Tampilkan postingan dengan label pendidikan nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan nasional. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2013

Belajar Parenting dari Ayah Ibrahim


Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Pada kesempatan yang baik kali ini marilah sejenak kita menengok perjalanan hidup seseorang yang mendapat julukan “kekasih Allah” (khalilullah), seseorang yang menjadi bapaknya para nabi. Bahkan Allah ta’ala memuji beliau sebagai seseorang yang layak menjadi tauladan. Siapakah orang itu? Benar. Beliau adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا (۱٢۵)
“Dan Allah mengangkat Ibrahim sebagai kekasih.” (An-Nisa`: 125)

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
 “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada (Nabi) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia….” [al-Mumtahanah: 4]
Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Namun pada kesempatan yang singkat ini, saya mengajak Anda untuk belajar kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam hal mendidik keluarga. Apa saja pelajaran tentang pendidikan keluarga yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam?
Pertama, berdoa kepada Allah ta’ala agar diberi keturunan yang sholih.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (۱۰۰)  فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (۱۰۱)
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar“ (ash Shoffat: 100-101)
Sudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh orang tua adalah kenakalan anak-anak, terutama ketika mulai memasuki masa remaja. Bahkan ada yang bilang, kenakalan remaja sekarang sungguh di luar batas, sungguh mengherankan, sungguh tak pernah terbayangkan, sungguh mengiris-iris hati, sungguh terlalu..!! Mulai dari suka bolos sekolah, suka berantem, suka ngerokok, suka minum miras, suka narkoba, suka mencuri, suka merampok, suka mendekati zina, suka berbuat zina, suka menjual teman sekolah untuk para pezina, suka ninggalin sholat, dan suka-suka yang lain... Sungguh, Na'udzu billah min dzalik...
Pada bulan Syawwal 1434 H yang lalu, saya mengikuti Istihlal jama'ah pengajian al-Kayyis di ndalem Ust. H. Junaidi Sahal di daerah Jemursari. Di dalam taushiyah acara tersebut, Abina KH. M. Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa seorang mukmin itu sudah diberi senjata yang maha ampuh oleh Allah ta'ala untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup, bahkan sebelum persoalan itu datang. Senjata yang maha ampuh itu adalah DOA. 
Sederhana saja. Kita mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini -semuanya- tidak terlepas dari "tangan" kekuasaan dan kehendak Allah ta'ala. Jika kita datang kepada Allah ta'ala, mengakui ke-sangatkurang-an kita, mengakui ke-sangatlemah-an kita, mengakui ke-sangatbutuh-an kepada -Nya, kemudian kita menghaturkan hajat kita dan Allah ta'ala mengabulkannya, maka bereslah permasalahan hidup kita. Sesederhana itukah?
"Barangsiapa mengetuk pintu terus menerus, niscaya dia bisa memasukinya"
Olehkarena itu, selayaknya kita berdoa kepada Allah ta’ala bukan hanya ketika kita menghadapi masalah saja... tetapi kita berdoa kepada Allah sebelum masalah itu datang, kita berdoa kepada Allah setiap saat, kita berdoa kepada Allah sebagai sarana munajat kita kepada-Nya...
Kembali kepada permasalahan kenakalan remaja yang sering dikeluhkan oleh orang tua. Ada sebuah pertanyaan yang ingin kami sampaikan. Apakah dulu sebelum menikah, ketika menikah, ketika memproses wujudnya anak, ketika hamil, ketika anak baru saja lahir, ketika remaja itu masih balita, ketika remaja itu masih berupa anak yang belum baligh, para ayah dan bunda senantiasa berdoa kepada Allah ta'ala? Berdoa agar Allah ta'ala menjadikan anak-anak ayah-bunda anak-anak yang sholih sholihah, anak-anak yang baik?
