Tampilkan postingan dengan label ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ramadhan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Agustus 2014

Romadlon, Bulan al-Qur`an




شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان

) البقرة: ۱۸٥ (

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Romadlon, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al Baqoroh: 185)
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Berdasarkan ayat tersebut, kita dapat mengambil ibrah bahwa Romadlon adalah bulan al-Quran. Karena pada bulan yang mulia inilah al-Qur`an diturunkan sebagai petunjuk hidup dan penerang jalan kehidupan bagi manusia.
Turunnya al-Qur`an itu melalui dua proses.
“Sahabat Ibnu ‘Abbas rodliyallohu ‘anhu mengatakan bahwa: Alloh ta’ala menurunkan al-Qu`an secara sekaligus dari lauh mahfudz ke baitul ‘izzah di langit dunia, kemudian menurunkannya kepada Rosululloh secara berangsur-angsur sesuai dengan keadaan di dunia selama 23 tahun.” (Tafsir Ibnu Katsir juz 8)
Yang pertama, turun sekaligus 30 juz, dari lauh mahfudz ke baitul ‘izzah di langit dunia. Proses ini disebut inzaalan ( إنزالا ). Turunnya al-Quran secara sekaligus ini terjadi pada lailatul qodr. Hal ini diisyaratkan oleh al-Qur`an sendiri sebagaimana tercantum dalam surat al-Qodr ayat 1.
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur`an secara keseluruhan) pada lailatul qodr.”
Sedangkan yang kedua, al-Qur`an turun berangsur-angsur selama sekitar 23 tahun. Proses ini disebut tanziilan ( تنزيلا ). Di dalam proses yang kedua ini al-Qur`an turun secara berangsur-angsur, bertahap, ayat demi ayat, sesuai dengan keadaan di dunia dan konteks dakwah Rosululloh. Turunnya ayat-ayat yang pertama kepada Nabi Muhammad, berdasarkan pendapat yang masyhur, terjadi pada tanggal 17 Romadlon, yang di Indonesia diperingati sebagai hari Nuzulul Qur`an.
Walhasil, turunnya al-Qur’an baik secara sekaligus maupun secara berangsur-angsur (permulaan turunnya), terjadi pada bulan Romadlon. Sehingga bulan Romadlon itu menjadi mulia, selain karena merupakan bulan puasa, adalah karena merupakan bulan turunnya al-Qur`an al-Karim. Kita tahu dan sadar bahwa ‘perkataan’ yang termulia dan teragung itu adalah al-Qur`an karena al-Qur`an adalah kalamullah, firman Alloh ta’ala.
Kemuliaan Al-Qur`an itu, jika dibandingkan dengan segenap ucapan dan perkataan semua makhluq, sama dengan kemuliaan Dzat yang bersifat Rahman dan Rohim, seandainya boleh, dibandingkan dengan semua makhluq ciptaan-Nya. (Kitab Jami’ush-Shoghir Juz II Hal: 20) Tentu bukan bandingannya.
Nabi Menyibukkan Diri dengan Taddarus al-Qur`an bersama malaikat Jibril di Bulan Romadlon
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Tersebut dalam keterangan hadits bahwa pada saat bulan Romadlon, malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam setiap malam untuk bertadarrus al-Qur`an. Jibril membaca al-Qur`an dan Nabi menyimaknya, kemudian Nabi membaca al-Qur`an dan Jibril menyimaknya. Begitulah seterusnya, bergantian dan berulang-ulang. Pada saat tadarrus inilah malaikat Jibril memastikan kebenaran bacaan al-Qur`an Nabi dan menjelaskan kepada Nabi tentang urutan-urutan ayat dan surat dari al-Qur`an.
