Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 November 2012

‘ASYURO = MOMENTUM TAUBAT NASIONAL

                                           
Saudaraku sekalian.
Pernahkah kita menghitung-hitung, berapa banyak dosa yang telah kita lakukan? Pernahkah kita berhenti sejenak untuk memikirkan perjalanan hidup kita. Sudah sampai manakah kita? Apakah kita sudah berada di jalan yang benar, jalan menuju keselamatan dunia akhirat?
Amirul Mu`minin ‘Umar ibn Khoththob r.a. pernah menyampaikan sebuah nasihat yang sangat berarti,
“hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum amal itu ditimbang”
Karena kelak di hari pembalasan amal…
Maksudnya:
“maka barangsiapa melakukan kebaikan seberat dzarroh pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa melakukan kejelekan seberat dzarroh pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. (QS. Al-Zalzalah : 7-8)
Marilah kita semua mawas diri, menginstropeksi diri kita. Mumpung kita masih diberi kesempatan oleh Alloh ta’ala menikmati hidup di dunia. Mumpung jantung ini masih berdetak, mumpung kita masih bisa bernafas…
Maksudnya:
“wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu sekalian kepada Alloh ta’ala. Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (akhirat). Bertaqwalah kepada Alloh ta’ala, sungguh Alloh Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”. (QS. Al-Hasyr : 18)
Saudaraku sekalian.
Tentu kita sudah tahu bahwa bulan Muharrom ini adalah salah satu bulan yang mulia. Bahkan bulan ini mendapat julukan “Syahrulloh” (bulannya Alloh). Dan kita juga tahu bahwa di bulan Muharrom ini ada sebuah hari yang sangat istimewa. Benar. Hari itu adalah hari ‘Asyuro. Hari tanggal sepuluh (10) bulan Muharrom.
Ada beberapa peritstiwa penting yang terjadi di hari ‘‘Asyuro, diantaranya:
1. ‘Asyuro adalah hari pertama sejarah peradaban manusia dimulai, yakni ketika Nabiyulloh Adam alaihissalam bersama istrinya, sayyidatuna Hawwa turun kedunia.
2. Pada hari itu Alloh ta’ala banyak sekali menerima taubat hamba-hambaNya yang bersalah, diantaranya pada hari itu Alloh menerima taubat Nabiyulloh Adam alaihissalam, taubat kaum Nabiyulloh Yunus alaihissalam dan taubat kaum Nabi Musa alaihissalam.
3. Pada hari itu Nabiyulloh Musa alahissalam dan kaumnya selamat dari kejaran Fir’aun dan tentaranya, sekaligus hari tengelam dan kematian Fir’aun beserta pasukannya di laut Merah.
4. Pada hari itu pula, perahu Nabiyulloh Nuh alaihissalam berlabuh di gunung Judiy.
Sebagai rasa syukur, maka Nabiyulloh Nuh dan Nabiyulloh Musa alaihimassalam pun berpuasa pada hari itu.
Sejenak marilah kita simak kabar dari baginda Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam terkait dengan hari ‘Asyuro.
Ketika Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam telah berhijrah dan tiba di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah ternyata juga bershaum pada hari tersebut. Maka beliau bertanya kepada mereka. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas rodliyallahu ’anhuma:
Bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyuro. Maka beliau bertanya (kepada mereka) : “Hari apakah ini yang kalian berpuasa padanya?” Maka mereka menjawab : “Ini merupakan hari yang agung, yaitu pada hari tersebut Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun bersama kaumnya. Maka Musa bepuasa pada hari tersebut dalam rangka bersyukur (kepada Allah). Maka kami pun bepuasa pada hari tersebut” Maka Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan (para shahabat) untuk berpuasa pada hari tersebut. [HR. Al-Bukhari 2004, 3397, 3943, 4680, 4737. Muslim 1130]
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Romadlon adalah puasa pada bulan Alloh, Muharrom. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)
Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura`, maka beliau menjawab : “(puasa tersebut) menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat.” [HR. Muslim 1162)
Oleh karena itu, marilah kita semua hendaknya melaksanakan puasa sunnah pada hari ‘Asyuro ini. Marilah kita mengumumkan puasa sunnah ‘Asyuro di masjid, musholla, dan khalayak ramai. Kita ajak keluarga, anak-anak, dan juga tetangga kita untuk melaksanakan puasa sunnah ini. Agar lebih bersemangat dan sekaligus sebagai syiar Islam, bolehlah kita mengadakan buka puasa bersama di masjid dan di musholla.
Selain itu, kita juga “sangat” dianjurkan untuk memperbanyak istighfar di hari ‘Asyuro ini, terutama istighfar-istighfar yang dulunya pernah dibaca oleh para nabi. Dipilihnya istighfar para nabi terutama sayyidul istighfar adalah dalam rangka mengambil ibroh, semangat dan manfaat. Atau dalam istilah ulama yang lain disebut dengan tafa’ulan ; تفاؤلا ; (ngalap ketularan, bahasa jawa). Para Nabi yang ma’shum aja beristighfar kepada Alloh, minta ampun kepada Alloh ta’ala, masak kita yang banyak dosa ini enggan beristighfar, kan kebangetan tu..!!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat yang lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
Saudaraku yang disayang oleh Alloh ta’ala. Mungkin saja, kita sering dilanda kesusahan, kesempitan, banyak masalah yang tidak terselesaikan, dan ketidaktenangan hidup dikarenakan kita ini banyak berdosa kepada Alloh ta’ala. Marilah kita resapi ayat-ayat Alloh ta’ala berikut ini…
Maksudnya:
"dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Tuhan kalian dan bertobatlah kalian kepada-Nya. Niscaya Dia ‘kan memberikan kenikmatan yang baik (terus menerus) kepada kalian sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia ‘kan memberikan kepada tia-tiap orang yang memiliki keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kalian berpaling, maka aku kawatir kalian akan ditimpa siksa di hari qiyamat”. (QS. Hud: 3) 
Teladan dan idola kita, Nabi Muhammad shollallohualaihi wa sallam, bersabda: 
“Barangsiapa yg istiqomah beristighfar, Allah akan menjadikan kesenangan dari setiap kesusahan, jalan keluar dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dengan cara yang tidak ia duga” (HR. Abu Dawud).
(Al-Misbah Al Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 199 : 509).
Selain itu, ada sebuah atsar yang menerangkan bahwa suatu waktu kemarau panjang menerpa negeri muslimin. Amirul mukminin, ‘Umar bin al-Khotthob tidak tinggal diam. Beliau segera berinisiatif memohonkan hujan. Akan tetapi, bukannya salat istisqa’ yang dicanangkan oleh Abu Hafshoh seperti pada galibnya. Kali ini, beliau, seorang diri, “hanya” melafalkan kalimat-kalimat istighfar. Tak lama kemudian, hujan deras menggerojok tanah muslimin. Seseorang yang keheranan langsung melempar tanya, “bagaimana bisa Anda memohon hujan hanya dengan menggumamkan istighfar?” Dengan enteng, sayyidina ‘Umar menukasi, “Aku memohon hujan dengan kunci-kunci langit”.
Maksudnya:
“Maka aku berkata (kepada mereka), mohon ampunlah kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia ‘kan menurunkan hujan yang lebat untuk kalian. Dan Dia ‘kan memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan menjadikan kebun serta sungai-sungai untuk kalian”. (QS. Nuh: 10-12)
Sebagai penutup, guru kami, KH.M. Ihya’ Ulumiddin dalam sebuah kesempatan pernah menyampaikan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz terbiasa mengumpulkan kaum Muslimin di Hari ‘Asyuro untuk bersama-sama melakukan pertaubatan dengan membaca istighfarot para Nabi. “Dosa akan membuat hidup kita susah. Dengan diampuninya dosa, maka akan banyak kelancaran dalam banyak hal. Para ulama berkata bahwa mengakui dosa akan menghapus dosa”. Kami menyarankan hendaknya para pemimpin, ketua RT, Wali Kota, Bupati, Gubernur, Presiden, para Kyai, para kepala sekolah, dan para pimpinan lembaga sosial kemasyarakatan, agar mentauladani Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Mari kita mengumpulkan karyawan, staff, anggota, anak-anak, murid, santri, dan jama’ah kita untuk melaksanakan taubat nasional. Mari kita ajak mereka untuk melaksanakan puasa sunnah ‘Asyuro. Mari kita ajak mereka untuk beristighfar bersama-sama, memohon ampun kepada Alloh ta’ala… kita ini sudah kebanyakan dosa…
“… dan bertobatlah kalian semua kepada Alloh ta’ala wahai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung”. (QS. An-nur: 31) 
“… sesungguhnya Alloh ta’ala mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri”. (QS. AL-Baqoroh: 222)

