Tampilkan postingan dengan label seri bulanan.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seri bulanan.... Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 September 2012

Surat Cinta untuk Pak Haji dan Bu Hajah



Pak Haji dan Bu Hajah yang semoga dirahmati Alloh ta’ala. Bolehkah saya bertanya? Tahun ini bapak/ibu berangkat haji untuk yang ke berapa? Dua, tiga, atau empat? Semoga haji Anda diterima oleh Alloh ta’ala. Pak Haji dan Bu Hajah, tahun ini berapa kali Anda berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan umroh..? Selama ini sudah berapa kali Anda berangkat umroh? Dua, empat, enam..? Semoga umroh Anda diterima oleh Alloh ta’ala. 

Pak Haji dan Bu Haji, tahukah Anda bahwa berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2012, di Indonesia ada warga yang tergolong miskin sebanyak 29,13 juta orang (11.96%)..? Dengan garis kemiskinan 248.707 perkapita . Artinya orang di Indonesia yang penghasilan rata-ratanya lebih kecil dari pada 248.707 rupiah per bulan (atau 8.290 rupiah per hari) berjumlah 29,13 juta jiwa . Sedangkan penduduk yang tergolong hampir miskin berjumlah 27,82 juta jiwa (11,5 %). Jadi total penduduk yang miskin dan hampir miskin sejumlah sekitar 57 juta jiwa (surabaya.okezone.com). Sementara itu, jumlah penduduk yang tergolong miskin di Jawa Timur ada 5,071 juta jiwa (13,40 %) dengan garis kemiskinan 233.202 per kapita. Artinya warga Jawa Timur yang berpenghasilan rata-rata lebih kecil dari pada 233.202 rupiah per bulan (7.773 ribu per hari) berjumlah 5,071 juta jiwa (jatim.bps.go.id). Kesimpulan sederhana, orang miskin (secara ekonomi) di Indonesia masih “cukup” banyak, orang miskin di Jawa Timur juga masih “cukup” banyak. 

Jika Anda warga Surabaya, silahkan berkunjung ke Kecamatan Semampir, tepatnya Kelurahan Ujung, Pegirian, Wonokusumo dan Sidotopo. Anda bisa juga menengok saudara Anda di Kelurahan Gading Kecamatan Tambaksari dan Kelurahan Simokerto Kecamatan Simokerto. Atau jika Anda berada di daerah Surabaya Utara, silahkan bersilaturrahim ke warga pesisir di daerah Bulak. Di sana Anda akan bertemu dengan saudara-saudara Anda yang sangat membutuhkan “sedikit” bantuan dari Anda.

Pak Haji dan Bu Hajah, bolehkah saya bertanya, sudahkah Anda membayar zakat tahun ini? Sudahkah Anda menyisihkan sebagian kecil (hanya 2,5 %) dari harta Anda untuk diberikan kepada mereka yang berhak; orang-orang miskin? Untuk berangkat haji dibutuhkan dana tidak kurang dari 35 juta. Dan untuk yang haji plus dibutuhkan biaya dua kali lipat, sekitar 70 juta. Sedangkan untuk umroh (sunnah) diperlukan uang tidak kurang dari 15 juta. Kita tentu sudah mengerti bahwa mengeluarkan zakat itu hukumya wajib, fardlu ‘ain. Sedangkan berhaji untuk yang ke-dua, tiga, dan seterusnya itu hukumya sunnah. Berangkat umroh pun demikian, hukumnya sunnah. Memang, uang itu milik Anda sendiri. Namun, bukankah Alloh ta’ala yang memberikan rizki kepada Anda? Dan bukankah kita tahu bahwa Alloh ta’ala memerintahkan kita untuk membayar zakat? 

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)
Semoga dengan membayar zakat, Alloh ta’ala menerima haji dan umroh Bapak-Ibu sekalian. Semoga zakat itu bisa membantu saudara-saudara kita yang sedang kesusahan untuk sekolah dan berobat, bahkan untuk sekedar makan. Tentu jauh lebih baik dan lebih mulia jika Bapak-Ibu bukan hanya mengeluarkan zakat, tetapi juga berinfaq dan bershodaqoh. Contoh, Bapak-Ibu berinfaq/bershodaqoh 5%, 10%, 20%, atau 40% dari harta yang Bapak-Ibu miliki. Bukankah senantiasa berinfaq, menganggarkan sebagian harta untuk dinafkahkan di jalan Alloh ta’ala, atau untuk membatu saudaranya yang sedang kesusahan, itu merupakan ciri orang yang bertaqwa..?

Mari kita baca bersama surat Ali Imron ayat 133-134 (yang maksudnya): “dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.
Selain menjanjikan surga bagi orang-orang yang bertaqwa, Alloh ta’ala juga menjajikan anugerah-anugerah yang lain bagi mereka. Dan inilah sebagian anugerah Alloh ta’ala yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa.
“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah jadikan baginya jalan keluar (dari setiap permasalahannya). Dan Dia (Allah) akan memberi rizji dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.
Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam setiap urusannya .
Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia (Allah) akan melebur kesalahan-kesalahannya dan melipat gandakan pahala baginya.”
(QS. At- Tholaq [65] : 2 -5 )

Semoga Alloh ta’ala senantiasa menolong kita semua untuk menjadi bagian dari golongan orang-orang yang bertaqwa. Amin. (tj)

