Tampilkan postingan dengan label rajab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rajab. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 April 2014

Rojab, Bulan Menanam




Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Marilah kita bersyukur kepada Alloh ta’ala yang tidak henti-hentinya mencurahkan nikmat kepada kita. Nikmat badan sehat, panjang umur, kesempatan beribadah, kecukupan rezeki, dan yang paling utama, nikmat iman.  Saat ini kita memasuki bulan Rojab yang merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Alloh ta’ala.
إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ (رواه البخارى و مسلم )

Sesungguhnya zaman beredar sebagaimana yang telah ditentukan sejak Alloh ta’ala menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan dan diantaranya ada empat bulan haram (mulia), yang tiga berurutan. (keempat bulan tersebut adalah) Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom, dan Rojab Mudhor yang berada diantara Jumada dan Sya’ban.” (HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim)
Pada kesempatan kali kami ingin menyampaikan hikmah dari pengajian yang disampaikan oleh Abina KH. M. Ihya` Ulumiddin pada acara Haflah PP. Ar-Roudhoh dan TPQ al-Irsyad Tulungagung. Acara tersebut bertepatan dengan Harlah Nahdhotul Ulama ke-89 dan Dzikro Rojab 1433 H.
Seorang ‘Alim yang bernama Abu Bakar al-Warroq al-Balakhy, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Lathoiful Ma’arif, mengatakan:
شهر رجب شهر الزرع، وشهر الشعبان شهر السقى للزرع، وشهر رمضان شهر حصاد الزرع.
“Rojab adalah bulan untuk menanam. Sya’ban adalah bulan untuk menyirami (tanaman). Dan Romadlon adalah bulan untuk memanen (tanaman).”
Yang dimaksud ‘tanaman’ dalam perkataan tersebut adalah ‘tanaman kebaikan’. Sedangkan hasil panennya adalah ‘pengampunan dari Alloh ta’ala’.
Kita dianjurkan untuk memperbanyak dan memperbaiki berbagai amal kebaikan di bulan Rojab sebagai upaya dalam ‘menanam kebaikan’. Karena kebanyakan orang yang melalaikan bulan Rojab juga melalaikan bulan Sya’ban dan Romadlon. Harapannya semoga ‘tanaman’ amal-amal kebaikan itu akan semakin tumbuh subur di bulan Sya’ban nanti. Dan pada akhirnya, insyaalloh, kita akan ‘memanen’ pengampunan dari Alloh ta’ala di bulan Romadlon. Adakah panen yang lebih menggembirakan dibanding dengan ‘panen pengampunan’ dari Alloh ta’ala?
Bukankah kita memiliki banyak salah dan dosa? Jika kita mendapatkan pengampunan dari Alloh ta’ala, tentu hal itu merupakan anugerah yang sangat besar. Kita bisa berharap meninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah, nyaman di alam kubur, mendapatkan perlindungan dari Alloh ta’ala di hari kiamat, memperoleh kemudahan di hari perhitungan amal, dan selamat dari siksa neraka jahannam. Hingga bisa tinggal selamanya di surga Alloh yang penuh dengan kenikmatan. Semoga.
Selain itu, saat memasuki bulan Rojab, kita dianjurkan minta keberkahan kepada Alloh ta’ala dengan doa:
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَشَعْبَان َوَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
(Allohumma baarik lanaa fi rojaba wa sya’bana wa ballighnaa Romadlon…)
“Ya Alloh, berkahilah kami di bulan Rojab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Romadlon”.
Sudah tentu, meminta berkah itu ada caranya. Ada yang semestinya dikerjakan dan diamalkan agar doanya benar-benar menjadi doa sungguhan. Ada orang minta kepandaian kepada Alloh ta’ala, sudah tentu dia harus rajin dan serius belajar. Ada orang yang minta kekayaan kepada Alloh ta’ala, sudah tentu dia harus kerja keras dan cerdas. Kalau kita mau minta keberkahan kepada Alloh ta’ala di bulan Rojab ini, kita harus meningkatkan kuantitas dan kualitas amal kebaikan.
Saudaraku yang semoga disayang oleh Alloh ta’ala. Diantara banyak kebaikan yang bisa kita tanam di bulan Rojab ini, ada tiga ‘tanaman kebaikan’ yang selayaknya kita berikan perhatian lebih, yaitu puasa sunnah, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki kualitas sholat.

