipis dan tidak transparan atau menerawang. Artinya ya pakaian yang benar-benar menutup aurot. Yang ketiga, pakaian kita itu juga tidak ketat (memperlihatkan lekuk tubuh). Masih ingat kan nasehat dan peringatan dari Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang sangat mencintai kita, bahwa salah satu penghuni neraka nanti adalah, mereka yang berpakaian tapi telanjang (pakaiannya tipis-transparan / ketat).
“Dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu : Suatu kaum yang memiliki cambuk, seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan ini dan ini.” (HR.Muslim)
Yang keempat, laki-laki tidak memakai pakaian khusus wanita, begitu juga sebaliknya.
Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dia menceritakan : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki yang bersikap seperti wanita dan wanita seperti laki-laki“.
Sedangkan dalam riwayat yang lain disebutkan : “Rasululloh shollallohu alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki“. (H.R. Bukhari).
Begitulah seharusnya kita remaja muslim berpakaian. Wah repot banget..! Ribet banget..! Emmm.. Sebenarnya enggak juga. Repot dan ribet enggaknya itu karena kebiasaan. Kalau kita sudah terbiasa memakai pakaian yang menutup aurot dengan sempurna, kita akan merasa gak nyaman ketika memakai pakaian yang terbuka, tipis-transparan, ataupun ketat. Gak percaya?! Coba aja deh. Begitu juga sebaliknya. Kalau kita sudah terbiasa memakai pakaian yang serba terbuka, serba tipis, dan serba ketat, mau ganti pakaian yang menutup aurot, agak tebal dikit, dan agak longgar pada awalnya akan terasa aneh. Kurang nyaman. Namun lama-kelamaan pasti menjadi nyaman. Lagian, kita kan musti ingat. Kita ini hidup bukan hanya di dunia yang fana ini saja, tapi juga di akhirat. Apapun yang kita lakukan di dunia ini akan ada akibatnya di akhirat kelak, mengantarkan kita ke surga yang penuh nikmat, atau menjerembabkan kita ke jurang neraka yang penuh siksa. Dan apapun yang diatur oleh Alloh ta’ala, pastilah itu baik bagi kita, di dunia dan di akhirat. Bukankah kita sudah ridlo bahwa hanya Alloh lah Tuhan kita?? Kalau memang begitu, yuk menjalankan perintah Alloh ta’ala. Coba aja dulu deh… dengan niat yang baik dan bener. Bismillah… semoga Alloh ta’ala ridlo kepada kita. Semoga Alloh ta’ala tambah sayang kepada kita.
Terakhir, saya kutipkan penjelasan dari Prof. Dr. M. Qurais Shihab, MA., penulis tafsir al-Misbah dan direktur Institut Ilmu al-Quran Jakarta, tentang pakaian, aurot, dan keterlibatan syetan terhadap terbukanya aurot manusia.
Al-Quran  surat  Al-'Araf (7): 20 menjelaskan peristiwa ketika Adam dan Hawa berada di surga:
“Setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan pada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu aurotnya, dan setan berkata, "Tuhan kamu melarang kamu mendekati pohon ini, supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (di surga)."
Selanjutnya dijelaskan dalam ayat 22 bahwa:
“...setelah mereka merasakan (buah) pohon (terlarang) itu tampaklah bagi keduanya aurot-aurotnya, dan  mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga...”
Terlihat jelas  bahwa  ide  dasar  yang  terdapat  dalam  diri manusia adalah "tertutupnya aurot", namun karena godaan setan, aurot manusia terbuka. Dari ayat di atas kita juga tahu bahwa ide "membuka aurot" adalah ide setan, dan karenanya tanda-tanda kehadiran  setan  adalah terbukanya aurot.  Sebuah  riwayat  yang  dikemukakan oleh Al-Biqa'i  dalam  bukunya  Shubhat  Waraqah  menyatakan  bahwa ketika  Nabi  Saw. belum memperoleh keyakinan tentang apa yang dialaminya di  Gua  Hira  --apakah  dari  malaikat  atau  dari setan--  beliau  menyampaikan  hal  tersebut  kepada  istrinya Khadijah. Khadijah  berkata,  "Jika  engkau  melihatnya  lagi, beritahulah  aku".  Ketika  di  saat  lain  Nabi  Saw. Melihat (malaikat) yang  dilihatnya  di  Gua  Hira,  Khadijah  membuka pakaiannya  sambi1  bertanya,  "Sekarang,  apakah engkau masih melihatnya?" Nabi  Saw.  menjawab,  "Tidak,  ...  dia  pergi." Khadijah dengan penuh keyakinan berkata, "Yakinlah yang datang bukan setan, ...  (karena  hanya  setan  yang  senang  melihat aurot)".
Dalam hal ini Al-Quran mengingatkan:
“wahai putra-putra Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia (telah menipu orang tuamu Adam dan Hawa) sehingga ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurot mereka berdua” (QS Al-A'raf [7]: 27).
Jadi, marilah kita menutup aurot kita karena pada dasarnya manusia itu sesuai fitrah senang menutup aurotnya. Dan syetanlah yang memiliki ide untuk membuka aurot dan suka melihat aurot manusia. Kita gak mau kan jadi teman dan tontonan syetan setiap hari?
Hanya kepada Alloh lah kita menyembah. Hanya kepada Alloh lah kita memohon pertolongan. Semoga Alloh ta’ala memantapkan hati kita untuk senantiasa menutup aurot. Amin. (tj)