Kepada siapa saja yang berharap anak-anak yang sholih-sholihah, anak-anak yang baik, Allah ta'ala telah menyiapkan untuk kita semua sebuah senjata yang maha ampuh. Dahulu kala Bapak kita, nabi Ibrahim 'alaihissalam, menggunakan senjata yang maha ampuh ini. Beliau pun terkenal sebagai Bapak para Nabi karena keturunan beliau banyak yang diangkat oleh Allah ta'ala menjadi nabi. Diantaranya adalah Nabi Ishaq, Nabi Ismail, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Ayyub, Nabi Dzul Kifli, Nabi Syu’aib, Nabi Yunus, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Isa, serta Nabi Muhammad ‘alahimush sholatu wassalam. Senjata yang maha ampuh itu adalah doa:
رَبّ هَبْ لِى مِنَ الصَالِحِيْن
"robbi hab li minash-sholihin..."
-wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (anak-anak) yang termasuk orang-orang yang sholih-
Selain itu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga berdoa:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (۴۰)
“robbij’alni muqimash-sholati wa min dzurriyyati robbana wa taqobbal du’a`”
-wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan sholat, dan juga keturunanku. Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doaku- (QS. Ibrahim: 40)
Saya yakin bahwa kita semua menginginkan anak-anak yang sholih-sholihah. Merekalah sumber kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Ketika kita masih hidup, mereka berbakti dengan berbuat baik kepada kita, memandang wajah kita dengan tatapan kasih sayang, berbicara kepada kita dengan bahasa yang menyenangkan dan senantiasa berusaha membahagiakan kita. Ketika kita sudah meninggal dunia, mereka berbakti kepada kita dengan senantiasa berdoa dan memohonkan ampun untuk kita.
Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam pernah bersabda, ” Apabila manusia mati, terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: Shadaqah jariah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan untuk orang tuanya.”(HR.Muslim dari Abu Hurairah)
Lebih lanjut, Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa setelah meninggal dunia, derajat orang masih bisa diangkat. Si mayit yang merasa diangkat derajatnya terkejut dan berkata,” Ya Allah, apa ini?” maka akan dijawab, ” Itu karena anakmu selalu memintakan ampun untukmu.” (HR.Bukhori dalam Adab al-Mufrad, dari Abu Hurairah).
Yakin dalam berdoa
Salah satu hal yang sangat penting adalah, kita harus yakin dalam berdoa. Yakin terhadap ke-MahaBesar-an Alloh ta’ala. Yakin bahwa Alloh ta’ala Maha Mampu mewujudkan doa-doa kita.
Al-‘Alim Sufyan bin Uyainah pernah mengatakan:
“Jangan sekali-kali pesimis dalam berdoa. Optimislah. Iblis saja doanya dikabulkan, ketika dia minta umur yang panjang”.
Nah, Iblis saja doanya dikabulkan oleh Alloh ta’ala. So. Yakin, yakin, yakin..!!
Sabar dalam berdoa
Nabi Ibrahim diberi karunia oleh Alloh ta’ala, berupa anak yang sangat sabar yaitu Nabi Isma’il, ketika beliau berusia 86 tahun. Benar. Sudah cukup sepuh. Namun begitulah. Beliau sangat sabar dalam berdoa. Beliau tidak pernah putus asa. Beliau tidak pernah berhenti. Beliau sangat ngeyel dalam berdoa. Beliau senantiasa berbaik sangka kepada Alloh ta’ala. Sungguh, Alloh ta’ala Maha Mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.
Saudaraku. Marilah kita menteladani Ayah kita, Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala agar diberi keturunan yang sholih-sholihah. Kapan kita berdoa? Kapan pun dan di mana pun. Lebih sering lebih baik. Terutama setiap selesai sholat fardlu karena waktu tersebut merupakan salah satu waktu yang mustajabah.