Pertama, Puasa Sunnah
Puasa adalah ibadah yang disunnahkan secara mutlak kecuali pada bulan Romadlon (karena puasa Romadlon hukumnya adalah fardlu ‘ain) dan pada hari-hari yang di dalamnya diharamkan berpuasa (Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari Tasyrik). Sedangkan dalil puasa di bulan Rojab diantaranya adalah sebagai berikut:
Hadits riwayat Usamah Bin Zaid  
“Aku berkata kepada Rosululloh : Yaa Rosululloh aku tidak  pernah melihatmu berpuasa sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban. Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam menjawab: Bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan di antara bulan Rojab dan Romadlon, dan bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah ta’ala dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaaan aku berpuasa”. (HR. Imam An-Nasa’I Juz 4 Hal. 201)
Imam Syaukani menjelaskan. Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa puasa Rojab adalah sunnah sebab dengan jelas Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengingatkan bahwa mereka lalai dari mengagungkan Sya’ban dengan berpuasa karena mereka sibuk mengagungkan Romadlon dan Rojab dengan berpuasa. (Naylul Author juz 4 hal 291)
Puasa adalah pintu ‘ibadah
Itulah kata hikmah yang disampaikan oleh al-Habib Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki untuk menggambarkan keistimewaan ibadah puasa. Tidak ada ibadah yang lebih ikhlash, lebih aman dari riya` dan sum’ah, dibandingkan puasa. Lebih dari itu, puasa adalah ibadah yang sangat privasi antara seorang hamba dan Alloh ta’ala. Yang dapat menjamin seseorang benar-benar bersabar dalam menahan diri dari makan, minum, jima’ dan segala hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari, tidak lain dan tidak bukan, adalah iman dan rasa takutnya kepada Alloh ta’ala.
Alloh ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi yang maksudnya adalah “Setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat, hingga 700 kali lipat, kecuali puasa karena puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang memberi pahala atasnya”. (HR. Muslim, Ahmad, dan an-Nasa`)
Tersebut dalam hadits qudsi yang lain, “Dia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makannya demi diri-Ku. Puasa adalah untuk-Ku maka Aku lah yang memberi ganjaran kepadanya”. (HR. Bukhari, Ahmad, Imam Malik, Muslim)
Hadits-hadits tersebut mengisyaratkan bahwa pahala ibadah puasa bersifat istimewa dan tak terbatas hitungan. Mari kita bepuasa sunnah di bulan Rojab ini, dengan niat ikhlash, semata-mata mengharap ridlo Alloh ta’ala. 

Kedua, Memperbanyak Istighfar
Istighfar adalah permohonan ampun atas berbagai dosa. Jika istighfar itu disertai dengan penyesalan atas tiap-tiap dosa yang dilakukan, kemudian dengan merendahkan diri meminta ampun atas tiap-tiap dosa tersebut, dan berazam tidak akan mengulanginya lagi, maka hal itu disebut taubat. Istighfar dan taubat ini merupakan sebuah ibadah yang keutamaannya sangat besar.
Firman Alloh ta’ala (yang maksudnya);
“Maka aku (Nuh) berkata kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia kan memberimu kenikmatan yang baik (terus-menerus).” (QS. Hud: 3)
Sabda Nabi Muhammad shollallahu alahi wa sallam (yang maksudnya);
“Barangsiapa istiqomah beristighfar, Allah akan menjadikan kesenangan dari setiap kesusahan, jalan keluar dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dengan cara yang tidak ia duga.” (HR. Abu Dawud).
Bacaan istighfar yang minimal adalah
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم
“Aku minta ampun kepada Alloh yang Maha Agung.”
Sedangkan bacaan istighfar yang lebih utama adalah sayyidul istighfar, rajanya istighfar, istighfarnya Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.
اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّي لاَ اِلَهَ إِلاَّ اَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَاَنَاعَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّمَا صَنَعْتُ أَبُؤُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُؤُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
 “ya Alloh. Engkau Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku berada dalam ikrar dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat. Aku mengakui  nikmat-Mu (yang Engkau berikan) kepadaku. Aku mengakui dosaku. Ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”
Mari kita memperbanyak istighfar di bulan Rojab ini. Semoga Alloh ta’ala mengampuni dosa-dosa kita dan menerima taubat kita.
                                  