Minggu, 26 Agustus 2012

CERITA FITHRI



Matahari masih hangat. Burung-burung mensenandungkan tasbihnya masing-masing. Sementara semut, jangkrik, kupu-kupu, kumbang, kelinci, dan kambing tengah mengerjakan dluha mereka. Fithri bergegas menuju kebun di sebelah rumah. Seperti anak tiga tahunan yang lain di desanya, Fithri suka sekali bermain di kebun yang juga bersebelahan dengan rumah tetangganya itu. Dengan muka yang cinuk-cinuk1 si Fithri menuju kebun. Sesampainya di sana ia mendapati Ulfi tengah bermain di comberan yang merupakan tempat favoritnya. Ulfi yang usianya tiga bulan lebih tua dari Fithri itu memang suka sekali bermain dengan sesuatu yang basah-basah, comberan salah satunya.
Fithri pun bergegas mendatangi si Ulfi. Mungkin agak terkejut dengan kedatangan Fithri, si Ulfi tanpa sengaja memuncratkan isi comberan ke badan Fithri. Tak ayal badan Fithri pun basah kuyup plus belepotan dengan lumpur basah karena memang air comberan yang muncrat ke badannya. Fithri terlihat tidak suka dengan perlakuan si Ulfi. Fithri berang “Ulfi, kamu nakal..!!”
“tidak. Ulfi tidak sengaja kok…” Ulfi coba membela diri.
Terjadilah perang mulut antar ke dua anak ingusan itu. Percekcokan semakin panas hingga menimbulkan suara gaduh. Kakak si Fithri yang sedang menyirami bunga di halaman pun mendengar kegaduhan itu.
”ada apa Fithri..??” tanya Kakak kepada Fithri.
”Ulfi nakal kak...”
”nakal gimana..??” tanya Kakak menginterogasi.
”ni badan Fithri kotor semua”
”kenapa kok bisa kotor kayak gitu..??”
”si Ulfi memuncratkan air comberan ke badan Fithri. Kotor deh jadinya...”
”o....alah, kamu ya yang nakal...” sang Kakak menatap Ulfi dengan mata memelotot.
Karuan saja Ulfi ketakutan dan .... ”Huwa... huwa .... huwa ....!!!” si Ulfi menangis dengan sekeras-kerasnya hingga kelinci dan kambing yang sedang ber-dluha di kebun pun menghentikan aktivitas mereka sejenak.
Tangisan Ulfi terdengar hingga ke dapur rumahnya. Ibunya yang sedang mengulek2 sambal pun segera memahami bahwa ini suara tangisan si Ulfi. Si Ibu langsung bergegas menuju tempat sumber suara tangisan. Dilihatnya dari kejauhan di Ulfi menangis dan di depannya berdiri Kakaknya Fithri. Pikir si Ibu pasti si Ulfi diapa-apain sama kakaknya Fithri. Ibu pun langsung melabrak si Kakak.
”kamu apakan anakku..??!! beraninya sama anak kecil..!! ayo lawan aku kalau berani..!!”
”wong Ulfinya yang salah. Dia yang memuncratkan air comberan ke badan adikku” si Kakak coba membela diri.
”gak mungkin. Anakku emang suka comberan. Tapi gak suka memuncratkan comberan” si Ibu gak mau menerima pembelaan si Kakak.
Si Ibu mulai melinting lengan bajunya. Tanda siap bertarung.
Sementara itu Pak Dollah, ayah Fithri, hendak berangkat kerja. Didengarnya su`ra ribut dari kebun sebelah rumah. Ia pun menengoknya. Dan ia melihat Ibunya Ulfi dengan kondisi siap tempur berhadapan dengan Kakaknya Fithri yang masih muda belia. Ia pun bergegas menuju kebun.
”Bu, jangan Cuma berani sama anak muda..!!”
”lalu kamu mau ngelawan aku..??!! ayo..!!” Ibunya Ulfi menantang Pak Dollah. Percekcokan semakin panas. Dan terus memanas hingga menjelang siang.
Sekarang dua kubu sedang berhadapan. Keluarga besar si Fithri berhadapan dengan keluarga besar si Ulfi. Kakak, Bapak, Ibu, Pak Lek, Bu lek, pak De, bu de, kakek, nenek, dan uyut dari kedua belah pihak sudah berkumpul lengkap dengan senjata andalan masing-masing; mulai suthil3, sapu lidi, pemukul lalat, hingga martil.
Situasi semakin memanas. Tidak ada tanda-tanda akan diadakan gencatan senjata. Pertarungan tinggal menunggu waktu saja. Dan....
”assalamu’alaikum...” Kang Udin datang.
”wa’alaikumussalam ...” mereka serentak menjawab salam.
”ada apa ini..?? siang-siang kok pada kumpul di kebun, mau kerja bakti ya...?” Kang Udin memulai pembicaraan. Kang Udin merupakan orang yang cukup disegani oleh masyarakat setempat. Walaupun pernah ke Baitulloh dua kali, penampilannya tetap bersahaja, gaya hidupnya pun sederhana. Pekerjaan harian Kang Udin adalah sebagai pengembala kambing. Tapi kalau sudah waktunya sholat, ia alih profesi menjadi imam sholat. Karena akhlaqnya yang baik itulah, ia disegani warga setempat.
”enggak Kang, ini lho Bapaknya si Fithri ini, ya ini, masak mau ngajak berantem istri saya, istri saya kan wanita”. pak Sarmin, bapaknya Ulfi,  tidak mau didahului.  ”lha masak anak saya yang masih belia dan imut-imut ini mau diajak berantem sama Ibuknya si Ulfi yang tangannya sekeras bambu petung4. Ya gak bisa saya biarkan” Balas pak Dollah gak mau kalah.
”o... gitu...”
Setelah berdiam diri sejenak. Kang Udin mengajukan pertanyaan
”sebenarnya masalahnya apa..? kok bisa sampek dua keluarga besar hendak perang baratayudha seperti ini..?”
Akhirnya Kakaknya si Fithri menjelaskan asal muasal persoalannya. Bahwa tadi pagi ketika Fithri mau bermain di kebun, ia dimuncrati comberan oleh Ulfi.
Kang Udin pun mengangguk-anggukkan kepalanya
”o.. gitu to persoalanya..”
Kang Udin pun tersenyum.
”kenapa Kang, kok tersenyum?” tanya orang-orang itu hanpir bersamaan.
”lihatlah.. dua anak yang kalian katakan sebagai sumber persoalan itu sekarang sedang bermain comberan bersama...”
Orang-orang itu pun memutar-mutar mata mencari kemana perginya si Fithri dan si Ulfi. Kedua mata mereka terhenti di sebuah pemandangan yang membuat mereka geleng-geleng kepala. Fithri dan Ulfi sedang bermain comberan bersama. Sekarang bukan cuma bajunya si Fithri yang terkena comberan. Dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki, semuanya bermandikan comberan. Begitu juga Ulfi. Dan keduanya terlihat sangat menikmati comberan itu. Keduanya bermain dan bahagia bersama. Mereka sudah tidak ingat lagi apa yang terjadi pagi hari tadi. Mereka tidak ingat lagi bahwa pagi tadi Ulfi memuncratkan comberan yang mengotori badan Fithri. Fithri sudah melupakan kesalahan Ulfi. Dan mereka pun tertawa bahagia bermain comberan bersama.
Orang-orang itu hanya bisa melongo dan tertegun melihat pemandangan yang agak aneh itu.
”kita ini, yang suka mengaku dewasa, ternyata masih kalah bijak dengan anak-anak. Anak itu dengan mudah memaafkan dan melupakan kesalahan temannya. Lha kita...??” Kang Udin menutup pembicaraan. Ia bergegas menuju tempat wudlu di sebelah utara musholla. Sebentar lagi waktu sholat dzuhur tiba.
Sementara dua keluarga besar yang semula siap bertempur tadi masih terbengong di kebun. Mereka saling tatap. Lalu membubarkan diri tanpa sepatah kata pun.

