Tampilkan postingan dengan label syawwal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syawwal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2013

Belajar Parenting dari Ayah Ibrahim


Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Pada kesempatan yang baik kali ini marilah sejenak kita menengok perjalanan hidup seseorang yang mendapat julukan “kekasih Allah” (khalilullah), seseorang yang menjadi bapaknya para nabi. Bahkan Allah ta’ala memuji beliau sebagai seseorang yang layak menjadi tauladan. Siapakah orang itu? Benar. Beliau adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا (۱٢۵)
“Dan Allah mengangkat Ibrahim sebagai kekasih.” (An-Nisa`: 125)

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
 “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada (Nabi) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia….” [al-Mumtahanah: 4]
Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Namun pada kesempatan yang singkat ini, saya mengajak Anda untuk belajar kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam hal mendidik keluarga. Apa saja pelajaran tentang pendidikan keluarga yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam?
Pertama, berdoa kepada Allah ta’ala agar diberi keturunan yang sholih.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (۱۰۰)  فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (۱۰۱)
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar“ (ash Shoffat: 100-101)
Sudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh orang tua adalah kenakalan anak-anak, terutama ketika mulai memasuki masa remaja. Bahkan ada yang bilang, kenakalan remaja sekarang sungguh di luar batas, sungguh mengherankan, sungguh tak pernah terbayangkan, sungguh mengiris-iris hati, sungguh terlalu..!! Mulai dari suka bolos sekolah, suka berantem, suka ngerokok, suka minum miras, suka narkoba, suka mencuri, suka merampok, suka mendekati zina, suka berbuat zina, suka menjual teman sekolah untuk para pezina, suka ninggalin sholat, dan suka-suka yang lain... Sungguh, Na'udzu billah min dzalik...
Pada bulan Syawwal 1434 H yang lalu, saya mengikuti Istihlal jama'ah pengajian al-Kayyis di ndalem Ust. H. Junaidi Sahal di daerah Jemursari. Di dalam taushiyah acara tersebut, Abina KH. M. Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa seorang mukmin itu sudah diberi senjata yang maha ampuh oleh Allah ta'ala untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup, bahkan sebelum persoalan itu datang. Senjata yang maha ampuh itu adalah DOA. 
Sederhana saja. Kita mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini -semuanya- tidak terlepas dari "tangan" kekuasaan dan kehendak Allah ta'ala. Jika kita datang kepada Allah ta'ala, mengakui ke-sangatkurang-an kita, mengakui ke-sangatlemah-an kita, mengakui ke-sangatbutuh-an kepada -Nya, kemudian kita menghaturkan hajat kita dan Allah ta'ala mengabulkannya, maka bereslah permasalahan hidup kita. Sesederhana itukah?
"Barangsiapa mengetuk pintu terus menerus, niscaya dia bisa memasukinya"
Olehkarena itu, selayaknya kita berdoa kepada Allah ta’ala bukan hanya ketika kita menghadapi masalah saja... tetapi kita berdoa kepada Allah sebelum masalah itu datang, kita berdoa kepada Allah setiap saat, kita berdoa kepada Allah sebagai sarana munajat kita kepada-Nya...
Kembali kepada permasalahan kenakalan remaja yang sering dikeluhkan oleh orang tua. Ada sebuah pertanyaan yang ingin kami sampaikan. Apakah dulu sebelum menikah, ketika menikah, ketika memproses wujudnya anak, ketika hamil, ketika anak baru saja lahir, ketika remaja itu masih balita, ketika remaja itu masih berupa anak yang belum baligh, para ayah dan bunda senantiasa berdoa kepada Allah ta'ala? Berdoa agar Allah ta'ala menjadikan anak-anak ayah-bunda anak-anak yang sholih sholihah, anak-anak yang baik?
