Tampilkan postingan dengan label tahlilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tahlilan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2013

Jagongan Ahli Bid'ah: Tahlilan (3)


Setelah beberapa hari tidak ketemu karena kesibukan masing-masing, Mas Ikhwan (I) dan Kang Selamet (S) sepakat untuk jagongan lagi. Kali ini jagongannya tidak di pagi hari, tapi di malan hari, selepas jama’ah sholat Isya`. Bertemankan secangkir kopi hitam putih yang HOT, obrolan pun mengalir…
I           : gimana kabar kamu Met?
S          : Alhamdulillah. Sae… Mas Ikhwan sendiri gimana kabar?
I           : Alhamdulillah. Baik. Oiya Met… kita lanjutkan diskusi kita ya?
S          : oke Mas.. diskusi tentang apa mas?
I           : apalagi? Tentang tahlilan.
S          : ooo… belum selesai ta Mas?
I           : Met. Tahlilan itu kan bisasanya diadakan selama tujuh hari, kemudian hari ke empat puluh, hari ke seratus, hari ke seribu, lalu setiap tahun. Benar kan?
S          : enjeh Mas. Biasane memang seperti itu..
I           : itukan tradisi Hindu!?
S          : lho? Iya ta Mas?
I           : Iya. Kamu gak tahu ya? Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 disebutkan bahwa, termasyhurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu. Itu kitabnya orang Hindu. Jadi tradisi tahlilan selama tujuh hari, hari ke-40, hari ke-100, dan seterusnya adalah budaya Hindu. Kita jelas tidak boleh ikut-ikutan.
S          : oooalah.. itu ta?
I           : emang kenapa Met?
S          : Tradisi Hindu dan Tradisi Tahlilan jelas sangat berbeda.
I           : maksudmu?
S          : Tradisi Hindu yang berhubungan dengan kematian itu biasane diisi dengan ritual selamatan dengan menghidangkan makanan disertai dengan sabung ayam, minuman keras, judi, dan hal-hal lain yang keharamannya sudah jelas dalam Islam. Lha kalo Tahlilan yang biasa saya lakukan itu kan isinya baca surat dan ayat-ayat pilihan, istighfar, sholawat, tahlil, dan dzikr-dzikr lainnya. Jelas sangat berbeda.
I           : mana dalilnya?
S          : ooalah.. Mas Ikhwan minta dalil.
I           : iya. Kan harus ada dalil.
S          : yaweslah kalau itu maunya Mas Ikhwan. Begini mas, Imam Sufyan meriwayatkan, bahwa  Imam Thowus berkata, Sesungguhnya orang yang meninggal akan diuji di  dalam  kubur  selama  tujuh  hari,  oleh  karena  itu  mereka  (kaum  salaf) menganjurkan  bersedekah  makanan  untuk  keluarga  yang  meninggal  selama tujuh hari  tersebut.
I           : ada di kitab mana keterangan itu?
S          : keterangan itu ditulis oleh Imam Ahmad dalam al-Zuhd al-Hafizh,  Abu Nu'aim dalam Hilyah al-Auliya’ juz 4, hal 11 dan al-Hafizh Ibn Hajar dalam al-Mathalib al-'Aliyah, juz5, hal 330
I           : benar ta?
S          : silahkan Mas Ikhwan cek sendiri.
I           : oke.
S          : Mas Ikhwan, seandainya Tradisi Tahlilan itu dianggap mengadopsi tradisi Hindu. Kan gak papa tu? Bagus malahan.
I           : kamu ini ngomong ngawur aja.
S          : ngawur karena benar kan gak papa. hehehe. Di dalam Tradisi Hindunya kan diisi dengan minuman keras, judi, sabung ayam, dan kema’shiatan yang lain. Kemudian setelah diadopsi, isinya berubah menjadi baca al-Quran, istighfar, sholawat, tahlil, dan shodaqoh makanan. Kan bagus itu?
I           : baca al-Quran dan lain-lain itu memang bagus. Sangat dianjurkan dalam Islam. Tapi yang aku gak setuju, kenapa ada pengkhususan hari-harinya. Hari ke tujuh, empat puluh, seratus, dan seterusnya yang menyerupai budaya Hindu?
S          : Mas, baca al-Quran itu kan baik?
