Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 September 2012

Makna Istihlal (bukan halal bi halal)

Pada bulan Syawwal jamak dijumpai umat Islam di Indonesia menyelenggarakan Istihlal. Saya menggunakan kata "istihlal" karena memang kata ini lebih tepat untuk digunakan daripada frase "halal bi halal". Saya tanya, "halal bi halal" itu artinya apa..?? 
halal = halal, bi = dengan, halal = halal.
Jadi "halal bi halal" berarti halal dengan halal, boleh dengan boleh. Maksudnya apa..?? Nah lho... (???)

Sekarang kita beralih ke kata "istihlal". Kata istihlal merupakan bentuk masdar dari kata istahlala ('ala wazni istaf'ala) yang berfaedah "tholab", artinya "minta halal". Sama dengan kata istighfar (istaghfaro) yang berarti minta ampun. Jadi "istihlal" berarti minta halal (atas kesalahan yang pernah diperbuat).


Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah –shallallohu ‘alaihu wa sallam- bersabda: “Barang siapa melakukan kezhaliman kepada saudaranya, hendaklah meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya; karena di sana (akhirat) tidak ada lagi perhitungan dinar dan dirham, sebelum kebaikannya diberikan kepada saudaranya, dan jika ia tidak punya kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya itu akan diambil dan diberikan kepadanya”. (HR. al-Bukhari nomor 6.169)

Namun memang, minta halal (minta dimaafkan) atas kesalahan atau kedzaliman yang telah diperbuat ini hendaknya tidak hanya kita lakukan ketika momen idul fithri atau bulan Syawwal, tetapi kapan saja kita berbuat salah atau dzalim, hendaknya kita segera minta dihalalkan (dimaafkan).

Kemarin, Ahad 9 September 2012, saya menghadiri Istihlal yang diselenggarakan oleh Persyadha (Persyarikatan Dakwah al-Haromain), di Ketintang Barat I Surabaya. Selain agar bisa bertemu dengan Asatidz dan sahabat saya untuk beristihlal, tujuan saya datang ke acara tersebut adalah untuk "ngaji" kepada Abina K.H. M. Ihya Ulumiddin yang merupakan Aminul 'Am Persyadha. Taushiyah dari Abi adalah acara yang paling saya nantikan karena memang beliau adalah sumber ilmu dan adab yang "langka". Keluasan dan kedalaman ilmunya, tawadlu'nya, kesabarannya, kegigihannya, ruarrr biasa. 

Abi Ihya menjelaskan bahwa Ihtihlal itu marilah kita maknai sebagai momentum "pengakuan". Iya, pengakuan. Kita mengakui bahwa kita banyak dosa dan salah kepada Alloh ta'ala. Kita mengakui bahwa kita punya banyak kesalahan dan kedzaliman kepada saudara dan sahabat kita. Kita ngaku, dan kemudian minta maaf. 

Selanjutnya kita ngaku bahwa ketika bulan Romadlon yang lalu kita belum bisa maksimal dalam memanfaatkan madrasah Romadlon. Kita masih bolong jama'ah sholat fardlunya. Kita masih bolong qiyamul-lailnya. Kita masih bolong tilawah al-Qurannya. Kita masih bolong infaq-shodaqohnya. Iya, memang benar kita berpuasa, menahan lapar dan haus. Tapi kita belum bisa maksimal untuk menahan diri dari perkataan kotor, perkataan yang tidak berguna, perkataan yang menyakitkan orang lain. Kita belum bisa berpuasa dari "ngerasani" (ghibah) dan dusta. Kita masih sering berbohong (kecil). Kita belum bisa berpuasa dari iri-dengki. Kita belum bisa berpuasa dari riya` dan sum'ah, 'ujub dan takabbur. Ayo kita NGAKU..!!

Astaghfirullohal'adhim...

Faidah.



Sementara orang menganggap bahwa frase ‘Id al-Fithri berarti “kembali ke suci”. Hal ini –mungkin- didasarkan kepada sebuah hadits yang menjelaskan bahwa barang siapa berpuasa Romadlon dengan iman dan ihstisab maka diampunilah dosanya yang telah lampau. Sehingga beberapa orang tersebut mengganggap bahwa orang yang dia beri ucapan selamat ‘Id al-Fithri adalah orang yang diampuni segala dosa-dosanya yang telah lampau. Apakah hal tersebut benar? Agaknya kita tidak bisa membenarkan argumen tersebut begitu saja. Karena Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam pun mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa yang tidak memperoleh pahala apa pun kecuali hanya lapar dan dahaga karena dia tidak menjaga diri dari berkata kotor, berbohong, dan memfitnah ketika dia berpuasa.