Kedua, mengajarkan ketauhidan kepada anak
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (۱۳۱) وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (۱۳٢)
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (al Baqoroh: 131 – 132)
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Sebagai orang tua, kita wajib untuk memenuhi kebutuhan anak kita. Selain memenuhi kebutuhan berupa baju, makanan dan tempat tinggal, orang tua juga harus memperhatikan pendidikan anak, terutama pendidikan tauhid. Orang tua perlu mengenalkan Allah ta’ala kepada anaknya sedari dini. Orang tua semestinya senantiasa berusaha agar anak-anaknya mengenal Allah ta’ala, mengetahui kewajiban mereka kepada-Nya, memahami hak-hak Allah ta’ala terhadap mereka, sehingga mereka kelak tumbuh di bawah naungan cahaya ketuhanan.
Mari kita jujur. Berapa banyak waktu yang kita luangkan, tenaga dan pikiran yang kita curahkan, serta harta yang kita belanjakan untuk mendidik anak kita agar mengenal dan senentiasa dekat dengan Allah ta’ala? Bandingkan dengan waktu, tenaga, pikiran, dan harta yang kita habiskan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan anak. Padahal, ketauhidan dan keterikatan kepada Allah ta’ala inilah yang akan menjadi kontrol bagi anak-anak kita agar senantiasa melakukan kebaikan dan meninggalkan kema’shiatan. Ketauhidan inilah yang menjanjikan kebahagiaan dan keselamatan anak-anak kita di dunia dan akhirat.
Ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberikan teladan bahwa hendaknya orangtua mengajarkan ketauhidan kepada anaknya. Salah satu efeknya bisa kita lihat dalam ayat berikut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (۱۰٢)
“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada Anda; insyaallah Anda akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As Shofat : 102)
SubhanAllah… Itulah jawaban yang keluar dari mulut seorang anak yang tumbuh dalam bimbingan ketauhidan. Walaupun perintah itu sangat berat, karena keyakinannya kepada Allah ta’ala, karena husnudzonnya kepada Allah ta’ala, sang anak menjawab pertanyaan ayahnya dengan mantap tanpa sedikitpun keraguan, “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan –oleh Allah- kepada Anda”.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Alkisah, ada seorang guru yang memanggil semua muridnya. Guru tersebut memberikan seekor burung kepada setiap murid dan menyuruh mereka menyembelih burung itu. Sang guru mengingatkan, “Kalian harus menyembelihnya di sebuah tempat yang tidak dilihat dan diketahui oleh siapa pun.”
Maka para murid pun berangkat melaksanakan tugas yang diberikan gurunya. Di antara mereka ada yang pergi ke puncak bukit. Ada yang pergi ke gua terpencil. Bahkan ada yang pergi ke balik pepohonan tinggi yang tersembunyi. Ketika merasa tak ada yang melihat, mereka segera menyembelih burung yang dibawanya.
Tak lama kemudian, mereka kembali dengan membawa burung sembelihannya. Kecuali satu murid. Sang Guru lalu bertanya kepadanya," Kenapa kamu tidak menyembelih burung itu?"
Murid tersebut menjawab, "Tadi guru menyuruhku menyembelih burung di tempat yang tak terlihat oleh siapa pun. Tapi, aku tak dapat menemukan tempat seperti itu. Allah kan Maha Melihat dan akan melihat perbuatanku."
Itulah gambaran seorang anak yang hidup dalam keterikatan dengan Allah ta’ala. Kapan pun dan di mana pun, sang anak merasa senantiasa diawasi oleh Allah ta’ala.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Sungguh. Setiap anak lahir dalam keadaan fitroh, memiliki kecenderungan kepada Allah ta’ala. Setiap anak terlahir dengan membawa anugerah berupa kecenderungan berbuat baik. Mungkinkah, ketika anak kita lahir, di benaknya terbesit, “aku ingin menjadi anak nakal”, “aku ingin melawan orang tuaku”, “aku ingin berma’shiat kepada Alloh”? Mungkinkah hal seperti itu terjadi?
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi….
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Marilah kita menteladani ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dalam mendidik anak. Diantaranya adalah dengan senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala agar dianugerahi anak dan keturunan yang sholih serta mengajarkan ketauhidan kepada anak. Semoga Allah ta’ala memberikan pertolongan kepada kita sehingga kita mampu menteladani ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dalam mendidik anak-anak kita. Amin.
[tije/LP2A PBSB Kemenag]


Kamis, 24 Januari 2013

Segera Tinggalkan Sekolah..!! (introduction)


