Tampilkan postingan dengan label Idul fithri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idul fithri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juli 2016

Idul Fitri BUKAN Kembali Suci


Sebagian orang menerjemahkan kata Idul Fitri ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘kembali suci’. Apakah penerjemahan tersebut benar?
Kata Idul Fitri berasal dari bahasa arab ‘id al-fihtr (عِيْدُ الْفِطْرِ). Kata ‘id (عِيْدٌ) berarti hari raya (Kamus Muthahar, hal. 783-784).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا أَبَا بَكْرِ، إِنَّ لِكُلَّ قَوْم عِيْدًا، وَهَذَا عِيْدُنَا
“Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap umat memiliki hari raya. Dan (hari) ini adalah hari raya kita”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hari Raya Natal dalam bahasa arab disebut ‘idul milad (عيد الميلاد), artinya Hari Raya Kelahiran. Hari Raya Kemerdekaan disebut ‘idul istiqlal (عيد الاستقلال). Jadi ‘id bukan berarti ‘kembali’. Hari Raya disebut ‘Id karena hari tersebut dirayakan berulang-ulang setiap tahun. Selain Idul Fitri, umat Islam memiliki hari raya yang lain, yaitu ‘Id al-Adlha (عِيْدُ الْأضحى). Idul Adha berarti Hari Raya Hewan Sembelihan, bukan ‘kembali kepada hewan sembelihan’.  
Kata ‘kembali’ dalam bahasa arab adalah ‘ada – ya’udu – ‘audatan (عاد – يعود - عودة). Sekilas hurufnya memang ada kemiripan, tetapi makna kata ‘id dan ‘audah jauh berbeda dan penggunaanya pun tidak sama.
Selanjutnya, kata fithr (فِطْرٌ) berarti makan, buka, sarapan (Kamus Muthahar, hal. 827-828). Lihatlah penggunaan kata al-fithr dalam beberapa hadits di bawah ini.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan; bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika berjumpa Tuhannya” . (HR. Bukhari Muslim)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الصَّوْمُ يَوْمٌ تَصُوْمُوْنَ وَالْفِطْرُ يَوْمٌ تُفْطِرُوْنَ وَالْأَضْحَى يَوْمٌ تضحون
“Shaum/puasa adalah hari kalian berpuasa, (‘Id) al-Fithri adalah hari kalian berbuka, dan (‘Id) al-Adlha adalah hari kalian menyembelih.” (Sunan at-Tirmidzi no. 697)
Kata fithr berbeda dengan fithrah (فِطْرَةٌ). Sekilas hurufnya memang mirip, tetapi makna dan penggunaannya berbeda. Kata fithrah bermakna kesucian, agama yang lurus, dan naluri. Lihatlah penggunaan kata fithrah dalam beberapa hadits di bawah ini. Bandingkan dengan penggunaan kata fithr di atas.
عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأْظْفَارِ وَغَسْل الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإْبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ
“Ada sepuluh hal dari fithrah (kesucian), yaitu memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan istinjak (cebok) dengan air.” (HR. Muslim).
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ وُلِدَ عَلىَ الفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِهِ
Tidak ada bayi yang terlahir kecuali lahir dalam keadaan fithrah (beragama lurus, yakni muslim). Lalu kedua orang tuanya yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi. (HR. Muslim)