Diriwayatkan dari Ibn Abbas rodliyallohu ‘anhu: Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemurah. Baginda lebih pemurah lagi pada bulan Romadlon ketika Jibril menemui beliau. Dan malaikat Jibril menemui beliau pada setiap malam bulan Romadlon untuk bertadarus (mengulang-ulang) al-Qur`an. Baginda Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam ketika itu lebih pemurah dalam memberi kebaikan daripada angin yang terhempas . (al-Bukhari, no: 6, 1906, 3220, 3554, 4997, Muslim: 2308)
Di dalam riwayat yang lain disebutkan, "Sesungguhnya malaikat Jibril mengulang kembali Al-Qur’an kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam sekali dalam setahun (di bulan Romadlon). Pada tahun wafatnya beliau, Jibril mengulangnya dua kali." (HR. Bukhari:  4614). Ibnu Atsir berkata dalam Al-Jami Fi Gharibil Hadits, 4/64, maksudnya adalah bahwa malaikat Jibril mengulang kembali seluruh Al-Quran yang pernah diturunkan kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam.
Demikianlah, selama bulan Romadlon Nabi menyibukkan diri dengan bertadarrus dan mempelajari al-Qur`an bersama malaikat Jibril.
Ulama Salaf ash-Sholih Mementingkan al-Qur`an pada bulan Romadlon.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Ketika bulan Romadlon tiba, Imam Malik mengatakan, “telah datang bulan al-Qur`an.” Setiap bulan Romadlon beliau mengkhatamkan al-Qur`an sebanyak 60 kali, 30 kali di malam hari dan 30 kali di siang hari. Begitu juga Imam Syafi’I, beliau mengkhatamkan al-Quran sebanyak enam puluh kali di bulan Romadlon. Sedangkan Al-Aswad mengkhatamkan al-Qur`an setiap dua hari sekali. Sementara Qatadah mengkhatamkan al-Qur’an setiap tiga hari sekali, serta tiap malam pada sepuluh malam akhir bulan Romadlon.
Al-Qasim bin Hafiz bin Asakir berkata, "Dahulu bapakku selalu shalat berjamaah dan membaca Al-Qur`an. Beliau mengkhatamkannya setiap Jum’at. Sedangkan pada bulan Romadlon, beliau mengkhatamkannya setiap hari."
Begitulah potret ulama kita. Di tengah kesibukan beliau-beliau sebagai ahli hadits, ahli fiqh, ahli hukum yang tentu tidak lepas dari aktifitas keilmuan seperti mengajar dan menulis, para ulama tersebut tetap memberikan perhatian yang besar kepada al-Qur`an. Tentu, karena memang bulan Romadlon adalah bulan al-Qur`an.
Bagaimana dengan kita?
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Mari kita lihat sekilas hasil survey tentang minat baca al-Qur`an dan kemampuan baca al-Qur`an dari masyarakat Indonesia secara umum.
Survei bertema "Tata nilai, impian, cita-cita pemuda muslim di Asia Tenggara" ini diadakan di 33 provinsi di Indonesia dengan 1.496 responden yang berusia 15-25 tahun. Responden berpendidikan SD hingga perguruan tinggi. Survei dilakukan dengan wawancara langsung 18-26 November 2010. Survei menunjukkan kaum muda muslim yang selalu membaca Al-Qur`an (10,8 persen), yang sering (27,5 persen), yang kadang-kadang (61,1 persen) dan yang tidak pernah (0,3 persen). (http://news.detik.com/read/2011/06/14/152950/1660063/10/lsi-minat-salat--baca-al-quran-kaum-muda-muslim-rendah)
Sekitar 65 persen umat Islam di Indonesia tidak bisa membaca Al-Qur`an alias buta aksara Al-Qur`an. Hal itu terungkap dari hasil survei Institut Ilmu Alquran (IIA) Jakarta tahun 2013. (http://www.ddhongkong.org/survei-65-persen-muslim-indonesia-tidak-bisa-baca-al-quran/)
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Bagaimana dengan kita? Apakah kita termasuk 35% umat Islam Indonesia yang bisa membaca al-Qur`an atau termasuk 65% yang tidak bisa membaca al-Qur`an?  
Apakah kita termasuk 10,8% kaum muda Muslim Indonesia yang selalu membaca al-Qur`an atau 61,1% yang kadang-kadang (jarang)?
Romadlon ini, Momentum Kebangkitan
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Mari kita jadikan bulan Romadlon kali ini sebagai momentum kebangkitan kita dalam mencintai al-Qur`an.