I           : iya. Terus kenapa?
S          : boleh gak jika aku mengkhususkan diriku untuk membaca al-Quran satu juz setiap jam 10 pagi?
I           : gak tahu sih.. jangan melebar ke mana-mana. Fokus aja ke pembahasan kita.
S          : maksudnya?
I           : mana dalilnya kalau mengkhususkan amal itu diperbolehkan?
S          : oooalah. Dalil ta? Gini aja ya.. ni aku bawa kitabnya Imam Nawawi, al-Majmu’. Aku baca terjemahannya aja ya.. berjabat tangan itu disunnahkan dalam setiap perjumpaan. Sedangkan tradisi berjabat tangan yang dibiasakan masyarakat seusai sholat subuh dan ‘ashr tidak ada dalil syariatnya secara khusus, akan tetapi tidak apa-apa dilakukan, karena hukum asalnya adalah sunnah.
I           : maksudnya?
S          : ya.. boleh-boleh aja kita mengkhususkan sebuah amal baik yang hukum asalnya adalah sunnah. Kita tidak mendapatkan pahala karena pengkhususan itu, karena memang tidak ada dalil syariatnya. Tapi kita tetap mendapatkan pahala karena melakukan amal-amal sunnah. Ya seperti baca al-Quran, istighfar, sholawat, tahlil, dan shodaqoh makanan itu kan hukumnya sunnah.
I           : bisa aja kamu.
S          : Mas Ikhwan juga bisa aja. Hehehe
I           : Ini saya juga bawa kitab. I’anatuth-tholibin. Karya syeikh al-Bakri. Ahli fiqh madzhab Syafi’I ini.
S          : iya. Betul mas. Ada apa di kitab itu?
I           : dan dimakruhkan bagi keluarga duka duduk di rumah agar dita’ziahi dan membuat jamuan dengan maksud mengumpulkan orang untuk memakannya, berdasarkan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdulloh al-Bajali.
Ada lagi ni, Imam Nawaw dalam Al Majmu’ menukil perkataan penulis Asy Syaamil dan ulama lainnya. Adapun yang dilakukan keluarga mayit dengan membuatkan makanan dan mengumpulkan orang-orang di kediaman mayit, maka tidak ada tuntunan dalam hal ini. Hal ini termasuk bid’ah yang tidak dianjurkan
Lho? Ini adalah pendapat ahli Fiqh Syafi’iyyah, kamu kan bermadzhab Syafi’iy?
S          : iya Mas. Beberapa waktu yang lalu kan pernah saya sampaikan bahwa Imam Syafi’I menyampaikan bahwa para ulama sepakat bila telah jelas baginya sunnah Rosululloh, maka tidak diperkenankan untuk meninggalkannya, dikarenakan pendapat seseorang.
Al-Imam Ahmad bin Hanbal pun berkata bahwa seorang  faqih  tidak  sebaiknya memaksa  orang  lain mengikuti madzhabnya.
I           : okedah. Terus mana dalilmu?
S          : yang pertama, tadi kan sudah saya sampaikan tentang perkataan Imam Thowus.
I           : ada dalil yang lain gak?
S          : ada  riwayat  dari Sayyidina Umar bin al-Khoththob, bahwa  ketika  akan  wafat  beliau berwasiat  agar  orang-orang  yang  berta’ziyah disuguhi makanan.  Al-Hafizh  Ibn Hajar  berkata  dalam  kitabnya  al-Mathalib  al’-Aliyah: Al-Ahnaf bin Qais berkata, Aku pernah mendengar Umar RA berkata: Apabila seseorang  dari  suku  Quraisy  memasuki  satu  pintu,  pasti  orang  lain  akan mengikutinya. Aku tidak mengerti maksud perkataan ini, sampai akhirnya Umar  RA  ditikam,  lalu  beliau  berwasiat  agar  Shuhaib  yang  menjadi  Imam  Shalat selama  tiga  hari  dan  agar  menyuguhkan  makanan  pada  orang-orang  yang ta’ziyah.  Setelah  orang-orang  pulang  dari  mengantarkan  jenazah  Umar  RA, ternyata  hidangan  makanan  telah  disiapkan,  tetapi  mereka  tidak  jadi  makan, karena  duka  cita  yang  tengah  menyelimuti  mereka. Keterangan ini ditulis oleh imam Ahmad  bin  Mani’  dalam al-Musnad dan al-Hafizh  Ibn Hajar dalam al-Mathalib al-‘Aliyah,  juz 5 hal. 328
I           : oke. Itu kan keterangannya sampai 3 hari saja. Kalau lebih kan tidak boleh!? Sebagaimana disebutkan dalam Matan Abi Syuja’ atau Matan Al Ghoyah wat Taqrib, bahwa keluarga mayit dita’ziyahi selama tiga hari setelah pemakaman si mayit.