Sabtu, 24 November 2012

Mengatasi Anak Yang Punya Senjata Andalan MENANGIS

Bagaimana mengatasi anak yang menggunakan tangisan sebagai senjata andalan?
Saya adalah seorang ibu. Saya memiliki anak yang berusia 5 tahun. Ketika menginginkan sesuatu, anak saya seringkali menangis dengan keras. Anak saya baru berhenti jika keinginannya dipenuhi. Contohnya: setiap pagi anak saya minta dibuatkan mie instan. Sebenarnya saya tahu jika mie instan itu tidak baik bagi anak. Apalagi dalam jumlah yang banyak dan frekuensi yang sering. Tapi mau gimana lagi, anak saya itu selalu merengek minta mie instan setiap pagi. Kalau tidak saya kasih, dia mengangis dengan sangat keras sampai kedengaran dari rumah tetangga. Selain malu dengan tetangga, saya juga tidak tega melihat anak saya yang masih 5 tahun itu menangis sambil meraung-raung di lantai. Bagaimana sebaiknya sikap saya menghadapi anak saya tersebut? Terimakasih.

Jawab:
Ibu yang dirahmati Alloh, ketika anak menggunakan tangisan untuk “memaksa” kita menuruti keinginannya kemudian berhasil, dia akan mengulanginya lagi di lain kesempatan. Dan jika dia berhasil untuk yang ke dua kali dan seterusnya, maka dia benar-benar akan menggunakan tangisan itu sebagai “senjata andalan” untuk memaksa kita menuruti keinginannya.
Lalu bagaimana solusinya?
Ibu yang bijaksana, kita harus tahu dengan pasti mana keinginan anak yang baik dan bermanfaat bagi dia dan mana yang jelek dan berbahaya bagi dia. Jika si anak memiliki keinginan yang berakibat jelek bagi dia, seperti yang Ibu utarakan tersebut, maka kita sebagai orang tua harus “tega” menolak keinginannya. Tentu kita harus menjelaskan dengan lembut kepada si anak bahwa keinginannya itu berbahaya dan berakibat jelek bagi dia. Misalnya, dia nanti bisa sakit.
Biasanya respons anak adalah menangis dan merengek. Tidak mengapa, tetaplah bersikap tenang dan jangan terpacing oleh ulahnya. Katakanlah dengan lembut, “Adik tidak boleh terus-terusan makan mie instan setiap pagi, karena bisa membuat adik sakit. Lebih baik adik makan telur dan minum susu agar badan adik sehat dan kuat. Kalau adik mau nangis, silahkan. Ibu akan tunggu sampai adik selesai menangis…”.
Tetaplah konsisten dengan pendirian Ibu. Jangan lekas luluh dengan tangisan si anak. Ibu juga tidak perlu malu dengan tetangga. Ini kan untuk kebaikan anak Ibu sendiri, buat apa malu? Dan, sebaiknya berilah semangat kepada si anak. Misalnya dengan mengatakan, “Ibu tahu adik anak yang baik, adik anak yang pandai, nanti kalau sudah selesai menangis, bilang ke ibu ya…”.
Memang, kebanyakan orang tua kesusahan menerapkan metode ini. Mereka berpikir alangkah kejamnya orang tua yang membiarkan anaknya menangis dan meraung-raung seperti itu. padahal, inilah yang dinamakan ketegasan. Bukan berarti tidak sayang. Justru inilah wujud kasih sayang orang tua yang sebenarnya kepada anak. Apa Ibu mau nantinya anak ibu sakit-sakitan dan terganggu perkembangannya? Kita seharusnya mengajari anak kita tentang hal yang benar dan hal yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.
Dengan bersikap tegas dan konsisten, lama-kelamaan si anak akan menyadari bahwa dia tidak bisa memaksakan kehendaknya dengan menggunakan tangisan. Sekali kita berhasil menyadarkan si anak, dia akan berhenti untuk memaksakan kehendaknya kepada orang tua.
Setelah tenang dan berhenti menangis, biasanya seorang anak akan menunjukkan sinyal-sinyal perdamaian dengan orang tua. Dia akan mendekati orang tua dan mulai mengajak komunikasi. Tentu saja, karena memang dia membutuhkan orang tuanya. Jika tanda-tanda itu muncul, segeralah sambut anak Anda dengan pelukan dan ciuman yang penuh dengan kasih sayang. Pujilah anak Anda dengan mengatakan, “adik memang anak yang baik”, atau, “anak mama hebat ya..”. Saya yakin anak Anda pun akan menyambut baik sikap Ibu tersebut.
Sebagai orang tua, kita perlu menhindari ucapan yang melemahkan seperti, “dasar kamu anak cengeng”, “kamu bikin repot mama saja..!”, atau ancaman-ancaman kosong, seperti, “awas ya, nanti kalau mama pergi adik tidak diajak lagi”. Ucapan yang melemahkan dan ancaman kosong seperti itu tidak akan bisa merubah sikap si anak menjadi lebih baik. Hindarilah, sekali lagi hindari kata-kata seperti itu.
Jika suatu ketika si anak mengulangi lagi jurus menangis seperti itu, kita tidak perlu menyalahkan si anak. Kita hendaknya mengulangi lagi cara-cara yang tegas dan konsisten tersebut. Tentu saja cara-cara tersebut kita lakukan dengan lembut. Bagaimanapun dia adalah anak manusia yang masih berusia 5 tahun dan masih butuh banyak belajar. Mungkin saja teknik ini memerlukan pengulangan beberapa kali hingga si anak benar-benar memahami dan menyadari. Bersabarlah… demi kebaikan buah hati Anda.
Terakhir, ingatlah untuk senantiasa berdoa. Mintalah kepada Allo ta’ala agar melembutkan hati anak-anak kita sehingga kita mudah mendidik mereka untuk menjadi anak-anak yang baik. (tj) 
(Disarikan dari buku Ayah Edy Menjawab: 100 persoalan sehari-hari orang tua yang tidak ada jawabannya di kamus manapun, hal 3-5. 2012. Jakarta: Noura Books. Dengan beberapa modifikasi dan tambahan)