Berikut ini adalah kumpulan istighfar para Nabi yang diabadikan Alloh Ta’ala dalam Al-Qur’an; istighfar Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Yunus serta istighfar Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang warid. Mari kita baca bersama-sama dengan penuh penghayatan dan pengharapan agar Alloh ta’ala mengampuni dosa-dosa kita. Bismillah…

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

Istighfar Nabi Adam (QS. Al-A’rof : 23)
“wahai Tuhan kami, kami telah berbuat dzolim kepada diri kami, jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami, sungguh kami termasuk golongan orang-orang yang merugi”          

وَإِلاَّ تَغْفِرْلِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
Istighfar Nabi Nuh (QS. Hud: 47)
“jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi ku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi”
رَبِّيْ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْلِي
Istighfar Nabi Musa (QS. Al-Qoshosh: 16)
“wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat dzolim kepada diriku sendiri, mohon ampunilah aku”

لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ
Istighfar Nabi Yunus (QS. Al-Anbiya`: 87)
“tidak ada Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sungguh aku termasuk orang yang dzolim”
 اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي
إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Istighfar Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam
“ya Alloh, Engkau Tuhanku, tidak Tuhan selain Engkau. Aku berbuat dzolim kepada diriku, aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang (bisa) mengampuni dosa-dosaku kecuali Engkau”

اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّي لاَ اِلَهَ إِلاَّ اَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَاَنَاعَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّمَا صَنَعْتُ أَبُؤُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُؤُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Istighfar Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam (sayyidul istighfar).
“ya Alloh. Engkau Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku berada dalam ikrar dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat. Aku mengakui  nikmat-Mu (yang Engkau berikan) kepadaku. Aku mengakui dosaku. Mohon ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”

Saudaraku yang dicintai oleh Alloh ta’ala.
Marilah kita jadikan bulan Muharrom ini, terutama hari ‘Asyuro, sebagai momentum untuk puasa sunnah dan beristighfar bersama, MOMENTUM TAUBAT NASIONAL. Semoga dengan puasa sunnah dan istighfar kita semua, Alloh ta’ala berkenan mengampuni kita yang banyak berlinang dosa ini. Semoga Alloh ta’ala menerima taubat kita sebagaimana Alloh ta’ala menerima taubat Nabi Adam ‘alaihissalam. Amin. (tj)

http://alumnipbsbunair.blogspot.com/

Rabu, 26 September 2012

Surat Cinta untuk Pak Haji dan Bu Hajah



Pak Haji dan Bu Hajah yang semoga dirahmati Alloh ta’ala. Bolehkah saya bertanya? Tahun ini bapak/ibu berangkat haji untuk yang ke berapa? Dua, tiga, atau empat? Semoga haji Anda diterima oleh Alloh ta’ala. Pak Haji dan Bu Hajah, tahun ini berapa kali Anda berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan umroh..? Selama ini sudah berapa kali Anda berangkat umroh? Dua, empat, enam..? Semoga umroh Anda diterima oleh Alloh ta’ala. 