Kepada siapa saja yang berharap anak-anak yang sholih-sholihah, anak-anak yang baik, Allah ta'ala telah menyiapkan untuk kita semua sebuah senjata yang maha ampuh. Dahulu kala Bapak kita, nabi Ibrahim 'alaihissalam, menggunakan senjata yang maha ampuh ini. Beliau pun terkenal sebagai Bapak para Nabi karena keturunan beliau banyak yang diangkat oleh Allah ta'ala menjadi nabi. Diantaranya adalah Nabi Ishaq, Nabi Ismail, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Ayyub, Nabi Dzul Kifli, Nabi Syu’aib, Nabi Yunus, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Isa, serta Nabi Muhammad ‘alahimush sholatu wassalam. Senjata yang maha ampuh itu adalah doa:
رَبّ هَبْ لِى مِنَ الصَالِحِيْن
"robbi hab li minash-sholihin..."
-wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (anak-anak) yang termasuk orang-orang yang sholih-
Selain itu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga berdoa:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (۴۰)
“robbij’alni muqimash-sholati wa min dzurriyyati robbana wa taqobbal du’a`”
-wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan sholat, dan juga keturunanku. Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doaku- (QS. Ibrahim: 40)
Saya yakin bahwa kita semua menginginkan anak-anak yang sholih-sholihah. Merekalah sumber kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Ketika kita masih hidup, mereka berbakti dengan berbuat baik kepada kita, memandang wajah kita dengan tatapan kasih sayang, berbicara kepada kita dengan bahasa yang menyenangkan dan senantiasa berusaha membahagiakan kita. Ketika kita sudah meninggal dunia, mereka berbakti kepada kita dengan senantiasa berdoa dan memohonkan ampun untuk kita.
Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam pernah bersabda, ” Apabila manusia mati, terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: Shadaqah jariah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan untuk orang tuanya.”(HR.Muslim dari Abu Hurairah)
Lebih lanjut, Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa setelah meninggal dunia, derajat orang masih bisa diangkat. Si mayit yang merasa diangkat derajatnya terkejut dan berkata,” Ya Allah, apa ini?” maka akan dijawab, ” Itu karena anakmu selalu memintakan ampun untukmu.” (HR.Bukhori dalam Adab al-Mufrad, dari Abu Hurairah).
Yakin dalam berdoa
Salah satu hal yang sangat penting adalah, kita harus yakin dalam berdoa. Yakin terhadap ke-MahaBesar-an Alloh ta’ala. Yakin bahwa Alloh ta’ala Maha Mampu mewujudkan doa-doa kita.
Al-‘Alim Sufyan bin Uyainah pernah mengatakan:
“Jangan sekali-kali pesimis dalam berdoa. Optimislah. Iblis saja doanya dikabulkan, ketika dia minta umur yang panjang”.
Nah, Iblis saja doanya dikabulkan oleh Alloh ta’ala. So. Yakin, yakin, yakin..!!
Sabar dalam berdoa
Nabi Ibrahim diberi karunia oleh Alloh ta’ala, berupa anak yang sangat sabar yaitu Nabi Isma’il, ketika beliau berusia 86 tahun. Benar. Sudah cukup sepuh. Namun begitulah. Beliau sangat sabar dalam berdoa. Beliau tidak pernah putus asa. Beliau tidak pernah berhenti. Beliau sangat ngeyel dalam berdoa. Beliau senantiasa berbaik sangka kepada Alloh ta’ala. Sungguh, Alloh ta’ala Maha Mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.
Saudaraku. Marilah kita menteladani Ayah kita, Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala agar diberi keturunan yang sholih-sholihah. Kapan kita berdoa? Kapan pun dan di mana pun. Lebih sering lebih baik. Terutama setiap selesai sholat fardlu karena waktu tersebut merupakan salah satu waktu yang mustajabah.

