Sekitar empat tahun yang lalu saya pernah memiliki "krentek" untuk mengumpulkan kisah-kisah perjuangan saya dan teman-teman dalam berjuang dan paserah meraih dan menerima beasiswa PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Kemenag RI dalam sebuah buku. Pikiran saya pada waktu itu, kumpulan kisah-kisah tersebut tentu bisa menambah rasa syukur kami karena telah mendapatkan anugerah yang besar dari Alloh ta'ala berupa full-scholarship sekaligus -mungkin- dapat menjadi sumber inspirasi bagi adik-adik kami di pesantren yang belum atau sudah punya keinginan untuk meraih beasiswa serupa. Minimal, kisah-kisah tersebut dapat menjadi salah satu kenangan indah dalam sejarah hidup kami.
Alhamdulillah, "krentek" saya itu belum bisa terwujud bahkan sampai saya lulus dari Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya pada Oktober 2011 yang lalu. Ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam mewujudkan "krentek" saya itu. Diantaranya adalah
- saya terlalu sibuk di organisasi, tercatat selama kurun 2008-2010 saya aktif di sedikitnya 6 organisasi baik yang level fakultas, universitas, maupun nasional. Kesibukan dan keterlenaan saya di beberapa organisasi tersebut membuat saya "lupa" terhadap "krentek" saya untuk mengumpulkan kisah-kisah itu.
- pada waktu itu saya belum begitu gandrung dengan dunia tulis-menulis.
- dasarnya saya yang memang belum pantas menerima anugerah keberhasilan menulis dan mengumpulkan kisah-kisah perjuangan itu.
Pada awal tahun 2012, hasrat untuk mengumpulkan kisah-kisah itu kembali muncul di benak saya. Kemunculan hasrat tersebut terjadi karena beberapa stimulus. Diantaranya adalah
- adik angkatan saya di FIB yang bernama Huda menjadi inspirator bagi teman-temannya sesama peraih beasiswa Bidik Misi dalam membuat buku kumpulan kisah perjuangan meraih beasiswa Bidik Misi
- setelah saya membaca buku yang berjudul Dermaga Impian tersebut, tercetuk di pikiran saya, bahwa saya dan teman-teman saya di PBSB (organisasi mahasiswanya bernama CSS MoRA) sangat bisa membuat buku serupa dengan kualitas yang lebih baik
- saya memiliki anggota keluarga baru yang ternyata seorang novelist muda berbakat, namanya Azri KD 2010.
Saya pun kemudian menghubungi novelist muda tersebut dan mengutarakan "krentek" saya. Gayung bersambut, dia pun setuju dan mendukung. Tidak hanya itu, teman-teman di organisasi CSS MoRA pun ikut mendukung dan menyatakan siap menyediakan modal untuk mencetak naskahnya nanti. Langsung saja kami umumkan dan kami ajak teman-teman kami di CSS MoRA Unair untuk menulis kisah mereka ketika berjuang untuk mendapatkan beasiswa PBSB. Kami berusaha untuk meyakinkan kepada teman-teman bahwa mereka bisa dan layak menuliskan kisah hidup mereka. Sekitar dua bulan kemudian, terkumpul lebih dari 30 kisah di team kami. Selanjutnya kami pun melakukan seleksi dan editing dasar. Kami membuat tiga kriteria (1) Accepted (2) Doubt (3) Sorry. Yang pertama untuk naskah yang 99% "masuk kotak". Yang kedua untuk naskah yang kami masih perlu pertimbangkan lagi. Dan yang ketiga untuk naskah yang "mohon maaf tidak masuk kotak". Proses seleksi pun berlanjut dan akhirnya terpilih 13 kisah pilihan. Selain kualitas tulisan, isi, teknik menulis, kami pun juga mempertimbangkan nilai keunikan, kekhasan santri, dan persebaran wilayah.