"forgiveness is not something we do for others
we do it for ourselves, so we can get well and move on..."
 

Senin, 13 Agustus 2012

Evaluasi Romadlon Kita (1)

Bulan Romadlon hampir usai, rasa-rasanya kita perlu untuk mengevaluasi sejauh mana kita memaksimalkan “Madrasah Romadlon” ini untuk mencapai derajat “taqwa”. Karena memang “taqwa”lah yang menjadi tujuan akhir kita berpuasa baik secara dhohir maupun bathin. Apakah kita telah berhasil mencapai derajat “taqwa”..??
Di dalam al-Quran Alloh ta’ala menjelaskan beberapa ciri orang-orang yang bertaqwa. Mari kita tengok bersama surat Ali Imron ayat 133-135 (yang maksudnya):
133. dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
135. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri*), mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
*) Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.
Menurut ayat tersebut, orang yang disediakan surga oleh Alloh ta’ala adalah mereka yang bertaqwa. Orang-orang yang bertaqwa memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Senantiasa berinfaq baik di saat lapang maupun sempit
Orang yang bertaqwa adalah mereka yang peduli dengan sesama manusia. Tidak tahan kalau melihat atau mengetahui tetangganya gak bisa makan karena gak punya uang. Ia segera mendatanginya dan memberinya makan atau uang. Apalagi kalau mendengar ayah-ibu atau keluarganya kekurangan, orang yang bertaqwa tidak bisa tenang sebelum memastikan mereka tercukupi, minimal tidak kekurangan. Jika ia punya banyak ia berbagi banyak. Jika ia punya dikit ia pun tetap berbagi. Salah satu hikmah puasa adalah agar kita bisa merasakan bagaimana "lapar" itu, dan tumbuhlah rasa peduli dalam diri kita untuk berbagi.                      
Evaluasi:
Apakah kita sudah senantiasa menganggarkan sebagian harta kita untuk diinfakkan bagi kepentingan agama Alloh ta’ala?
Apakah kita sudah senantiasa bershodaqoh baik di kala senang maupun di kala susah? Baik di saat kaya maupun miskin?
2.      Menahan marah
Ciri orang yg bertaqwa yang selanjutnya adalah bisa menahan marah. Seringkali kita menghadapi situasi yang memancing amarah kita. Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam menyatakan bahwa "orang yang kuat adalah orang yang kuat menahan marah". Hal ini berkaitan dengan kemampuan manusia untuk mengendalikan diri. Jika kita dikit-dikit marah, dikit-dikit marah, bisa dibayangkan kerusakan yang timbul akibat amarah kita, kerusakan tersebut bisa berupa "sakit hati" orang yang kena marah atau juga kerusakan fisik akibat amarah kita yang tidak terkendali. Contoh, pintu ditendang rusak, piring dibanting hancur, dll. Jadi amarah yang tidak terkendali justru menyebabkan kerusakan yang meluas dan lebih parah.
Salah satu hikmah puasa adalah kita dididik untuk mengendalikan diri kita, mengendalikan nafsu kita. dalam level dasar kita dididik untuk mengendalikan nafsu perut dan nafsu farji. Dan di level selanjutnya kita dididik untuk mengendalikan seluruh nafsu kita, termasuk nafsu amarah. Nah, itulah, tujuan berpuasa adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa, salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah bisa menahan marah. Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam dawuh,"laa taghdhob, laa taghdhob, laa taghdhob..!"
Evaluasi:
Apakah kita masih sering marah-marang kepada anak-anak kita?
Apakah kita masih sering marah-marah kepada orang lain yang berbuat salah kepada kita?
Apakah kita masih sering marah-marah kepada orang yang menghina kita?
3.      Memaafkan orang lain
Ciri no. 3 orang yang bertaqwa adalah (suka) memaafkan manusia, suka memberi maaf. Ada yang bilang bahwa meminta maaf itu berat, tapi lebih berat lagi memberi maaf. Otre. Itu kata-kata lama. Sekarang kita ganti; meminta maaf itu mulia, and memberi maaf adalah lebih mulia. 
Suatu ketika sabahat Abu Bakr ash-shiddiq pernah 'marah' kepada seseorang yg biaya hidup sehari-harinya ditanggung oleh Abu Bakr r.a. Gara-garanya si orang tersebut ikut-ikutan "megamini" fitnah yang disebar oleh orang-orang munafiq tentang sayyidah 'Aisyah r.a. bahwa beliau berbuat serong dengan seorang sahabat ketika perjalanan pulang dari suatu tempat. Itu lho, kisah ketika pada suatu malam sayyidah Aisyah r.a. ketinggalan dari rombongan karena mencari kalung beliau yang hilang. Kemudian beliau berniat menyusul rombongan. di tengah jalan beliau bertemu dengan seorang sahabat yang bertugas sebagai 'sapu bersih'. Sebuah strategi umum dengan menempatkan orang pilihan di belakang rombongan untuk memastikan tidak ada yg tertinggal. Ketika sampai di Madinah, ada orang yang melihat bahwa sayyidah naik unta dan tidak jauh di belakang beliau ada seorang sahabat yang berjalan kaki. Tersebarlah fitnah tersebut. hingga suatu ketika Alloh ta'ala menyampaikan pembelaan kepada sayyidah Aisyah r.a. dan membebaskan beliau dari tuduhan keji tersebut.