Suatu hari di Sekolah XXX kelas A

Pak Guru : Assalamua'alaikum anak-anak
Murid-Murid : Wa'alaikumsalam Pak Guru.
Pak Guru : anak-anak hari ini kita belajar Trigonometri. Silahkan buka buku paket halaman 56.
(kemudian pak guru menjelaskan apa itu Trigonometri. Menuliskan rumusnya di papan tulis. memberikan contah soal. mengerjakan contoh soal. kemudian...)
Pak Guru : anak-anak, sudah paham? ada yang ditanyakan?
Murid-Murid : sssttt ........... (diam tidak menjawab)
Pak Guru : anak-anak, silahkan buka LKS. kerjakan soal-soal halaman 24-25.
(dan anak-anak pun segera melaksanakan apa yang Pak Guru perintahkan. sampai ketika...)
Pak Guru : anak-anak. waktu habis. silahkan dikumpulkan. sampai ketemu anak-anak. assalamu'alaikum ...
Murid-Murid : Wa'alaikum salam Pak Guru.

Suatu hari di Sekolah XXX kelas B

Bu Guru : Assalamu'alaikum anak-anak
Murid-murid : wa'alaikum salam bu Guru.
Bu Guru : anak-anak, hari ini kita belajar Past Tense. Rumus Past Tense adalah S + V2. contoh... I went to school.
(begitulah seterusnya... kemudian bu Guru menjelaskan apa kegunaan PastTense itu)
Bu Guru : anak-anak. PastTense digunakan untuk menyatakan aktifitas yang terjadi pada masa lampau.
(Bu Guru pun menunjukkan beberapa contoh kalimat yang semula Present Tense kemudian dirubah menjadi PastTense. kemudian...)
Bu Guru : anak-anak, ada pertanyaan?
Murid-Murid : ssstttt.... (diam tidak bersuara)
Bu Guru : baiklah. sekarang buka LKS kalian. kerjakan soal-soal halaman 35-36. nanti dikumpulkan sebelum bel istirahat.
(murid-murid pun mengerjakan soal-soal di LKS, hingga pada saat...)
Bu Guru : oke anak-anak. waktu habis. silahkan LKSnya dikumpulkan. see you... assalamualaikum
Murid-murid : wa'alaikumsalam. Horey!! istirahat..


Seperti itulah proses yang disebut sebagai "belajar - mengajar" yang terjadi di sekolahan XXX. Bagaimana dengan sekolah Anda? Seperti itukah?
Lalu apa yang diharapkan dari sekolah jika yang dilakukan di dalam kelas-kelas hanyalah aktifitas semacam itu? Apakah hal-hal tersebut bermanfaat bagi murid di kehidupannya saat itu dan di masa depannya? Apakah model pengajaran seperti itu bisa membekali murid untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan hidupnya?


Tahan sebentar....
Sampai ketemu di kesempatan selanjutnya. Semoga kita diberi Alloh ta'ala panjang umur yang barokah. Amin.


Selasa, 24 April 2012

Memaknai Hari Pendidikan Nasional


“Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya” (Dr. G. J. Niewenhuis)

Setiap tanggal 2 Mei kita bangsa Indonesia memperingati hari pendidikan nasional. Sebenarnya bukan peringatan seremonialnya saja yang perlu kita rayakan dengan kegiatan-kegiatan bertema pendidikan; seperti menulis artikel-artikel, membuat poster pendidikan, lomba-lomba bertema pendidikan dan karnaval pendidikan. Namun yang lebih penting –setidaknya menurut saya- adalah evaluasi yang serius apakah proses pendidikan kita sudah benar dan tepat sehingga memungkinkan untuk mengantarkan anak didik menuju tujuan pendidikan yang telah dicanangkan. 

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU SISDIKNAS), Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan tujuan besar tersebut Kementerian Pendidikan Nasional pada periode 2010-2014 menetapkan visi Terselenggaranya Layanan Prima Pendidikan Nasional untuk Membentuk Insan Indonesia Cerdas Komprehensif. Insan Indonesia cerdas komprehensif adalah insan yang cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual dan cerdas kinestetis. 

