Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Agustus 2014

Jangan biarkan Puasa-mu Muspro..!!




Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan pahala, hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Pernyataan ini bukan sembarang pernyataan, tetapi sebuah peringatan yang bersumber dari sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, manusia yang jujur, dapat dipercaya, cerdas, dan menyampaikan kabar yang benar.
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy)
Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Kenapa orang-orang yang berpuasa tersebut tidak mendapatkan pahala dari puasa yang mereka kerjakan? Padahal mereka sudah susah payah menahan lapar dan haus mulai dari subuh hingga maghrib.
Jawabannya adalah karena mereka tidak meninggalkan hal-hal yang menjadi penghancur pahala puasa. Mereka berpuasa (menahan diri) dari makan dan minum, namun mereka tidak menahan diri dari hal-hal yang merusak (pahala) puasa.
Saudaraku yang semoga senantiasa diberi pertolongan oleh Alloh ta’ala. Berikut beberapa hal yang berpotensi merusak dan menghancurkan (pahala) puasa.
1.   Berkata dusta
Perkataan dusta atau bohong adalah sumber dari berbagai macam dosa. Orang yang biasa berbohong biasanya sulit untuk meninggalkan kebiasaan buruk ini. Oleh karena itu jangan pernah mencoba berbohong, walaupun kecil, meskipun hanya bercanda. Jujur tentu lebih baik. Lebih menentramkan jiwa.
Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam mengingatkan: “Janganlah berlaku dusta, karena sesungguhnya dusta itu menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan itu mengantarkan ke neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan senantiasa berusaha berdusta hingga ia akan dicatat di sisi Alloh sebagai pendusta.” (Muttafaqun ‘alaih).
Lebih lanjut, perkataan dusta atau bohong dapat menghancurkan (pahala) puasa. Sehingga orang yang berpuasa, tetapi dia masih saja berkata dusta, maka puasanya sia-sia. Dia hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, malah mengamalkannya, maka Alloh tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)
Maksud dari “Alloh tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan” adalah bahwa Alloh ta’ala tidak menganggap puasanya, Alloh ta’ala tidak menerima puasa orang yang suka berdusta atau berbohong tersebut. Alias puasanya muspro, sia-sia.
2.   Berkata laghwu (hal yang sia-sia) dan rofats (porno)
Dari Abu Hurairah, Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)
Laghwu adalah perkataan yang sia-sia dan tidak berfaedah. Sedangkan rofats adalah kiasan hubungan badan, perkataan keji, setiap hal yang diinginkan laki-laki dari wanita, atau hal-hal yang porno.
Menurut Rosululloh, puasa yang hakiki bukan hanya sekedar puasa dari makan dan minum, tetapi juga berpuasa (menahan diri) dari laghwu dan rofats.  Lebih-lebih perkataan yang menyakiti orang lain seperti mencaci, mengumpat, menggunjing, memfitnah, dan berbagai macam bentuk perkataan yang diharamkan oleh Alloh ta’ala, tentu kita harus menjaga diri dari semua itu. Kaedahnya sederhana, jika tidak bisa berbicara hal-hal yang baik, lebih baik diam.
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah perkataan yang baik atau jika tidak, maka diamlah.”(Muttafaqun ‘alaihi)
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Menjaga lidah atau lisan adalah salah satu amal ibadah yang paling utama. Bahkan Rosulullah menjamin surga bagi orang yang mampu menjaga lisan dan kemaluannya dari perkara yang diharamkan oleh Alloh ta’ala.
Barangsiapa yang mampu menjamin untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari)
Sebaliknya, membiarkan lidah untuk berkata semaunya adalah sebuah bahaya besar yang bisa menghancurkan kita di dunia dan di akhirat.
Diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallohu ‘anhu, beliau bertanya kepada Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka, kemudian Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang rukun iman dan beberapa pintu-pintu kebaikan, kemudian berkata kepadanya: “Maukah kujelaskan kepadamu tentang hal yang menjaga itu semua?” kemudian beliau memegang lisannya dan berkata: “Jagalah ini” maka aku (Mu’adz) tanyakan: “Wahai Nabi Alloh, apakah kita akan disiksa dengan sebab perkataan kita?” Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Semoga ibumu kehilanganmu! (sebuah ungkapan agar perkataan selanjutnya diperhatikan). Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah mereka atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan mereka.” (HR. At-Tirmidzi)
Jagalah lisanmu dari perkataan laghwu dan rofats. Jagalah lisanmu dari mencaci, menghina, menggunjing (ngerasani), mengumpat, memfitnah, dan berbagai macam perkataan buruk yang diharomkan oleh Alloh ta’ala. Jika tidak, sia-sialah puasamu.
3.   Berbuat ma’shiat
Berpuasa tapi tetap istiqomah berma’shiat kepada Alloh ta’ala? Ini adalah hal yang sangat aneh. Di bulan Romadlon ini kita diperintah untuk menahan diri dari makan dan minum (mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari), sedangkan makan dan minum itu diperbolehkan bagi kita di luar Romadlon. Tentu, di bulan suci ini kita diperintah untuk lebih menahan diri dari perbuatan ma’shiat, karena di luar bulan Romadlon pun ma’shiat itu dilarang oleh Alloh ta’ala.