Oleh karena itu, kata ‘id al-fihtri jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti Hari Raya Makan atau Hari Raya Berbuka. Pada hari Idul Fitri (tanggal 1 Syawwal) umat Islam diperintahkan untuk makan dan diharamkan berpuasa. Bahkan salah satu sunnah pada hari raya Idul Fitri adalah makan (sarapan) sebelum melaksanakan shalat ‘id.
Diriwayatkan dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
كَانَ النَّبِيُّ لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ
“Nabi tidak keluar (untuk shalat ‘Id) pada hari Idul Fitri sehingga beliau makan terlebih dahulu”. (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibu Majah)
Kesalahan penerjemahan kata Idul Fitri ternyata mengakibatkan kekeliruan pemahaman akan makna Idul Fitri dan munculnya tradisi dan kepercayaan yang kurang sesuai, bahkan bertentangan, dengan ajaran Islam. Karena mengartikan Idul Fitri sebagai ‘kembali suci’, banyak orang Islam yang menyangka bahwa pada hari Idul Fitri mereka kembali suci, dosa-dosa mereka semuanya diampuni. Kemudian orang-orang ini mengadakan berbagai macam pesta pora; pesta petasan, kembang api, musik, film spesial, belanja, dan pesta-pesta yang lain.
Kami ingin bertanya, dari mana Anda bisa merasa bahwa Anda kembali suci? Apakah Anda bisa memastikan bahwa puasa dan amal ibadah Anda selama di bulan Ramadhan diterima oleh Allah ta’ala? Apakah Anda bisa memastikan bahwa dosa-dosa Anda sudah diampuni oleh Allah ta’ala? Apakah amal ibadah yang Anda lakukan benar-benar sudah sesuai dengan syari’at? Apakah amal ibadah yang Anda lakukan benar-benar ikhlash HANYA karena Allah ta’ala?
Bukankah pada bulan Ramadhan kemarin Anda masih saja berbuat dosa? Masih melihat sesuatu yang diharamkan oleh Allah, masih berbohong, masih menggunjing (ngerasani), masih berkata keji dan kasar, masih menyakiti orang lain? Bukankah di dalam hati masih ada riya` (ingin dilihat orang lain) ketika shalat di masjid, bersedekah, berinfaq, ataupun membayar zakat? AYO JUJUR..!!
Jangan sombong..!! Jangan merasa sok suci. Allah ta’ala mengingatkan kita.
﴿...فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى﴾ {النجم: ٣٢}
“…Janganlah kalian merasa suci. Dia Maha Mengetahui siapa yang bertaqwa”. (QS. An-Najm: 32)
Justru setelah Ramadhan berakhir kita dianjurkan, dengan penuh rasa rendah hati, memperbanyak do’a:
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Taqobbalallohu minna wa minkum
Semoga Allah menerima (ibadah) kami dan kalian”. (Diriwayatkan dari Jubair bin Nufair. Lihat Fiqhussunnah: I/274)
Dalam Lathaiful Ma’arif, hal. 264, Ibnu Rajab al-Hanbali mengutip perkataan Mu’alla bin Fadl;
 “Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka ketika di bulan Ramadhan.”
Merasa senang dengan hadirnya Hari Raya boleh-boleh saja. Namun jangan sampai kelewat batas. Jangan sampai malah memperbanyak dosa melalui acara-acara yang mengandung ma’shiat. Jangan sampai malah lupa dari apa yang dianjurkan oleh agama; memperbanyak takbir, tahlil, dan tahmid, serta doa:
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Wallahu a’lam bish-shawab.