Langkah selanjutnya adalah masuk di dapur penerbitan. Setelah mencari dan menilik beberapa penerbit, kami (atas jasa Azri) memutuskan untuk memilih Khalista, penerbit buku-buku pesantren, untuk menerbitkan naskah kami. Namun Abah Ma'ruf, owner Khalista, menyatakan bahwa beliau tidak bisa menerbitkan naskah dengan oplah di bawah 3000, padahal budget kami hanya cukup untuk menyetak 1000 eksemplar. Tapi beliau memberikan jalan keluar dengan mengenalkan kami kepada salah satu murid beliau yang juga bergerak di bidang percetakan. Adalah mas Rijal dengan Imtiyaznya yang bersedia menjadi patner kami dalam menerbitkan naskah kami itu. Karena sama-sama santri, kami pun cepat akrab. Setelah melalui proses meeting beberapa kali, editing beberapa kali, dan sedikit penundaan, akhirnya dengan penuh rasa syukur, buku berjudul Mahasantri Airlangga tersebut berhasil dicetak dan diterbitkan di bulan Oktober 2012.
Dan pada hari Ahad 14 Oktober 2012, kami berhasil menyerahkan 1 eksemplar buku Mahasantri Airlangga tersebut kepada Pak Ruchman Basori yang merupakan Kasi PBSB di lingkungan Kemenag RI pada saat acara Istihlal CSS MoRA se Jawa Timur di SAC IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kami juga menitipkan 2 eks untuk Kasubdit Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Pak Imam Syafi'i dan Direktur PD Pontren, Bapak Saifudin. Semoga buku tersebut bisa membuat bapak-ibu kami di Kemenag tersenyum. hehehe
Selanjutnya, kami berencana melakukan tour dan bedah buku di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. Semoga lancar dan barokah.
salam pengabdian
-mas tije-
link
http://www.alumnipbsbunair.blogspot.com/
Tampilkan postingan dengan label Kesan Baca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesan Baca. Tampilkan semua postingan
Kamis, 01 November 2012
Selasa, 12 Juni 2012
Kesan Baca: 7 Keajaiban Rezeki
Judul:
7 Keajaiban Rezeki
Iya, mereka adalah para pedagang, para pengusaha..!!
Penulis:
Ippho "right" Santosa
Jml.
Hal: 192
Penerbit:
PT. Elex Media Komputindo
Tahun
Terbit: 2010 (cetakan ke-23 Maret 2012)
Buku
yang ditulis oleh seorang pakar otak kanan ini, begitu sementara orang
menyebutnya, menawarkan langkah-langkah praktis untuk mempercepat pencapaian
kesuksesan baik itu dalam hal keuangan, kesehatan, hubungan, impian, prestasi,
maupun jodoh. Seperti buku-buku yang pernah ia tulis sebelumnya (10 Jurus
Terlarang, 13 Wasiat Terlarang, Marketing is Bullshit...), penulis menggunakan
pendekatan otak kanan -kreatifitas- yang merupakan ciri khas yang menempel erat
pada karakternya, namun kali ini dengan sentuhan Islami yang sangat kental.
7
Keajaiban yang dimaksud adalah Sidik Jari Kemenangan (Lingkar Diri), Sepasang
Bidadari (Lingkar Keluarga), Golongan Kanan (Lingkar Diri), Simpul Perdagangan
(Lingkar Sesama), Perisai Langit (Lingkar Diri), Pembeda Abadi (Lingkar Diri),
dan Pelangi Ikhtiar (Lingkar Diri).
#1 Sidik Jari Kemenangan
Setiap
orang adalah unik dan memiliki cara-cara tersendiri untuk meraih kemenangan.
Seringkali keunikan itu hanya berlaku pada dirinya sendiri. Langkah pertama:
Temukan Keunikan Kita..!!
#2 Sepasang Bidadari
Bidadari
yang pertama adalah sang Ibu yang merupakan washilah penciptaan kita.
Wanita yang mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkan kita. Bidadari yang
senantiasa mencurahkan cinta dan kasih sayangnya kepada kita. So, mintalah doa
dari Ibu. Buatlah sang ibu ridho kepada kita!
Bukankah
keridhoan Tuhan Yang Maha Kuasa itu terkait erat dengan keridhoan
Ibu kita?!