Jangan sampai di bulan yang penuh ampunan ini, kita justru menimbun dosa-dosa. Romadlon adalah bulan taubat, jangan sampai kita terus menerus berma’shiat. Orang-orang yang diberi oleh Alloh ta’ala kesempatan bertemu Romadlon, namun justru tidak bertaubat, sehingga dosa-dosa mereka tidak diampuni oleh Alloh, mereka akan mendapat laknat dari malaikat Jibril yang diamini oleh Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam. Na’udzu billahi min dzalik.
Diriwayatkan dari Abu Huroiroh rodliyallohu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam naik ke mimbar kemudian beliau mengatakan “amin…amin…amin…” Beliau ditanyai “Wahai rosululloh, pada saat naik mimbar, Anda mengatakan ‘amin…amin…amin…?” Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Jibril datang kepada ku dan berkata, ‘barangsiapa bertemu Romadlon, dia tidak mendapatkan ampunan, kemudian dia masuk neraka, semoga Alloh menjauhkan orang itu dari rohmat-Nya, katakan ‘amin’, maka aku mengatakan ‘amin’. . . . . (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, ath-Thobroniy, dan al-Baihaqi)
Saudaraku yang semoga dijaga oleh Alloh ta’ala. Menurut Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghozali rohimahulloh, dalam Ihya` ‘Ulumiddin, orang yang berpuasa itu ada tiga tingkatan.
Tingkatan pertama adalah orang yang menahan diri dari makan-minum dan menjaga kemaluan dari dorongan syahwat. Tingkatan ini disebut puasanya orang awam. Ini tingkatan yang paling rendah.
Tingkatan kedua adalah orang yang menahan diri dari makan-minum, menjaga kemaluan dari dorongan syahawat, serta menahan pendengaran, pandangan, lisan, gerakan tangan dan kaki (serta anggota tubuh lainnya) dari segala macam bentuk dosa. Tingkatan ini disebut puasanya orang khusus.
Menurut Imam Ghozali, tanda-tanda puasanya orang-orang khusus ada enam, yaitu:
a.   Menundukkan pandangan dari hal-hal yang harom dilihat. Mencegah keinginan untuk memperluas pandangan pada segala hal yang tercela dan dibenci serta dapat melalaikannya dari dzikrulloh (ingat Alloh). Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda (yang maksudnya): “Pandangan adalah salah satu panah iblis”. (HR. Imam al-Hakim, al-mustadrok: 4/349)
b.   Menjaga lidah dari berbohong, ghibah (menggunjing, ngerasani), berkata keji, kasar, dan segala perkataan yang dapat menjauhkannya dari dzikrulloh. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda (yang maksudnya): “Puasa adalah benteng. Jika seseorang diantara kalian sedang berpuasa, maka jangan berkata keji dan bersikap bodoh. Jika ada orang yang mengajaknya berselisih atau mencacinya, maka katakanlah, ‘sesungguhnya saya sedang berpuasa’”. (HR. Imam Bukhori, 1894, Imam Muslim, 163)
c.   Mencegah pendengaran dari mendengar hal-hal yang dibenci. Alloh ta’ala berfirman, (yang maksudnya): “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan makanan yang harom”. (QS. Al-Maidah [5]: 42)
d.   Mencegah anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa, khususnya tangan dan kaki. Juga mencegah perut dari terisi makanan yang subhat (tidak jelas halal haromnya).
e.   Tidak memperbanyak makanan yang halal saat berbuka (dan di malam hari) karena tujuan puasa adalah untuk meredam hawa nafsu, agar menjadi jiwa-jiwa yang bertaqwa kepada Alloh ta’ala.
f.     Setelah berbuka, hatinya berada di antara perasaan penuh harap dan takut kepada Alloh ta’ala. Berharap puasanya diterima oleh Alloh ta’ala, dan merasa takut jika puasanya ditolak oleh Alloh ta’ala.
Sedangkan tingkatan ketiga adalah orang yang berpuasa seperti puasanya orang khusus plus menahan hati dari kepentingan jangka pendek, pikiran-hasrat duniawi, serta dari segala hal yang dapat memalingkan dirinya dari Alloh ta’ala. Tingkatan ini disebut puasa khoshosul khos (khususnya orang khusus, istimewa).
Saudaraku yang semoga senantiasa dibimbing oleh Alloh ta’ala. Bukankah tujuan kita berpuasa adalah agar menjadi orang-orang yang bertaqwa? Bukankah yang dimaksud orang yang bertaqwa itu adalah orang yang melaksanakan perintah Alloh ta’ala dan menjauhi larangan-Nya? Mengerjakan keta’atan dan meninggalkan ma’shiat? Jadi kalau kita berpuasa tapi masih saja sering berlaku ma’shiat dan berbuat buruk, maka bisa dikatakan bahwa puasa kita muspro, puasa kita sia-sia, hanya menghasilkan lapar dan haus saja, seperti kata Nabi kita. Na’udzu billahi min dzalik…
Jangan Biarkan Puasa-mu Muspro
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Di bulan puasa yang penuh dengan kasih sayang dan ampunan Alloh ta’ala ini, marilah kita menjaga diri dari berkata dusta, berkata laghwu dan rofats, serta berbagai macam bentuk ma’shiat. Mari kita menjaga puasa kita. Jangan biarkan puasa kita muspro. Jangan biarkan puasa kita sia-sia. Semoga Alloh ta’ala senantiasa memberikan kekuatan dan kesabaran kepada kita dalam menjaga ibadah-ibadah kita. Amien.
Wallohu a’lam bi as-showab
[tije/LP2A PBSB Kemenag RI]