Pak Haji dan Bu Haji, tahukah Anda bahwa berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2012, di Indonesia ada warga yang tergolong miskin sebanyak 29,13 juta orang (11.96%)..? Dengan garis kemiskinan 248.707 perkapita . Artinya orang di Indonesia yang penghasilan rata-ratanya lebih kecil dari pada 248.707 rupiah per bulan (atau 8.290 rupiah per hari) berjumlah 29,13 juta jiwa . Sedangkan penduduk yang tergolong hampir miskin berjumlah 27,82 juta jiwa (11,5 %). Jadi total penduduk yang miskin dan hampir miskin sejumlah sekitar 57 juta jiwa (surabaya.okezone.com). Sementara itu, jumlah penduduk yang tergolong miskin di Jawa Timur ada 5,071 juta jiwa (13,40 %) dengan garis kemiskinan 233.202 per kapita. Artinya warga Jawa Timur yang berpenghasilan rata-rata lebih kecil dari pada 233.202 rupiah per bulan (7.773 ribu per hari) berjumlah 5,071 juta jiwa (jatim.bps.go.id). Kesimpulan sederhana, orang miskin (secara ekonomi) di Indonesia masih “cukup” banyak, orang miskin di Jawa Timur juga masih “cukup” banyak. 

Jika Anda warga Surabaya, silahkan berkunjung ke Kecamatan Semampir, tepatnya Kelurahan Ujung, Pegirian, Wonokusumo dan Sidotopo. Anda bisa juga menengok saudara Anda di Kelurahan Gading Kecamatan Tambaksari dan Kelurahan Simokerto Kecamatan Simokerto. Atau jika Anda berada di daerah Surabaya Utara, silahkan bersilaturrahim ke warga pesisir di daerah Bulak. Di sana Anda akan bertemu dengan saudara-saudara Anda yang sangat membutuhkan “sedikit” bantuan dari Anda.

Pak Haji dan Bu Hajah, bolehkah saya bertanya, sudahkah Anda membayar zakat tahun ini? Sudahkah Anda menyisihkan sebagian kecil (hanya 2,5 %) dari harta Anda untuk diberikan kepada mereka yang berhak; orang-orang miskin? Untuk berangkat haji dibutuhkan dana tidak kurang dari 35 juta. Dan untuk yang haji plus dibutuhkan biaya dua kali lipat, sekitar 70 juta. Sedangkan untuk umroh (sunnah) diperlukan uang tidak kurang dari 15 juta. Kita tentu sudah mengerti bahwa mengeluarkan zakat itu hukumya wajib, fardlu ‘ain. Sedangkan berhaji untuk yang ke-dua, tiga, dan seterusnya itu hukumya sunnah. Berangkat umroh pun demikian, hukumnya sunnah. Memang, uang itu milik Anda sendiri. Namun, bukankah Alloh ta’ala yang memberikan rizki kepada Anda? Dan bukankah kita tahu bahwa Alloh ta’ala memerintahkan kita untuk membayar zakat? 

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)
Semoga dengan membayar zakat, Alloh ta’ala menerima haji dan umroh Bapak-Ibu sekalian. Semoga zakat itu bisa membantu saudara-saudara kita yang sedang kesusahan untuk sekolah dan berobat, bahkan untuk sekedar makan. Tentu jauh lebih baik dan lebih mulia jika Bapak-Ibu bukan hanya mengeluarkan zakat, tetapi juga berinfaq dan bershodaqoh. Contoh, Bapak-Ibu berinfaq/bershodaqoh 5%, 10%, 20%, atau 40% dari harta yang Bapak-Ibu miliki. Bukankah senantiasa berinfaq, menganggarkan sebagian harta untuk dinafkahkan di jalan Alloh ta’ala, atau untuk membatu saudaranya yang sedang kesusahan, itu merupakan ciri orang yang bertaqwa..?

Mari kita baca bersama surat Ali Imron ayat 133-134 (yang maksudnya): “dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.
Selain menjanjikan surga bagi orang-orang yang bertaqwa, Alloh ta’ala juga menjajikan anugerah-anugerah yang lain bagi mereka. Dan inilah sebagian anugerah Alloh ta’ala yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa.
“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah jadikan baginya jalan keluar (dari setiap permasalahannya). Dan Dia (Allah) akan memberi rizji dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.
Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam setiap urusannya .
Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia (Allah) akan melebur kesalahan-kesalahannya dan melipat gandakan pahala baginya.”
(QS. At- Tholaq [65] : 2 -5 )

Semoga Alloh ta’ala senantiasa menolong kita semua untuk menjadi bagian dari golongan orang-orang yang bertaqwa. Amin. (tj)

Senin, 13 Agustus 2012

Evaluasi Romadlon Kita (1)