(M. Tajuddin, S.Hum. –Staf Pengajar Pesma Baitul Hikmah)

Senin, 19 Agustus 2013

Memaknai Istihlal


Memaknai Istihlal
Pada bulan Syawwal jamak dijumpai umat Islam di Indonesia menyelenggarakan Istihlal (sebagian orang menyebutnya halal bi halal). Kata istihlal merupakan bentuk masdar dari kata istahlala (‘ala wazni istaf’ala) yang berfaedah “tholab”, artinya “minta halal”. Sama dengan kata istighfar (istaghfaro) yang berarti minta ampun. Jadi “istihlal” berarti minta halal (atas kesalahan yang pernah diperbuat).
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ اَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ الْيَوْمَ     - رواه البخارى
Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “barang siapa mempunyai dosa kedholiman terhadap kehormatan saudaranya atau apa pun darinya, maka hendaklah dia meminta halal dari dosa tersebut pada hari ini”.
Namun memang, minta halal (minta dimaafkan) atas kesalahan atau kedholiman yang telah diperbuat ini hendaknya tidak hanya kita lakukan ketika momen idul fithri atau bulan Syawwal, tetapi kapan saja kita berbuat salah atau dholim, hendaknya kita segera minta dihalalkan (dimaafkan).
Lalu, apa sebenarnya makna yang terkandung dalam Istihlal?
Guru kami, KH. M. Ihya Ulumiddin pernah menyampaikan bahwa Ihtihlal itu hendaknya kita maknai sebagai momentum "pengakuan". Iya, pengakuan. Kita mengakui bahwa kita banyak dosa dan salah kepada Alloh ta'ala. Kita mengakui bahwa kita punya banyak kesalahan dan kedholiman kepada saudara dan sahabat kita. Kita ngaku, dan kemudian minta maaf. 
Kita ngaku bahwa kita belum bisa maksimal dalam memanfaatkan madrasah Romadlon. Kita masih bolong jama'ah sholat fardlunya. Kita masih bolong qiyamul-lailnya. Kita masih bolong tilawah al-Qurannya. Kita masih bolong infaq-shodaqohnya. Iya, memang benar kita berpuasa, menahan lapar dan haus. Tapi kita belum bisa maksimal untuk menahan diri dari perkataan kotor, perkataan yang tidak berguna, perkataan yang menyakitkan orang lain. Kita belum bisa berpuasa dari "ngerasani" (ghibah) dan dusta. Kita masih sering berbohong (kecil). Kita belum bisa berpuasa dari iri-dengki. Kita belum bisa berpuasa dari riya` dan sum'ah, 'ujub dan takabbur. Ayo kita NGAKU..!!
Astaghfirullohal'adhim...
Sementara orang menganggap bahwa frase ‘Id al-Fithri berarti “kembali ke suci”. Hal ini –mungkin- didasarkan kepada sebuah hadits yang menjelaskan bahwa barang siapa berpuasa Romadlon dengan iman dan ihstisab (mengharap ridlo Alloh ta’ala) maka diampuni dosanya yang telah lampau. Sehingga beberapa orang tersebut mengganggap bahwa orang yang dia beri ucapan selamat ‘Id al-Fithri adalah orang yang diampuni segala dosa-dosanya yang telah lampau. Apakah hal tersebut benar? Agaknya kita tidak bisa membenarkan argumen tersebut begitu saja. Karena Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam pun mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa yang tidak memperoleh pahala apa pun kecuali hanya lapar dan dahaga karena dia tidak menjaga diri dari berkata kotor, berbohong, dan memfitnah ketika dia berpuasa.
Di samping hal tersebut, pemahaman bahwa idul fithri berarti “kembali ke suci” inilah yang mungkin menyebabkan banyak orang merasa gembira dan berpesta pora ketika bulan Romadlon habis dan bulan Syawwal tiba. Hal ini bisa kita saksikan di TV dan kehidupan sekitar kita. Ustadz Junaidi Sahal dawuh; Orang yang merayakan kemenangan belum tentu meraih kemenangan…
