Sekitar empat tahun yang lalu saya pernah memiliki "krentek" untuk mengumpulkan kisah-kisah perjuangan saya dan teman-teman dalam berjuang dan paserah meraih dan menerima beasiswa PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Kemenag RI dalam sebuah buku. Pikiran saya pada waktu itu, kumpulan kisah-kisah tersebut tentu bisa menambah rasa syukur kami karena telah mendapatkan anugerah yang besar dari Alloh ta'ala berupa full-scholarship sekaligus -mungkin- dapat menjadi sumber inspirasi bagi adik-adik kami di pesantren yang belum atau sudah punya keinginan untuk meraih beasiswa serupa. Minimal, kisah-kisah tersebut dapat menjadi salah satu kenangan indah dalam sejarah hidup kami.
Alhamdulillah, "krentek" saya itu belum bisa terwujud bahkan sampai saya lulus dari Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya pada Oktober 2011 yang lalu. Ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam mewujudkan "krentek" saya itu. Diantaranya adalah
- saya terlalu sibuk di organisasi, tercatat selama kurun 2008-2010 saya aktif di sedikitnya 6 organisasi baik yang level fakultas, universitas, maupun nasional. Kesibukan dan keterlenaan saya di beberapa organisasi tersebut membuat saya "lupa" terhadap "krentek" saya untuk mengumpulkan kisah-kisah itu.
- pada waktu itu saya belum begitu gandrung dengan dunia tulis-menulis.
- dasarnya saya yang memang belum pantas menerima anugerah keberhasilan menulis dan mengumpulkan kisah-kisah perjuangan itu.
Pada awal tahun 2012, hasrat untuk mengumpulkan kisah-kisah itu kembali muncul di benak saya. Kemunculan hasrat tersebut terjadi karena beberapa stimulus. Diantaranya adalah
- adik angkatan saya di FIB yang bernama Huda menjadi inspirator bagi teman-temannya sesama peraih beasiswa Bidik Misi dalam membuat buku kumpulan kisah perjuangan meraih beasiswa Bidik Misi
- setelah saya membaca buku yang berjudul Dermaga Impian tersebut, tercetuk di pikiran saya, bahwa saya dan teman-teman saya di PBSB (organisasi mahasiswanya bernama CSS MoRA) sangat bisa membuat buku serupa dengan kualitas yang lebih baik
- saya memiliki anggota keluarga baru yang ternyata seorang novelist muda berbakat, namanya Azri KD 2010.
Saya pun kemudian menghubungi novelist muda tersebut dan mengutarakan "krentek" saya. Gayung bersambut, dia pun setuju dan mendukung. Tidak hanya itu, teman-teman di organisasi CSS MoRA pun ikut mendukung dan menyatakan siap menyediakan modal untuk mencetak naskahnya nanti. Langsung saja kami umumkan dan kami ajak teman-teman kami di CSS MoRA Unair untuk menulis kisah mereka ketika berjuang untuk mendapatkan beasiswa PBSB. Kami berusaha untuk meyakinkan kepada teman-teman bahwa mereka bisa dan layak menuliskan kisah hidup mereka. Sekitar dua bulan kemudian, terkumpul lebih dari 30 kisah di team kami. Selanjutnya kami pun melakukan seleksi dan editing dasar. Kami membuat tiga kriteria (1) Accepted (2) Doubt (3) Sorry. Yang pertama untuk naskah yang 99% "masuk kotak". Yang kedua untuk naskah yang kami masih perlu pertimbangkan lagi. Dan yang ketiga untuk naskah yang "mohon maaf tidak masuk kotak". Proses seleksi pun berlanjut dan akhirnya terpilih 13 kisah pilihan. Selain kualitas tulisan, isi, teknik menulis, kami pun juga mempertimbangkan nilai keunikan, kekhasan santri, dan persebaran wilayah.