Bulan Romadlon hampir usai, rasa-rasanya kita perlu untuk mengevaluasi sejauh mana kita memaksimalkan “Madrasah Romadlon” ini untuk mencapai derajat “taqwa”. Karena memang “taqwa”lah yang menjadi tujuan akhir kita berpuasa baik secara dhohir maupun bathin. Apakah kita telah berhasil mencapai derajat “taqwa”..??
Di dalam al-Quran Alloh ta’ala menjelaskan beberapa ciri orang-orang yang bertaqwa. Mari kita tengok bersama surat Ali Imron ayat 133-135 (yang maksudnya):
133. dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
135. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri*), mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
*) Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.
Menurut ayat tersebut, orang yang disediakan surga oleh Alloh ta’ala adalah mereka yang bertaqwa. Orang-orang yang bertaqwa memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Senantiasa berinfaq baik di saat lapang maupun sempit
Orang yang bertaqwa adalah mereka yang peduli dengan sesama manusia. Tidak tahan kalau melihat atau mengetahui tetangganya gak bisa makan karena gak punya uang. Ia segera mendatanginya dan memberinya makan atau uang. Apalagi kalau mendengar ayah-ibu atau keluarganya kekurangan, orang yang bertaqwa tidak bisa tenang sebelum memastikan mereka tercukupi, minimal tidak kekurangan. Jika ia punya banyak ia berbagi banyak. Jika ia punya dikit ia pun tetap berbagi. Salah satu hikmah puasa adalah agar kita bisa merasakan bagaimana "lapar" itu, dan tumbuhlah rasa peduli dalam diri kita untuk berbagi.                      
Evaluasi:
Apakah kita sudah senantiasa menganggarkan sebagian harta kita untuk diinfakkan bagi kepentingan agama Alloh ta’ala?
Apakah kita sudah senantiasa bershodaqoh baik di kala senang maupun di kala susah? Baik di saat kaya maupun miskin?
2.      Menahan marah
Ciri orang yg bertaqwa yang selanjutnya adalah bisa menahan marah. Seringkali kita menghadapi situasi yang memancing amarah kita. Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam menyatakan bahwa "orang yang kuat adalah orang yang kuat menahan marah". Hal ini berkaitan dengan kemampuan manusia untuk mengendalikan diri. Jika kita dikit-dikit marah, dikit-dikit marah, bisa dibayangkan kerusakan yang timbul akibat amarah kita, kerusakan tersebut bisa berupa "sakit hati" orang yang kena marah atau juga kerusakan fisik akibat amarah kita yang tidak terkendali. Contoh, pintu ditendang rusak, piring dibanting hancur, dll. Jadi amarah yang tidak terkendali justru menyebabkan kerusakan yang meluas dan lebih parah.
Salah satu hikmah puasa adalah kita dididik untuk mengendalikan diri kita, mengendalikan nafsu kita. dalam level dasar kita dididik untuk mengendalikan nafsu perut dan nafsu farji. Dan di level selanjutnya kita dididik untuk mengendalikan seluruh nafsu kita, termasuk nafsu amarah. Nah, itulah, tujuan berpuasa adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa, salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah bisa menahan marah. Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam dawuh,"laa taghdhob, laa taghdhob, laa taghdhob..!"
Evaluasi:
Apakah kita masih sering marah-marang kepada anak-anak kita?
Apakah kita masih sering marah-marah kepada orang lain yang berbuat salah kepada kita?
Apakah kita masih sering marah-marah kepada orang yang menghina kita?
3.      Memaafkan orang lain
Ciri no. 3 orang yang bertaqwa adalah (suka) memaafkan manusia, suka memberi maaf. Ada yang bilang bahwa meminta maaf itu berat, tapi lebih berat lagi memberi maaf. Otre. Itu kata-kata lama. Sekarang kita ganti; meminta maaf itu mulia, and memberi maaf adalah lebih mulia. 
Suatu ketika sabahat Abu Bakr ash-shiddiq pernah 'marah' kepada seseorang yg biaya hidup sehari-harinya ditanggung oleh Abu Bakr r.a. Gara-garanya si orang tersebut ikut-ikutan "megamini" fitnah yang disebar oleh orang-orang munafiq tentang sayyidah 'Aisyah r.a. bahwa beliau berbuat serong dengan seorang sahabat ketika perjalanan pulang dari suatu tempat. Itu lho, kisah ketika pada suatu malam sayyidah Aisyah r.a. ketinggalan dari rombongan karena mencari kalung beliau yang hilang. Kemudian beliau berniat menyusul rombongan. di tengah jalan beliau bertemu dengan seorang sahabat yang bertugas sebagai 'sapu bersih'. Sebuah strategi umum dengan menempatkan orang pilihan di belakang rombongan untuk memastikan tidak ada yg tertinggal. Ketika sampai di Madinah, ada orang yang melihat bahwa sayyidah naik unta dan tidak jauh di belakang beliau ada seorang sahabat yang berjalan kaki. Tersebarlah fitnah tersebut. hingga suatu ketika Alloh ta'ala menyampaikan pembelaan kepada sayyidah Aisyah r.a. dan membebaskan beliau dari tuduhan keji tersebut.
Setelah turun firman tersebut, Abu Bakr r.a. bersumpah untuk tidak menafkahi lagi orang tersebut, orang yang ikut-ikutan 'mengamini' fitnah yang keji itu. Kemudian Alloh ta'ala menurunkan firman-Nya yang berisi teguran bahwa tidak pantas bagi seseorang yan telah diberi kelebihan oleh Alloh ta'ala untuk bersumpah bahwa ia tidak akan lagi menafkahkan hartanya untuk keluarganya, kerabatnya, orang-prang miskin dan orang-orang lemah.Akhirnya Abu Bakr pun mencabut sumpahnya.
Peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi kita bahwa tidak pantas bagi orang muslim yang baik untuk 'mutungan'. Kita dianjurkan untuk berlapang dada, 'jembar segorone', mudah memaafkan kesalahan orang lain. Toh, kita pun juga sesekali, atau bahkan sering kali, berbuat salah. Dan kita berharap agar kesalahan kita dimaafkan sauadara kita. Jadi, sudah sewajarnya kita senantiasa memaafkan saudara kita jika ia khilaf; menyakiti hati kita. Lagian, memaafkan orang lain membuat hati kita nyaman, tenang dan tentram. Sebaliknya, memendam amarah dan dendam membuat hati kita gelisah, gundah, plus beresiko terkena penyakit jantung, nah lho, hehehe.
Evaluasi:
Bisakah kita memberi maaf kepada orang lain yang menyakiti hati kita?
4.      Berbuat ihsan
Ciri orang yang bertaqwa no 4 adalah berbuat ihsan. Ihsan berarti lebih banyak memberi manfaat kepada orang lain daripada menerima manfaat dari orang lain, sering memberi jarang (atau tidak) meminta, banyak menyebut pemberian (kebaikan) orang lain menyembunyikan kejelekan orang lain. Ihsan juga berarti membalas kejelekan orang lain dengan kebaikan.
Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah sesuatu yang wajar. Kalau ada orang yang suka membalas air susu dengan air tuba, itu berarti keterlaluan. Dan membalas kejelekan orang lain dengan kebaikan, itu adalah istimewa. Itulah profil orang yang berbuat ihsan. Orang yang dicintai oleh Alloh ta'ala. Deklarasi cinta Alloh ta'ala kepada orang yang berbuat ihsan di dalam al-Quran terulang sebanyak lima (5) kali.
Dalam hal ibadah kepada Alloh ta'ala, ihsan berarti "an ta'budalloha ka annaka tarohu, fain lam tarohu fainnahu yaroka" (kamu beribadah kepada Alloh seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu). Dengan merasa bahwa kita senantiasa dilihat oleh Alloh ta'ala, baik jasad maupun qoblu kita, kita akan termotivasi untuk senantiasa menjalankan ibadah secara berkualitas. Malu kita jika beribadah secara asal-asalan, wong ALloh ta'ala yang memberi kita hidup senantiasa melihat kita. Lebih malu lagi jika kita sampai durhaka kepada-Nya.
"wallohu yuhibbul muhsinin" (dan Alloh ta'ala mencintai orang-orang yang berbuat ihsan)
Evaluasi:
Apakah kita (sudah) lebih suka membalas kejelekan orang lain dengan kebaikan?
5.      Jika lalai berbuat dosa segera ingat dan minta ampun kepada Alloh ta’ala serta tidak mengulangi lagi perbuatan dosa itu.
Ciri orang yang bertaqwa no 5 adalah jika lalai berbuat dosa, segera mengingat Alloh ta'ala dan memohon ampunan kepada-Nya.
Manusia, bagaiamana pun hebatnya, kadangkali lalai. Kadangkali ia berbuat salah. Sebenarnya 'wajar' jika kadangkali seseorang berbuat salah dan dosa. wong namanya aja 'manusia' (man = seseorang, nusia = yg dilupakan). Jadi manusia itu memang wataknya 'lupa'. Yang tidak wajar adalah jika terus-terusan berbuat salah dan dosa. Yang tidak wajar adalah ketika berbuat salah tidak segera bertaubat dan menggantinya dengan perbuatan baik, malah dengan 'istiqomah' melanjutkan perbuatan dosanya. "Setiap anak Adam adalah 'pendosa' dan sebaik-baik 'pendosa' adalah mereka yang bertaubat".
Semua manusia, kecuali mereka yang ma'shum, pernah berbuat salah dan dosa, walaupun itu kecil. Dan orang yang pernah berbuat salah yang terbaik adalah mereka yang mau bertaubat. Segera menyesali kesalahannya. Memohon ampunan kepada Alloh ta'ala. menggantinya dengan amal kebaikan. dan berusaha semaksimal mungkin agar tidak mengulangi perbuatan salah tersebut.
Evaluasi:
Apakah kita sudah senantiasa SEGERA bertaubat ketika kita lalai berbuat ma’shiat?