Setelah turun firman tersebut, Abu Bakr r.a. bersumpah untuk tidak menafkahi lagi orang tersebut, orang yang ikut-ikutan 'mengamini' fitnah yang keji itu. Kemudian Alloh ta'ala menurunkan firman-Nya yang berisi teguran bahwa tidak pantas bagi seseorang yan telah diberi kelebihan oleh Alloh ta'ala untuk bersumpah bahwa ia tidak akan lagi menafkahkan hartanya untuk keluarganya, kerabatnya, orang-prang miskin dan orang-orang lemah.Akhirnya Abu Bakr pun mencabut sumpahnya.
Peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi kita bahwa tidak pantas bagi orang muslim yang baik untuk 'mutungan'. Kita dianjurkan untuk berlapang dada, 'jembar segorone', mudah memaafkan kesalahan orang lain. Toh, kita pun juga sesekali, atau bahkan sering kali, berbuat salah. Dan kita berharap agar kesalahan kita dimaafkan sauadara kita. Jadi, sudah sewajarnya kita senantiasa memaafkan saudara kita jika ia khilaf; menyakiti hati kita. Lagian, memaafkan orang lain membuat hati kita nyaman, tenang dan tentram. Sebaliknya, memendam amarah dan dendam membuat hati kita gelisah, gundah, plus beresiko terkena penyakit jantung, nah lho, hehehe.
Evaluasi:
Bisakah kita memberi maaf kepada orang lain yang menyakiti hati kita?
4.      Berbuat ihsan
Ciri orang yang bertaqwa no 4 adalah berbuat ihsan. Ihsan berarti lebih banyak memberi manfaat kepada orang lain daripada menerima manfaat dari orang lain, sering memberi jarang (atau tidak) meminta, banyak menyebut pemberian (kebaikan) orang lain menyembunyikan kejelekan orang lain. Ihsan juga berarti membalas kejelekan orang lain dengan kebaikan.
Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah sesuatu yang wajar. Kalau ada orang yang suka membalas air susu dengan air tuba, itu berarti keterlaluan. Dan membalas kejelekan orang lain dengan kebaikan, itu adalah istimewa. Itulah profil orang yang berbuat ihsan. Orang yang dicintai oleh Alloh ta'ala. Deklarasi cinta Alloh ta'ala kepada orang yang berbuat ihsan di dalam al-Quran terulang sebanyak lima (5) kali.
Dalam hal ibadah kepada Alloh ta'ala, ihsan berarti "an ta'budalloha ka annaka tarohu, fain lam tarohu fainnahu yaroka" (kamu beribadah kepada Alloh seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu). Dengan merasa bahwa kita senantiasa dilihat oleh Alloh ta'ala, baik jasad maupun qoblu kita, kita akan termotivasi untuk senantiasa menjalankan ibadah secara berkualitas. Malu kita jika beribadah secara asal-asalan, wong ALloh ta'ala yang memberi kita hidup senantiasa melihat kita. Lebih malu lagi jika kita sampai durhaka kepada-Nya.
"wallohu yuhibbul muhsinin" (dan Alloh ta'ala mencintai orang-orang yang berbuat ihsan)
Evaluasi:
Apakah kita (sudah) lebih suka membalas kejelekan orang lain dengan kebaikan?
5.      Jika lalai berbuat dosa segera ingat dan minta ampun kepada Alloh ta’ala serta tidak mengulangi lagi perbuatan dosa itu.
Ciri orang yang bertaqwa no 5 adalah jika lalai berbuat dosa, segera mengingat Alloh ta'ala dan memohon ampunan kepada-Nya.
Manusia, bagaiamana pun hebatnya, kadangkali lalai. Kadangkali ia berbuat salah. Sebenarnya 'wajar' jika kadangkali seseorang berbuat salah dan dosa. wong namanya aja 'manusia' (man = seseorang, nusia = yg dilupakan). Jadi manusia itu memang wataknya 'lupa'. Yang tidak wajar adalah jika terus-terusan berbuat salah dan dosa. Yang tidak wajar adalah ketika berbuat salah tidak segera bertaubat dan menggantinya dengan perbuatan baik, malah dengan 'istiqomah' melanjutkan perbuatan dosanya. "Setiap anak Adam adalah 'pendosa' dan sebaik-baik 'pendosa' adalah mereka yang bertaubat".
Semua manusia, kecuali mereka yang ma'shum, pernah berbuat salah dan dosa, walaupun itu kecil. Dan orang yang pernah berbuat salah yang terbaik adalah mereka yang mau bertaubat. Segera menyesali kesalahannya. Memohon ampunan kepada Alloh ta'ala. menggantinya dengan amal kebaikan. dan berusaha semaksimal mungkin agar tidak mengulangi perbuatan salah tersebut.
Evaluasi:
Apakah kita sudah senantiasa SEGERA bertaubat ketika kita lalai berbuat ma’shiat?