Rabu, 03 Oktober 2012

Mengapa anak suka berbohong?



Ayah bunda yang bijaksana, dibandingkan dengan tindak kejahatan lain, berbohong sebenarnya berada pada level teratas. Mengapa demikian? Mari kita lihat kondisi bangsa ini, berapa banyak orang yang melakukan korupsi? Dan kita tahu, korupsi itu berawal dari sebuah kebohongan. Kebohongan adalah awal dari berbagai kerusakan dan hanya membawa kita kepada keburukan.
Oleh karena itu, jika anak (suka) berbohong, orang tua perlu segera mencari solusinya karena dampaknya berat sekali. Tekankan dan pahamkan kepada anak bahwa berbohong adalah kebiasaan yang sangat buruk dan berakibat buruk baik di dunia dan akhirat. Di dunia, pembohong tidak akan dipercaya oleh orang lain. Di akhirat, pembohong mendapatkan siksa karena berbohong itu termasuk perbuatan dosa.
Berdasarkan pengalaman ayah Edy, seoarang pakar parenting, anak (suka) berbohong karena pada  awalnya mencontoh orang-orang terdekatnya, siapapun orang itu dan sekecil apa pun kebohongan itu. Salah satu contoh kebohongan kecil  yang (mungkin) sering dilakukan orang tua adalah ketika ada tamu tak diundang yang bernama pengemis, orang tua berkata, “Dek, bilang mama gak ada ya…”. Karena melihat orang-orang terdekatnya berbohong, si anak mengira bahwa bebohong itu wajar-wajar saja dan boleh dilakukan. Akhirnya si anak pun mulai berbohong. Jadi, faktor pertama anak (suka) berbohong adalah karena ada yang dicontoh. Tidak mungkin seorang anak tiba-tiba suka berbohong jika tidak ada yang dicontoh.
Faktor kedua, orang tua seringkali ingin jawaban yang bagus-bagus dari sang anak. Jika anak cerita tantang sesuatu yang jelek, yang tidak menyenangkan, sering kali orang tua marah-marah. Orang tua tidak siap dengan jawaban yang tidak bagus. Jadinya, kejujuran anak seringkali dibalas dengan emosi. Contoh: suatu hari sang anak bolos sekolah, lalu orang tua mengatahui kalau anaknya bolos sekolah.
“adek tadi bolos sekolah ya?”   
“iya” jawab sang anak
“Adek ini, mama sudah susah-susah nyekolahin, malah sekolah gak bener..!! mau jadi apa kamu!!”
Nah, kebanyakan orang tua suka marah-marah seperti ini. Jadinya di kesempatan berikutnya si anak berbohong karena takut dimarahi orang tuanya. Sebenarnya si anak tidak memiliki niat jahat. Ia hanya ingin cari aman saja. Padahal kalau orang tua gak marah-marah, orang tua mau mencari penyebab kenapa anak bolos sekolah, kemudian membantu anak untuk menyelesaikan permasalahannya, malah orang tua mau menasehati sang anak dengan lembut dan memotivasi anak agar lebih giat belajar, kemungkinan besar anak tidak akan berbohong.
Lalu bagaimana solusinya?
Kalau penyebabnya karena ada yang dicontoh, solusinya adalah mengubah sikap yang dicontoh. Jika bunda merasa pernah berbohong kepada anak, katakana pada anak, “sayang, kalau kamu berbohong karena mencontoh mama, maafkan mama ya. Mama berjanji tidak akan berbohong lagi. Tolong bantu mama ya.. kalau mama berbohong, tolong adek ingatkan”. Jadi memang harus ada komitmen yang dibangun oleh orang tua untuk mengoreksi diri. Kalau orang tua mau berubah, insyaalloh anak pun akan berubah.