Mari kita mengevaluasi diri kita masing-masing. Sudahkah kita benar-benar bertaqwa? Seberapa bertaqwakah kita?  Apakah ciri-ciri orang yang bertaqwa seperti tersebut di atas sudah ada dalam diri kita? Jika ada beberapa ciri yang belum masuk ke dalam diri kita, maka hendaknya kita senantiasa berusaha untuk memenuhi ciri-ciri tersebut. Semoga Alloh ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq-Nya kepada kita semua agar menjadi orang-orang yang bertaqwa. Amin.(tj)
AYO SEMANGAT .!!
ROMADLON TINGGAL 5 HARI LAGI

Selasa, 07 Agustus 2012

10 Hari Terakhir Bulan Romadlon “bersama” Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam


Sebagaimana sebuah cerita yang diharapkan happy ending, dalam rangkaian kehidupan, kita pun berharap happy ending. Kita berharap husnul khotimah. Mengakhiri hidup dalam keadaan yang baik. Begitu pula dalam bulan Romadlon ini. Kita tentu berharap dengan sangat bisa mengakhiri Romadlon dengan “husnul khotimah”. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Sahl bin Sa’ad radhiallohu anhu
وَإِنَّمَاالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
Maksudnya : “Dan sungguh amalan itu ditentukan dengan penutupannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6117)
Lalu bagaimana cara kita mengakhiri bulan Romadlon dengan baik..? Rasa-rasanya tidak ada orang yang lebih layak untuk kita teladani selain Pujaan kita Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Oleh karena itu, mari kita tengok dan kita teladani bagaimana sikap Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam pada 10 hari terakhir bulan Romadlon.
Diriwayatkan dari Ummul Mu`minin sayyidah ‘Aisyah radhiallahu anha, beliau berkata:
كَانَ النَّبِىُّ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Maksudnya: “Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Romadlon), beliau mengencangkan sarung, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya “. (HR. Al-Bukhari no. 1884 dan Muslim no. 2008)
Jadi ketika memasuki 10 hari terakhir bulan Romadlon, Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam melakukan hal-hal sebagai berikut.
Pertama, beliau mengencangkan sarung. Hal ini berarti beliau menjauhi berhubungan dengan wanita (isteri beliau) karena memfokuskan diri untuk bermunajat kepada Alloh ta’ala. Ada juga yang mengartikan bahwa “mengencangkan sarung” berarti kiasan dari memperbanyak ibadah, fokus untuk menjalankannya, dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Bagi kita hal ini bisa bermakna, selama sepuluh hari terakhir bulan Romadlon hendaknya kita menjahui dan meninggalkan segala macam kenikmatan dunia yang hanya sesaat, seperti nonton TV atau bioskop, berlama-berlama belanja di mall atau pasar, bergurau dengan dengan teman, mendengarkan musik, main game, dan lain sebagainya demi untuk bertaqorrub, mendekat, kepada Alloh ta’ala dengan berbagai macam ibadah. Eling, sebentar lagi “bazaar murah pahala, ampunan, dan ridlo” di bulan Romadlon ini akan segera tutup.
Kedua, beliau menghidupkan malam bulan Romadlon. Maksudnya beliau mengisi malam-malam 10 hari terakhir bulan Romadlon itu dengan memperbanyak ibadah seperti sholat, dzikr, tilawah al-Quran, I’tikaf, dan doa. Hal itu sekaligus bermakna beliau menjahui tidur untuk beribadah di malam hari.
Barang siapa menghendaki kemuliaan
Hendaknya tidak tidur semalaman
Bukankah tidur itu “sudaranya kematian”..?? Masak iya, kita kepingin seperti mati terus..? Eling, sebentar lagi “bazaar murah pahala, ampunan, dan ridlo” di bulan Romadlon ini akan segera tutup. Mari kita maksimalkan untuk beribadah. Mudah-mudahan Alloh ta’ala meridloi kita. Tidurnya dikurangi. Apalagi di sepuluh hari yang terakhir dari bulan Romadlon ini terdapat lailatul qodr, malam yang lebih baik dari pada seribu bulan (1000 bulan= 83,3 tahun). Jadi kalau kita melakukan ibadah di malam lailatul qodr ini, nilainya lebih baik dari pada ibadah 1000 bulan. Tuh, sangat eman (sayang) kan kalau sampai kelewatan. 