Sedangkan
bidadari yang kedua tidak lain d`n tidak bukan adalah pasangan kita. Kalau Anda
seorang laki-laki, berarti dia bernama bidadari. Kalau Anda seorang perempuan,
berarti dia bernama bidadaro... hehe
Ini
berarti bahwa keajaiban yang satu ini hanya bisa didapat oleh orang yang sudah
menikah. Kalau saat ini Anda belum menikah, ya segera saja rencanakan
pernikahan itu! Ya, itung-itung, nabi Muhammad itu menikah di usia 25 tahun.
Ya, menikahlah pada usia itu atau sekitar itu..
Mari selaraskan
impian kita dengan 2 bidadari itu. Mari berdoa bersama!
#3 Golongan Kanan
Kata
Mas Ippho, otak kanan itu terkait erat dengan yang namanya kreatifitas,
intuisi, dan imajinasi. Tidak terkungkung oleh logika dan seringkali tidak
masuk akal. Lebih suka spontanitas dan melihat langsung hasilnya dengan cara
“mengerjakan”.
Menurut
KH. Ihya Ulumiddin, “inti otak kanan adalah kepaserahan”. Maksudnya ya kita
nurut aja apa yang diperintah oleh Alloh ta’ala. Kalau kita diperintah sholat
fardlu, sholat tahajjud, sholat dhuha, sedekah, berbuat baik kepadaorang tua,
ya kita nurut aja. Gak perlu banyak tanya. Udah kerjakan aja. Wong yang memerintahkan itu Yang
Mengatur Kehidupan kok.. Pasti deh hasilnya baik!!
#4 Simpul Perdagangan
Nabi
Muhammad itu (pernah) menjadi seorang pedagang internasional. Istri beliau pun
seorang sudagar yang sukses. Sepuluh sahabat nabi yang dijamin masuk surga,
mayoritas bekerja sebagai pedagang. Pendiri NU dan Muhammadiyah pun juga
merupakan pengusaha. Jadi memang Islam itu dekat dengan perdagangan.
Teladan-teladan kita pun ternyata seorang pedagang.
Siapakah yang menguasai dunia saat ini??Iya, mereka adalah para pedagang, para pengusaha..!!
#5 Perisai Langit
Apa
yang diajarkan agama agar kita sehat?
-
Puasa
-
Tahajjud
-
Sedekah
-
Tidak
masuk akal ya?? Benar, bagi otak kiri.
Agar
rezeki bertambah, apa yang diajarkan agama?
-
Sedekah
-
Shalat
Dhuha
-
Shalat
Tahajjud
-
Istighfar
-
Dzikr
-
Tawakkal
-
Syukur
-
Menikah
-
Berhaji
-
Berumrah
-
Memperbaiki
ibadah; terutama sholat fardlu!!
-
Benar-benar
tidak masuk akal kan?? Iya. Dengan otak kiri!
Namun
begitulah yang diajarkan agama Islam. Ini bukan tentang masuk akal atau tidak
masuk akal. Tetapi tentang keyakinan! Kalau memang Alloh ta’ala yang
menciptakan dunia seisinya ini, yang menjamin kehidupan semua makhluq di alam
raya ini, yang Maha Pemberi Rezeki, mengatakan semua hal itu, tentu 1000% hal
itu benar. Tidak ada keraguan sedikit pun! Pasti benar!!
Ada
cerita nih…
“Mas
kenapa sampean tidak mau bersedekah?”
“Saya
takut miskin”
“Emang
mas pernah kaya?!”
“…???”
Hahaha.
Begitulah adanya. Dalam sejarah kehidupan manusia, tidak diketemukan orang yang
banyak sedekahnya malah jadi miskin (kalau yang memilih hidup sederhana, ada).
Yang ada, tambah kaya, tambah kaya, dan tambah kaya!!
#6 Pembeda Abadi
Apa
yang paling Anda minati>
Apa
yang paling Anda kuasai?
Apakah
hal yang paling Anda minati dan kuasai itu menghasilkan?
Apakah
hal itu membuat Anda bahagia?
Dan
apakah hal tersebut sesuai dengan persepsi publik kepada Anda?
Kalau
kita berhasil menjawab 5 pertanyaan ini, berarti kita telah menemukan kekuatan
utama, Pembeda Abadi kita! Selamat!!