Menurut saya tujuan pendidikan yang dicanangkan oleh pemerintah melalui undang-unadang kita ini sungguh sangat mulia karena tujuan akhirnya adalah membentuk pribadi yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan dalam konsep Islam yaitu membentuk manusia menjadi hamba Allah dan khalifatullah. Tujuan pendidikan Islam adalah mengantarkan manusia menjadi pribadi yang shalih ritual dan shalih sosial; manusia yang dekat dengan Allah ta’ala dan senantiasa menebar manfaat kepada sesama manusia. Selain itu, visi yang dicanangkan oleh kementrian pendidikan nasional pun terlihat sudah mempertimbangkan keberadaan konsep Multiple Intelligences yang diprakarsai oleh Dr. Howard Gardner dari Universitas Harvard dan juga konsep Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) yang di Indonesia dipopulerkan oleh DR. Ari Ginanjar. 

Pertanyaannya sekarang adalah apakah proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah dan juga di rumah sudah mencerminkan tujuan dan visi yang telah dicanangkan tersebut? Apakah manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlaq mulia benar-benar menjadi goal proses pembelajaran di sekolah? Apakah para Bapak dan Ibu guru sebagai panutan dan idola bagi para siswa di sekolah sudah memerankan diri sebagai orang yang beriman dan bertaqwa serta berakhlaqul karimah? Apakah siswa yang jujur dan bertanggungjawab dihargai sama dengan (atau lebih dari pada) anak yang mendapatkan nilai 100 untuk pelajaran IPA? 

Apakah bapak ibu di rumah selain memperhatikan nilai Matematika dan Bahasa Inggris sang anak juga mementingkan sholat dan ngaji si buah hati tersebut?? Apakah bapak ibu di rumah sudah mencontohkan akhlaq mulia seperti jujur, berkata sopan, lembut dalam bersikap, dan disiplin kepada anak sehingga anak lebih mudah untuk meniru akhlaq mulia dan menjadikannya sebagai sesuatu yang “biasa” dalam kehidupan sehari-hari di rumah? Apakah bapak ibu di rumah mau meluangkan waktu yang cukup untuk “dekat” dengan sang buah hati sehingga si anak senantiasa menjadikan bapak ibunya sebagai “tempat kembali”?? 

Apakah para pengajar di sekolah masih memandang dan meyakini bahwa ada murid yang pintar dan ada murid yang bodoh? Atau justru beliau memandang dan meyakini bahwa setiap murid adalah cerdas; ada yang cerdas bahasa, ada yang cerdas logika-matematika, ada yang cerdas kinestetik, ada yang cerdas musik, ada yang cerdas interpersonal, ada yang cerdas intrapersonal, dan ada juga yang cerdas natural?? Setiap anak memiliki bakat dan potensi yang unik. Setiap anak juga memiliki kecenderungan dan gaya belajar masing-masing yang berbeda satu dengan yang lain. 

Apakah proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah memperlakukan dan mengajar peserta didik sesuai dengan potensi mereka masing-masing? Apakah sistem penilaian guru di sekolah tidak hanya mementingkan aspek “hafalan”, tetapi juga aspek praktek dan prilaku sehari-hari? Apakah para guru “masih” suka marah kepada anak didik jika ada anak didik yang bandel dan tidak bisa mengerjakan soal? Apakah para guru mau dengan ikhlash menjadi “teman dekat” si anak didik sehingga beliau bisa mengetahui penyebab kenapa seorang murid bersikap kurang baik atau kesulitan dalam memahami pelajaran?? 

Tujuan pendidikan yang mulia di atas hanya akan menjadi angan-angan jika tidak dibarengi dengan perbaikan yang serius di berbagai aspek pendidikan. Tujuan pendidikan untuk membentuk pribadi yang beriman, bertaqwa, dan berkhlak mulia itu hanya akan menjadi slogan jika tidak didukung dengan sepenuh hati oleh semua komponen bangsa terutama para pengajar di sekolah, orang tua di rumah, dan tentunya para pemimpin baik di masyarakat maupun di pemerintahan. Semoga anak-anak didik kita kelak menjadi pribadi yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Semoga buah hati kita kelak menjadi manusia yang cerdas spiritual, emosional, dan intelektual. Amien. [tj]