Secara ilmu bahasa, pendapat yang menyatakan bahwa Id al-Fithri berarti “kembali ke suci” adalah tidak benar. Frase ‘Id al-Fithri terbentuk dari dua kata, ‘Id yang berarti kembali, dan al-Fithri (afthoro – yufthiru – ifthoron) yang berarti sarapan atau berbuka. Bukan al-fithroh (yang berarti; asal kecenderungan yang baik, asal kejadian, agama yang lurus, dan kesucian). Jadi frase Id al-Fithri tersebut bermakna “selamat sarapan atau berbuka kembali” yang menandai bahwa bulan Romadlon telah usai dan tibalah tanggal 1 Syawwal. Bukankah ketika hari Raya ‘Id al-Fithri kita diharomkan untuk berpuasa dan disunnahkan untuk sarapan? Agaknya makna seperti ini lebih rasional dan mendekatkan kita kepada pemahaman yang benar.



Selanjutnya, setelah kita ngaku akan kesalahan dan kekurangan kita, marilah kita senantiasa berdoa dan mendoakan saudara kita dengan doa:

"taqobbalallohu minna wa minkum"

(semoga Alloh menerima [ibadah, khususnya di bulan Romadlon] dari kami dan kalian)

Konon, dulu para sahabat Nabi mengamalkan doa ini selama kurang lebih 6 bulan. Jadi mulai tanggal 1 Syawwal sampai bulan Robi'ul Awwal, para sahabat Nabi, jika bertemu saudara dan sahabatnya, beliau mengucapkan doa "taqobbalallohu minna wa minkum".
Kenapa beliau-beliau sampek segitunya..??

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni.

"idza salimat al-jum'ah, salimat al-ayyam. idza salima Romadlon, salimat as-sanah"

(jika hari jum'at selamat, selamatlah hari-hari selama sepekan. jika bulan Romadlon selamat, selamatlah tahun).

Perhatikan dengan seksama. Muslim itu, jika jum'at nya selamat, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang pekan. Ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi kita umat Islam di Indonesia. Salah satu kegagalan terbesar kita adalah jum'at tidak menjadi hari libur. Sehingga kita tidak bisa menggunakan hari jum'at untuk fokus mendekatkan diri kepada Alloh ta'ala. Kita masih disibukkan oleh sekolah dan pekerjaan. Kita pun akhirnya melaksanakan sholat jum'at dengan kurang sempurna; telat, ngantuk pisan. Walaupun memang ada sekolah yang menjadikan hari jum'at sebagai hari libur. Biasanya sekolah-sekolah itu dikelola oleh yayasan pendidikan islam seperti Pondok Pesantren. Contohnya sekolah MTs dan MA Walisongo tempat saya belajar dahulu kala. Namun jumlahnya tidak banyak. Masih banyak yang liburnya hari Ahad. Pada saat saudara kita umat Kristiani melaksanakan ibadah di Gereja.

Selanjutnya, mari kita perhatikan sabda Nabi kita tercinta. Muslim itu, jika bulan Romadlonnya selamat, bisa diartikan jika ibadah-ibadahnya di bulan Romadlon diterima oleh Alloh ta'ala, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang tahun. Nah, inilah rahasianya kenapa para sahabat Nabi itu dengan segitunya mengamalkan doa "taqobbalallohu minna wa minkum" sampai 6 bulan pasca Romadlon. Jadi jika doa tersebut dikabulkan oleh Alloh ta'ala, maka efeknya akan ruarrr biasa bagi kehidupan para sahabat itu; selamat sepanjang tahun. Siapa yang gak mau..??

Maka, marilah kita mentauladai para sahabat Nabi yang mulia itu. Mari kita senantisa berdoa dan mendoakan saudara dan sahabat kita dengan doa "taqobbalallohu minna wa minkum". Semoga doa kita dikabulkan oleh Alloh ta'ala. Amin.

"idza salimat al-jum'ah, salimat al-ayyam. idza salima Romadlon, salimat as-sanah"

Semoga bermanfaat. Wallohu a'lam bish-showab. 
(tj)