Langkah selanjutnya adalah masuk di dapur penerbitan. Setelah mencari dan menilik beberapa penerbit, kami (atas jasa Azri) memutuskan untuk memilih Khalista, penerbit buku-buku pesantren, untuk menerbitkan naskah kami. Namun Abah Ma'ruf, owner Khalista, menyatakan bahwa beliau tidak bisa menerbitkan naskah dengan oplah di bawah 3000, padahal budget kami hanya cukup untuk menyetak 1000 eksemplar. Tapi beliau memberikan jalan keluar dengan mengenalkan kami kepada salah satu murid beliau yang juga bergerak di bidang percetakan. Adalah mas Rijal dengan Imtiyaznya yang bersedia menjadi patner kami dalam menerbitkan naskah kami itu. Karena sama-sama santri, kami pun cepat akrab. Setelah melalui proses meeting beberapa kali, editing beberapa kali, dan sedikit penundaan, akhirnya dengan penuh rasa syukur, buku berjudul Mahasantri Airlangga tersebut berhasil dicetak dan diterbitkan di bulan Oktober 2012.
Dan pada hari Ahad 14 Oktober 2012, kami berhasil menyerahkan 1 eksemplar buku Mahasantri Airlangga tersebut kepada Pak Ruchman Basori yang merupakan Kasi PBSB di lingkungan Kemenag RI pada saat acara Istihlal CSS MoRA se Jawa Timur di SAC IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kami juga menitipkan 2 eks untuk Kasubdit Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Pak Imam Syafi'i dan Direktur PD Pontren, Bapak Saifudin. Semoga buku tersebut bisa membuat bapak-ibu kami di Kemenag tersenyum. hehehe
Selanjutnya, kami berencana melakukan tour dan bedah buku di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. Semoga lancar dan barokah.
salam pengabdian
-mas tije-
link
http://www.alumnipbsbunair.blogspot.com/
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Kamis, 01 November 2012
Sabtu, 04 Agustus 2012
3 Hal Yang Menyebabkan Anak Suka Melawan dan Susah Diatur
Dalam
buku “37 Kebiasaan Buruk Orang Tua yang Menghasilkan Prilaku Buruk pada Anak”,
Ayah Edy, seorang pakar parenting, menjelaskan beberapa kebiasaan orang tua
yang berakibat negatif terhadap prilaku sang anak. Kebiasaan-kebiasaan orang
tua tersebut setelah dicermati ternyata justru menjadikan sang anak suka
melawan dan suah diatur. Diantara kebiasaan-kebiasaan buruk orang tua tersebut
adalah selalu menuruti permintaan anak, berbohong kecil dan sering, dan
ayah-ibu tidak kompak.
Kebiasaan
buruk pertama adalah “selalu menuruti permintaan anak”. Apakah anak kita anak
tunggal? Atau anak laki-laki satu-satunya? Atau anak yang sudah 10 tahun lebih
kita tunggu kehadirannya? Fenomena ini sering menyebabkan orang tua menuruti
apa saja keinginan si anak. Orang tua berusaha untuk membuat si anak senantiasa
mendapatkan apa saja yang diinginkannya. Hati-hati..!! Seperti seorang raja
kecil, semakin hari tuntutan anak akan semakin aneh-aneh dan kuat. Lama-lama
orang tua sudah tak mampu lagi untuk membendung keinginan si anak, padahal
keinginan itu sebenarnya berefek buruk pada masa depan si anak. Lagipula anak
yang dididik dengan cara seperti ini akan menjadi anak super egois, tidak kenal
toleransi, dan tidak bisa bersosialisasi. Istilah umumnya anak manja.
Apa
yang sebaiknya kita lakukan?
Betapapun
sayangnya kita kepada anak, kita tidak boleh selalu menuruti kemauan si anak.