Apa makna ‘Id al-Fithri yang sebenarnya? Frase ‘Id al-Fithri عيد الفطر)) terbentuk dari dua kata, ‘Id yang berarti kembali, dan al-Fithri yang berarti sarapan atau berbuka. BUKAN al-fithroh ( الفطرة ) yang berarti; naluri, watak, asal kejadian, agama yang lurus, dan kesucian (Lihat Kamus Mutahar; Kamus Arab-Indonesia, hal: 828). Jadi frase selamat ‘Id al-Fithri bermakna “selamat sarapan atau berbuka kembali” yang menandai bahwa bulan Romadlon telah usai dan tibalah tanggal 1 Syawwal. Bukankah ketika hari Raya ‘Id al-Fithri kita diharomkan untuk berpuasa dan disunnahkan untuk sarapan? Agaknya makna seperti ini lebih rasional dan mendekatkan kita kepada pemahaman yang benar.
Lebih lanjut, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Turmudzi yang menjelaskan bahwa ‘Id al-Fithri adalah hari untuk berbuka.
عن أبي هريرة : أن النبي صلى الله عليه و سلم قال الصوم يوم تصومون والفطر يوم تفطرون والأضحى يوم تضحون
(Maksudnya) “Dari Abu Huroiroh rodliyallohu ‘anhu: Sesungguhnya Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda; shoum /puasa adalah hari kalian berpuasa, (‘Id) al-Fithri adalah hari kalian berbuka, dan (‘id) al-Adlha adalah hari kalian menyembelih.” (Sunan at-Tirmidzi no. 697)
Oleh karena itu, janganlah kita terlalu PeDe dengan merasa bahwa kita telah kembali suci setelah melewati bulan Romadlon. Sebaliknya, marilah kita bersikap tawadlu’. Marilah kita mengakui kesalahan dan kekurangan kita, terutama selama bulan Romadlon. Marilah kita senantiasa berdoa dan mendoakan saudara kita dengan doa:
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
taqobbalallohu minna wa minkum
(Maksudnya): “semoga Alloh menerima [ibadah, khususnya di bulan Romadlon] dari kami dan kalian”. (Diriwayatkan dari Jubair bin Nufair. Lihat Fiqhus sunnah: I/274)
Konon, dulu para sahabat Nabi mengamalkan doa ini selama kurang lebih 6 bulan. Jadi mulai tanggal 1 Syawwal sampai bulan Robi'ul Awwal, para sahabat Nabi, jika bertemu saudara dan sahabatnya, beliau mengucapkan doa "taqobbalallohu minna wa minkum".
Kenapa beliau-beliau sampek segitunya..??
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam ad-Daruquthni.
اِذَا سَلِمَتِ الْـجُمُعَةُ سَلِمَتِ الْأَيَّامُ, وَ اِذَا سَلِمَ رَمَضَانُ سَلِمَتِ السَّنَةُ
idza salimat al-jum'ah, salimat al-ayyam. idza salima Romadlon, salimat as-sanah.         
(Maksudnya): “Jika hari jum'at selamat, selamatlah hari-hari (selama sepekan), dan jika bulan Romadlon selamat, selamatlah (bulan-bulan selama) setahun”.
Muslim itu, jika jum'at nya selamat, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang pekan. Ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi kita umat Islam di Indonesia. Salah satu kerugian terbesar kita adalah jum'at tidak menjadi hari libur. Sehingga kita tidak bisa menggunakan hari jum'at untuk fokus mendekatkan diri kepada Alloh ta'ala. Kita masih disibukkan oleh sekolah dan pekerjaan. Kita pun akhirnya melaksanakan sholat jum'at dengan kurang sempurna; telat, ngantuk pisan.
Selanjutnya, mari kita perhatikan sabda Nabi kita tercinta. Muslim itu, jika bulan Romadlonnya selamat, bisa diartikan jika ibadah-ibadahnya di bulan Romadlon diterima oleh Alloh ta'ala, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang tahun. Nah, inilah rahasianya kenapa para sahabat Nabi itu dengan segitunya mengamalkan doa "taqobbalallohu minna wa minkum" sampai 6 bulan pasca Romadlon. Jadi jika doa tersebut dikabulkan oleh Alloh ta'ala, maka efeknya akan ruarrr biasa bagi kehidupan para sahabat itu; selamat sepanjang tahun. Siapa yang gak mau..??
Maka, marilah kita mentauladai para sahabat Nabi yang mulia itu. Mari kita senantisa berdoa dan mendoakan saudara dan sahabat kita dengan doa "taqobbalallohu minna wa minkum". Semoga doa kita dikabulkan oleh Alloh ta'ala. Amin.
ليس العيد لمن لباسه جديد # ولكن العيد لمن إيمانه يزيد
‘Id itu bukanlah milik mereka yang baru bajunya
Tetapi, ‘Id adalah milik mereka yang bertambah imannya