Selasa, 07 Agustus 2012

10 Hari Terakhir Bulan Romadlon “bersama” Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam


Sebagaimana sebuah cerita yang diharapkan happy ending, dalam rangkaian kehidupan, kita pun berharap happy ending. Kita berharap husnul khotimah. Mengakhiri hidup dalam keadaan yang baik. Begitu pula dalam bulan Romadlon ini. Kita tentu berharap dengan sangat bisa mengakhiri Romadlon dengan “husnul khotimah”. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Sahl bin Sa’ad radhiallohu anhu
وَإِنَّمَاالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
Maksudnya : “Dan sungguh amalan itu ditentukan dengan penutupannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6117)
Lalu bagaimana cara kita mengakhiri bulan Romadlon dengan baik..? Rasa-rasanya tidak ada orang yang lebih layak untuk kita teladani selain Pujaan kita Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Oleh karena itu, mari kita tengok dan kita teladani bagaimana sikap Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam pada 10 hari terakhir bulan Romadlon.
Diriwayatkan dari Ummul Mu`minin sayyidah ‘Aisyah radhiallahu anha, beliau berkata:
كَانَ النَّبِىُّ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Maksudnya: “Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Romadlon), beliau mengencangkan sarung, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya “. (HR. Al-Bukhari no. 1884 dan Muslim no. 2008)
Jadi ketika memasuki 10 hari terakhir bulan Romadlon, Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam melakukan hal-hal sebagai berikut.
Pertama, beliau mengencangkan sarung. Hal ini berarti beliau menjauhi berhubungan dengan wanita (isteri beliau) karena memfokuskan diri untuk bermunajat kepada Alloh ta’ala. Ada juga yang mengartikan bahwa “mengencangkan sarung” berarti kiasan dari memperbanyak ibadah, fokus untuk menjalankannya, dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Bagi kita hal ini bisa bermakna, selama sepuluh hari terakhir bulan Romadlon hendaknya kita menjahui dan meninggalkan segala macam kenikmatan dunia yang hanya sesaat, seperti nonton TV atau bioskop, berlama-berlama belanja di mall atau pasar, bergurau dengan dengan teman, mendengarkan musik, main game, dan lain sebagainya demi untuk bertaqorrub, mendekat, kepada Alloh ta’ala dengan berbagai macam ibadah. Eling, sebentar lagi “bazaar murah pahala, ampunan, dan ridlo” di bulan Romadlon ini akan segera tutup.
Kedua, beliau menghidupkan malam bulan Romadlon. Maksudnya beliau mengisi malam-malam 10 hari terakhir bulan Romadlon itu dengan memperbanyak ibadah seperti sholat, dzikr, tilawah al-Quran, I’tikaf, dan doa. Hal itu sekaligus bermakna beliau menjahui tidur untuk beribadah di malam hari.
Barang siapa menghendaki kemuliaan
Hendaknya tidak tidur semalaman
Bukankah tidur itu “sudaranya kematian”..?? Masak iya, kita kepingin seperti mati terus..? Eling, sebentar lagi “bazaar murah pahala, ampunan, dan ridlo” di bulan Romadlon ini akan segera tutup. Mari kita maksimalkan untuk beribadah. Mudah-mudahan Alloh ta’ala meridloi kita. Tidurnya dikurangi. Apalagi di sepuluh hari yang terakhir dari bulan Romadlon ini terdapat lailatul qodr, malam yang lebih baik dari pada seribu bulan (1000 bulan= 83,3 tahun). Jadi kalau kita melakukan ibadah di malam lailatul qodr ini, nilainya lebih baik dari pada ibadah 1000 bulan. Tuh, sangat eman (sayang) kan kalau sampai kelewatan. 