Yang belum bisa membaca al-Qur`an, ayo belajar. Kita ini orang Islam. Al-Qur`an itu kitab suci umat Islam. Masak orang Islam tidak bisa membaca kitab sucinya sendiri? Ayo belajar membaca al-Qur`an. Tidak ada kata terlambat untuk belajar.
Yang belum bisa membaca al-Qur`an dengan benar sebaiknya memaksimalkan waktu di bulan Romadlon untuk memperbaiki bacaan al Qur`an dengan belajar kepada ustadh yang mahir dalam membaca al-Quran. Jangan hanya mengejar target khatam al-Qur`an. Karena Jumhur Ulama sepakat bahwa membaca al-Qur`an dengan benar itu hukumnya fardlu ‘ain. Sehingga setiap orang Islam yang belum bisa membaca al-Qur`an dengan benar memiliki kewajiban untuk belajar memperbaiki bacaan al-Qur`an.
Yang sudah bisa membaca al-Qur`an, ayo hiasi hari-hari kita dengan bacaan al-Qur`an. Jangan sampai kita lebih akrab dengan koran daripada al-Qur`an. Malasnya kita dalam membaca al-Quran menunjukkan bahwa hati kita sedang kotor.
Utsman bin Affan raodhiyallohu ‘anhu berkata (yang maksudnya), “Kalau hati kita bersih, maka kita tidak pernah kenyang dengan al-Qur’an.”
Bulan Romadlon ini, mari mengazamkan diri untuk mengkhatamkan al-Qur`an, minimal satu kali. Sebagai ungkapan syukur kita atas turunnya al-Qur`an, petunjuk hidup dan penerang jalan kehidupan, di bulan yang mulia ini. Tentu, kita lanjutkan kebiasaan membaca dan mengkhatamkan al-Qur`an dalam kehidupan sehari-hari di bulan-bulan selanjutnya.
5 Keutamaan Membaca al-Qur`an
Keutamaan membaca al-Qur`an sangat banyak. Pada kesempatkan yang sedikit ini kami mengetengahkan 5 keutamaan membaca al-Qur`an. Semoga bisa menambah motivasi kita untuk membaca al-Qur`an.
1.   Ibadah yang paling mulia
“Khabbab bin Al Arat radhiyallahu ‘anhu berkata: “Beribadah kepada Alloh semampumu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan pernah beribadah kepada Alloh dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya dibandingkan (membaca) firman-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi).
2.   Syafa’at (penolong) di hari kiamat
“Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim: 804, Ahmad: 5/255).
3.   Satu huruf = sepuluh pahala (ibadah ringan, pahala besar)
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم (alif laam miim) itu  satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)
4.   Menenangkan jiwa
“…. Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du: 28)
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Alloh (masjid), membaca kitabulloh (al-Qur`an) dan saling mempelajarinya, melainkan turunlah ketenangan kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Alloh ta’ala menyebut-nyebut mereka kepada orang yang ada di sisi-Nya (para malaikat).” (HR. Muslim: 2699, Ahmad: 2/252)
5.   Senantiasa berada di dalam kebaikan
“Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim: 798).
Pahala pertama adalah pahala membaca. Sedangkan yang kedua adalah pahala sabar menanggung susah ketika membaca al-Qur`an.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Ayo kita jadikan momentum Romadlon ini sebagai momentum kebangkitan kita dalam mencintai al-Qur`an. Mencintai al-Qur`an sama dengan mencintai Alloh ta’ala. Mari kita menyibukkan diri dengan al-Qur`an. Mari kita pelajari, kita baca, kita hafal, kita dalami maknanya, dan kita amalkan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai terlewat lagi. Semakin hari kita semakin dekat dengan mati. Belum tentu tahun depan bisa ketemu Romadlon lagi. Bisa jadi ini adalah Romadlon yang terakhir kali.
Semoga Alloh ta’ala membuka hati kita dan meneranginya dengan cahaya hidayah. Amin.
[tije/LP2A PBSB Kemenag RI]

Sabtu, 13 Juli 2013

Mengapa Kita Berpuasa?