S          : Balik maneng, tadi kan saya sudah menyampaikan sebuah riwayat. Imam Thowus berkata bahwa sesungguhnya orang yang meninggal akan diuji di  dalam  kubur  selama  tujuh  hari,  oleh  karena  itu  mereka  para ulama salaf menganjurkan  bersedekah  makanan  untuk  keluarga  yang  meninggal  selama tujuh hari tersebut.
I           : iya. Jadi dalam hal ini memang terjadi perbedaan pendapat antar Ulama ya?
S          : betul Mas.
I           : okelah. Perbedaan pendapat memang hasrus disikapi dengan bijak.
S          : setuju Mas Ikhwan.
I           : tapi ini bukan berarti aku mau tahlilan lho? Tahlilan kan gak wajib?
S          : benar. Tahlilan gak wajib. Dan tahlilan juga gak harom. Mau tahlilan silahkan. Gak mau tahlilan ya gak masalah.
I           : sip dah… sudah malem. Aku pulang dulu ya? Kasihan istriku menunggu di rumah.
S          : oh.. iya Mas. Waktunya smack down ya? Hehehe
I           : kamu ini bisa aja. Hahaha                                                 
I           : Bu.. berapa semuanya?
D         : sudah dibayari Kang Selamet mas…
I           : kapan Bu?
S          : sebelumnya tadi Kang Selamet sudah ngasih uang. Dan bilang kalau dia yang bayar.
I           : oooalah.. yaudah kalo gitu.
I           : terimakasih Met. Jazakumulloh…
S          : podo-podo Mas.
I           : kapan-kapan jagongan maneh ya?
S          : siap Mas!
I           : assalamualikum
S          : wa’alaikumsalam






Jagongan Ahli Bid'ah: Tahlilan (2)


Sesuai dengan kesepakatan sehari sebelumnya, Selamet (S) dan Ikhwan (I) kembali bertemu di warung Mbok Darmi pagi itu. Sambil menyeruput kopi panas, mereka melanjutkan jagongan kemaren yang belum selesai…
                       
I           : Met. Aku masih tidak percaya kalau hadiah pahala orang yang masih hidup itu bisa sampai kepada orang yang sudah mati.
S          : ya tidak apa-apa Mas Ikhwan.
I           : coba kamu tunjukkan padaku dalil hadits, atau pendapat ulama yang menyatakan bahwa pahala orang yang masih hidup itu bisa sampai kepada orang yang telah mati.
S          : kemaren kan sudah saya sampaikan mas. Dalil itu kan gak harus tekstual. Dasar hukum dalam agama kan bukan cuma al-Quran dan Hadits, tapi juga ijma’ dan qiyas.
Saya tanya mas. Ada gak dalil al-Quran atau hadits nabi yang memerintahkan atau membolehkan pemberian harokat dan titik pada penulisan al-Quran? Quran pada jaman Nabi kan gak ada titik dan harokatnya? Begitu juga dengan penulisan al-Quran plus terjemahannya, ada gak dalil al-Quran atau Haditsnya?
I           : aku gak tahu itu.
S          : lha… itu…
I           : sudahlah. Jangan melebarkan permasalahan. Mana dalilnya?
S          : dalil apa mas? Hehehe
I           : dalil bahwa orang yang hidup bisa meberi manfaat kepada orang yang telah mati!
S          : ooalah…
Ketika Ibunya meninggal dunia, sahabat Sa’ad sedang tidak ada di sisi ibunya. Kemudian beliau datang kepada Rosululloh dan bertanya;
Wahai Rosululloh, ibuku telah meninggal dunia di waktu saya tidak di situ. Apakah kiranya akan berguna baiginya bila saya bershodaqoh?.