Semoga bermanfaat. Wallohu a'lam bish-showab. (tj/LP2A PBSB)

Minggu, 09 September 2012

Makna Istihlal (bukan halal bi halal)

Pada bulan Syawwal jamak dijumpai umat Islam di Indonesia menyelenggarakan Istihlal. Saya menggunakan kata "istihlal" karena memang kata ini lebih tepat untuk digunakan daripada frase "halal bi halal". Saya tanya, "halal bi halal" itu artinya apa..?? 
halal = halal, bi = dengan, halal = halal.
Jadi "halal bi halal" berarti halal dengan halal, boleh dengan boleh. Maksudnya apa..?? Nah lho... (???)

Sekarang kita beralih ke kata "istihlal". Kata istihlal merupakan bentuk masdar dari kata istahlala ('ala wazni istaf'ala) yang berfaedah "tholab", artinya "minta halal". Sama dengan kata istighfar (istaghfaro) yang berarti minta ampun. Jadi "istihlal" berarti minta halal (atas kesalahan yang pernah diperbuat).


Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah –shallallohu ‘alaihu wa sallam- bersabda: “Barang siapa melakukan kezhaliman kepada saudaranya, hendaklah meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya; karena di sana (akhirat) tidak ada lagi perhitungan dinar dan dirham, sebelum kebaikannya diberikan kepada saudaranya, dan jika ia tidak punya kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya itu akan diambil dan diberikan kepadanya”. (HR. al-Bukhari nomor 6.169)

Namun memang, minta halal (minta dimaafkan) atas kesalahan atau kedzaliman yang telah diperbuat ini hendaknya tidak hanya kita lakukan ketika momen idul fithri atau bulan Syawwal, tetapi kapan saja kita berbuat salah atau dzalim, hendaknya kita segera minta dihalalkan (dimaafkan).

Kemarin, Ahad 9 September 2012, saya menghadiri Istihlal yang diselenggarakan oleh Persyadha (Persyarikatan Dakwah al-Haromain), di Ketintang Barat I Surabaya. Selain agar bisa bertemu dengan Asatidz dan sahabat saya untuk beristihlal, tujuan saya datang ke acara tersebut adalah untuk "ngaji" kepada Abina K.H. M. Ihya Ulumiddin yang merupakan Aminul 'Am Persyadha. Taushiyah dari Abi adalah acara yang paling saya nantikan karena memang beliau adalah sumber ilmu dan adab yang "langka". Keluasan dan kedalaman ilmunya, tawadlu'nya, kesabarannya, kegigihannya, ruarrr biasa. 

Abi Ihya menjelaskan bahwa Ihtihlal itu marilah kita maknai sebagai momentum "pengakuan". Iya, pengakuan. Kita mengakui bahwa kita banyak dosa dan salah kepada Alloh ta'ala. Kita mengakui bahwa kita punya banyak kesalahan dan kedzaliman kepada saudara dan sahabat kita. Kita ngaku, dan kemudian minta maaf. 

Selanjutnya kita ngaku bahwa ketika bulan Romadlon yang lalu kita belum bisa maksimal dalam memanfaatkan madrasah Romadlon. Kita masih bolong jama'ah sholat fardlunya. Kita masih bolong qiyamul-lailnya. Kita masih bolong tilawah al-Qurannya. Kita masih bolong infaq-shodaqohnya. Iya, memang benar kita berpuasa, menahan lapar dan haus. Tapi kita belum bisa maksimal untuk menahan diri dari perkataan kotor, perkataan yang tidak berguna, perkataan yang menyakitkan orang lain. Kita belum bisa berpuasa dari "ngerasani" (ghibah) dan dusta. Kita masih sering berbohong (kecil). Kita belum bisa berpuasa dari iri-dengki. Kita belum bisa berpuasa dari riya` dan sum'ah, 'ujub dan takabbur. Ayo kita NGAKU..!!

Astaghfirullohal'adhim...

Faidah.



Sementara orang menganggap bahwa frase ‘Id al-Fithri berarti “kembali ke suci”. Hal ini –mungkin- didasarkan kepada sebuah hadits yang menjelaskan bahwa barang siapa berpuasa Romadlon dengan iman dan ihstisab maka diampunilah dosanya yang telah lampau. Sehingga beberapa orang tersebut mengganggap bahwa orang yang dia beri ucapan selamat ‘Id al-Fithri adalah orang yang diampuni segala dosa-dosanya yang telah lampau. Apakah hal tersebut benar? Agaknya kita tidak bisa membenarkan argumen tersebut begitu saja. Karena Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam pun mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa yang tidak memperoleh pahala apa pun kecuali hanya lapar dan dahaga karena dia tidak menjaga diri dari berkata kotor, berbohong, dan memfitnah ketika dia berpuasa.