Kedua, mengajarkan ketauhidan kepada anak
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (۱۳۱) وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (۱۳٢)
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (al Baqoroh: 131 – 132)
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Sebagai orang tua, kita wajib untuk memenuhi kebutuhan anak kita. Selain memenuhi kebutuhan berupa baju, makanan dan tempat tinggal, orang tua juga harus memperhatikan pendidikan anak, terutama pendidikan tauhid. Orang tua perlu mengenalkan Allah ta’ala kepada anaknya sedari dini. Orang tua semestinya senantiasa berusaha agar anak-anaknya mengenal Allah ta’ala, mengetahui kewajiban mereka kepada-Nya, memahami hak-hak Allah ta’ala terhadap mereka, sehingga mereka kelak tumbuh di bawah naungan cahaya ketuhanan.
Mari kita jujur. Berapa banyak waktu yang kita luangkan, tenaga dan pikiran yang kita curahkan, serta harta yang kita belanjakan untuk mendidik anak kita agar mengenal dan senentiasa dekat dengan Allah ta’ala? Bandingkan dengan waktu, tenaga, pikiran, dan harta yang kita habiskan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan anak. Padahal, ketauhidan dan keterikatan kepada Allah ta’ala inilah yang akan menjadi kontrol bagi anak-anak kita agar senantiasa melakukan kebaikan dan meninggalkan kema’shiatan. Ketauhidan inilah yang menjanjikan kebahagiaan dan keselamatan anak-anak kita di dunia dan akhirat.
Ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberikan teladan bahwa hendaknya orangtua mengajarkan ketauhidan kepada anaknya. Salah satu efeknya bisa kita lihat dalam ayat berikut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (۱۰٢)
“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada Anda; insyaallah Anda akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As Shofat : 102)
SubhanAllah… Itulah jawaban yang keluar dari mulut seorang anak yang tumbuh dalam bimbingan ketauhidan. Walaupun perintah itu sangat berat, karena keyakinannya kepada Allah ta’ala, karena husnudzonnya kepada Allah ta’ala, sang anak menjawab pertanyaan ayahnya dengan mantap tanpa sedikitpun keraguan, “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan –oleh Allah- kepada Anda”.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Alkisah, ada seorang guru yang memanggil semua muridnya. Guru tersebut memberikan seekor burung kepada setiap murid dan menyuruh mereka menyembelih burung itu. Sang guru mengingatkan, “Kalian harus menyembelihnya di sebuah tempat yang tidak dilihat dan diketahui oleh siapa pun.”
Maka para murid pun berangkat melaksanakan tugas yang diberikan gurunya. Di antara mereka ada yang pergi ke puncak bukit. Ada yang pergi ke gua terpencil. Bahkan ada yang pergi ke balik pepohonan tinggi yang tersembunyi. Ketika merasa tak ada yang melihat, mereka segera menyembelih burung yang dibawanya.
Tak lama kemudian, mereka kembali dengan membawa burung sembelihannya. Kecuali satu murid. Sang Guru lalu bertanya kepadanya," Kenapa kamu tidak menyembelih burung itu?"
Murid tersebut menjawab, "Tadi guru menyuruhku menyembelih burung di tempat yang tak terlihat oleh siapa pun. Tapi, aku tak dapat menemukan tempat seperti itu. Allah kan Maha Melihat dan akan melihat perbuatanku."
Itulah gambaran seorang anak yang hidup dalam keterikatan dengan Allah ta’ala. Kapan pun dan di mana pun, sang anak merasa senantiasa diawasi oleh Allah ta’ala.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Sungguh. Setiap anak lahir dalam keadaan fitroh, memiliki kecenderungan kepada Allah ta’ala. Setiap anak terlahir dengan membawa anugerah berupa kecenderungan berbuat baik. Mungkinkah, ketika anak kita lahir, di benaknya terbesit, “aku ingin menjadi anak nakal”, “aku ingin melawan orang tuaku”, “aku ingin berma’shiat kepada Alloh”? Mungkinkah hal seperti itu terjadi?
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi….
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Marilah kita menteladani ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dalam mendidik anak. Diantaranya adalah dengan senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala agar dianugerahi anak dan keturunan yang sholih serta mengajarkan ketauhidan kepada anak. Semoga Allah ta’ala memberikan pertolongan kepada kita sehingga kita mampu menteladani ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dalam mendidik anak-anak kita. Amin.
[tije/LP2A PBSB Kemenag]