Ketiga, Memperbaiki Kualitas Sholat
Sholat adalah tiang agama. Sholat adalah pembeda antara orang muslim dan orang kafir. Sholat merupakan kewajiban pertama yang diperintahkan kepada para Rosul. Sholat merupakan washiat terakhir para Rosul. Sholat dapat menghapus dosa. Sholat dapat menyebabkan pelakunya diangkat derajatnya di sisi Alloh. Sholat merupakan indikator rasa syukur kita kepada Alloh ta’ala. Sholat merupakan media komunikasi antara manusia dengan sang Pencipta, dengan tata cara yang telah digariskan oleh-Nya dan dicontohkan oleh Rosul-Nya. Sholat adalah amal terbaik bagi orang yang beriman. Sholat adalah amal yang pertama kali akan dihisab kelak di akhirat. Jika baik sholatnya, seluruh amal diterima, jadilah ia manusia yang beruntung dan berbahagia. Sebaliknya, jika rusak sholatnya, seluruh amal ditolak, jadilah ia manusia yang paling sengsara.
Itulah sedikit gambaran tentang kemuliaan dan keutamaan sholat fardlu. Memandang betapa pentingnya sholat fardlu bagi seorang muslim, Alloh ta’ala menyampaikan ancaman yang sangat keras bagi orang-orang yang melalaikan sholat.
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ )) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ( )
Maka wail bagi orang-orang yang sholat. Yaitu mereka yang lalai dari sholat mereka.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)
Ahli tafsir al-Qur`an, Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa wail berarti kehancuran dan kebinasaan. Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Ziyad ibn Fayyadh bahwa Abu Fayyadh menyampaikan, ”Wail adalah nanah di dasar neraka jahannam”.
Atha’ bin Yasar berkata, ”Wail adalah lembah di dalam neraka jahannam. Jika gunung-gunung dilewatkan di dalamnya, maka gunung-gunung itu meleleh”. Sedangkan Ibnu Abbas rodliyallohu ’anhu berpendapat bahwa ”Wail adalah siksa berupa api yang menyala-nyala”.
Sedangkan yang dimaksud ’orang yang lalai dari sholatnya’, berdasarkan keterangan dalam kitab Tafsir al-Qur`an al-’adhim li Ibni Katsir, adalah
-         Orang-orang yang lalai dari melaksanakan sholat fardlu lima waktu secara sempurna. Mereka melaksanakan sebagian, dan meninggalkan sebagian.
-         Orang-orang yang suka mengakhirkan atau menunda-menunda sholat.
-         Orang-orang yang tidak menyempurnakan syarat dan rukun sholat.
-         Orang-orang yang melaksanakan sholat tanpa kekhusyu’an. Mereka sholat tapi hatinya tidak sholat, hatinya lalai kepada Alloh ta’ala.
Bagaimana sholat kita? Sudahkah kita melaksanakan sholat fardlu lima waktu secara istiqomah? Sudahkah kita mengerjakan sholat dengan menyempurnakan syarat dan rukunnya? Apakah bacaan dan gerakan sholat kita sudah sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam?  Sudahkah kita senantiasa mengerjakan sholat fardlu di awal waktu? Sudahkah kita mendirikan sholat fardlu dengan hati yang hadir, hati yang khusyu’, hati yang ingat Alloh ta’ala?
Mari kita terus menerus belajar dan berusaha memperbaiki sholat kita, meningkatkan kualitas sholat kita. Ingat!! Sampai detik ini Alloh ta’ala masih memberi kita kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Ayo kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Sebelum ajal menjemput kita.
Setidaknya ada empat hal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kualitas sholat:
1.   Aqimu ash-asholat (tegakkan sholat). Artinya perbaiki bacaan dan gerakan sholat. Bacaannya yang benar dan jelas. Ingat! Sholat itu, walau hanya 5 menit, adalah proses mi’roj seorang mukmin, sowannya seorang mukmin kepada Alloh ta’ala. Jaga adabmu. Jaga sopanmu. Saat sholat, Engkau sedang berhadapan dengan Alloh ta’ala.
2.   Haafidhu... (jagalah sholat). Artinya jagalah sholat Anda. Jangan sampai terlewat. Kerjakan sholat di awal waktu. Jangan menunda sholat.
3.   Khoosyi’un... (sholat dengan khusyu’). Artinya menghadirkan hati ketika sholat. Saat melaksanakan sholat, hendaknya kita merasa sedang sowan kepada Alloh ta’ala. Kita hayati makna setiap gerakan dan bacaan sholat. ”Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu mereka yang khusyu’ di dalam sholat mereka”. (QS. Al-Mu’minun: 1-2)
4.   Daaimun... (rutin, istiqomah). Artinya kita musti terus-menerus, istiqomah, mengerjakan sholat. Jangan sampai bolong.
Terlebih dari itu semua, mari kita membiasakan sholat dengan berjama’ah karena hal itu lebih memungkinkan agar sholat kita diterima. Jika ada salah satu anggota jama’ah yang sholatnya bisa khusyu’ dan diterima oleh Alloh ta’ala, maka anggota jama’ah sholat yang lain tentu sholatnya juga diterima oleh Alloh ta’ala. Lagi pula, bukankah sholat berjama’ah lebih utama dari pada sholat sendirian dengan selisih 27 derajat?
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Mari kita gunakan bulan Rojab ini untuk menanam berbagai macam kebaikan, apapun kebaikan itu, baik yang berhubungan langsung dengan Alloh ta’ala, maupun yang berhubungan dengan sesama makhluq. Khususnya, mari kita menanam amal sholih berupa puasa sunnah, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki sholat. Mari kita jaga dan sirami tanaman-tanaman kebaikan itu hingga kita bisa panen ”pengampunan” kelak di bulan Romadlon, insyaalloh.
Wallohu a’lam bi ash-showab. Semoga Alloh ta’ala senantiasa memberikan pertolongan-Nya kepada kita semua. Amien.