Jika kita memang benar-benar sayang kepada anak, semestinya kita mengajari anak
kita tentang nilai baik dan buruk, tentang benar dan salah, tentang manfaat dan
bahaya, tentang apa yang boleh dan tidak boleh. Kita semestinya senantiasa
mengarahkan dan mendukung anak kita kepada hal-hal yang baik bagi mereka dan
masa depan mereka. Kalau anak kita meminta sesuatu yang tidak baik, kita harus
mampu menolaknya. Tentunya dengan cara yang baik. Contoh. Ketika waktu belajar,
sang anak minta nonton TV. Kemudian sang anak mengeluarkan jurus andalannya;
menangis dengan keras. Kita sebagai orang tua tidak boleh kalah dengan anak.
Kita tidak boleh menuruti kemauan anak yang tidak baik seperti itu. karena
kalau kita “kalah” dengan tangisan si anak, dia akan menjadikannya sebagai
pola. Dia akan menandai bahwa orang tua pasti akan mau menuruti keinginannya
jika dia menangis keras. Semestinya kita menasehati anak kita agar belajar
ketika waktunya belajar. Sang anak hanya boleh meonton TV pada jam-jam yang
ditentukan sesuai kesepakatan, misalnya hari ahad jam 07.00-09.00. Kalau si
anak menangis terus? Ya kita tunggu saja sampai berhenti. Toh lama-lama
berhenti juga kalau sudah capek. Waduh, kok tega banget sama si anak? Iya,
memang seharusnya seperti itu. Kita semestinya mengajari anak kita untuk
berdisiplin. Ya memang membutuhkan kesabaran dan waktu yang cukup lama. Namun
semua itu kan demi kebaikan anak kita tersayang, demi masa depan mereka yang
lebih baik.
Kebiasaan
buruk yang kedua adalah “berbohong kecil dan sering”. Tanpa sadar, sebagai
orang tua kita sering berbohong kepada anak. Contohnya pada saat kita mau
berangkat ke kantor, anak kita minta ikut. Apa yang kita lakukan? Apakah kita
menjelaskan kepada anak dengan jujur? Atau kita malah mengalihkan perhatian si
anak kemudian pergi begitu saja? Atau bahkan kita mengatakan, “sebentar ya
sayang, papa/mama hanya ke depan, sebentaaaaar saja”. Tapi ternyata kita pulang
malam.
Hati-hati..!!
Anak kita itu pandai sekali. Ia akan belajar dengan sangat cepat. Dia akan
menandai bahwa ayah atau ibunya berbohong. Lama-lama ia tidak akan percaya
terhadap apa yang dikatakan oleh ayah atau ibunya, minimal dia akan selalu
curiga. Hal ini dapat mengakibatkan sang anak tidak mau menuruti apa yang orang
tua katakan.
Apa
yang seharusnya kita lakukan?
Berkatalah
jujur kepada anak. Jelaskan dengan lembut dan penuh pengertian. “Sayang,
Papa/Mama mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Kalau Papa/Mama pergi ke
kebun binatang Kamu bisa ikut”.
Tentu
hal ini memerlukan waktu dan kesabaran. Anak-anak memerlukan waktu yang lebih
untuk memahami bahwa orang tuanya harus pergi ke kantor di pagi hari untuk
bekerja dan dia tidak bisa ikut. Dia bisa ikut orang tuanya jika pergi ke kebun
binatang atau tempat rekreasi. Pastikan kita senantiasa jujur dalam setiap
perkataan. Insyaalloh, lambat laun
anak kita akan mampu memahami dan menuruti apa yang kita katakan.
Kebiasaan
buruk yang ketiga adalah “ayah dan ibu tidak kompak”. Mendidik anak bukanlah
tugas ayah saja atau ibu saja, tapi keduanya. Anak akan sulit menjadi baik jika
ayah dan ibu tidak kompak dalam mendidik anak. Contoh: Ibu meminta anak untuk
mematikan TV dan mengajaknya mengerjakan tugas sekolah karena memang waktunya
belajar. Si anak kemudian menolak dan bahkan menangis. Pada saat yang bersamaan
si ayah membela sang anak dengan dengan mengatakan bahwa tidak apa-apa menonton
TV terus agar tidak stres.