Maksudnya:  “lailatul qodr (malam yang mulia) itu lebih baik dari pada seribu bulan” [QS. Al-Qodr: 3]
I’tikaf di masjid: Ibadah yang istimewa.
Pada 10 hari yang terakhir dari bulan Romadlon, kita sangat dianjurkan untuk beri’tikaf. I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan tujuan beribadah dan bertaqorrub kepada Alloh ta’ala. I’tikaf ini adalah ibadah yang istimewa, lebih-lebih di 10 hari terakhir bulan Romadlon.
Dari ‘Aisyah rodliyallohu ‘anha bahwa:
 كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Maksudnya:  “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Romadlon hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sepeninggalnya” (HR. Bukhari).
Di tengah-tengah kehidupan yang seakan-akan memaksa kita untuk terus mengejar kebahagiaan dunia ini rasa-rasanya perlu bagi kita untuk mengasingkan diri sejenak untuk merenungkan kembali makna hakiki dalam kehidupan. Dari manakah sebenarnya kita berasal? Ke mana kita semua akan menuju? Apa sebenarnya yang musti kita perankan di dunia yang fana ini? Kita pun perlu bertafakkur, mawas diri, mengevaluasi diri, apa saja yang telah kita lakukan selama hidup kita sampai hari ini. Seberapa banyak waktu yang kita isi dengan ketaatan dan amal ibadah kepada Alloh ta’ala? Seberapa banyak waktu yang kita isi dengan kedurhakaan dan kema’shiatan kepada Alloh ta’ala? Seberapa banyak waktu yang kita isi dengan aktifitas yang sia-sia belaka??
Mungkin bisa seperti ini, malam hari kita tidur habis sholat tarawih. Bangun tidur jam 12.00 malam. Kemudian beribadah, I’tikaf di masjid, bermunajat kepada Alloh ta’ala hingga waktu sahur. Atau begini, kita tidak tidur di malam hari. Melek terus. Mulai sholat maghrib atau sholat isya’ kita I’tikaf di masjid, sholat sunnah, baca al-Quran, dzikr, bertafakkur, doa, memperdalam ilmu agama, begitu terus menerus bergantian agar tidak bosan hingga waktu sahur. Setelah itu sahur, sholat subuh. Tetap berada di masjid untuk I’tikaf, baca al-Quran, dzikr, dan doa hingga terbit matahari. Kemudian kita sholat Dhuha baru kemudian istirahat (tidur). Kalaupun tidak bisa setiap hari, kita hendaknya melaksanakan I’tikaf dan ibadah-ibadah lain tersebut pada malam-malam ganjil 10 hari terakhir bulan Romadlon. Kalau masih saja tidak bisa karena sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan, misalnya ada kewajiban tertentu, maka hendaknya kita mengusahakan untuk melaksanakan I’tikaf dan ibadah-ibadah lain tersebut di salah satu malam dari 10 malam-malam terakhir bulan Romadlon. Ya, kita berusaha semaksimal mungkin dah…
قال الله تعالى: ﴿ فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ  ﴾
Maksudnya : “Maka bertakwalah kamu kepada Allah sesuai kemampuanmu” (QS. At Taghobun 16).
Ketiga, beliau membangunkan keluarganya. Hal ini berarti bahwa beliau juga membangunkan, mengajak, mendorong, dan memerintah keluarga beliau untuk mengisi malam-malam 10 hari terakhir bulan Romadlon dengan berbagai macam ibadah. Kalau mau masuk surga jangan sendirian..! Ajak serta keluarga, terutama istri/suami dan anak. Eling, sebentar lagi “bazaar murah pahala, ampunan, dan ridlo” di bulan Romadlon ini akan segera tutup. Kita tentu berharap bahwa kita bisa berkumpul dan bahagia bersama keluarga kita di dunia, lebih-lebih di akhirat sana. Jadi untuk urusan mendidik keluarga ini, kita musti menerapkan disiplin yang tinggi, ketegasan yang konsisten, dan mungkin sedikit “paksaan”. Entar kalau sudah terbiasa bangun malam untuk beribadah, insyaalloh qiyamullail itu akan menjadi sesuatu yang ringan.  
Selama bulan Romadlon, lebih-lebih di 10 hari yang terakhir, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
 “Ya Alloh.. sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf. Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Semoga Alloh ta’ala senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita semua sehingga kita mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah kita selama bulan Romadlon ini. Semoga kita mampu memenuhi 10 hari yang terakhir dari bulan Romadlon dengan I’tikaf, sholat, tilawah al-Quran, dzikr, tafakkur, doa, dan ibadah-ibadah yang lain. Semoga bulan Romadlon ini benar-benar menjadi kawah condro dimuko bagi kita untuk bertransformasi menjadi hamba-hamba Alloh ta’ala yang bertaqwa, dan semakin meningkat level taqwanya. Amin. (tj)
 

Minggu, 22 Juli 2012

Tiga Orang Yang KEBANGETAN..!!


Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban. Maksud hadits tersebut kurang lebih seperti ini:
Sesungguhnya Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam naik ke mimbar kemudian berkata, "amin, amin, amin". 
Dikatakan: wahai Rosululloh, sesungguhnya tuan naik mimbar kemudian berakata "amin, amin, amin" ..??
Rosululloh bersabda: Sesungguhnya malaikat Jibril mendatangiku dan berkata, 
barangsiapa bertemu bulan Romadlon (namun) dia tidak mendapatkan ampunan, lalu mati dan masuk neraka, semoga Alloh ta'ala menjauhkannya (dari rahmat-Nya), katakan "amin". aku berkata "amin". 
barangsiapa bertemu (jawa: menangi) kedua orang tuanya atau salah satunya (namun) dia tidak berbuat baik kepada mereka, lalu mati dan masuk neraka, semoga Alloh ta'ala menjauhkannya (dari rahmat-Nya), katakan "amin". aku berkata "amin". 
barang siapa namamu disebut disisinya (namun) dia tidak bersholawat kepadamu, lalu dia mati dan masuk neraka, semoga Alloh ta'ala menjauhkannya (dari rahmat-Nya), katakan "amin". aku berkata "amin".

Inilah tiga macam orang yang sungguh sangat KEBANGETAN..!!
1. Macam pertama. Ada orang yang oleh Alloh ta'ala diberi umur panjang, diberi kesehatan, sehingga dia bisa bertemu bulan Romadlon, bulan yang penuh ampunan, bulan yang di dalamnya dibuka lebar-lebar pintu surga, ditutup rapat-rapat pintu neraka, para syaithan pun dibelenggu, setiap amal baik dilipatkan pahalanya, bahkan di dalamnya ada malam lailatul qodr, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, lha dha lha  si orang ini malah tidak mau memanfaatkan bulan yang mulia ini untuk menggapai ampunan dari Alloh ta'ala, justru dia malah bangga dan senang menumpuk dosa. Sungguh Sangat Kebangetan..!!