Kemudian, jika selama ini orang tua sering marah-marah kalau mendengar atau mengetahui bahwa si anak (mungkin) melakukan kesalahan, maka mulai sekarang kebiasaan ini harus dirubah. Dengarkan jawaban anak tanpa memarahinya. Apapun jawabannya. Kita sebagai orang tua mestinya bersyukur jika anak kita masih mau berkata jujur kepada kita. Jadi anak kita masih percaya kepada kita. Ingat..!! marah tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Bayangkan kalau anak sudah terlanjur memakai narkoba. Kalau orang tuanya marah-marah saja, apa ini akan menyelesaikan masalah?! Justru melihat orang tuanya marah, mungkin ia malah akan terus melakukannya. Sebaliknya, jika orang tua mau menerima si anak apa adanya, orang tua mau membantu anak menyelesaikan masalahnya, orang tua mau bekerja sama dengan anak, kemungkinan besar “kerusakan” itu bisa diperbaiki sedikit demi sedikit.
Cara bepikir seperti ini seringkali luput dari pemikiran orang tua karena kebanyakan orang tua merasa diri mereka paling benar. Kalau anaknya salah, mereka pikir itu hanya kesalahan anak semata. Padahal kesalahan anak adalah kesalahan orang tua juga; mungkin si anak kurang mendapat perhatian dan kasih sayang, akhirnya si anak mencari teman, nah tanpa sengaja si anak mendapat teman yang salah, teman yang buruk, lama-kelamaan si anak mengikuti apa yang dilakukan temannya itu karena ia merasa nyaman bersama mereka.  Oleh karena itu, STOP marah ya Ayah Bunda.
Kalau anak melakukan sesuatu yang dinilai salah, sebaiknya kita cari tahu dulu apa penyebabnya. Anak bolos sekolah mungkin saja disebabkan karena ada gurunya yang galak, ada temannya yang suka menyakiti, atau sebab yang lain. Kita cari tahu dulu penyebabnya apa, kemudian kita bantu anak kita untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Seperti ini lebih baik dan insyaalloh si anak akan tetap berkata jujur kepada orang tua.
Bagaimana kalau si anak masih berbohong?
Kita sebaiknya membuat kesepakatan dengan anak. Kalau anak masih berbohong, kita perlu memberikan sanksi yang tegas. Contoh, “adek tidak boleh berbohong, karena berbohong itu dosa. Kalau adek berbohong lagi, akhir bulan ini adek tidak boleh ikut rekreasi ke kebun binatang”. Jika kemudian si anak “ketangkap” berbohong lagi, sanksi ini harus dijalankan. Konsistenlah agar anak mengerti bahwa berbohong itu adalah perbuatan buruk yang harus dihindari.
Selain itu, biasakanlah memberikan apresiasi kepada anak ketika dia berkata jujur. Orang tua bisa mengucapkan, “terimakasih adek berkata jujur. Bunda akan tambah sayang kepada adek”. Dan sesekali boleh juga kita, orang tua, memberikan hadiah kepada anak karena sang anak konsisten berkata jujur. Insyaalloh dengan cara seperti ini anak-anak kita akan terbiasa dan termotivasi untuk senantiasa berkata jujur. Ingat, biasakan setiap hari berdoa agar Alloh ta’ala membersihkan hati anak-anak kita, agar Alloh ta’ala menolong kita dan anak-anak kita menjadi orang-orang yang jujur. Semoga. 
                                                                                       
(Dikutip dari buku Ayah Edy Menjawab: 100 persoalan sehari-hari orang tua yang tidak ada jawabannya di kamus manapun, hal 31-35. 2012. Jakarta: Noura Books. Dengan beberapa modifikasi dan tambahan)