Jika
hal ini terjadi, biasanya sang anak akan menilai ibunya jahat dan ayahnya baik.
Akibatnya setiap kali ibu mengajak anak untuk melakukan sesuatu yang seharusnya
ia kerjakan, ia menolak dan berlindung di balik pembelaan ayah. Perlahan tapi
pasti, anak akan belajar untuk terus melawan ibunya.
Apa
yang sebaiknya kita lakukan?
Ayah
dan ibu harus kompak dalam mendidik anak. Semestinya ayah dan ibu senantiasa
menjalin komunikasi yang intensif terkait pola asuh yang akan diterapkan kepada
sang buah hati. Di hadapan anak, jangan sampai berbeda pendapat untuk hal-hal
yang berhubungan langsung dengan sang anak. Saat salah satu di antara kita
sedang mendidik anak, pasangan harus senantiasa mendukung. Kalau ada pandangan
yang berbeda terkait pola asuh anak, kendaknya dibicarakan secara pribadi
dengan pasangan kita, bukan di depan sang anak.
Contoh
lagi. Ibu ingin mendidik anaknya untuk berlaku baik terhadap kakaknya. Tidak
boleh menang sendiri. Ayah hendaknya tidak merusak pola asuh ini dengan
berkata, “Kakak sih yang buat gara-gara…”. Padahal kenyataannya tidak.
Seharusnya si ayah mendukung ibu dengan mengatakan, “Benar kata mama, Dik.
Kakak kan juga musti kamu hormati dan kamu sayangi. Kalau kamu hormat dan
sayang kepada orang lain, orang lain juga akan hormat dan sayang kepadamu”.
Itulah
beberapa kebiasaan buruk orang tua yang bisa menyebabkan sang anak suka melawan
dan susah diatur. Semoga kita bisa menghindarinya. Dalam hal pendidikan buah
hati, kita memang musti sabar dan tidak tergesa-gesa mengharapkan hasil yang
instan. Semuanya perlu proses. Biarkan anak kita belajar untuk menjadi anak
yang baik. Dan mari kita juga senantiasa belajar untuk menjadi orang tua yang
baik. Satu hal lagi yang sangat penting, hendaknya kita sebagai orang tua
setiap hari berdoa kepada Alloh ta’ala agar menjadikan buah hati kita anak-anak
yang sholih-sholihah, cinta kepada Alloh dan Nabi Muhammad, berbakti kepada
orang tua, sehat badannya, cerdas akalnya, bersih hatinya dan baik akhlaqnya.
Amin. (tj)
Label:
buku,
my notes,
parenting,
pendidikan,
pendidikan anak,
Psikologi Anak,
resensi buku
Senin, 09 April 2012
Kesan Baca: Mengikat Makna Sehari-hari
Beberapa hari yang lalu saya baru saja selesai membaca buku karangan Pak Hernowo yang berjudul “Mengikat Makna Sehari-hari”. Buku ini bukan buku baru. Buku ini diterbitkan oleh MLC pada tahun 2005. Hanya saja saya baru bertemu dengannya akhir bulan Maret 2012 yang lalu. Saya tertarik untuk membeli buku ini karena saya –sudah lama- mempunyai keinginan untuk bisa menulis lebih baik; lebih banyak dan lebih berkualitas.