Nabi menjawab; Iya. Lalu Sa’ad berkata; saya bersaksi kepadamu bahwa kebun kurma saya, al-Mikhrof, sebagai sedekah untuknya.
Hadits ini diriwayatkan oleh imam Bukhori. Saya yakin mas Ikhwan tahu hadits ini, mase kan jagoan ngaji hadits…
I           : itukan shodaqoh harta benda. Kalau shodaqoh seperti itu memang iya, bisa bermanfaat bagi orang yang telah meninggal dunia.
S          : lha iya.. itu kan bisa diqiyashkan.. intinya adalah, orang yang hidup bisa memberi manfaat bagi orang yang sudah mati. Pahala dari amal orang yang hidup bisa bermanfaat bagi orang yang mati.
I           : halahhh.. itu akal-akalan kamu aja.
S          : sama. Itu juga akal-akalan mas Ikhwan aja. Hehehe
I           : bukankah kata Imam Syafi’I, bacaan al-Quran orang yang hidup itu tidak bisa sampai kepada orang yang sudah mati? Lha kamu kan bermadzhab Syafi’i?
S          : benar. Saya bermadzhab Syafi’i. Saya sendiri sangat menghormati Imam Syafi’i. Dalam banyak hal, saya menganut madzhab beliau dengan mempelajari pendapat-pendapat beliau beserta argumentasinya. Tentu, sebatas kemampuan saya yang memang sangat terbatas. Beliau pernah berujar. “Para ulama sepakat bila telah jelas baginya sunnah Rosululloh, maka tidak diperkenankan untuk meninggalkannya, dikarenakan pendapat seseorang”.
I           : Jadi dalam hal ini kamu gak sependapat dengan Imam Syafi’i?
S          : sebentar mas. Saya sama sekali tidak sebanding dengan Imam Syafi’i. Begini mas. Saya pernah baca kitab Ghoyatul Maqsud, karya Syeikh Abdulloh bin Muhammad bin Humaid rohimahulloh. Dalam kitab tersebut beliau menulis satu pasal khusus yang mengumpulkan berbagai pendapat Imam Madzhab Fiqh tentang sampainya manfaat amal atau pahala dari orang yang masih hidup yang dihadiahkan kepada orang yang telah mati. Beliau menukil pendapat Imam Madzhab Fiqh Hanafi seperti Syeikh Burhanuddin Ali bin Abu Bakar, Syeikh Syamsuddin Abdul Abbas, Syeikh Ibnu Abidin, Syeikh Ali Qori, dan lain-lain. Dari Madzhab Maliki ada Imam Ibnu Ruysd, Ibnul Hajj, Al Hattabi, dan lain-lain. Dari Madzhab Syafi’I ada Imam Nawawi, Imam Suyuthi, Imam Subkiy, Imam Ibnu SHolah, Syeikhul Islam Abu Abdillah Al-Qoyyati, dan lain-lain. Lalu kemudian para Imam madzhab fiqh Hanbali seperti Imam Ahmad dan Ibnu Qudamah.  Imam Ahmad sendiri berpendapat bahwa “Segala bentuk pahala kebaikan seperti shodaqoh dan sholat atau yang lainnya yang dihadiahkan kepada mayyit akan sampai kepadanya”. Mas Ikhwan kan jago baca kitab. Jika berkenan, monggo kitab tersebut dibaca.  
I           : Ya. Kalau ada waktu aku ke toko kitab, untuk beli kitab tersebut. Insyaalloh. Bisa kamu jelaskan sedikit tentang isi kitab tersebut?
S          : oke mas Bro.. sedikit aja ya. Untuk lengkapnya, mas Ikhwan baca sendiri.
I           : iya iya.
S          : Syeikh Taqiyyudin Abul Abbas Ahmad bin Taimiyyah berkata, barang siapa meyakini bahwa seseorang tidak bisa mendapat manfaat kecuali dari amalannya sendiri saja berarti dia telah menentang ijma’. Sesungguhnya seseorang bisa mendapat manfaat dari doa orang lain. Ini berarti dia mendapatkan manfaat dari amalan orang lain. Seorang mayyit mendapat manfaat sedekah atas dirinya berdasarkan nash sunnah dan ijma’. Ini berarti si mayyit mendapatkan manfaat dari orang yang masih hidup. Seseorang akan terbebas dari tanggungan utang jika ada orang lain yang melunasinya. Ini berarti orang tersebut mendapat manfaat dari orang lain. Sama dengan ayahmu, beliau punya hutang. Sampai mati belum bisa melunasi. Kamu sebagai anaknya yang melunasi. Artinya ayahmu mendapatkan manfaat dari amal yang kamu kerjakan.