2. Macam kedua. Ada orang yang oleh Alloh ta'ala diberi kesempatan untuk bertemu ibu-ayahnya dalam keadaan hidup, atau salah satu dari mereka. Sudah tahu bahwa ibu-ayahnya lah yang menjadi sebab ia diwujudkan oleh Alloh ta'ala di dunia ini. Bukankah ia diciptakan oleh Alloh ta'ala melalui sperma ayah dan sel telur ibunya..?? Bukankah ibunyalah yang mengandungnya selama kurang lebih sembilan bulan..?? Bukankah ibunyalah yang mempertaruhkan nyawa ketika berjuang melahirkannya di dunia..?? lha dha lha si orang ini malah tidak mau berbuat baik kepada ibu-ayahnya. Justru dia sering membuat ibu ayahnya menangis sedih karena perilakunya. Sungguh Sangat Kebangetan..!!


3. Macam ketiga. Ada orang yang mendengar nama Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam disebut. Sudah tahu bahwa Nabi Muhammadlah yang mengenalkannya terhadap Tuhannya: Alloh ta'ala robbul 'alamin. Nabi Muhammadlah yang memberitahunya neraka dan surga serta jalan-jalan yang bermuara kepada dua tempat itu. Nabi Muhammadlah yang mengajarkannya syari'at Islam yang merupakan jalan keselamatan dunia akhirat. lha dha lha si orang ini malah tidak mau bersholawat kepada beliau shollallohu alaihi wa sallam. padahal Alloh ta'ala dan para malaikat saja bersholawat kepada nabi Muhammad. dia dengan angkuhnya tidak mau membuka mulut untuk "sekedar" bersholawat. Sungguh Sangat Kebangetan..!!


Inilah tiga profil manusia yang Sungguh Sangat KEBANGETAN. Maka wajar jika tiga macam orang ini meninggal dunia dan masuk neraka, malaikat Jibril berdoa semoga tiga macam orang ini dijauhkan dari rahmat Alloh ta'ala. Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam pun meng-amini. Ya, karena memang KEBANGETAN..!!


Semoga kita tidak termasuk golongan tiga macam orang ini. Semoga kita bisa memanfaatkan bulan Romadlon yang mulia untuk menggapai ampunan Alloh ta'ala dengan memperbanyak amal baik dan istighfar. Semoga kita diberi kekuatan oleh Alloh ta'ala untuk berbuat baik kepada ibu bapak kita, membahagiakan beliau berdua dunia akhirat. Semoga lisan kita dimudahkan oleh Alloh ta'ala untuk senantiasa bersholawat kepada Kekasih kita nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Amin. Amin. Amin.


salam tije ^_^

Senin, 09 April 2012

Kesan Baca: Mengikat Makna Sehari-hari

Beberapa hari yang lalu saya baru saja selesai membaca buku karangan Pak Hernowo yang berjudul “Mengikat Makna Sehari-hari”. Buku ini bukan buku baru. Buku ini diterbitkan oleh MLC pada tahun 2005. Hanya saja saya baru bertemu dengannya akhir bulan Maret 2012 yang lalu. Saya tertarik untuk membeli buku ini karena saya –sudah lama- mempunyai keinginan untuk bisa menulis lebih baik; lebih banyak dan lebih berkualitas.

Ketika masa MI (Madrasah Ibtidaiyah) saya belajar menulis tentang pelajaran di sekolah dan pelajaran di TPA (Taman Pendidikan al-Quran). Saya SS (sungguh sangat) jarang menulis selain materi pelajaran yang ditulis oleh guru saya atau tertulis di buku pelajaran kecuali corat- coret abstrak di buku yang saya pun sampai hari ini tidak tahu apa artinya. Ketika beranjak usia MTs (Madrasah Tsanawiyah) saya masih istiqomah dengan kegiatan menulis. Iya. Menulis pelajaran di sekolah dan di madrasah diniyyah serta ngesahi (memberi makna) kitab kuning. Selain itu tentu tugas PR dari guru saya. Sampai pada waktu itu saya –seingat saya- tidak pernah mengarang puisi, cerpen, prosa, atau artikel. Kegiatan belajar menulis saya berlanjut hingga masa remaja di MA (Madrasah Aliyah). Pada masa ini, materi yang saya tulis semakin beragam; terjemah kitab, murod, pidato, catatan kecil, cerita drama, rencana kerja di OSIS dan pramuka, dan rencana kerja di OSMA (organisasi siswa madrasah).