Minggu, 09 September 2012

Makna Istihlal (bukan halal bi halal)

Pada bulan Syawwal jamak dijumpai umat Islam di Indonesia menyelenggarakan Istihlal. Saya menggunakan kata "istihlal" karena memang kata ini lebih tepat untuk digunakan daripada frase "halal bi halal". Saya tanya, "halal bi halal" itu artinya apa..?? 
halal = halal, bi = dengan, halal = halal.
Jadi "halal bi halal" berarti halal dengan halal, boleh dengan boleh. Maksudnya apa..?? Nah lho... (???)

Sekarang kita beralih ke kata "istihlal". Kata istihlal merupakan bentuk masdar dari kata istahlala ('ala wazni istaf'ala) yang berfaedah "tholab", artinya "minta halal". Sama dengan kata istighfar (istaghfaro) yang berarti minta ampun. Jadi "istihlal" berarti minta halal (atas kesalahan yang pernah diperbuat).


Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah –shallallohu ‘alaihu wa sallam- bersabda: “Barang siapa melakukan kezhaliman kepada saudaranya, hendaklah meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya; karena di sana (akhirat) tidak ada lagi perhitungan dinar dan dirham, sebelum kebaikannya diberikan kepada saudaranya, dan jika ia tidak punya kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya itu akan diambil dan diberikan kepadanya”. (HR. al-Bukhari nomor 6.169)

Namun memang, minta halal (minta dimaafkan) atas kesalahan atau kedzaliman yang telah diperbuat ini hendaknya tidak hanya kita lakukan ketika momen idul fithri atau bulan Syawwal, tetapi kapan saja kita berbuat salah atau dzalim, hendaknya kita segera minta dihalalkan (dimaafkan).

Kemarin, Ahad 9 September 2012, saya menghadiri Istihlal yang diselenggarakan oleh Persyadha (Persyarikatan Dakwah al-Haromain), di Ketintang Barat I Surabaya. Selain agar bisa bertemu dengan Asatidz dan sahabat saya untuk beristihlal, tujuan saya datang ke acara tersebut adalah untuk "ngaji" kepada Abina K.H. M. Ihya Ulumiddin yang merupakan Aminul 'Am Persyadha. Taushiyah dari Abi adalah acara yang paling saya nantikan karena memang beliau adalah sumber ilmu dan adab yang "langka". Keluasan dan kedalaman ilmunya, tawadlu'nya, kesabarannya, kegigihannya, ruarrr biasa. 

Abi Ihya menjelaskan bahwa Ihtihlal itu marilah kita maknai sebagai momentum "pengakuan". Iya, pengakuan. Kita mengakui bahwa kita banyak dosa dan salah kepada Alloh ta'ala. Kita mengakui bahwa kita punya banyak kesalahan dan kedzaliman kepada saudara dan sahabat kita. Kita ngaku, dan kemudian minta maaf. 

Selanjutnya kita ngaku bahwa ketika bulan Romadlon yang lalu kita belum bisa maksimal dalam memanfaatkan madrasah Romadlon. Kita masih bolong jama'ah sholat fardlunya. Kita masih bolong qiyamul-lailnya. Kita masih bolong tilawah al-Qurannya. Kita masih bolong infaq-shodaqohnya. Iya, memang benar kita berpuasa, menahan lapar dan haus. Tapi kita belum bisa maksimal untuk menahan diri dari perkataan kotor, perkataan yang tidak berguna, perkataan yang menyakitkan orang lain. Kita belum bisa berpuasa dari "ngerasani" (ghibah) dan dusta. Kita masih sering berbohong (kecil). Kita belum bisa berpuasa dari iri-dengki. Kita belum bisa berpuasa dari riya` dan sum'ah, 'ujub dan takabbur. Ayo kita NGAKU..!!

Astaghfirullohal'adhim...

Faidah.



Sementara orang menganggap bahwa frase ‘Id al-Fithri berarti “kembali ke suci”. Hal ini –mungkin- didasarkan kepada sebuah hadits yang menjelaskan bahwa barang siapa berpuasa Romadlon dengan iman dan ihstisab maka diampunilah dosanya yang telah lampau. Sehingga beberapa orang tersebut mengganggap bahwa orang yang dia beri ucapan selamat ‘Id al-Fithri adalah orang yang diampuni segala dosa-dosanya yang telah lampau. Apakah hal tersebut benar? Agaknya kita tidak bisa membenarkan argumen tersebut begitu saja. Karena Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam pun mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa yang tidak memperoleh pahala apa pun kecuali hanya lapar dan dahaga karena dia tidak menjaga diri dari berkata kotor, berbohong, dan memfitnah ketika dia berpuasa.