I           : jangan bawa-bawa nama ayahku dong..!
S          : maaf. Hanya sebagai contoh aja. Sebenarnya masih banyak contoh kasus yang menjelaskan bahwa seseorang, baik yang hidup maupun yang sudah mati, bisa mendapatkan manfaat dari amal yang dikerjakan oleh orang lain. Untuk selengkapnya, Mas Ikhwan baca di kitab Ghoyatul Maqsud ya..
I           : Iya. Insyaalloh. Aku masih belum percaya. Nanti aku cek langsung di kitab itu..
S          : Alhamdulillah
I           : kenapa?
S          : bersyukur kepada Alloh. Emang gak boleh? Hehehe
I           : iya. Boleh. Bersyukur atas apa?
S          : oooalah… bersyukur karena mas Ikhwan mau baca kitab itu.
I           : pecinta ilmu kan memang seharusnya begitu. Terus dan senantiasa terus belajar…
S          : I agree with you. Top margotop mas Ikhwan ini… oiya. Imam Manshur bin Yunus al Bahuti dalam kitab Kasyaf al-Qina`, mengutip pendapat Imam Ahmad. Beliau berkata, mayyit akan mendapat setiap kebaikan yang diberikan kepadanya karena ada nash-nash yang menjelaskan hal tersebut. Sungguh orang-orang muslim di setiap kota berkumpul, membaca al-Quran, dan menghadiahkannya kepada ahli qubur mereka tanpa ada ulama yang mengingkarinya. Maka hal ini menjadi ijma’ ulama.
I           : iya. Aku juga akan baca kitab itu. Insyaalloh. Tapi sekali lagi, aku masih ragu kalau hadiah pahala itu bisa nyampek ke orang mati.
S          : gak papa Mas Ikhwan. Saya gak maksa. Silahkan cek sendiri di kitab-kitab tersebut.
I           : oke.
S          : semoga Alloh ta’ala menjadikan kita pencinta ilmu ya Mas…
I           : Amin. Kapan-kapan kita jagongan lagi ya… Masih banyak yang ingin aku diskusikan dengan kamu. Besok pagi aku gak bisa. Ada gawe. Nanti aku sms lah. Insyaalloh.
S          : oke Mas. Matur suwun. Jazakumulloh.
I           : sampai ketemu kang Selamet. Salamu’alaikum…
S          : wa’alaikumsalam mas… ati-ati..
S          : mbok Dharmi, berapa? Kopi satu, gorengane papat..
D         : sudah dibayar mas Ikhwan, kang Selamet.
S          : Alhamdulillah… Jazahulloh ahsanal jaza’
              Saya pamit Mbok Dharmi. Assalamualaikum…
D         : Wa’alaikum salam…

Minggu, 24 Februari 2013

Jagongan Ahli Bid'ah: Tahlilan (1)



Di pagi hari yang agak pucat karena mendung, sepasang sahabat terlihat asyik njagong di sebuah warung kopi. Mereka adalah Selamet (S) dan Ikhwan (I). Sambil menyeruput dikit-dikit kopi yang panas itu, mereka ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon. Walaupun dalam suasana yang mendung, mereka sangat bersemangat dalam berdiskusi. Mungkin saja ini karena pengaruh seruputan kopi..

I           : Met, tadi malam di rumahmu ada tahlilan ya?
S          : iya. Kamu ku undang kok gak datang. Kenapa?
I           : aku gak mau ikut-ikutan bid’ah. Tahlilan itu kan bid’ah. Rosululloh dan para sahabat kan pernah tahlilan.
S          : oooalah itu to sebabnya…
I           : iya. Tahlilan itu perbuatan sia-sia. Buang-buang uang, waktu, dan tenaga. Toh gak ada manfaatnya bagi embahmu yang sudah meninggal dunia. Pahala yang katanya orang dikirim itu gak mungkin bisa nyampek. Qoola ta’ala:
“Dan sesunguhnya manusia tiada memiliki selain apa yang telah diusahakannya”
Itu surat an-Najm ayat 39. Pasti kamu gak hafal. Buktinya kamu tahlilan.