Mari kita mengevaluasi diri kita masing-masing. Sudahkah kita benar-benar bertaqwa? Seberapa bertaqwakah kita?  Apakah ciri-ciri orang yang bertaqwa seperti tersebut di atas sudah ada dalam diri kita? Jika ada beberapa ciri yang belum masuk ke dalam diri kita, maka hendaknya kita senantiasa berusaha untuk memenuhi ciri-ciri tersebut. Semoga Alloh ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq-Nya kepada kita semua agar menjadi orang-orang yang bertaqwa. Amin.(tj)
AYO SEMANGAT .!!
ROMADLON TINGGAL 5 HARI LAGI

Selasa, 31 Juli 2012

Menjaga Semangat Beramal Sholih

(31/07/2012)
Sudah lebih dari 10 hari kita menjalankan puasa dan berbagai macam ibadah lain seperti sholat Tarawih, shodaqoh, dan membaca al-Quran di bulan Romadlon 1433 H ini. Apakah kita masih bersemangat beribadah seperti hari-hari pertama bulan Romadlon..? atau bahkan kita lebih bersemangat dalam “belanja pahala” di pertengahan dan akhir-akhir Romadlon ini..? atau malah sebaliknya, semangat beramal kita semakin kendur..? Apakah kita mulai malas berjama’ah sholat Tarawih di masjid..? Pertanyaan tersebut layak untuk kita tanyakan kepada diri kita sendiri karena semangat beribadah kita di bulan Romadlon ini (dan juga bulan-bulan yang lain) semestinya senantiasa meningkat dari hari ke hari. Kuantitas dan kualitas ibadah kita sepatutnya meningkat dari hari ke hari. Jadi grafik ibadah kita itu naik sehingga kita benar-benar berubah menjadi manusia yang lebih baik.
Bagaimana caranya agar grafik ibadah kita itu bisa meningkat dari hari ke hari? Ada beberapa hal yang layak dicoba dan insyaalloh dapat membantu kita untuk menjaga semangat beramal, terutama di bulan Romadlon ini.
Pertama. Meng-ikhlash-kan niat dalam beribadah di bulan Romadlon. Jadi kita melaksanakan puasa Romadlon dan sholat sunnah Tarawih itu dengan niat hanya karena Alloh ta’ala. Kita memperbanyak shodaqoh dan tilawah al-Quran di bulan Romadlon ini dengan niat agar kita mendapat ridlo dari Alloh ta’ala. Bukan karena ikut-ikutan euforia orang-orang di sekitar kita dalam menyambut Romadlon. Bukan karena agar kelihatan sholih dan sholihah di bulan Romadlon.
Dari Abu Hurairah rodliallahu ‘anhu bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang maksudnya): “Barangsiapa yang berpuasa Romadlon karena iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari No. 38, 1910, 1802)
Dari Abu Hurairah rodliallahu ‘anhu bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang maksudnya): “Barang siapa yang shalat malam pada Romadlon karena iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosa yang lalu.” (HR. Bukhari No. 37 1904, 1905)
Lihatlah.. jadi beramal itu memang harus berlandaskan “iman” dan “ihtisab”. Ihtisab itu artinya “karena mengharap ridlo dari Alloh ta’ala”. Sedangkan kata “ridlo” bermakna “menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa”. Jadi yang selayaknya menjadi motivasi utama kita dalam beribadah, termasuk di bulan Romadlon ini, adalah agar Alloh ta’ala ridlo kepada kita. Bahasa gaulnya, agar Alloh ta’ala seneng dengan kita, semakin sayang kepada kita. 
Dalam buku Keukenhof, KH. Ihya Ulumiddin (guru kami) mengutip dua buah kata hikmah yang maksudnya, 
"Sesuatu yang karena Alloh ta'ala akan bersambung dan sesuatu yang bukan karena Alloh ta'ala pasti akan terputus"
"Barangsiapa ikhlash karena Alloh ta'ala maka berkah upayanya pasti kelihatan"
Jadi memang ikhlash ini adalah syarat mutlak agar amal yang kita kerjakan bisa istiqomah. Dan memang ridlo Alloh ta'ala -lah yang akan mengantarkan kita masuk surga.
Alloh ta’ala berfirman (yang maksudnya): “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Alloh ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al Bayyinah: 8)
Kedua. Senantiasa menambah ilmu dengan belajar. Dengan ilmu kita bisa tahu mana yang halal dan mana yang haram. Kita bisa paham mana yang berkonsekuensi pahala sehingga bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita dan mana yang berakibat dosa sehingga menyebabkan kita masuk neraka. Kita bisa tahu mana amal-amal yang membuat Alloh ta’ala ridlo kepada kita dan mana yang menyebabkan Alloh ta’ala murka kepada kita. Biasanya, kalau ada orang yang melakukan amal ibadah hanya karena “ikut-ikutan”, bukan berlandaskan ilmu, amal ibadahnya tidak akan langgeng (istiqomah). Bahasa kerennya, “anget-anget tahi ayam”. Panas di awal, lalu dengan segera menjadi dingin. Semangat di awal, lalu dengan cepat hilanglah semangat itu. Iya, karena orang tersebut tidak tahu, sehingga tidak yakin terhadap apa yang dia amalkan. Ia tidak benar-benar mengetahui konsekuensi dari setiap amal yang dia kerjakan.
Contoh: ada orang yang ikut-ikutan sholat tarawih di masjid atau musholla di awal-awal bulan Romadlon. Namanya aja ikut-ikutan. Lama-lama ia menjadi bosan. Pada h`ri ke-7 dia sudah tidak bersemangat lagi mengerjakan sholat sunnah tarawih. Dia hanya ikut sholat tarawih dua kali salam. Lalu pergi entah ke mana ketika jama’ah yang lain sedang sujud. Pada hari ke-15 dia sudah malas pergi ke masjid untuk jama’ah sholat Isya` dan tarawih. Dia lebih senang nonton acara TV atau pergi ke mall untuk belanja atau sekedar refreshing. Dia hanya ikut-ikutan saja. Dia tidak mengerti dan sadar bahwa sholat tarawih yang dikerjakan dengan “iman” dan “ihtisab” itu dapat menjadi sebab dia mendapatkan ampunan dari Alloh ta’ala atas dosa-dosanya. Dia tidak mengerti bahwa setiap amal sunnah di bulan Romadlon ini bernilai seperti amal fardlu di bulan yang lain. Dia tidak mengerti dan sadar bahwa kelak dia akan mati, kelak akan ada yang namanya hari kiamat, kelak akan ada yang namanya hari perhitungan amal, kelak setiap amal –sekecil apapun- akan dibalas oleh Alloh ta’ala. Barang siapa yang berat timbangan amal baiknya, dia akan masuk surga, mendapatkan kebahagiaan abadi. Barang siapa berat timbangan amal jeleknya, dia akan merasakan siksa neraka dan dia akan menyesal berkepanjangan. Jadi kan sangat eman, kalau kita tidak mengisi malam Romadlon kita dengan sholat tarawih. Wong pahalanya gedhe gitu…
Mari kita mengikhslashkan niat kita dalam setiap amal. Kita niatkan hanya untuk mendapatkan ridlo dari Alloh ta’ala. Mari kita bersemangat menuntut ilmu agama sebagai bekal bagi kita untuk mengarungi kehidupan di dunia ini, demi mempersiapkan kehidupan akhirat yang lebih baik. Semoga Alloh ta’ala senantiasa memberikan pertolongan-Nya kepada kita semua. Semoga kita diberi kemampuan oleh Alloh ta’ala untuk menjaga semangat beramal sholih hingga akhir Romadlon, bahkan hingga akhir hayat kita. Amin. ()