Di dalam bulan Romadlon, seringkali tema puasa dijadikan bahan ceramah, diskusi, dan tulisan oleh berbagai kalangan. Saya berharap, kali ini kita tidak bosan dalam membahas dan mendiskusikan tema puasa tersebut. Ada syair diucapkan: “Barang siapa enggan mencicipi pahit getirnya belajar sesaat, niscaya dia kan merasakan pahitnya kebodohan sepanjang hayat”. Oleh karena itu saya berharap kita senantiasa bersemangat dalam mempelajari ajaran agama kita, Islam.
Sebelumnya, saya ingin mengajukan pertanyaan. Mengapa kita berpuasa? Apa tujuan kita berpuasa?
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Mengapa kita berpuasa? Setiap kita tentu memiliki alasan yang bisa jadi sama atau berbeda. Ada orang yang berpuasa karena ikut-ikutan euphoria Romadlon. Ada orang yang berpuasa karena malu kepada teman atau keluarga. Ada orang yang berpuasa karena ingin diet, ingin sehat. Ada orang yang berpuasa karena takut kepada siksa Alloh ta’ala yang maha dahsyat; neraka. Ada orang yang berpuasa karena ingin mendapatkan ampunan dan pahala dari Alloh. Ada juga orang yang berpuasa karena berharap ridlo Alloh ta’ala.
Alloh ta’ala berfirman:
وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة ج  وذلك دين القيمة
(Maksudnya): “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh ta’ala dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus [tidak mempersekutukan Alloh dan menjauhi kesesatan], dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Selanjutnya, marilah kita menghayati nasehat Rosulillah sollallohu alaihi wa sallam terkait dengan hal ini.
“Bahwasanya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan balasan atas apa yang ia niatkan.” (HR. Imam Bukhori [1] dan Muslim [1907])
Syekh Ibnu Athoillah rohimahulloh dalam Miftah al Falah wa Mishbah al Arwah menyampaikan bahwa motivasi dari amal perbuatan manusia itu ada yang bersifat ruhani (ikhlash) dan ada yang bersifat setani (riya’, beramal karena selain Alloh ta’ala). Motivasi yang bersifat ruhani dimiliki oleh mereka yang cenderung dan cinta kepada Alloh ta’ala. Sedangkan motivasi setani dimiliki oleh meraka yang cinta kepada nafsu dan dunia. Tentu, kita berusaha agar setiap amal ibadah yang kita lakukan, semata-mata didasari oleh motivasi ruhani, ikhlash karena Alloh ta’ala.
Sementara itu, dalam Syarh Arba’un an-Nawawiyah, Imam Nawawi rohimahulloh menjelaskan bahwa amal perbuatan yang disertai niat (ruhani) itu ada tiga keadaan;
Pertama, orang-orang yang melakukan amal perbuatan karena takut kepada siksa Alloh ta’ala; neraka. Mereka menjauhi keburukan dan ma’shiat serta mengerjakan kebaikan dan ta’at karena takut kelak akan mendapatkan siksa yang sangat pedih di akhirat. Ini adalah ibadah seorang hamba. Sekedar info: Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam mengingatkan kita akan pedihnya siksa neraka.
Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah orang yang mengenakan sepasang sandal dari api neraka, maka mendidihlah otaknya sebagaimana mendidihnya air dalam bejana. Ia beranggapan bahwa tidak ada orang lain yang lebih besar siksanya daripada dirinya. Padahal itu adalah siksa yang paling ringan”. (HR. Muslim: 196)
Ini yang paling ringan lho. Bagaimana dengan yg ‘ringan’? Bagaimana yang ‘sedang’? Apalagi yang ‘berat’? Gak kebayang deh betapa berat dan pedihnya. Na’udzu billahi min dzalik… Rasa takut kepada siksa neraka yang sangat dahsyat akan mampu menjaga seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa yang pada akhirnya akan menyelamatkannya dari neraka dan mengantarkannya ke dalam surga.
Firman Alloh ta’ala:
(maksudnya): “dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami, merasa takut (akan diazab)’. Maka Alloh memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. (QS. Ath-thur: 25-27)
Kedua, orang-orang yang melakukan amal perbuatan karena berharap pahala dari Alloh ta’ala; surga. Mereka menghindari perbuatan-perbuatan buruk dan melaksanakan amal-amal sholih karena berharap kelak di akhirat mendapatkan pahala yang besar dari Alloh ta’ala. Ini adalah ibadah seorang pedagang. Adakah yang lebih menguntungkan daripada berdagang dengan Alloh ta’ala?