#7 Pelangi Ikhtiar
-
Impian
-
Tindakan
-
Kecepatan
-
Keyakinan
-
Pembelajaran
-
Kepercayaan
-
Keikhlasan
“segala
sesuatu itu serba mungkin”
Bahasa
ilmu teologinya, “sifat Kuasa dan Kehendak Allah ta’ala itu berkaitan dengan
segala kemungkinan”.
Jadi
jika Tuhan Yang Maha Kuasa berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin. Oleh
karena itu beranilah bermimpi besar, bercita-cita tinggi..!!
Syarat
utama pemenang itu adalah DNA= Dream N Action!! Jangan biarkan mimpi Anda hanya
berada di alam mimpi. Ayo kita bawa impian-impian kita ke alam nyata dengan TINDAKAN. Dream
cukup satu, Action minimal tujuh!!
Now
or Never..!! Kerjakan sekarang. Kerjakan dengan cepat..!
Apakah
Anda yakin bahwa Allah ta’ala itu Maha Kuasa? Apakah Anda yakin akan janji-Nya?
Apakah Anda yakin akan kalam-Nya? Apakah Anda yakin jika Anda bersedekah,
sholat fardlu berjamaah di awal waktu, sholat tahajjud, sholat dhuha, berbuat
baik kepada orang tua, maka urusan Anda akan mudah, lancar, dan semakin hari
semakin baik??
Jika
iya, berarti iya! Jika tidak, berarti tidak!!
Belajarlah!!
Belajarlah
dengan action-oriented. Belajarlah dengan mengajar. Belajarlah
langsung dari orang-orang yang sudah terbukti sukses!!
Bayangkan!!
Tidak seorang pun percaya kepada Anda kalau Anda bisa mengerjakan sesuatu hal
dengan baik. Tidak seorang pun percaya kepada Anda kalau Anda bisa membuat
produk yang berkualitas. Tidak seorang pun yang percaya kepada Anda kalau Anda
bertanggung jawab, jujur, dan dapat dipercaya.
Apakah
Anda bisa berkembang maju? Apakah Anda bisa sukses dalam usaha?? Integritas itu
penting! Tumbuhkan, bangun, dan jaga itu yang namanya kepercayaan!!
Terakhir.
Apakah Anda ingin jika semua hal yang Anda usahakan dengan sungguh-sungguh
dalam hidup Anda di dunia ini kelak bisa Anda rasakan nikmatnya di akhirat?
(tentunya dengan kadar kenikmatan yang berlipat-lipat)
Jika
iya jawabannya, mari gandeng tangan saya. Mari kita ikhlaskan dream dan action kita. Mari kita niatkan semua usaha kita itu untuk
mendapatkan ridha Alloh ta’ala.
Buku 7 Keajaiban Rezeki ini memang buku yang action-oriented. Jadi ya cocok banget untuk orang-orang yang suka "praktis". Silahkan baca selengkapnya, praktekkan, dan rasakan hasilnya. Kalau sampeyan sedang bokek gak punya duit untuk beli, ya ke sini aja, jl gubeng kertajaya 5 C no.5, saya pinjami.
Semoga
bermanfaat. (tj)
Label:
entrepreneur,
Kesan Baca,
my notes,
pendidikan,
resensi buku
Jumat, 27 April 2012
Kesan Baca: Alunan Vektor Allah
Awal bulan April 2012 yang lalu saya pergi ke Toko Buku Manyar untuk mencari buku yang berjudul "Children's Nursing", tetapi saya tidak menemukan buku itu di sana. Saya pun kemudian memenuhi hasrat saya; "ngicipi buku-buku" yang ada di toko tersebut. Tanpa sengaja saya melihat cover sebuah buku berjudul "Alunan Vektor Allah". Saya pun mengambil buku tersebut dan tentu saya membayar harganya kepada kasir yang berdiri di samping pintu masuk-keluar toko. Novel ini merupakan karya seorang santri asal Kota Apel. Novelnya ini merupakan Pemenang Juara 1 Lomba Nasional Penulisan Cerita Fiksi Keagamaan Departemen Agama RI Tahun 2009.