Selasa, 29 April 2014

Rojab, Bulan Menanam




Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Marilah kita bersyukur kepada Alloh ta’ala yang tidak henti-hentinya mencurahkan nikmat kepada kita. Nikmat badan sehat, panjang umur, kesempatan beribadah, kecukupan rezeki, dan yang paling utama, nikmat iman.  Saat ini kita memasuki bulan Rojab yang merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Alloh ta’ala.
إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ (رواه البخارى و مسلم )

Sesungguhnya zaman beredar sebagaimana yang telah ditentukan sejak Alloh ta’ala menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan dan diantaranya ada empat bulan haram (mulia), yang tiga berurutan. (keempat bulan tersebut adalah) Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom, dan Rojab Mudhor yang berada diantara Jumada dan Sya’ban.” (HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim)
Pada kesempatan kali kami ingin menyampaikan hikmah dari pengajian yang disampaikan oleh Abina KH. M. Ihya` Ulumiddin pada acara Haflah PP. Ar-Roudhoh dan TPQ al-Irsyad Tulungagung. Acara tersebut bertepatan dengan Harlah Nahdhotul Ulama ke-89 dan Dzikro Rojab 1433 H.
Seorang ‘Alim yang bernama Abu Bakar al-Warroq al-Balakhy, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Lathoiful Ma’arif, mengatakan:
شهر رجب شهر الزرع، وشهر الشعبان شهر السقى للزرع، وشهر رمضان شهر حصاد الزرع.
“Rojab adalah bulan untuk menanam. Sya’ban adalah bulan untuk menyirami (tanaman). Dan Romadlon adalah bulan untuk memanen (tanaman).”
Yang dimaksud ‘tanaman’ dalam perkataan tersebut adalah ‘tanaman kebaikan’. Sedangkan hasil panennya adalah ‘pengampunan dari Alloh ta’ala’.
Kita dianjurkan untuk memperbanyak dan memperbaiki berbagai amal kebaikan di bulan Rojab sebagai upaya dalam ‘menanam kebaikan’. Karena kebanyakan orang yang melalaikan bulan Rojab juga melalaikan bulan Sya’ban dan Romadlon. Harapannya semoga ‘tanaman’ amal-amal kebaikan itu akan semakin tumbuh subur di bulan Sya’ban nanti. Dan pada akhirnya, insyaalloh, kita akan ‘memanen’ pengampunan dari Alloh ta’ala di bulan Romadlon. Adakah panen yang lebih menggembirakan dibanding dengan ‘panen pengampunan’ dari Alloh ta’ala?
Bukankah kita memiliki banyak salah dan dosa? Jika kita mendapatkan pengampunan dari Alloh ta’ala, tentu hal itu merupakan anugerah yang sangat besar. Kita bisa berharap meninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah, nyaman di alam kubur, mendapatkan perlindungan dari Alloh ta’ala di hari kiamat, memperoleh kemudahan di hari perhitungan amal, dan selamat dari siksa neraka jahannam. Hingga bisa tinggal selamanya di surga Alloh yang penuh dengan kenikmatan. Semoga.
Selain itu, saat memasuki bulan Rojab, kita dianjurkan minta keberkahan kepada Alloh ta’ala dengan doa:
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَشَعْبَان َوَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
(Allohumma baarik lanaa fi rojaba wa sya’bana wa ballighnaa Romadlon…)
“Ya Alloh, berkahilah kami di bulan Rojab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Romadlon”.
Sudah tentu, meminta berkah itu ada caranya. Ada yang semestinya dikerjakan dan diamalkan agar doanya benar-benar menjadi doa sungguhan. Ada orang minta kepandaian kepada Alloh ta’ala, sudah tentu dia harus rajin dan serius belajar. Ada orang yang minta kekayaan kepada Alloh ta’ala, sudah tentu dia harus kerja keras dan cerdas. Kalau kita mau minta keberkahan kepada Alloh ta’ala di bulan Rojab ini, kita harus meningkatkan kuantitas dan kualitas amal kebaikan.
Saudaraku yang semoga disayang oleh Alloh ta’ala. Diantara banyak kebaikan yang bisa kita tanam di bulan Rojab ini, ada tiga ‘tanaman kebaikan’ yang selayaknya kita berikan perhatian lebih, yaitu puasa sunnah, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki kualitas sholat.