Pada puncaknya saya terlibat penulisan, lebih tepatnya pengetikan, sebuah buku karya senior,  guru nahwu dan bahasa arab, teman ngopi dan makan, sahabat di kala susah dan senang, pembimbing spiritual yang mengajarkan saya makna “ikhlash”, tempat saya curhat, seorang kepala keamanan pondok yang bukan hanya ditakuti dan disegani oleh santri, tetapi juga disegani oleh sesama guru di pesantren, bahkan oleh warga sekitar pesantren. Tubuhnya kekar besar, pahanya sangat pendek karena cacat sejak lahir, kakinya pernah patah karena tertabrak motor. Beliau seorang yang multi talent. Ngaji al-Quran oke, kabarnya (rahasia) beliau hafidz, walaupun belum 30 juz, tapi beliau tidak pernah mengatakannya. Ngaji kitab oke. Mulai sulam munajat sampai fathul wahab. Mulai jurumiyah sampai al-fiyah. Mulai nashoihul ibad sampai ihya ulumiddin. Mulai arba’in nawawi sampai shohih bukhori-muslim. Jadi tukang bangunan bisa, elektro bisa, jadi petani nggarap sawah bisa, masak bisa, seni kaligrafi bisa. Ilmu dalam pun beliau menguasai. Di pondok saya dulu, seorang kepala keamanan harus siap setiap saat menghadapi “musuh” baik yang nampak maupun yang tidak, baik dari dalam maupun dari luar. Dan yang langka di pesantren, beliau juga penulis yang produktif. Puisi, cerpen, kata-kata hikmah, sampai buku pun pernah beliau tulis. Beliau bernama Imam Syafi’i. Beliau adalah seorang Arek Malang yang beliau sebut sebagai “Kera Ngalam”. Para santri memanggil beliau “mbah pi’i”. Dan buku yang saya terlibat dalam penulisannya itu berjudul “Hawaijul maghfulat”. Artinya kebutuhan-kebutuhan yang terlupakan. Buku ini berisi tentang tuntunan dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan pendekatan tasawwuf yang kental. Buku ini ditulis dengan bahasa jawa menggunakan huruf arab pego. Jadi kalau dipandang dari agak  jauh kelihatan tulisannya arab. Kalau dibaca dari dekat bunyinya bahasa jawa. Beliau menjadi inspirasi bagi saya hingga saat ini. Kabarnya beliau sekarang menjadi seorang kyai di Jambi. 

Ketika masa awal kuliah di Universitas Airlangga Surabaya jurusan sastra Inggris, saya mempunyai hobi baru. Yaitu menulis puisi dan corat-coret di buku kecil. Kemudian saya mulai belajar nulis prosa bulanan yang saya print dan saya photocopy sendiri lalu saya tempel di papan pengumuman di kampus. Saya mulai belajar menulis cerpen. Saya pernah menulis sebuah cerpen tentang perjuangan seorang pemuda dalam bergelut dengan kehidupan. Seingat saya itu adalah cerpen satu-satunya yang saya tulis sampai saya jadi sarjana. Kemudian saya belajar menulis di blog www.muhtartajuddin.blogspot.com. Di sini saya bisa menulis apa pun sesuka hati saya. Puisi, artikel, komentar, cerita kehidupan sehari-hari. Pokok’e nulis. Selanjutnya saya pun mulai belajar menulis prosa dan artikel ringan di buletin Dirosati yang diterbitkan oleh Pesma Baitul Hikmah dan buletin musholla Nurul Hidayah. Dan tentu saya menulis skripsi sebagai syarat mendapatkan gelar S.Hum. sarjana humor…. Hehe. Sarjana Humaniora.

Saya merasa bahwa saya semakin butuh untuk menulis. Semakin banyak menulis saya merasa semakin mengerti seperti apa diri saya sebenarnya dan menyadari apa sebenarnya yang saya pahami dan saya tidak pahami. Saya pun pernah mengikuti pelatihan menulis artikel. Pelatihan ini mengobarkan semangat menulis yang membara di dalam diri saya namun sayangnya saya –sampai sekarangpun- kurang bisa mengaplikasikan isi pelatihan itu. Mungkin karena materinya berat bagi saya yang belum terbiasa menulis artikel serius; menulis artikel di koran. Tu ..tu.. yang biasanya ada di rubrik opini. Atau sayanya aja yang kurang serius belajar menulis opini yang logis dan sistematis. Hingga saya bertemu Kostas Retsikas. Seorang dosen antropologi dari SOAS London yang berkwarganegaraan Yunani. Saya ditawari menjadi asisten penelitiannya dan saya pun mau. Pikir saya, beruntung sekali saya bisa belajar langsung dengan seorang Doktor antropologi yang disertasinya tentang Orang Padalungan di Probolinggo meraih penghargaan sebagai disertasi di bidang Antropologi terbaik se United Kingdom sepuluh tahun yang lalu. Hampir setiap hari saya melihat dia menulis fieldnotes tentang apapun yang dia alami selama penelitian. Apakah ketika ketemu aku, ketika menonton acara TV yang menarik, ketika refreshing di mall, ketika melihat poster yang bagus atau ketika mengikuti kegiatan bersama lembaga-lemabaga zakat di Surabaya. Saya melihatnya asik sekali punya tulisan seperti itu. Saya pun mencoba mempraktekkannya sedikit demi sedikit. Dan sejak awal Maret 2012 yang lalu saya berazam untuk menulis setiap hari, menimal dua hari sekali. Menulis apa pun yang saya alami sehari-hari. Insyaallohu ta'ala.