Secara ilmu bahasa, pendapat yang menyatakan bahwa Id al-Fithri berarti “kembali ke suci” adalah tidak benar. Frase ‘Id al-Fithri terbentuk dari dua kata, ‘Id yang berarti kembali, dan al-Fithri (afthoro – yufthiru – ifthoron) yang berarti sarapan atau berbuka. Bukan al-fithroh (yang berarti; asal kecenderungan yang baik, asal kejadian, agama yang lurus, dan kesucian). Jadi frase Id al-Fithri tersebut bermakna “selamat sarapan atau berbuka kembali” yang menandai bahwa bulan Romadlon telah usai dan tibalah tanggal 1 Syawwal. Bukankah ketika hari Raya ‘Id al-Fithri kita diharomkan untuk berpuasa dan disunnahkan untuk sarapan? Agaknya makna seperti ini lebih rasional dan mendekatkan kita kepada pemahaman yang benar.



Selanjutnya, setelah kita ngaku akan kesalahan dan kekurangan kita, marilah kita senantiasa berdoa dan mendoakan saudara kita dengan doa:

"taqobbalallohu minna wa minkum"

(semoga Alloh menerima [ibadah, khususnya di bulan Romadlon] dari kami dan kalian)

Konon, dulu para sahabat Nabi mengamalkan doa ini selama kurang lebih 6 bulan. Jadi mulai tanggal 1 Syawwal sampai bulan Robi'ul Awwal, para sahabat Nabi, jika bertemu saudara dan sahabatnya, beliau mengucapkan doa "taqobbalallohu minna wa minkum".
Kenapa beliau-beliau sampek segitunya..??

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni.

"idza salimat al-jum'ah, salimat al-ayyam. idza salima Romadlon, salimat as-sanah"

(jika hari jum'at selamat, selamatlah hari-hari selama sepekan. jika bulan Romadlon selamat, selamatlah tahun).

Perhatikan dengan seksama. Muslim itu, jika jum'at nya selamat, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang pekan. Ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi kita umat Islam di Indonesia. Salah satu kegagalan terbesar kita adalah jum'at tidak menjadi hari libur. Sehingga kita tidak bisa menggunakan hari jum'at untuk fokus mendekatkan diri kepada Alloh ta'ala. Kita masih disibukkan oleh sekolah dan pekerjaan. Kita pun akhirnya melaksanakan sholat jum'at dengan kurang sempurna; telat, ngantuk pisan. Walaupun memang ada sekolah yang menjadikan hari jum'at sebagai hari libur. Biasanya sekolah-sekolah itu dikelola oleh yayasan pendidikan islam seperti Pondok Pesantren. Contohnya sekolah MTs dan MA Walisongo tempat saya belajar dahulu kala. Namun jumlahnya tidak banyak. Masih banyak yang liburnya hari Ahad. Pada saat saudara kita umat Kristiani melaksanakan ibadah di Gereja.

Selanjutnya, mari kita perhatikan sabda Nabi kita tercinta. Muslim itu, jika bulan Romadlonnya selamat, bisa diartikan jika ibadah-ibadahnya di bulan Romadlon diterima oleh Alloh ta'ala, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang tahun. Nah, inilah rahasianya kenapa para sahabat Nabi itu dengan segitunya mengamalkan doa "taqobbalallohu minna wa minkum" sampai 6 bulan pasca Romadlon. Jadi jika doa tersebut dikabulkan oleh Alloh ta'ala, maka efeknya akan ruarrr biasa bagi kehidupan para sahabat itu; selamat sepanjang tahun. Siapa yang gak mau..??

Maka, marilah kita mentauladai para sahabat Nabi yang mulia itu. Mari kita senantisa berdoa dan mendoakan saudara dan sahabat kita dengan doa "taqobbalallohu minna wa minkum". Semoga doa kita dikabulkan oleh Alloh ta'ala. Amin.

"idza salimat al-jum'ah, salimat al-ayyam. idza salima Romadlon, salimat as-sanah"

Semoga bermanfaat. Wallohu a'lam bish-showab. 
(tj)