Ketika masa MI (Madrasah Ibtidaiyah) saya belajar menulis tentang pelajaran di sekolah dan pelajaran di TPA (Taman Pendidikan al-Quran). Saya SS (sungguh sangat) jarang menulis selain materi pelajaran yang ditulis oleh guru saya atau tertulis di buku pelajaran kecuali corat- coret abstrak di buku yang saya pun sampai hari ini tidak tahu apa artinya. Ketika beranjak usia MTs (Madrasah Tsanawiyah) saya masih istiqomah dengan kegiatan menulis. Iya. Menulis pelajaran di sekolah dan di madrasah diniyyah serta ngesahi (memberi makna) kitab kuning. Selain itu tentu tugas PR dari guru saya. Sampai pada waktu itu saya –seingat saya- tidak pernah mengarang puisi, cerpen, prosa, atau artikel. Kegiatan belajar menulis saya berlanjut hingga masa remaja di MA (Madrasah Aliyah). Pada masa ini, materi yang saya tulis semakin beragam; terjemah kitab, murod, pidato, catatan kecil, cerita drama, rencana kerja di OSIS dan pramuka, dan rencana kerja di OSMA (organisasi siswa madrasah).
Pada puncaknya saya terlibat penulisan, lebih tepatnya pengetikan, sebuah buku karya senior, guru nahwu dan bahasa arab, teman ngopi dan makan, sahabat di kala susah dan senang, pembimbing spiritual yang mengajarkan saya makna “ikhlash”, tempat saya curhat, seorang kepala keamanan pondok yang bukan hanya ditakuti dan disegani oleh santri, tetapi juga disegani oleh sesama guru di pesantren, bahkan oleh warga sekitar pesantren. Tubuhnya kekar besar, pahanya sangat pendek karena cacat sejak lahir, kakinya pernah patah karena tertabrak motor. Beliau seorang yang multi talent. Ngaji al-Quran oke, kabarnya (rahasia) beliau hafidz, walaupun belum 30 juz, tapi beliau tidak pernah mengatakannya. Ngaji kitab oke. Mulai sulam munajat sampai fathul wahab. Mulai jurumiyah sampai al-fiyah. Mulai nashoihul ibad sampai ihya ulumiddin. Mulai arba’in nawawi sampai shohih bukhori-muslim. Jadi tukang bangunan bisa, elektro bisa, jadi petani nggarap sawah bisa, masak bisa, seni kaligrafi bisa. Ilmu dalam pun beliau menguasai. Di pondok saya dulu, seorang kepala keamanan harus siap setiap saat menghadapi “musuh” baik yang nampak maupun yang tidak, baik dari dalam maupun dari luar. Dan yang langka di pesantren, beliau juga penulis yang produktif. Puisi, cerpen, kata-kata hikmah, sampai buku pun pernah beliau tulis. Beliau bernama Imam Syafi’i. Beliau adalah seorang Arek Malang yang beliau sebut sebagai “Kera Ngalam”. Para santri memanggil beliau “mbah pi’i”. Dan buku yang saya terlibat dalam penulisannya itu berjudul “Hawaijul maghfulat”. Artinya kebutuhan-kebutuhan yang terlupakan. Buku ini berisi tentang tuntunan dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan pendekatan tasawwuf yang kental. Buku ini ditulis dengan bahasa jawa menggunakan huruf arab pego. Jadi kalau dipandang dari agak jauh kelihatan tulisannya arab. Kalau dibaca dari dekat bunyinya bahasa jawa. Beliau menjadi inspirasi bagi saya hingga saat ini. Kabarnya beliau sekarang menjadi seorang kyai di Jambi.
Ketika masa awal kuliah di Universitas Airlangga Surabaya jurusan sastra Inggris, saya mempunyai hobi baru. Yaitu menulis puisi dan corat-coret di buku kecil. Kemudian saya mulai belajar nulis prosa bulanan yang saya print dan saya photocopy sendiri lalu saya tempel di papan pengumuman di kampus. Saya mulai belajar menulis cerpen. Saya pernah menulis sebuah cerpen tentang perjuangan seorang pemuda dalam bergelut dengan kehidupan. Seingat saya itu adalah cerpen satu-satunya yang saya tulis sampai saya jadi sarjana. Kemudian saya belajar menulis di blog www.muhtartajuddin.blogspot.com. Di sini saya bisa menulis apa pun sesuka hati saya. Puisi, artikel, komentar, cerita kehidupan sehari-hari. Pokok’e nulis. Selanjutnya saya pun mulai belajar menulis prosa dan artikel ringan di buletin Dirosati yang diterbitkan oleh Pesma Baitul Hikmah dan buletin musholla Nurul Hidayah. Dan tentu saya menulis skripsi sebagai syarat mendapatkan gelar S.Hum. sarjana humor…. Hehe. Sarjana Humaniora.