[tije/alumni PBSB Kemenag RI]

Selasa, 22 Mei 2012

Memaknai Bulan Rajab: Tingkatkan Kualitas Sholat..!!



 Segala puji bagi Alloh ta’ala yang menganugerahi umat nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dengan sholat wajib yang lima.
Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpah kepada sang shohibusy syafa’ah nabiyulloh Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam beserta keluarga, shohabat, dan seluruh umat beliau hingga hari qiamat.

“Allohumma baarik lanaa fii rojaba wa sya’bana wa ballighna romadlon…”

“ya alloh berkahilah kami di bulan Rojab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Romadlon…”

Begitulah do’a yang pernah diajarkan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dan senantiasa dilantunkan oleh umat islam di seluruh penjuru dunia ketika bulan Rojab tiba. Bahkan di beberapa masjid dan musholla di Indonesia, doa tersebut dijadikan pujian yang senantiasa dilantunkan setelah adzan dan sebelum iqomah selama bulan rajab dan pertengahan awal bulan sya’ban.

Rojab menjadi salah satu bulan yang mulia dikarenakan pada bulan ini terjadi peristiwa yang sangat mulia. Peristiwa tersebut adalah Isro’ Mi’roj nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Dari sowan kepada Alloh ta’ala tersebut beliau membawakan “oleh-oleh” untuk umat Islam berupa sholat wajib lima waktu. “Oleh-oleh” ini menjadi istimewa dikarenakan Alloh ta’ala memanggil rosul-Nya yang mulia untuk menghadap secara langsung tanpa perantara siapapun.
“Anugerah-anugerah” Alloh ta’ala yang lain seperti zakat, puasa dan haji, semuanya disampaikan kepada Nabi melalui perantara Ruhul Amin Malaikat Jibril ‘alaihis salam Tetapi untuk yang satu ini (baca: sholat), Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menerimanya langsung dari Alloh ta’ala.

Pada kesempatan kali ini, marilah kita meluangkan waktu sejenak untuk memaknai “oleh-oleh” nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dari isro’ mi’roj beliau tersebut.