S          : emmm.. jadi manusia itu hanya mendapatkan manfaat dari usahanya saja ya?
I           : iya. Betul itu!
S          : kalau ada orang yang berusaha menjadi muslim baik, menjadi sholih. Kemudian dia berusaha mencari teman yang baik, menikahi orang yang baik, memiliki keluarga yang baik, mempunyai keturunan yang baik-baik, kemudian orang-orang yang baik itu mendoakannya ketika dia sudah meninggal dunia. Apakah orang itu bisa mendapat manfaat dari usahanya tersebut?
Ayat tersebut jelas menyatakan bahwa seseorang tidak mendapatkan pahala kecuali dari hasil usahanya. Sedangkan orang lain juga memiliki pahala dari apa yang ia usahakan sendiri. Itu sangat benar. Namanya orang punya, kan boleh-boleh aja tuh, pahalanya dikasihkan ke orang lain? Masak mau ngasih pahala gak boleh?
I           : kamu ini bisa aja ngutak-ngatik permasalahan.
S          : lho, ini bukan utak-atik saya mas Ikhwan. Ini pendapatnya Syeikh Ibnu Abil ‘Izz dalam syarh aqidah Thohawiyyah. Saya setuju aja dengan pendapat beliau. Kalau gak salah halaman 925. Coba nanti mas ikhwan cek. Mase kan ahli baca kitab.
I           : Nabi bersabda: Jika anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali 3 perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendoakan. Ini hadits nya shohih. Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. Jadi selain 3 amal itu, ya terputus semuanya. Makanya kamu ngaji hadits yang benar. Sampai hafal.
S          : ya jelas mas. Orang mati ya gak bisa beramal sholih lagi. Kalau gak salah di hadits tersebut sebenarnya Nabi ingin mengingatkan kita bahwa ada amal-amal yang pahalanya bisa didapatkan terus menerus walaupun kita sudah mati. Yaitu shodaqoh jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholih yang mendoakan. Namun saya pernah baca hadits riwayat Ibnu Majah dari Abu huroiroh yang menjelaskan bahwa ada amal-amal lain yang pahalanya terus mengalir walaupun si pengamal sudah meninggal dunia, yaitu; mushaf yang diwariskan, rumah untuk ibnu sabil, air sungai yang dialirkan, hartanya yang terus dishodaqohkan baik ketika dia masih hidup maupun sudah mati. Jadi bukan hanya 3. Bahkan Imam Suyuthi menambahakan bahwa menanam pohon juga termasuk amal yang pahalanya terus mengalir.
I           : benar juga. Tapi kan tetap aja yang mendapatkan pahala dari amal adalah si pengamal tersebut. Jadi pahala orang yang masih hidup tidak bisa dihadiahkan kepada orang yang sudah mati.
S          : hehehe. Justru itu, di dalam hadits tersebut Nabi menyatakan terputusnya amal. Bukan terputusnya manfaat. Sebagaimana yang saya sampaikan sebelumnya, pahala dari amal kebaikan adalah milik si pelaku amal. Jika dia mau, dia akan menyimpannya sendiri. Jika dia mau, boleh dong dia menghadiahkan kepada orang yang disayanginya?
Eh, ayahmu kan sudah meninggal dunia?
I           : iya. Dan aku gak mau tahlilan kayak kamu. Gak ada manfaatnya buat ayahku.
S          : iya. Gak apa-apa. Tahlilan memang tidak wajib. Bukan hal itu yang ingin saya bahas. Ketika meninggal dunia dulu, ayah mas Ikhwan kan masih punya hutang kepada ayahku. Mase kan yang melunasinya? Dengan harta mas sendiri. Mas Ikhwan benar-benar anak yang berbakti kepada orang tua. Yang saya tanyakan, uang untuk bayar hutang itukan uangnya mas, bukan uang ayahe mas? Jadi bukan hasil usaha ayahe m? Benar kan?
I           : iya. Benar. Emang kenapa?
S          : jadi di akhirat nanti, ayahe mas masih harus bayar hutang ke ayahku dong?