Saya merasa bahwa saya semakin butuh untuk menulis. Semakin banyak menulis saya merasa semakin mengerti seperti apa diri saya sebenarnya dan menyadari apa sebenarnya yang saya pahami dan saya tidak pahami. Saya pun pernah mengikuti pelatihan menulis artikel. Pelatihan ini mengobarkan semangat menulis yang membara di dalam diri saya namun sayangnya saya –sampai sekarangpun- kurang bisa mengaplikasikan isi pelatihan itu. Mungkin karena materinya berat bagi saya yang belum terbiasa menulis artikel serius; menulis artikel di koran. Tu ..tu.. yang biasanya ada di rubrik opini. Atau sayanya aja yang kurang serius belajar menulis opini yang logis dan sistematis. Hingga saya bertemu Kostas Retsikas. Seorang dosen antropologi dari SOAS London yang berkwarganegaraan Yunani. Saya ditawari menjadi asisten penelitiannya dan saya pun mau. Pikir saya, beruntung sekali saya bisa belajar langsung dengan seorang Doktor antropologi yang disertasinya tentang Orang Padalungan di Probolinggo meraih penghargaan sebagai disertasi di bidang Antropologi terbaik se United Kingdom sepuluh tahun yang lalu. Hampir setiap hari saya melihat dia menulis fieldnotes tentang apapun yang dia alami selama penelitian. Apakah ketika ketemu aku, ketika menonton acara TV yang menarik, ketika refreshing di mall, ketika melihat poster yang bagus atau ketika mengikuti kegiatan bersama lembaga-lemabaga zakat di Surabaya. Saya melihatnya asik sekali punya tulisan seperti itu. Saya pun mencoba mempraktekkannya sedikit demi sedikit. Dan sejak awal Maret 2012 yang lalu saya berazam untuk menulis setiap hari, menimal dua hari sekali. Menulis apa pun yang saya alami sehari-hari. Insyaallohu ta'ala.
Beruntung sekali akhir Maret 2012 yang lalu saya bertemu dengan buku Mengikat Makna Sehari-hari di salah satu toko buku yang berlokasi di Ngagel. Apalagi pas dapat diskon 40%, langsung saya beli buku ini dan sampai rumah langsung mulai saya baca. Ternyata Pak Hernowo menawarkan sesuatu yang benar-benar menyenangkan bagi orang seperti saya yang baru belajar menulis. Di bagian awal buku ini Pak Hernowo menceritakan manfaat kegiatan “membaca-menulis” bagi beliau pribadi sesuai dengan apa yang beliau alami.
Sebenarnya saya bisa disebut sebagai orang yang cukup keranjingan dalam membaca. Saya membaca koran; Republika dan Kompas, akhir-akhir ini malah bertambah Jawa Pos, membaca majalah; majalah Islamia, Hidayatullah, Aula, al-Wa’i, dan beberapa bulan terakhir majalah Tempo yang saya dapat dari Kostas, buletin, artikel dan berita di internet dan tentunya al-Quran, kitab tafsir, hadits, fiqh, akhlaq dan tasawwuf, buku filsafat, buku pendidikan, buku tentang belajar dan mengajar, buku tentang manajemen dan kepemimpinan, novel, cerpen, buku-buku agama Islam, fatwa-fatwa, dan tentunya buku pelajaran ketika kuliah di Sastra Inggris Unair. Hampir setiap bulan saya berkunjung ke toko buku untuk mengicipi buku-buku di sana dan membeli beberapa buku sesuai dengan kapasitas kantong saya. Dan sekarang pun buku-buku itu tertata di dua buah lemari yang ada di Pesma Baitul Hikmah. Sebagian sudah saya pulangkan ke Madiun sehingga menjejali lemari di rumah dan sebagian yang lain saya bawa ke pondok pesantren Darul Hikmah tempat saya mukim sekarang. Namun entah mengapa saya merasa ada yang kurang dalam diri saya.