Maksudnya:  “lailatul qodr (malam yang mulia) itu lebih baik dari pada seribu bulan” [QS. Al-Qodr: 3]
I’tikaf di masjid: Ibadah yang istimewa.
Pada 10 hari yang terakhir dari bulan Romadlon, kita sangat dianjurkan untuk beri’tikaf. I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan tujuan beribadah dan bertaqorrub kepada Alloh ta’ala. I’tikaf ini adalah ibadah yang istimewa, lebih-lebih di 10 hari terakhir bulan Romadlon.
Dari ‘Aisyah rodliyallohu ‘anha bahwa:
 كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Maksudnya:  “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Romadlon hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sepeninggalnya” (HR. Bukhari).
Di tengah-tengah kehidupan yang seakan-akan memaksa kita untuk terus mengejar kebahagiaan dunia ini rasa-rasanya perlu bagi kita untuk mengasingkan diri sejenak untuk merenungkan kembali makna hakiki dalam kehidupan. Dari manakah sebenarnya kita berasal? Ke mana kita semua akan menuju? Apa sebenarnya yang musti kita perankan di dunia yang fana ini? Kita pun perlu bertafakkur, mawas diri, mengevaluasi diri, apa saja yang telah kita lakukan selama hidup kita sampai hari ini. Seberapa banyak waktu yang kita isi dengan ketaatan dan amal ibadah kepada Alloh ta’ala? Seberapa banyak waktu yang kita isi dengan kedurhakaan dan kema’shiatan kepada Alloh ta’ala? Seberapa banyak waktu yang kita isi dengan aktifitas yang sia-sia belaka??
Mungkin bisa seperti ini, malam hari kita tidur habis sholat tarawih. Bangun tidur jam 12.00 malam. Kemudian beribadah, I’tikaf di masjid, bermunajat kepada Alloh ta’ala hingga waktu sahur. Atau begini, kita tidak tidur di malam hari. Melek terus. Mulai sholat maghrib atau sholat isya’ kita I’tikaf di masjid, sholat sunnah, baca al-Quran, dzikr, bertafakkur, doa, memperdalam ilmu agama, begitu terus menerus bergantian agar tidak bosan hingga waktu sahur. Setelah itu sahur, sholat subuh. Tetap berada di masjid untuk I’tikaf, baca al-Quran, dzikr, dan doa hingga terbit matahari. Kemudian kita sholat Dhuha baru kemudian istirahat (tidur). Kalaupun tidak bisa setiap hari, kita hendaknya melaksanakan I’tikaf dan ibadah-ibadah lain tersebut pada malam-malam ganjil 10 hari terakhir bulan Romadlon. Kalau masih saja tidak bisa karena sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan, misalnya ada kewajiban tertentu, maka hendaknya kita mengusahakan untuk melaksanakan I’tikaf dan ibadah-ibadah lain tersebut di salah satu malam dari 10 malam-malam terakhir bulan Romadlon. Ya, kita berusaha semaksimal mungkin dah…
قال الله تعالى: ﴿ فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ  ﴾
Maksudnya : “Maka bertakwalah kamu kepada Allah sesuai kemampuanmu” (QS. At Taghobun 16).
Ketiga, beliau membangunkan keluarganya. Hal ini berarti bahwa beliau juga membangunkan, mengajak, mendorong, dan memerintah keluarga beliau untuk mengisi malam-malam 10 hari terakhir bulan Romadlon dengan berbagai macam ibadah. Kalau mau masuk surga jangan sendirian..! Ajak serta keluarga, terutama istri/suami dan anak. Eling, sebentar lagi “bazaar murah pahala, ampunan, dan ridlo” di bulan Romadlon ini akan segera tutup. Kita tentu berharap bahwa kita bisa berkumpul dan bahagia bersama keluarga kita di dunia, lebih-lebih di akhirat sana. Jadi untuk urusan mendidik keluarga ini, kita musti menerapkan disiplin yang tinggi, ketegasan yang konsisten, dan mungkin sedikit “paksaan”. Entar kalau sudah terbiasa bangun malam untuk beribadah, insyaalloh qiyamullail itu akan menjadi sesuatu yang ringan.  
Selama bulan Romadlon, lebih-lebih di 10 hari yang terakhir, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
 “Ya Alloh.. sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf. Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Semoga Alloh ta’ala senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita semua sehingga kita mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah kita selama bulan Romadlon ini. Semoga kita mampu memenuhi 10 hari yang terakhir dari bulan Romadlon dengan I’tikaf, sholat, tilawah al-Quran, dzikr, tafakkur, doa, dan ibadah-ibadah yang lain. Semoga bulan Romadlon ini benar-benar menjadi kawah condro dimuko bagi kita untuk bertransformasi menjadi hamba-hamba Alloh ta’ala yang bertaqwa, dan semakin meningkat level taqwanya. Amin. (tj)
 