Beruntung sekali akhir Maret 2012 yang lalu saya bertemu dengan buku Mengikat Makna Sehari-hari di salah satu toko buku yang berlokasi di Ngagel. Apalagi pas dapat diskon 40%, langsung saya beli buku ini dan sampai rumah langsung mulai saya baca. Ternyata Pak Hernowo menawarkan sesuatu yang benar-benar menyenangkan bagi orang seperti saya yang baru belajar menulis. Di bagian awal buku ini Pak Hernowo menceritakan manfaat kegiatan “membaca-menulis” bagi beliau pribadi sesuai dengan apa yang beliau alami.

Sebenarnya saya bisa disebut sebagai orang yang cukup keranjingan dalam membaca. Saya membaca koran; Republika dan Kompas, akhir-akhir ini malah bertambah Jawa Pos, membaca majalah; majalah Islamia, Hidayatullah, Aula, al-Wa’i, dan beberapa bulan terakhir majalah Tempo yang saya dapat dari Kostas, buletin, artikel dan berita di internet dan tentunya al-Quran, kitab tafsir, hadits, fiqh, akhlaq dan tasawwuf, buku filsafat, buku pendidikan, buku tentang belajar dan mengajar, buku tentang manajemen dan kepemimpinan, novel, cerpen, buku-buku agama Islam, fatwa-fatwa, dan tentunya buku pelajaran ketika kuliah di Sastra Inggris Unair. Hampir setiap bulan saya berkunjung ke toko buku untuk mengicipi buku-buku di sana dan membeli beberapa buku sesuai dengan kapasitas kantong saya. Dan sekarang pun buku-buku itu tertata di dua buah lemari yang ada di Pesma Baitul Hikmah. Sebagian sudah saya pulangkan ke Madiun sehingga menjejali lemari di rumah dan sebagian yang lain saya bawa ke pondok pesantren Darul Hikmah tempat saya mukim sekarang. Namun entah mengapa saya merasa ada yang kurang dalam diri saya. 

Lebih lagi, saya juga merupakan pembicara yang –menurut orang- cukup bagus. Kalau tidak, kenapa mereka yang pernah mengundang saya untuk mengisi materi kok mengundang lagi di lain waktu? Selain mengajar dan mbalah ngaji, saya punya hobi mendongeng, terutama sejak bertemu dengan guru dongeng saya; Ki Heru Cokro. Saya juga termasuk orang yang disebut banyak ngomong, suka diskusi, dan beberapa kali  mengisi materi tentang manajemen dan kepemimpinan, tentang remaja, dan motivasi pendidikan. Namun lagi-lagi, saya merasa ada yang kurang dalam diri saya. Beberapa waktu saya cari-cari apa kekurangan itu. Ternyata yang kurang itu adalah mengamalkan..!! Ya, harusnya buku-buku yang saya baca itu benar-benar bisa menggerakkan saya menjadi lebih baik. Lebih bermanfaat. Harusnya apa-apa yang saya katakan itu sudah saya amalkan dengan konsisten. Kalau saya saja belum mengerjakannya dengan istiqomah, kenapa saya berani-beraninya menyarankan orang lain untuk mengamalkannya?!

Kemudian, ini juga sangat penting, yang kurang lagi dalam diri saya adalah menulis..!! Saya bisa baca dan bicara, tapi saya lemah dalam menulis. Entah mengapa, sejak beberapa bulan ini, saya merasa bahwa saya perlu untuk belajar lebih keras lagi agar bisa menulis lebih baik dan lebih banyak. Saya pun akhirnya bertemu dengan buku Mengikat Makna Sehari-hari ini. Di dalam buku ini Pak Hernowo menyebutkan manfaat membaca-menulis yang sudah beliau rasakan sendiri. Jadi buku ini memang sangat subjektif, apalagi penulisnya menggunakan kata ganti orang pertama “saya”, namun dengan begitu justru buku ini sangat jujur. Menjelaskan apa adanya. Bukan hanya bersumber dari teori saja tapi juga pengalaman hidup sang penulis yang benar-benar penulis alami sendiri.