Sholat

Secara bahasa, sholat merupakan padanan kata dari “ad-du’aa” yang berarti doa. Istilah ini dipakai karena di dalam sholat banyak sekali terkandung aktifitas do’a. Sedangkan menurut istilah syara’, sholat diartikan sebagai suatu ibadah mahdhoh (khusus) yang dimulai dengan takbirotul ihrom dan diakhiri dengan salam, dengan syarat, rukun dan tata cara tertentu. Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam sendirilah yang mencontohkan bagaimana cara sholat yang benar dan memerintahkan kita umat islam untuk meniru cara sholat beliau.
Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “shollu kamaa roaitumuuni usholli”
Artinya: sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.
(Silahkan merujuk ke Buku ”Kaifa Tusholli”: Tuntunan Sholat Menurut Riwayat Hadits yang ditulis oleh K.H. Muhammad Ihya Ulumiddin dan diterbitkan oleh Yayasan Al-Haromain Surabaya, untuk mempelajari lebih detail tentang tata cara sholat sesuai dengan riwayat hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam).


Sholat; Anugerah terbesar umat nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam

Kenapa sholat begitu istimewa?
Sholat adalah tiang agama. Yang membedakan orang muslim dan orang kafir adalah sholat. Sholat merupakan kewajiban pertama yang diperintahkan kepada para Rosul. Sholat merupakan washiat terakhir para Rosul. Sholat dapat menghapus dosa. Sholat dapat menyebabkan pelakunya diangkat derajatnya di sisi Alloh. Sholat merupakan indikator rasa syukur kita kepada Alloh ta’ala. Sholat merupakan media komunikasi antara manusia dengan sang Pencipta, dengan tata cara yang telah digariskan oleh-Nya dan disampaikan melalui Rosul-Nya.

Kalau manusia sudah tidak mau ”berkomunikasi” dengan Alloh robbul’alamin..?? Kalau manusia sudah tidak punya ”rasa” kepada Alloh yang memberinya hidup..?? Kalau manusia sudah lupa dari mana asalnya, untuk apa ia dicipta, dan akan ke mana ia kembali..??  Sudah tentu hilanglah sisi ”robbaniyah”nya. Hakekatnya ia tidak jauh beda dengan makhluk yang hidup hanya untuk memuaskan nafsunya; nafsu makan, seks, kuasa, dan nafsu-nasfu lainnya. Bahkan ”hum adholl..”.

Dengan sifat welas asih-Nya, Alloh ta’ala memberikan media kepada manusia agar ia senantiasa connect dengan-Nya. Agar ia senantiasa ingat kepada Sang Penciptanya. Agar ia senantiasa terjaga dari perbutan keji dan munkar. Agar ia dapat meraih kebahagiaan baik yang sementara (di dunia) maupun yang abadi (di akhirat). Media tersebut adalah sholat fardhu yang lima.
Ayo kita jaga..! ^_^

 Agar sholat benar-benar nikmat

Pernahkah kita merasakan nikmatnya sholat? Pernahkah kita merasa benar-benar sedang menghadap kepada Alloh ta’ala ketika sholat?

Menurut mbah Imam Ghozali, sholat itu terdiri dari sisi lahiriah dan sisi bathiniah. Kesempurnaan sholat bisa didapat dengan menyempurnakan kedua sisi tersebut. Sisi lahiriah adalah gerakan-gerakan dan bacaan-bacaan yang terdapat dalam sholat seperti yang diajarkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berupa takbirotul ihrom, bacaan surat al-fatihah, rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahhud, sholawat, dan salam. Mari kita sempatkan untuk mengecek; sudahkah sholat yang kita lakukan selama ini –gerakan dan bacaannya- sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam?? Ayo semangat belajar. Mumpung kita masih hidup dan masih diberi kesempatan oleh Allah ta’ala untuk menyembah-Nya di muka bumi ini.