Firman Alloh ta’ala
(maksudnya): “Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka…. ”. (QS. At-taubah: 111)
(Maksudnya): “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Alloh dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Alloh menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. (QS. Al-Fathir: 29-30)
Berkenaan dengan keadaan orang yang pertama (takut kepada siksa neraka) dan kedua (berharap pahala surga) tersebut, Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda (yang maksudnya):
“Tidaklah seorang muslim meminta surga tiga kali kecuali surga akan berkata; ‘Ya Alloh, masukkan dia ke dalam surga ‘. Dan tidaklah dia meminta keselamatan dari neraka kecuali neraka berkata; ‘Ya Alloh, selamatkan dia’”. (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan selainnya; hasan li ghayrihi)
Ketiga, orang-orang yang melakukan amal perbuatan karena menunaikan hak Alloh ta’ala. Mereka menjauhi berbagai jenis keburukan dan ma’shiat karena malu kepada Alloh ta’ala. Mereka bersemangat menjalankan berbagai macam ibadah karena bersyukur kepada Alloh ta’ala. Inilah yang dinyatakan oleh Rosululloh ketika sayyidah ‘Aisyah bertanya kepada beliau saat melihat beliau mengerjakan sholat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. “Wahai Rosululloh, masihkah engkau terbebani dosa? Padahal Alloh telah mengampuni dosa-dosa engkau yang akan datang dan yang telah lampau”. Rosululloh menjawab,
أَفَلَا أَنْ أكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا
“Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?” (HR. Imam Bukhori [4837] dan Muslim [2820]). Ini adalah ibadahnya orang-orang istimewa. Jumlahnya sangat sedikit.
...وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِىَ الشَّكُوْر
(maksudnya): “…. dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur.” (QS. As-Saba`: 13)
Dari ketiga macam motivasi ruhani tersebut, bisa jadi diantara kita ada yang memiliki satu, dua, atau ketiga-tiganya. Boleh-boleh saja. Yang penting, motivasi dari amal ibadah kita adalah motivasi ruhani, karena Alloh ta’ala. Bukan karena ingin dipuji, malu kepada manusia, atau motivasi setani yang lain.
Saudaraku yang semoga senantiasa disayang oleh Alloh ta’ala. Kita tentu berharap bahwa amal ibadah, termasuk puasa, yang kita kerjakan diterima oleh Alloh ta’ala. Diterima atau tidaknya amal ibadah yang kita kerjakan itu tergantung kepada dua hal; ittiba’us sunnah (mengikuti apa yang dicontohkan oleh Nabi) dan ikhlash. Dua hal ini dijelaskan oleh Alloh ta’ala dalam surat al-Kahfi ayat 110
(maksudnya): “Katakanlah, Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al-Kahfi: 110)
Untuk hal yang pertama, agar puasa yang kita kerjakan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rosululloh, marilah kita menelaah lagi ajaran Islam tentang puasa; syarat, rukun, yang membatalkan, perkara-perkara sunnah dan makruh dalam puasa.
Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.HR. Muslim no. 1718)
Silahkan membaca buku-buku tentang puasa dan berkonsultasi kepada ustadz dan/atau Kyai yang Anda kenal.
Selanjutnya, marilah kita melaksanakan ibadah puasa dengan niat yang ikhlash, hanya karena Alloh ta’ala. Bukan karena yang lain, bukan karena ingin dilihat dan didengar manusia, bukan karena malu kepada teman atau keluarga.
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa berpuasa romadlon dengan dasar iman dan berharap pahala dari Alloh, maka dosanya yang telah berlalu diampuni.” (HR. Imam Bukhori dan Muslim)
Ikhlash adalah ruh-nya amal. Jika amal ibadah dikerjakan tanpa keikhlasan, maka sama saja dengan seonggok jasad tanpa ruh. Apakah kita mau mempersembahkan amal seperti itu kepada Alloh ta’ala? Betapa buruk adab kita. Sungguh Alloh ta’ala hanya menerima amal ibadah yang didasarkan pada ikhlash.