Minggu, 24 Juni 2012

Tamu Istimewa Itu Semakin Dekat…



Diriwayatkan dari ’Aisyah rodliyallohu ’anha beliau berkata: Nabi shollallohu ’alaihi wasallam tidak berpuasa (sunnah) lebih banyak dari pada (puasa sunnah di) bulan Sya’ban. Sesungguhnya Beliau berpuasa bulan Sya’ban secara penuh. Dalam riwayat lain disebutkan; Beliau berpuasa Sya’ban (secara penuh) kecuali sedikit. (maksudnya hanya sedikit hari dari bulan Sya’ban yang Beliau tidak berpuasa di hari tersebut. -Pnj). (Muttafaqun ’alaihi) [1]

Begitulah Rasululloh shollallohu ’alaihi wa sallam ketika beliau berada di bulan Sya’ban. Beliau memperbanyak amalan terutama puasa sunnah di bulan yang mendapat julukan Syahrun Nabi ini.

Bulan Sya’ban berarti; bulan depan adalah bulan Romadlon, bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Tamu istimewa itu semakin dekat.
Sabda Nabi shollallohu ’alaihi wa sallam :
telah tiba kepada kalian bulan Romadlon, bulan yang penuh berkah, Alloh telah mewajibkan puasa atas kalian, di dalamnya dibuka pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka jahim, diborgollah dedengkot-dedengkot syeitan, dan di dalamnya ada malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Barang siapa terhalang kebaikan bulan itu maka ia terhalang dari rohmat Alloh.” (H.R. Ahmad dan An Nasa`i) [2]

Mari kita perhatikan ”... Barang siapa terhalang kebaikan bulan itu maka ia terhalang dari rohmat Alloh.” Oleh karena itu sudah selayaknya kita mempersiapkan sejak dini agar ketika bulan Romadlon benar-benar hadir, kita bisa maksimal, optimal, dan total. Karena ”al-ajru bi qodrit ta’ab”. Kalau usahanya setengah-setengah, kemungkinan besar hasilnya pun setengah-setengah. Kalau usahanya 100%, maksimal, optimal, dan total, insyaalloh hasilnya pun juga maksimal sehingga derajat ”al-muttaquun” bisa diraih. Amien.

Ada beberapa hal yang BISA DICOBA untuk menyambut bulan Romadlon:
  1. Menjaga dan meng-up grade kesehatan. Hal  ini bisa dilakukan dengan makan makanan yang sehat, olahraga rutin, dan memperbanyak shodaqoh.
  2. Memperbanyak puasa sunnah; sekaligus sebagai sarana latihan.
  3. Segera bertaubat kepada Alloh ta’ala. Untuk hal ini harus dilakukan saat ini juga!!
  4. Segera memohon maaf kepada orang-orang yang pernah didzolimi. Segera berdamai dengan orang-orang yang pernah dianggap musuh. Mempererat tali silaturrahim kepada semua orang.
  5. Pelajari kembali ilmu tentang puasa. Apa saja syarat rukunnya, sunnah-sunnahnya, apa saja yang dapat membatalkan puasa, apa saja yang dimakruhkan ketika berpuasa, apa saja amalan-amalan utama di bulan romadlon, dll.
  6. Buat rencana amal-amal terbaik. Contoh: sholat fardlu jama’ah full sebulan, menghatamkan al-Quran 3 kali di bulan Romadlon, berinfaq untuk kegiatan islam sebesar … , puasa full hingga hari terakhir Romadlon, tarawih aktif sampai malam terakhir romadlon, tadarrus tiap malam, tahajjud minimal lima kali dalam sepekan, sholat dluha setiap pagi, bershodaqoh kepada keluarga dan sanak famili terdekat sebesar …., bershodaqoh kepada tetangga sebesar … , bersedekah makanan untuk buka puasa di masjid/mushola, hadiah terbaik untuk bapak dan ibu, serta amal-amal lainnya.
  7. Membiasakan amalan-amalan yang telah direncanakan tersebut mulai sekarang sehingga ketika Ramadhan benar-benar datang kita mampu mengamalkan amalan-amalan itu dengan ringan karena kita telah terbiasa mengamalkan.
  8. Memperbanyak doa : Allohumma baarik lanaa fii rojaba wa sya’bana wa ballighna romadlon… ”ya Alloh berkahilah kami di bulan Rojab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami kepada bulan Romadlon” [3]
  9. Ketika bulan Romadlon sudah sangat dekat, kurang satu atau dua hari, kita mengucapkan “marhaban ya Romadlon, marhaban ya romadlon, marhaban ya romadlon, jud lana bil-ghufron” (selamat datang wahai Romadlon. Selamat datang wahai Romadlon. Selamat datang wahai Romadlon. (Ya Alloh) berilah kami kemurahan dengan ampunan-Mu)