Selasa, 31 Juli 2012

Menjaga Semangat Beramal Sholih

(31/07/2012)
Sudah lebih dari 10 hari kita menjalankan puasa dan berbagai macam ibadah lain seperti sholat Tarawih, shodaqoh, dan membaca al-Quran di bulan Romadlon 1433 H ini. Apakah kita masih bersemangat beribadah seperti hari-hari pertama bulan Romadlon..? atau bahkan kita lebih bersemangat dalam “belanja pahala” di pertengahan dan akhir-akhir Romadlon ini..? atau malah sebaliknya, semangat beramal kita semakin kendur..? Apakah kita mulai malas berjama’ah sholat Tarawih di masjid..? Pertanyaan tersebut layak untuk kita tanyakan kepada diri kita sendiri karena semangat beribadah kita di bulan Romadlon ini (dan juga bulan-bulan yang lain) semestinya senantiasa meningkat dari hari ke hari. Kuantitas dan kualitas ibadah kita sepatutnya meningkat dari hari ke hari. Jadi grafik ibadah kita itu naik sehingga kita benar-benar berubah menjadi manusia yang lebih baik.
Bagaimana caranya agar grafik ibadah kita itu bisa meningkat dari hari ke hari? Ada beberapa hal yang layak dicoba dan insyaalloh dapat membantu kita untuk menjaga semangat beramal, terutama di bulan Romadlon ini.
Pertama. Meng-ikhlash-kan niat dalam beribadah di bulan Romadlon. Jadi kita melaksanakan puasa Romadlon dan sholat sunnah Tarawih itu dengan niat hanya karena Alloh ta’ala. Kita memperbanyak shodaqoh dan tilawah al-Quran di bulan Romadlon ini dengan niat agar kita mendapat ridlo dari Alloh ta’ala. Bukan karena ikut-ikutan euforia orang-orang di sekitar kita dalam menyambut Romadlon. Bukan karena agar kelihatan sholih dan sholihah di bulan Romadlon.
Dari Abu Hurairah rodliallahu ‘anhu bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang maksudnya): “Barangsiapa yang berpuasa Romadlon karena iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari No. 38, 1910, 1802)
Dari Abu Hurairah rodliallahu ‘anhu bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang maksudnya): “Barang siapa yang shalat malam pada Romadlon karena iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosa yang lalu.” (HR. Bukhari No. 37 1904, 1905)
Lihatlah.. jadi beramal itu memang harus berlandaskan “iman” dan “ihtisab”. Ihtisab itu artinya “karena mengharap ridlo dari Alloh ta’ala”. Sedangkan kata “ridlo” bermakna “menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa”. Jadi yang selayaknya menjadi motivasi utama kita dalam beribadah, termasuk di bulan Romadlon ini, adalah agar Alloh ta’ala ridlo kepada kita. Bahasa gaulnya, agar Alloh ta’ala seneng dengan kita, semakin sayang kepada kita. 
Dalam buku Keukenhof, KH. Ihya Ulumiddin (guru kami) mengutip dua buah kata hikmah yang maksudnya, 
"Sesuatu yang karena Alloh ta'ala akan bersambung dan sesuatu yang bukan karena Alloh ta'ala pasti akan terputus"
"Barangsiapa ikhlash karena Alloh ta'ala maka berkah upayanya pasti kelihatan"
Jadi memang ikhlash ini adalah syarat mutlak agar amal yang kita kerjakan bisa istiqomah. Dan memang ridlo Alloh ta'ala -lah yang akan mengantarkan kita masuk surga.
Alloh ta’ala berfirman (yang maksudnya): “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Alloh ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al Bayyinah: 8)
Kedua. Senantiasa menambah ilmu dengan belajar. Dengan ilmu kita bisa tahu mana yang halal dan mana yang haram. Kita bisa paham mana yang berkonsekuensi pahala sehingga bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita dan mana yang berakibat dosa sehingga menyebabkan kita masuk neraka. Kita bisa tahu mana amal-amal yang membuat Alloh ta’ala ridlo kepada kita dan mana yang menyebabkan Alloh ta’ala murka kepada kita. Biasanya, kalau ada orang yang melakukan amal ibadah hanya karena “ikut-ikutan”, bukan berlandaskan ilmu, amal ibadahnya tidak akan langgeng (istiqomah). Bahasa kerennya, “anget-anget tahi ayam”. Panas di awal, lalu dengan segera menjadi dingin. Semangat di awal, lalu dengan cepat hilanglah semangat itu. Iya, karena orang tersebut tidak tahu, sehingga tidak yakin terhadap apa yang dia amalkan. Ia tidak benar-benar mengetahui konsekuensi dari setiap amal yang dia kerjakan.
Contoh: ada orang yang ikut-ikutan sholat tarawih di masjid atau musholla di awal-awal bulan Romadlon. Namanya aja ikut-ikutan. Lama-lama ia menjadi bosan. Pada h`ri ke-7 dia sudah tidak bersemangat lagi mengerjakan sholat sunnah tarawih. Dia hanya ikut sholat tarawih dua kali salam. Lalu pergi entah ke mana ketika jama’ah yang lain sedang sujud. Pada hari ke-15 dia sudah malas pergi ke masjid untuk jama’ah sholat Isya` dan tarawih. Dia lebih senang nonton acara TV atau pergi ke mall untuk belanja atau sekedar refreshing. Dia hanya ikut-ikutan saja. Dia tidak mengerti dan sadar bahwa sholat tarawih yang dikerjakan dengan “iman” dan “ihtisab” itu dapat menjadi sebab dia mendapatkan ampunan dari Alloh ta’ala atas dosa-dosanya. Dia tidak mengerti bahwa setiap amal sunnah di bulan Romadlon ini bernilai seperti amal fardlu di bulan yang lain. Dia tidak mengerti dan sadar bahwa kelak dia akan mati, kelak akan ada yang namanya hari kiamat, kelak akan ada yang namanya hari perhitungan amal, kelak setiap amal –sekecil apapun- akan dibalas oleh Alloh ta’ala. Barang siapa yang berat timbangan amal baiknya, dia akan masuk surga, mendapatkan kebahagiaan abadi. Barang siapa berat timbangan amal jeleknya, dia akan merasakan siksa neraka dan dia akan menyesal berkepanjangan. Jadi kan sangat eman, kalau kita tidak mengisi malam Romadlon kita dengan sholat tarawih. Wong pahalanya gedhe gitu…
Mari kita mengikhslashkan niat kita dalam setiap amal. Kita niatkan hanya untuk mendapatkan ridlo dari Alloh ta’ala. Mari kita bersemangat menuntut ilmu agama sebagai bekal bagi kita untuk mengarungi kehidupan di dunia ini, demi mempersiapkan kehidupan akhirat yang lebih baik. Semoga Alloh ta’ala senantiasa memberikan pertolongan-Nya kepada kita semua. Semoga kita diberi kemampuan oleh Alloh ta’ala untuk menjaga semangat beramal sholih hingga akhir Romadlon, bahkan hingga akhir hayat kita. Amin. ()