Alunan Vektor Allah bercerita tentang seorang pemuda yang sekolah di Madrasah Aliyah Negeri ternama di Malang. Karena keterbatasan finansial ia tidak tinggal di asrama seperti teman-temannya. Justru ia menetap di sebuah masjid sekaligus menjadi anggota team ta'mir masjid yang bertugas mengurusi masjid. Pemuda ini punya keahlian menulis cerita fiksi baik berupa cerpen maupun novel. Walaupun masih muda, beberapa kali karyanya telah diterbitkan. Ia pun disenangi oleh guru-gurunya. Tidak hanya itu, seorang wanita cantik dan cerdas pun jatuh hati kepadanya. Mereka pun terikat oleh sebuah ikatan yang disebut "pacaran islami" (tanda petik itu penting -pen).
Alunan Vektor Allah bercerita tentang seorang pemuda yang sekolah di Madrasah Aliyah Negeri ternama di Malang. Karena keterbatasan finansial ia tidak tinggal di asrama seperti teman-temannya. Justru ia menetap di sebuah masjid sekaligus menjadi anggota team ta'mir masjid yang bertugas mengurusi masjid. Pemuda ini punya keahlian menulis cerita fiksi baik berupa cerpen maupun novel. Walaupun masih muda, beberapa kali karyanya telah diterbitkan. Ia pun disenangi oleh guru-gurunya. Tidak hanya itu, seorang wanita cantik dan cerdas pun jatuh hati kepadanya. Mereka pun terikat oleh sebuah ikatan yang disebut "pacaran islami" (tanda petik itu penting -pen).
Walau menjadi anggota team ta'mir masjid, seringkali pemuda ini bangun kesiangan. Tak ayal subuhnya pun barengan dengan dhuha, jadilah "subha", subuh-dhuha. Sebenarnya ia merasakan ketidaknyamanan di dalam hatinya. Ia merasa bersalah karena telah lalai. Namun rasa bersalah itu tidaklah cukup memaksanya untuk berhenti telat sholat subuh. Ia memiliki teman sekaligus saingan dalam hal menulis novelet. Akhir-akhir ini temannya itu sering menyindirnya dengan kata-kata yang membuatnya "dongkol". Batinnya, mungkin temannya itu iri karena prestasi temannya itu kalah darinya. Suatu ketika temannya yang lain datang kepadanya -meminta agar dia mau ngajari ngaji adiknya. Pemuda ini menolak dengan alasan karena sudah ada agenda penting yang tidak lain adalah jadwal ketemu Fahira, teman wanitanya.
Bu Guru mengumumkan bahwa sebuah penerbit tertarik untuk menerbitkan novelet pemuda ini. Namun si penerbit memberikan tantangan baru agar dia menulis satu karya lagi yang lebih menantang. Ia pun menyanggupinya. Setelah menyelesaikan karyanya itu, -satu hari sebelum deadline- ia bersiap diri untuk mengeprint. Tanpa ia duga flasdisk-nya hilang. Ia coba cari namun tak berhasil menemukannya. Ia tahu bahwa penerbit tak akan mau menerima alasan apa pun. Karena ia sudah teken kontrak, wajib baginya memenuhi kontrak tersebut.
Di tengah kegalauannya, seorang temannya yang baik hati menawarinya agar menggunakan komputernya di kamar untuk menulis kembali noveletnya itu. Ia pun menerima tawaran bantuan dari temannya itu. Ia peras otak dan tenaganya sampai habis untuk menyelesaikan tulisannya. Ia pun lembur di rumah temannya. Sampai tengah malam, ia pun berhasil menyelesaikan tulisannya. Langsung ia mengeprint karyanya itu.
Ia kembali ke komplek masjid secara sembunyi-sembunyi. Ketika ia menginjakkan kaki di masjid, ternyata sang ustadz sedang menunggu kedatangannya. Dengan tenang ustadz tersebut mengajaknya ke kamar ta'mir dan menunjukkan bahwa teman setimnya panas-demam karena kecapekan mengerjakan tuga ta'mir -membersihkan masjid- sendirian. Ia merasa sangat bersalah karena telah mengorbankan temannya untuk kepentingannya sendiri. Namun temannya yang baik hati itu justru menyatakan bahwa dia tidak apa-apa. Temannya itu senang jika ia berhasil meyelesaikan tulisannya yang sudah dipesan oleh penerbit.