OJO MALAS..!! Jangan-jangan sholat kita belum benar. Jangan-jangan sholat kita belum sempurna. Jangan-jangan... Ayo semangat mempelajari sholat. Mumpung masih sempat. Jangan sampai, karena kita malas belajar, seumur hidup kita yang disebut orang sebagai umat Islam ini melaksanakan sholat yang ternyata tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Tidak apa-apa kalau sekarang kita sudah dewasa. Tidak mengapa kalau sekarang kita sudah tua menjadi seorang ayah atau ibu bahkan kakek atau nenek. Yang penting sekarang kita mau belajar agar besok sholat yang kita kerjakan menjadi sholat yang lebih berkualitas. Sekarang ini banyak sekali buku yang menerangkan tentang tata cara sholat yang sudah diterbitkan. Kita tinggal beli salah satu saja di toko buku terdekat. Belajarnya sedikit demi sedikit aja. Kita mulai dari syarat sah sholat. Lalu rukun-rukun nya. Kemudian kita coba –kalau punya kesempatan dan sebaiknya menyempatkan diri- mempraktekkan sholat di depan ustadz atau kyai. Kemudian minta pendapat beliau agar membetulkan sholat kita jika memang ada yang kurang tepat. Kita belajar sedikit demi sedikit. Yang penting istiqomah dan berkelanjutan. Insyaalloh semakin hari sholat yang kita laksanakan semakin berkualitas.

Sedangkan sisi bathiniyah sholat adalah meresapi makna bacaan dan gerakan dalam sholat, khusyu’, dan menghadirkan hati ketika sholat. Untuk memahami makna bacaan dalam sholat diperlukan usaha yang sungguh-sungguh disertai dengan kesabaran. Kita bisa mempelajarinya dengan membaca buku-buku terjemahan bacaan sholat dan dengan ngaji secara langsung kepada Ustadz atau Kyai. Sekali lagi. Tidak masalah jika hari ini kita belum mengerti makna bacaan sholat. Tidak apa-apa. Itu masa lalu. Tapi akan jadi masalah besar jika kita seumur hidup dan sampai menghadap Allah ta’ala nanti tidak mengerti sedikit  pun  dari apa yang kita baca dalam sholat. Padahal Allah ta’ala sampai hari ini memberi kesempatan agar kita belajar. Ayo belajar sedikit demi sedikit. Contohnya; hari ini kita belajar arti takbirotul ihrom ”Allohu akbar”, kemudian besok kita mulai belajar arti surat al fatihah, cukup satu ayat saja. Besoknya satu ayat lagi dan begitu seterusnya hingga akhir ayat surat al fatihah. Selanjutnya pekan depan kita belajar arti bacaan rukuk, ”subhana robbiy al-’adhim (wa bihamdihi)”. Kemudian kita belajar makna bacaan i’tidal dan seterusnya sampai bacaan tasyahud dan salam. Dengan begitu, semoga kualitas sholat yang kita kerjakan meningkat dari hari ke hari. Dan insyaalloh tahun depan –semoga Alloh ta’ala memberi panjang umur- kita sudah mengerti arti bacaan dalam sholat yang kita kerjakan.
                                               
                  
Khusyu’ dan menghadirkan hati ketika sholat insya_alloh bisa dicapai dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam meresapi makna bacaan sholat dan dengan menyempurnakan sunnah-sunnah serta keutamaan-keutamaan dalam sholat, seperti menyempurnakan wudlu, menyempurnakan rukuk, i’tidal, sujud dan duduk, sholat dengan berjama’ah di masjid serta sholat di waktu awal. Selain itu juga didukung dengan memperbanyak serta memperbagus sholat-sholat sunnah seperti sunnah rowatib (sebelum dan sesudah sholat fardlu), sunnah Dhuha, Tahajjud, Witir, dan lain-lain. 

Terakhir dan yang paling penting, ketika kita akan dan sedang melaksanakan sholat, mari kita fokuskan hati dan pikiran kita kepada Alloh ta’ala. Kita tanamkan dalam hati dan pikiran bahwa kita sedang menghadap Alloh ta’ala, Tuhan seru sekalian alam. Bukankah Allah ta’ala senantiasa mengetahui apa yang sedang kita pikirkan dan sedang kita batin..?? Bukankah Allah ta’ala senantiasa memandang pikiran dan hati kita..??

Mari kita memaknai bulan Rajab ini dengan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas sholat kita. Semoga kita senantiasa diberi pertolongan dan kekuatan oleh Alloh ta’ala agar kita dapat mengerjakan sholat dengan memenuhi sisi lahir dan bathinnya sehingga sholat kita menjadi lebih sempurna. Sehingga kita dapat merasakan nikmatnya sholat. Amien.

Ayo... semangat..!
Bisa..!!
^_^

(tj)