Lebih lagi, saya juga merupakan pembicara yang –menurut orang- cukup bagus. Kalau tidak, kenapa mereka yang pernah mengundang saya untuk mengisi materi kok mengundang lagi di lain waktu? Selain mengajar dan mbalah ngaji, saya punya hobi mendongeng, terutama sejak bertemu dengan guru dongeng saya; Ki Heru Cokro. Saya juga termasuk orang yang disebut banyak ngomong, suka diskusi, dan beberapa kali mengisi materi tentang manajemen dan kepemimpinan, tentang remaja, dan motivasi pendidikan. Namun lagi-lagi, saya merasa ada yang kurang dalam diri saya. Beberapa waktu saya cari-cari apa kekurangan itu. Ternyata yang kurang itu adalah mengamalkan..!! Ya, harusnya buku-buku yang saya baca itu benar-benar bisa menggerakkan saya menjadi lebih baik. Lebih bermanfaat. Harusnya apa-apa yang saya katakan itu sudah saya amalkan dengan konsisten. Kalau saya saja belum mengerjakannya dengan istiqomah, kenapa saya berani-beraninya menyarankan orang lain untuk mengamalkannya?!
Kemudian, ini juga sangat penting, yang kurang lagi dalam diri saya adalah menulis..!! Saya bisa baca dan bicara, tapi saya lemah dalam menulis. Entah mengapa, sejak beberapa bulan ini, saya merasa bahwa saya perlu untuk belajar lebih keras lagi agar bisa menulis lebih baik dan lebih banyak. Saya pun akhirnya bertemu dengan buku Mengikat Makna Sehari-hari ini. Di dalam buku ini Pak Hernowo menyebutkan manfaat membaca-menulis yang sudah beliau rasakan sendiri. Jadi buku ini memang sangat subjektif, apalagi penulisnya menggunakan kata ganti orang pertama “saya”, namun dengan begitu justru buku ini sangat jujur. Menjelaskan apa adanya. Bukan hanya bersumber dari teori saja tapi juga pengalaman hidup sang penulis yang benar-benar penulis alami sendiri.
Pak Hernowo menyampaikan bahwa membaca-menulis itu bisa menata pikiran, memahami diri sendiri, memberikan sugesti positif, merumuskan argumen, dan menajamkan pikiran. Hal yang menurut saya pribadi penting bagi saya adalah bahwa membaca dan terutama menulis akan bisa membantu saya memahami diri saya sendiri. Siapa sebenarnya saya, apa sebenarnya yang saya pikirkan dan saya rasakan, dan apa sebenarnya yang saya benar-benar pahami dan tidak.
Kata Pak Hernowo, membaca-menulis bisa mengasah daya ingat, merekam memori penting, meninggalkan jejak pikiran yang jelas dan menyembuhkan diri. Selain itu membaca-menulis juga bisa meningkatkan kemampuan komunikasi, mengenal detail diri dan mendidik sang penulis untuk jujur. Ketika menulis, saya hanya berkomunikasi dengan diri saya sendiri, apa yang saya tulis itu benar-benar ada pada diri saya apa tidak, hanya saya, dan Allah ta’ala tentunya, yang tahu. Hal ini melatih saya untuk jujur apa adanya dalam menyampaikan sesuatu. Namun yang paling penting, saya jujur kepada diri saya sendiri.