Secara ilmu bahasa, pendapat yang menyatakan bahwa Id al-Fithri berarti “kembali ke suci” adalah tidak benar. Frase ‘Id al-Fithri terbentuk dari dua kata, ‘Id yang berarti kembali, dan al-Fithri (afthoro – yufthiru – ifthoron) yang berarti sarapan atau berbuka. Bukan al-fithroh (yang berarti; asal kecenderungan yang baik, asal kejadian, agama yang lurus, dan kesucian). Jadi frase Id al-Fithri tersebut bermakna “selamat sarapan atau berbuka kembali” yang menandai bahwa bulan Romadlon telah usai dan tibalah tanggal 1 Syawwal. Bukankah ketika hari Raya ‘Id al-Fithri kita diharomkan untuk berpuasa dan disunnahkan untuk sarapan? Agaknya makna seperti ini lebih rasional dan mendekatkan kita kepada pemahaman yang benar.



Selanjutnya, setelah kita ngaku akan kesalahan dan kekurangan kita, marilah kita senantiasa berdoa dan mendoakan saudara kita dengan doa:

"taqobbalallohu minna wa minkum"

(semoga Alloh menerima [ibadah, khususnya di bulan Romadlon] dari kami dan kalian)

Konon, dulu para sahabat Nabi mengamalkan doa ini selama kurang lebih 6 bulan. Jadi mulai tanggal 1 Syawwal sampai bulan Robi'ul Awwal, para sahabat Nabi, jika bertemu saudara dan sahabatnya, beliau mengucapkan doa "taqobbalallohu minna wa minkum".
Kenapa beliau-beliau sampek segitunya..??

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni.

"idza salimat al-jum'ah, salimat al-ayyam. idza salima Romadlon, salimat as-sanah"

(jika hari jum'at selamat, selamatlah hari-hari selama sepekan. jika bulan Romadlon selamat, selamatlah tahun).

Perhatikan dengan seksama. Muslim itu, jika jum'at nya selamat, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang pekan. Ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi kita umat Islam di Indonesia. Salah satu kegagalan terbesar kita adalah jum'at tidak menjadi hari libur. Sehingga kita tidak bisa menggunakan hari jum'at untuk fokus mendekatkan diri kepada Alloh ta'ala. Kita masih disibukkan oleh sekolah dan pekerjaan. Kita pun akhirnya melaksanakan sholat jum'at dengan kurang sempurna; telat, ngantuk pisan. Walaupun memang ada sekolah yang menjadikan hari jum'at sebagai hari libur. Biasanya sekolah-sekolah itu dikelola oleh yayasan pendidikan islam seperti Pondok Pesantren. Contohnya sekolah MTs dan MA Walisongo tempat saya belajar dahulu kala. Namun jumlahnya tidak banyak. Masih banyak yang liburnya hari Ahad. Pada saat saudara kita umat Kristiani melaksanakan ibadah di Gereja.

Selanjutnya, mari kita perhatikan sabda Nabi kita tercinta. Muslim itu, jika bulan Romadlonnya selamat, bisa diartikan jika ibadah-ibadahnya di bulan Romadlon diterima oleh Alloh ta'ala, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang tahun. Nah, inilah rahasianya kenapa para sahabat Nabi itu dengan segitunya mengamalkan doa "taqobbalallohu minna wa minkum" sampai 6 bulan pasca Romadlon. Jadi jika doa tersebut dikabulkan oleh Alloh ta'ala, maka efeknya akan ruarrr biasa bagi kehidupan para sahabat itu; selamat sepanjang tahun. Siapa yang gak mau..??

Maka, marilah kita mentauladai para sahabat Nabi yang mulia itu. Mari kita senantisa berdoa dan mendoakan saudara dan sahabat kita dengan doa "taqobbalallohu minna wa minkum". Semoga doa kita dikabulkan oleh Alloh ta'ala. Amin.

"idza salimat al-jum'ah, salimat al-ayyam. idza salima Romadlon, salimat as-sanah"

Semoga bermanfaat. Wallohu a'lam bish-showab. 
(tj)