Semoga Alloh ta’ala menyampaikan kita semua kepada bulan Romadlon. Semoga kita semua diberi taufiq oleh Alloh ta’ala untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita. Amien. Marhaban ya Romadlon...





[1] Imam Nawawi. Riyadlush sholihin hal:496
[2] K.H. Muhammad Ihya Ulumiddin. 1428 H. Risalah Ringkas Puasa Romadlon. Surabaya : Vde Press. Hal: 5-6
[3] Ibid

Selasa, 22 Mei 2012

Memaknai Bulan Rajab: Tingkatkan Kualitas Sholat..!!



 Segala puji bagi Alloh ta’ala yang menganugerahi umat nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dengan sholat wajib yang lima.
Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpah kepada sang shohibusy syafa’ah nabiyulloh Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam beserta keluarga, shohabat, dan seluruh umat beliau hingga hari qiamat.

“Allohumma baarik lanaa fii rojaba wa sya’bana wa ballighna romadlon…”

“ya alloh berkahilah kami di bulan Rojab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Romadlon…”

Begitulah do’a yang pernah diajarkan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dan senantiasa dilantunkan oleh umat islam di seluruh penjuru dunia ketika bulan Rojab tiba. Bahkan di beberapa masjid dan musholla di Indonesia, doa tersebut dijadikan pujian yang senantiasa dilantunkan setelah adzan dan sebelum iqomah selama bulan rajab dan pertengahan awal bulan sya’ban.

Rojab menjadi salah satu bulan yang mulia dikarenakan pada bulan ini terjadi peristiwa yang sangat mulia. Peristiwa tersebut adalah Isro’ Mi’roj nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Dari sowan kepada Alloh ta’ala tersebut beliau membawakan “oleh-oleh” untuk umat Islam berupa sholat wajib lima waktu. “Oleh-oleh” ini menjadi istimewa dikarenakan Alloh ta’ala memanggil rosul-Nya yang mulia untuk menghadap secara langsung tanpa perantara siapapun.
“Anugerah-anugerah” Alloh ta’ala yang lain seperti zakat, puasa dan haji, semuanya disampaikan kepada Nabi melalui perantara Ruhul Amin Malaikat Jibril ‘alaihis salam Tetapi untuk yang satu ini (baca: sholat), Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menerimanya langsung dari Alloh ta’ala.

Pada kesempatan kali ini, marilah kita meluangkan waktu sejenak untuk memaknai “oleh-oleh” nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dari isro’ mi’roj beliau tersebut.


Sholat

Secara bahasa, sholat merupakan padanan kata dari “ad-du’aa” yang berarti doa. Istilah ini dipakai karena di dalam sholat banyak sekali terkandung aktifitas do’a. Sedangkan menurut istilah syara’, sholat diartikan sebagai suatu ibadah mahdhoh (khusus) yang dimulai dengan takbirotul ihrom dan diakhiri dengan salam, dengan syarat, rukun dan tata cara tertentu. Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam sendirilah yang mencontohkan bagaimana cara sholat yang benar dan memerintahkan kita umat islam untuk meniru cara sholat beliau.
Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “shollu kamaa roaitumuuni usholli”
Artinya: sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.
(Silahkan merujuk ke Buku ”Kaifa Tusholli”: Tuntunan Sholat Menurut Riwayat Hadits yang ditulis oleh K.H. Muhammad Ihya Ulumiddin dan diterbitkan oleh Yayasan Al-Haromain Surabaya, untuk mempelajari lebih detail tentang tata cara sholat sesuai dengan riwayat hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam).


Sholat; Anugerah terbesar umat nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam

Kenapa sholat begitu istimewa?
Sholat adalah tiang agama. Yang membedakan orang muslim dan orang kafir adalah sholat. Sholat merupakan kewajiban pertama yang diperintahkan kepada para Rosul. Sholat merupakan washiat terakhir para Rosul. Sholat dapat menghapus dosa. Sholat dapat menyebabkan pelakunya diangkat derajatnya di sisi Alloh. Sholat merupakan indikator rasa syukur kita kepada Alloh ta’ala. Sholat merupakan media komunikasi antara manusia dengan sang Pencipta, dengan tata cara yang telah digariskan oleh-Nya dan disampaikan melalui Rosul-Nya.

Kalau manusia sudah tidak mau ”berkomunikasi” dengan Alloh robbul’alamin..?? Kalau manusia sudah tidak punya ”rasa” kepada Alloh yang memberinya hidup..?? Kalau manusia sudah lupa dari mana asalnya, untuk apa ia dicipta, dan akan ke mana ia kembali..??  Sudah tentu hilanglah sisi ”robbaniyah”nya. Hakekatnya ia tidak jauh beda dengan makhluk yang hidup hanya untuk memuaskan nafsunya; nafsu makan, seks, kuasa, dan nafsu-nasfu lainnya. Bahkan ”hum adholl..”.