Lebih lanjut Pak Hernowo mengatakan bahwa manfaat membaca-menulis yang pernah beliau rasakan adalah mengefektifkan pengelolaan diri. Yang masuk dalam hal ini adalah menulis rencana, impian, target, dan tujuan hidup. Dengan menuliskan secara detail apa yang sebenarnya ingin beliau capai dalam hidup, lebih mudah bagi beliau untuk mengerti apa sebenarnya yang beliau inginkan dan dengan begitu lebih mudah juga bagi beliau dalam mencapai target-target hidupnya itu. Terakhir, manfaat yang didapat oleh Pak Hernowo dari membaca-menulis adalah menjadikan beliau lebih bermakna. Bermakna bagi diri sendiri dan orang lain. Sedikit bukti, dalam rentang tahun 2000-2005, tak kurang dari 24 buku berkualitas yang beliau tulis dan memiliki tempat istimewa di hati para pembaca.
Pak Hernowo sebenarnya ingin berbagi pengalaman bahwa kegiatan membaca-menulis itu adalah kegiatan yang ringan-menyenangkan serta penuh manfaat. Kemudian kegiatan membaca-menulis ini terkait erat dengan apa yang namanya kreatifitas. Kreatifitas, menurut beliau adalah sebuah keunikan yang membedakan seseorang dengan orang lain. Kreatifitas yang menawarkan ide baru, terus berkembang dan dapat mempengaruhi orang lain merupakan kreatifitas yang bernilai tinggi. Kegiatan membaca-menulis inilah yang disebut Pak Hernowo sebagai “Mengikat Makna”.
Agar bisa memulai kegiatan membaca-menulis dengan ringan dan menyenangkan, temukan dulu AMBAK-nya. Apa Manfaatnya BAgi Ku..??!! Semakin banyak manfaat yang diketahui dan disadari akan bisa didapat, semakkin bagus. Hal itu akan membantu kita untuk mensetting pikiran bahwa kegiatan membaca-menulis yang kata sebagian orang merupakan kegiatan yang berat itu menjadi sesuatu yang ringan karena toh kita akan mendapatkan manfaat yang banyak, manfaat yang besar..!!
Bacalah bahan bacaan yang kamu sukai. Membaca bukan hanya merupakan proses mengumpulkan informasi tetapi lebih pada proses diskusi. Ketika membaca kita melibatkan pengetahuan, pengalaman hidup, dan bahkan perasaan kita. Bacalah bahan bacaan yang manfaatnya bisa langsung kamu rasakan. Pastikan bahwa kamu mendapatkan manfaat dari bacaanmu. Kemudian tulislah manfaat dari bacaan itu.
Menulis sesungguhnya tidak semata-mata bertujuan untuk menerbitkan tulisan di media masa atau menerbitkan buku. Hal itu terlalu berat. Menulis adalah untuk mengenal diri sendiri lebih dalam dan lebih dekat. Menulis adalah untuk mengembangkan diri.
Miliki buku harian. Menulislah setiap hari di buku harian itu. Tulislah tentang apa saja yang kamu alami pada hari itu. Tulislah apa yang kamu pikirkan dan kamu rasakan. Selain membantu kita untuk menulis dengan flow, menulis buku harian juga bisa melembutkan hati sekaligus meneguhkan diri. Kita bisa melihat perkembangan diri kita dari hari ke hari dengan membaca buku harian kita.
Menulislah..!!
Praktekkan. Praktekkan. Praktekkan.
Kerjakan. Kerjakan. Kerjakan..!!
Jadikan kegiatan membaca dan terutama menulis sebagai kegiatan rutin setiap hari. Dan rasakan manfaatnya..!!
Semoga bermanfaat. [tj]
Label:
buku,
celoteh,
Cerita Bagus,
menulis,
my notes,
panduan menulis,
pendidikan,
resensi buku
Langganan:
Postingan (Atom)