Dalam hadits qudsi Alloh ta’ala berfirman: “Aku sangat tidak butuh sekutu, siapa saja yang beramal menyekutukan sesuatu dengan-Ku, maka Aku akan meninggalkannya dan syirknya.” (HR. Muslim)
Orang-orang yang beramal karena berharap dilihat, didengar, dipuji oleh manusia, maka kelak mereka akan merugi di akhirat. Firman Alloh ta’ala:
(maksudnya): “dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Az-Zumar: 65)
Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam menjelaskan keadaan orang yang beramal ibadah tanpa didasari ikhlash karena Alloh ta’ala.
“Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ia pun dihadapkan, lalu Alloh mengingatkan kepadanya nikmat-nikmatNya, ia pun mengingatnya, kemudian ditanya, “Kamu gunakan untuk apa nikmat itu?” Ia menjawab, “Aku (gunakan untuk) berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid”, Alloh berfirman, “Kamu dusta, sebenarnya kamu berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan sudah dikatakan demikian”, kemudian Alloh memerintahkan orang itu agar dibawa, lalu ia diseret dalam keadaan telungkup kemudian dilempar ke neraka. (Kedua) seorang yang belajar agama, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an, Ia pun dihadapkan, lalu Alloh mengingatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, ia pun mengingatnya, kemudian ditanya, “Kamu gunakan untuk apa nikmat itu?” Ia menjawab, “Aku (gunakan untuk) mempelajari agama, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an karena Engkau”, Alloh berfirman: “Kamu dusta, sebenarnya kamu belajar agama agar dikatakan orang alim, dan membaca Al Qur’an agar dikatakan qaari’, dan sudah dikatakan”, kemudian Alloh memerintahkan orang itu agar dibawa, lalu ia diseret dalam keadaan telungkup kemudian dilempar ke neraka. (Ketiga) seseorang yang dilapangkan rezkinya dan diberikan kepadanya berbagai jenis harta, ia pun dihadapkan, lalu Alloh mengingatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, ia pun mengingatnya, kemudian ditanya, “Kamu gunakan untuk apa nikmat itu?” Ia menjawab, “Tidak ada satu pun jalan, di mana Engkau suka dikeluarkan infak di sana kecuali aku keluarkan karena Engkau”. Alloh berfirman, “Kamu dusta, sebenarnya kamu lakukan hal itu agar dikatakan sebagai orang yang dermawan dan sudah dikatakan“, kemudian Alloh memerintahkan orang itu agar dibawa, lalu ia diseret dalam keadaan telungkup kemudian dilempar ke neraka.” (HR. Muslim)
Saudaraku. Marilah kita merenungkan dalam-dalam hadits tersebut. Tiga orang yang diceritakan di dalam hadits tersebut sama-sama memiliki amal ibadah yang banyak dan besar. Namun di akhirat mereka tidak mendapatkan manfaat sedikit pun dari amalan mereka. Hal itu disebabkan mereka beramal bukan karena Alloh ta’ala. Sungguh, Alloh Maha Tahu apa yang terlintas di sanubari manusia.
Oleh karena itu, marilah kita melaksanakan ibadah puasa (serta ibadah-ibadah yang lain; sholat fardlu, sholat tarowih, sholat malam, tilawah al-Qur`an, sedekah, infaq, zakat, dan lain sebagainya) semata-mata hanya karena Alloh ta’ala. Mari senantiasa menanamkan rasa ikhlash ini di dalam sanubari kita. Tentu, hal ini memerlukan latihan yang terus-menerus, latihan yang istiqomah.
Lebih lanjut, keikhlasan inilah yang sebenarnya akan menghubungkan batin kita kepada Alloh ta’ala. Imam Junaid al-Baghdadi berkata; “Ikhlash adalah rahasia antara Alloh ta’ala dan hamba-Nya. Malaikat pencatat tidak mengetahui sedikit pun mengenainya untuk dapat dituliskannya, setan tidak mengetahuinya hingga tak dapat merusaknya, nafsu pun tidak menyadarinya hingga ia tak mampu mempengaruhinya”.
Semoga Alloh ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq-Nya kepada kita semua. Wallohu a’lam bi ash-showab. [tj/LP2A PBSB]