Dengan sifat welas asih-Nya, Alloh ta’ala memberikan media kepada manusia agar ia senantiasa connect dengan-Nya. Agar ia senantiasa ingat kepada Sang Penciptanya. Agar ia senantiasa terjaga dari perbutan keji dan munkar. Agar ia dapat meraih kebahagiaan baik yang sementara (di dunia) maupun yang abadi (di akhirat). Media tersebut adalah sholat fardhu yang lima.
Ayo kita jaga..! ^_^

 Agar sholat benar-benar nikmat

Pernahkah kita merasakan nikmatnya sholat? Pernahkah kita merasa benar-benar sedang menghadap kepada Alloh ta’ala ketika sholat?

Menurut mbah Imam Ghozali, sholat itu terdiri dari sisi lahiriah dan sisi bathiniah. Kesempurnaan sholat bisa didapat dengan menyempurnakan kedua sisi tersebut. Sisi lahiriah adalah gerakan-gerakan dan bacaan-bacaan yang terdapat dalam sholat seperti yang diajarkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berupa takbirotul ihrom, bacaan surat al-fatihah, rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahhud, sholawat, dan salam. Mari kita sempatkan untuk mengecek; sudahkah sholat yang kita lakukan selama ini –gerakan dan bacaannya- sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam?? Ayo semangat belajar. Mumpung kita masih hidup dan masih diberi kesempatan oleh Allah ta’ala untuk menyembah-Nya di muka bumi ini.

OJO MALAS..!! Jangan-jangan sholat kita belum benar. Jangan-jangan sholat kita belum sempurna. Jangan-jangan... Ayo semangat mempelajari sholat. Mumpung masih sempat. Jangan sampai, karena kita malas belajar, seumur hidup kita yang disebut orang sebagai umat Islam ini melaksanakan sholat yang ternyata tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Tidak apa-apa kalau sekarang kita sudah dewasa. Tidak mengapa kalau sekarang kita sudah tua menjadi seorang ayah atau ibu bahkan kakek atau nenek. Yang penting sekarang kita mau belajar agar besok sholat yang kita kerjakan menjadi sholat yang lebih berkualitas. Sekarang ini banyak sekali buku yang menerangkan tentang tata cara sholat yang sudah diterbitkan. Kita tinggal beli salah satu saja di toko buku terdekat. Belajarnya sedikit demi sedikit aja. Kita mulai dari syarat sah sholat. Lalu rukun-rukun nya. Kemudian kita coba –kalau punya kesempatan dan sebaiknya menyempatkan diri- mempraktekkan sholat di depan ustadz atau kyai. Kemudian minta pendapat beliau agar membetulkan sholat kita jika memang ada yang kurang tepat. Kita belajar sedikit demi sedikit. Yang penting istiqomah dan berkelanjutan. Insyaalloh semakin hari sholat yang kita laksanakan semakin berkualitas.

Sedangkan sisi bathiniyah sholat adalah meresapi makna bacaan dan gerakan dalam sholat, khusyu’, dan menghadirkan hati ketika sholat. Untuk memahami makna bacaan dalam sholat diperlukan usaha yang sungguh-sungguh disertai dengan kesabaran. Kita bisa mempelajarinya dengan membaca buku-buku terjemahan bacaan sholat dan dengan ngaji secara langsung kepada Ustadz atau Kyai. Sekali lagi. Tidak masalah jika hari ini kita belum mengerti makna bacaan sholat. Tidak apa-apa. Itu masa lalu. Tapi akan jadi masalah besar jika kita seumur hidup dan sampai menghadap Allah ta’ala nanti tidak mengerti sedikit  pun  dari apa yang kita baca dalam sholat. Padahal Allah ta’ala sampai hari ini memberi kesempatan agar kita belajar. Ayo belajar sedikit demi sedikit. Contohnya; hari ini kita belajar arti takbirotul ihrom ”Allohu akbar”, kemudian besok kita mulai belajar arti surat al fatihah, cukup satu ayat saja. Besoknya satu ayat lagi dan begitu seterusnya hingga akhir ayat surat al fatihah. Selanjutnya pekan depan kita belajar arti bacaan rukuk, ”subhana robbiy al-’adhim (wa bihamdihi)”. Kemudian kita belajar makna bacaan i’tidal dan seterusnya sampai bacaan tasyahud dan salam. Dengan begitu, semoga kualitas sholat yang kita kerjakan meningkat dari hari ke hari. Dan insyaalloh tahun depan –semoga Alloh ta’ala memberi panjang umur- kita sudah mengerti arti bacaan dalam sholat yang kita kerjakan.
                                               
                  
Khusyu’ dan menghadirkan hati ketika sholat insya_alloh bisa dicapai dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam meresapi makna bacaan sholat dan dengan menyempurnakan sunnah-sunnah serta keutamaan-keutamaan dalam sholat, seperti menyempurnakan wudlu, menyempurnakan rukuk, i’tidal, sujud dan duduk, sholat dengan berjama’ah di masjid serta sholat di waktu awal. Selain itu juga didukung dengan memperbanyak serta memperbagus sholat-sholat sunnah seperti sunnah rowatib (sebelum dan sesudah sholat fardlu), sunnah Dhuha, Tahajjud, Witir, dan lain-lain. 

Terakhir dan yang paling penting, ketika kita akan dan sedang melaksanakan sholat, mari kita fokuskan hati dan pikiran kita kepada Alloh ta’ala. Kita tanamkan dalam hati dan pikiran bahwa kita sedang menghadap Alloh ta’ala, Tuhan seru sekalian alam. Bukankah Allah ta’ala senantiasa mengetahui apa yang sedang kita pikirkan dan sedang kita batin..?? Bukankah Allah ta’ala senantiasa memandang pikiran dan hati kita..??

Mari kita memaknai bulan Rajab ini dengan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas sholat kita. Semoga kita senantiasa diberi pertolongan dan kekuatan oleh Alloh ta’ala agar kita dapat mengerjakan sholat dengan memenuhi sisi lahir dan bathinnya sehingga sholat kita menjadi lebih sempurna. Sehingga kita dapat merasakan nikmatnya sholat. Amien.

Ayo... semangat..!
Bisa..!!
^_^

(tj)