Senin, 28 Mei 2012

Sholat: Jalan Hidupku



Sholat berarti doa. Sholat berarti kita mendekat kepada Sang Pencipta. Sholat berarti kita menjalin komunikasi dengan Sang Penggenggam nasib. Sholat adalah ibadah khusus dengan syarat dan rukun yang tertentu, yang dimulai dengan takbirotul ikhrom dan diakhiri dengan salam. Sebenarnya, sholat adalah potret hidup kita –manusia- di dunia yang fana ini. Bagaimana kita memulainya, bagaimana kita menjalaninya, dan apa sebenarnya tujuan akhir hidup kita.

(Berdiri menghadap qiblat)
Ya Allah ya Tuhanku
Ku hadapkan tubuhku
Ku hadapkan wajahku
Ku hadapkan hati dan pikiranku
Aku menghadap kepada Mu
dengan segenap jiwa ragaku


(Takbirotul Ihrom)      
Ya Allah ya Tuhanku
Engkaulah Yang Maha Agung
Engkaulah yang menciptakan alam semesta ini
Engkaulah yang menciptakan aku dari setetes mani
Kepada-Mu aku menyembahkan diri

(Al-Fatihah)
Bismillahirrohmanirrohim
Aku memulai hidup ini dengan menyebut namaMu yang suci
Tetapkanlah hatiku untuk senantiasa dekat dengan MU
Wahai sang maha pengasih lagi maha penyayang
Curahkanlah kasih sayangMu kepada hambaMu yang hina ini

Alhamdulillahirobbil’alamin
Engkaulah Sang Penguasa semesta alam
Pantaslah Engkau menjadi muara segala pujian

Arrohmanirrohim
Benar, Engkau sang penguasa yang maha perkasa
Namun engkau juga Dzat yang tak pernah putus kasih sayang-Nya

Maliki yaumiddin
Engkaulah Sang Penggenggam hari pembalasan
Hari ketika sang mu’min bahagia sebab imannya
Hari ketika sang kafir merana sebab kufurnya

Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in
Hanya kepada Mu aku menyembah
Hanya kepada Mu aku memohon pertolongan

Ihdinash-shirothol mustaqim
Wahai Tuhanku
Tunjukkanlah aku ke jalan yang lurus
Bimbinglah aku ke jalan keselamatan
Tuntunlah aku ke jalan yang Engkau ridhoi

Shirotholladzina an’amta ‘alaihim
Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat
Jalannya para nabi dan rosul
Jalannya orang-orang yang benar
Jalannya para syuhada
Jalannya orang-orang sholih

Ghoiril maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhollin
Ya Allah ya Tuhanku
Jauhkanlah aku dari jalannya orang-orang yang Engkau murkai
Yaitu orang yahudi yang suka merubah hukum-hukum yang telah Engkau tetapkan
Jauhkanlah aku dari jalannya orang-orang yang sesat
Yaitu orang nasrani yang menjadikan nabi mereka sebagai sesembahan

Amien
Ya Allah yang maha mengabulkan doa
Kabulkanlah doa kami


(Rukuk)
Maha suci Engkau ya Allah
Wahai Tuhan yang Maha Agung
Segala puji hanya untuk MU
Aku bungkukkan tubuhku
Aku menyembah kepada Mu

(I’tidal)
Wahai Tuhanku
Bagimu pujian seisi langit dan bumi

(Sujud)
Maha suci Engkau ya Allah
Wahai Tuhan yang Maha Luhur
Segala puji hanya untuk MU
Aku sungkurkan wajahku
Aku menyembah kepada Mu

(Duduk)
Ya Allah
Ampunilah dosa-dosaku
Curahkanlah kasihMu kepadaku
Angkatlah derajatku di sisiMu
Berikanlah aku rezeki yang halal barokah
Tuntun aku  ke jalan Mu

(Sujud Lagi)
Maha suci Engkau ya Allah
Wahai Tuhan yang Maha Luhur
Segala puji hanya untuk MU
Aku sungkurkan wajahku
Aku menyembah kepada Mu

(Tasyahud)
Ya Allah ya Tuhanku
Aku bersimpuh di hadapMu
Segala rasa hormatku aku haturkan kepadaMu
Sholawat salam semoga terlimpah kepadamu wahai nabi
Dan semoga terlimpah juga kepada kami dan orang-orang yang sholih
Aku bersaksi dengan segenap jiwa ragaku
Hanya Allah lah yang pantas dan berhak aku sembah
Dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan-Nya
Sebagai rahmat bagi semesta
Sholawat dan salam teruntuk nabi Muhammad dan segenap keluarga

(Salam)
Ku tebar keselamatan kepada segenap manusia
Ku tebar kedamaian kepada alam semesta
Inilah jalan yang aku tempuh
Semoga selamat menjadi muara jalanku

Inilah tujuan hidup manusia, tujuan hidup kita, yaitu meraih keselamatan di dunia dan di akhirat. Adakah hal yang lebih utama dibanding dengan selamat dunia akhirat..??
Mari kita sholat, semoga kita selamat, di dunia dan akhirat. Amien. (tj)