Paginya ia pergi ke sekolah. Ia sudah janjian dengan Bu Guru untuk menitipkan noveletnya itu. Bu Gurunya itu punya agenda ke Jakarta, jadi ya sekalian. Ketika ia sampai di sekolah, ternyata gurunya sudah tidak ada. Ia pun mendapati gurunya sedang masuk taksi. Ia mencoba berlari menuju taksi yang ada di seberang jalan. Brakkk..!! Sebuah sepeda motor yang melaju kencang menabraknya. Ia tersungkur jatuh. Darah pun bercucuran. Ia menahan tangis karena merasa bahwa usaha mati-matian-nya selama ini tak ada guna. Di tengah rasa bersedihnya, penunggang sepeda motor itu menawarinya untuk mengejar taksi itu. Ia pun mengiyakan. Dan akhirnya ia berhasil mendapatkan taksi itu. Ia pun segera menyerahkan amplop berisi karyanya kepada Bu Guru yang langsung bergegas menuju bandara karena kawatir ketinggaa pesawat. Sementara itu darah segar mengalir semakin deras, pemuda itu pun roboh tak sadarkan diri.
Begitu terbangun ia mendapati dirinya sudah di rumah sakit dengan perban di tangannya. Ia pun akhirnya dibawa pulang menuju kamar team ta'mir. Malamnya ia tidur dengan rasa njarem di sekujur tubuh. Di tengah tidurnya ia bermimpi. Ia melihat karpet, tiang, tangga, dan atap masjid mengeluh kepada Allah ta'ala. Mereka mengeluh karena setiap hari digunakan sujud, bertemu, diinjak, dan menaungi seorang munafik. Kelihatannya santri tapi mau juga pacaran. Sudah tahu bahwa "pezina hanya pantas untuk pezina". Bukankah ketika pacaran, mata, telinga, dan hati-nya melakukan zina? Kelihatannya ta'mir masjid, pengurus masjid, tapi kok subuhan sering kesiangan. Bahkan tak jarang sholat subuhnya barengan dengan waktu dhuha. Namun begitu, semuanya mendoakan kebaikan untuk nya. Ia hanya bisa bengong saja. Ia semakin tertekan ketika tumpukan novelet karyanya tiba-tiba berbicara. Tulisannya itu menghujatnya. Ia pandai menulis tentang kebaikan, namun ia sendiri tidak mengamalkannya. Ia hanya memanfaatkan novelnya untuk meraih popularitas dan kebanggaan. Sang pemuda itu pun terbangun dan segera mengambil wudhu. Ia pun tersungkur semalaman dengan linangan air mata. Mengharap ampunan dari Sang Maha Pengampun atas banyaknya salah yang telah ia lakukan.
Kemudian ia mencoba mencari jawaban atas kegalauannya itu. Ia bertanya kepada teman-temannya, tapi gak ada jawaban temannya yang bisa membuatnya puas. Ia pun akhirnya berkesempatan bertemu dengan Kang Abik, penulis yang sudah lama menjadi idolanya. "Allah ta'ala tidak suka kepada pemuda yang di hatinya ada noda". Ya, hubungannya kepada Fahira telah membuatnya sering lalai, membuatnya sulit untuk mendekat kepada Sang Pencipta. Hubungannya yang tidak halal -karena belum ada ijab qobul- itu membuat hatinya ternoda.
Ia pun memutuskan untuk mengakhiri "pacaran islami"-nya dengan Fahira. "Pezina hanya pantas mendapatkan pezina. Mari kita menjaga diri. Mensucikan diri. Jika Allah ta'ala menentukan, kita pun kan berjumpa di pelaminan. Sebagai orang yang menjaga kesucian diri, kesucian hati. Kalau pun tidak, semoga kita dipertemukan dengan jodoh kita masing-masing, yang lebih baik, dunia-akhirat".