I           : ya gak bisa begitu. Aku kan sudah melunasinya. Aku anaknya. Aku ahli warisnya. Aku yang berkewajiban melunasi hutang ayahku. Agar kelak di akhirat beliau tidak menanggung beban hutang lagi..
S          : iya. Aku setuju dengan pean Mas. Mas Ikhwan benar-benar anak yang sholih.
I           : eh, kita belum selesai. Aku tidak pernah mendengar ada keterangan bahwa nabi, shohabat, dan ulama salaf melakukan tahlilan. Jadi tahlilan itu bid’ah. Dan pelaku bid’ah adalah calon penghuni neraka.
S          : sebentar mas… kita sepakati apa tahlilan itu. Tahlilan itu kan membaca ayat al-Quran, istighfar, sholawat, tahlil, dan dzikr yang lain secara bersama-sama kemudian diakhiri dengan penghadiahan pahala bacaan tadi kepada si mayyit dan juga mendoakan serta memohonkan ampun untuk si mayyit.
I           : iya. Aku tahu hal itu. Kalau mendoakan dan memintakan ampunan untuk si mayyit sih aku setuju. Itu dalilnya jelas. Nabi mengajarkannya dalam sholat jenazah. Nabi juga mengajarkan kita agar mengucapkan salam kepada ahli qubur. Di al-Quran juga ada, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dengan iman”. Itu tercantum dalam al-Quran surat al-Hasyr ayat 10. Namun mendoakan dan meminta ampunnya gak pas tahlilan. Ya pas sholat jenazah, atau doa setelah sholat.
Yang aku tidak setuju adalah penghadiahan pahala dari orang yang masih hidup kepada orang yang sudah mati. Karena hal tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Nabi, para sabahat, dan juga salaf yang sholih.
S          : mas Ikhwan ingatkan hadits bahwa seorang mayyit bisa disiksa di kubur akibat tangisan keluarganya?
I           : iya. Hadits itu shohih, riwayat Bukhori.
S          : kalau menangis aja bisa berpengaruh negatif terhadap si mayyit, maka pahala dari sebuah amal kebaikan yang dihadiahkan kepada si mayyit kemungkinan juga bermanfaat bagi dia. Alloh adalah Tuhan yang Maha Mulia, masak Alloh menyampaikan hukuman atau siksaan kepada mayyit, tapi menghalangi kiriman pahala untuk untuknya?
I           : kamu gak boleh bilang gitu..!
S          : Satu lagi. Mas Ikhwan ingatkan hadits bahwa Rosululloh menancapkan dua batang pelepah kurma di atas kuburan dan beliau mengabarkan bahwa kedua mayyit di kubur itu diringankan siksanya selama pelepah kurma itu masih basah.
I           : iya. Itu hadits shohih riwayat Bukhori Muslim.
S          : kalau pelepah kurma yang basah saja bisa bermanfaat bagi si mayyit, bagaimana dengan bacaan al-Quran, istighfar, sholawat, dan tahlil? Tentu bisa bermanfaat bagi si mayyit.
I           : itu akal-akalan kamu aja.
S          : ya gak papa kalau mas Ikhwan gak sependapat dengan saya. Saya gak maksa mas. Saya hanya ingin menyampaikan, dengan pengetahuannya saya yang sangat terbatas ini, bahwa saya dan orang-orang yang seide dengan saya melakukan tahlilan itu bukan asal-asalan. Yang kami lakukan ada dasarnya dalam agama Islam.
Sekalian saya tambahkan.
Di dalam kitab al Musnad juz V halaman 26-27 Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits yang berarti: “Bacakanlah Yasin bagi orang-orang yang mati diantara kalian”.
Dalam Musnad Firdaus juz IV halaman 32 juga ada sebuah hadits yang disampaikan oleh Abu Darda’, “setiap mayyit yang dibacakan surat Yasin untuknya, maka Alloh meringankan bebannya”.
Silahkan mas Ikhwan cek di kitab-kitab hadits tersebut. Jika mas Ikhwan memang ingin tabayyun.
I           : sudah siang. Aku mau berangkat kerja. Diskusi kita belum selesai. Besok pagi kita jagongan lagi di warung ini ya..
S          : insyaalloh mas Ikhwan. Matur suwun. Jazakumulloh
I           : podo-podo.