Pak Hernowo menyampaikan bahwa membaca-menulis itu bisa menata pikiran, memahami diri sendiri, memberikan sugesti positif, merumuskan argumen, dan menajamkan pikiran. Hal yang menurut saya pribadi penting bagi saya adalah bahwa membaca dan terutama menulis akan bisa membantu saya memahami diri saya sendiri. Siapa sebenarnya saya, apa sebenarnya yang saya pikirkan dan saya rasakan, dan apa sebenarnya yang saya benar-benar pahami dan tidak.

Kata Pak Hernowo, membaca-menulis bisa mengasah daya ingat, merekam memori penting, meninggalkan jejak pikiran yang jelas dan menyembuhkan diri. Selain itu membaca-menulis juga bisa meningkatkan kemampuan komunikasi, mengenal detail diri dan mendidik sang penulis untuk jujur. Ketika menulis, saya hanya berkomunikasi dengan diri saya sendiri, apa yang saya tulis itu benar-benar ada pada diri saya apa tidak, hanya saya, dan Allah ta’ala tentunya, yang tahu. Hal ini melatih saya untuk jujur apa adanya dalam menyampaikan sesuatu. Namun yang paling penting, saya jujur kepada diri saya sendiri.

Lebih lanjut Pak Hernowo mengatakan bahwa manfaat membaca-menulis yang pernah beliau rasakan adalah mengefektifkan pengelolaan diri. Yang masuk dalam hal ini adalah menulis rencana, impian, target, dan  tujuan hidup. Dengan menuliskan secara detail apa yang sebenarnya ingin beliau capai dalam hidup, lebih mudah bagi beliau untuk mengerti apa sebenarnya yang beliau inginkan dan dengan begitu lebih mudah juga bagi beliau dalam mencapai target-target hidupnya itu. Terakhir, manfaat yang didapat oleh Pak Hernowo dari membaca-menulis adalah menjadikan beliau lebih bermakna. Bermakna bagi diri sendiri dan orang lain. Sedikit bukti, dalam rentang tahun 2000-2005, tak kurang dari 24 buku berkualitas yang beliau tulis dan memiliki tempat istimewa di hati para pembaca.

Pak Hernowo sebenarnya ingin berbagi pengalaman bahwa kegiatan membaca-menulis itu adalah kegiatan yang ringan-menyenangkan serta penuh manfaat. Kemudian kegiatan membaca-menulis ini terkait erat dengan apa yang namanya kreatifitas. Kreatifitas, menurut beliau adalah sebuah keunikan yang membedakan seseorang dengan orang lain. Kreatifitas yang menawarkan ide baru, terus berkembang dan dapat mempengaruhi orang lain merupakan kreatifitas yang bernilai tinggi. Kegiatan membaca-menulis  inilah yang disebut Pak Hernowo sebagai “Mengikat Makna”.

Agar bisa memulai kegiatan membaca-menulis dengan ringan dan menyenangkan, temukan dulu AMBAK-nya. Apa Manfaatnya BAgi Ku..??!! Semakin banyak manfaat yang diketahui dan disadari akan bisa didapat, semakkin bagus. Hal itu akan membantu kita untuk mensetting pikiran bahwa kegiatan membaca-menulis yang kata sebagian orang merupakan kegiatan yang berat itu menjadi sesuatu yang ringan karena toh kita akan mendapatkan manfaat yang banyak, manfaat yang besar..!!


Bacalah bahan bacaan yang kamu sukai. Membaca bukan hanya merupakan proses mengumpulkan informasi tetapi lebih pada proses diskusi. Ketika membaca kita melibatkan pengetahuan, pengalaman hidup, dan bahkan perasaan kita. Bacalah bahan bacaan yang manfaatnya bisa langsung kamu rasakan. Pastikan bahwa kamu mendapatkan manfaat dari bacaanmu. Kemudian tulislah manfaat dari bacaan itu. 


Menulis sesungguhnya tidak semata-mata bertujuan untuk menerbitkan tulisan di media masa atau menerbitkan buku. Hal itu terlalu berat. Menulis adalah untuk mengenal diri sendiri lebih dalam dan lebih dekat. Menulis adalah untuk mengembangkan diri. 


Miliki buku harian. Menulislah setiap hari di buku harian itu. Tulislah tentang apa saja yang kamu alami pada hari itu. Tulislah apa yang kamu pikirkan dan kamu rasakan. Selain membantu kita untuk menulis dengan flow, menulis buku harian juga bisa melembutkan hati sekaligus meneguhkan diri. Kita bisa melihat perkembangan diri kita dari hari ke hari dengan membaca buku harian kita.


Menulislah..!!
Praktekkan. Praktekkan. Praktekkan.
Kerjakan. Kerjakan. Kerjakan..!!
Jadikan kegiatan membaca dan terutama menulis sebagai kegiatan rutin setiap hari. Dan rasakan manfaatnya..!!
Semoga bermanfaat. [tj]