Pemuda itu pun melanjutkan hidupnya dengan energi baru. Sekarang ia bukan hanya sholat subuh berjama'ah tepat waktu, ia juga rajin tahajjud. Setiap senin sore ia pun menyempatkan diri ngajar ngaji adik teman baiknya. Ia pun semakin bersemangat ngurusi masjid, sebagai anggota team ta'mir. Di wajahnya terpancar cahaya yang menyejukkan. Cahaya orang yang merasa bahagia karena bertemu Tuhannya.
Penulis menggambarkan bahwa perjalanan hidup seseorang itu layaknya sholat. Ia memulainya dengan takbiratul ihram. Yang ia tuju adalah salam: kedamaian dan keselamatan dunia akhirat. Tidak ada artinya hidup di dunia ini jika seseorang tidak mendapatkan keselamatan itu. Dan tentu keselamatan itu bisa didapat jika seseorang mengikuti "manual" atau "buku petunjuk" yang disiapkan oleh Sang Pencipta dunia.
Novel ini memperlihatkan "wajah" para santri yang memiliki keunikan tersendiri dalam liku-liku hidupnya. Sebagai contoh tentang "pacaran". Diantara mereka ada pula yang berpacaran, dengan dalih "pacaran islami". Tapi jangan dibayangkan mereka pacarannya sampai pegang-pegangan atau peluk-pelukan. Paling banter mereka hanya ketemu dan duduk atau berdiri agak berjauhan. Lalu ngobrol sambil bercanda. Kadang-kadang ada yang tukeran buku diari. Ada pula yang lucu, pacaran dengan syarat menjaga wudhu, jadi ya gak pernah pegangan. Namun begitu, hal-hal tersebut tetap saja tidak dibenarkan karena memang ajaran agama Islam tidak memperbolehkan. Hal tersebut sudah masuk dalam ranah ber"khalwat". Walaupun tidak menyentuh, toh mereka yang berpacaran tetap saja berlaku "zina asghor"; zina mata, zina telinga, dan tentu zina hati dan pikiran. Apalagi hal-hal semacam itu justru memberikan jalan bagi syaitan untuk menjerumuskan mereka lebih jauh ke dalam jurang kehinaan. Bukankah Allah ta'ala sudah memperingatkan?? Janganlah kalian mendekati zina. Sungguh zina itu perbuatan yang keji dan jalan yang sangat buruk. Bukankah Allah ta'ala melalui Nabi-Nya telah memberikan jalan yang mulia, semulia derajat manusia..?? Jika kalian punya kemauan dan mampu, maka menikahlah. Dengan menikah, yang haram jadi halal, yang dosa jadi pahala. Jika belum mampu, ya berpuasalah. Tahanlah dirimu. Kontrollah nafsumu. Jangan kau hinakan dirimu dengan menjadi budak nafsu.
Lebih lanjut, yang menarik dari novel ini adalah penggunaan point of view tokoh utama orang pertama laki-laki. Padahal penulisnya adalah seorang wanita. Apalagi ketika menulis novel ini penulis masih duduk di bangku Madrasah Aliyah, ia masih sangat muda. Ini tentu menjadi nilai plus bagi penulisnya. Satu hal yang mungkin kurang, bagian akhirnya "terlalu curam" dan terkesan berubah haluan menjadi "seperti ceramah". Menurut saya, lebih menarik jika penulis berkreasi dengan dialog-dialog dari pada menuturkan "ceramah''. Terlepas dari itu, novel itu pantas diapresiasi. Keberanian dan kreatifitas penulis patut diacungi empat jempol; dua jempol tangan dan dua jempol kaki. hehe
Akhirnya saya -dengan sadar- merekomendasikan kepada kalian para pemuda-pemudi untuk membaca novel ini. Kalian akan merasakan liku-liku kehidupan seorang santri muda yang bergelut untuk mencari makna kehidupan yang sesungguhnya.
[tj]
Label:
Cerita Bagus,
Kesan Baca,
my notes,
novel,
novel remaja,
novel remaja muslim
Langganan:
Postingan (Atom)