Pertama, Puasa Sunnah
Puasa adalah ibadah yang disunnahkan secara mutlak kecuali pada bulan Romadlon (karena puasa Romadlon hukumnya adalah fardlu ‘ain) dan pada hari-hari yang di dalamnya diharamkan berpuasa (Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari Tasyrik). Sedangkan dalil puasa di bulan Rojab diantaranya adalah sebagai berikut:
Hadits riwayat Usamah Bin Zaid  
“Aku berkata kepada Rosululloh : Yaa Rosululloh aku tidak  pernah melihatmu berpuasa sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban. Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam menjawab: Bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan di antara bulan Rojab dan Romadlon, dan bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah ta’ala dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaaan aku berpuasa”. (HR. Imam An-Nasa’I Juz 4 Hal. 201)
Imam Syaukani menjelaskan. Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa puasa Rojab adalah sunnah sebab dengan jelas Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengingatkan bahwa mereka lalai dari mengagungkan Sya’ban dengan berpuasa karena mereka sibuk mengagungkan Romadlon dan Rojab dengan berpuasa. (Naylul Author juz 4 hal 291)
Puasa adalah pintu ‘ibadah
Itulah kata hikmah yang disampaikan oleh al-Habib Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki untuk menggambarkan keistimewaan ibadah puasa. Tidak ada ibadah yang lebih ikhlash, lebih aman dari riya` dan sum’ah, dibandingkan puasa. Lebih dari itu, puasa adalah ibadah yang sangat privasi antara seorang hamba dan Alloh ta’ala. Yang dapat menjamin seseorang benar-benar bersabar dalam menahan diri dari makan, minum, jima’ dan segala hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari, tidak lain dan tidak bukan, adalah iman dan rasa takutnya kepada Alloh ta’ala.
Alloh ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi yang maksudnya adalah “Setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat, hingga 700 kali lipat, kecuali puasa karena puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang memberi pahala atasnya”. (HR. Muslim, Ahmad, dan an-Nasa`)
Tersebut dalam hadits qudsi yang lain, “Dia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makannya demi diri-Ku. Puasa adalah untuk-Ku maka Aku lah yang memberi ganjaran kepadanya”. (HR. Bukhari, Ahmad, Imam Malik, Muslim)
Hadits-hadits tersebut mengisyaratkan bahwa pahala ibadah puasa bersifat istimewa dan tak terbatas hitungan. Mari kita bepuasa sunnah di bulan Rojab ini, dengan niat ikhlash, semata-mata mengharap ridlo Alloh ta’ala. 

Kedua, Memperbanyak Istighfar
Istighfar adalah permohonan ampun atas berbagai dosa. Jika istighfar itu disertai dengan penyesalan atas tiap-tiap dosa yang dilakukan, kemudian dengan merendahkan diri meminta ampun atas tiap-tiap dosa tersebut, dan berazam tidak akan mengulanginya lagi, maka hal itu disebut taubat. Istighfar dan taubat ini merupakan sebuah ibadah yang keutamaannya sangat besar.
Firman Alloh ta’ala (yang maksudnya);
“Maka aku (Nuh) berkata kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia kan memberimu kenikmatan yang baik (terus-menerus).” (QS. Hud: 3)
Sabda Nabi Muhammad shollallahu alahi wa sallam (yang maksudnya);
“Barangsiapa istiqomah beristighfar, Allah akan menjadikan kesenangan dari setiap kesusahan, jalan keluar dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dengan cara yang tidak ia duga.” (HR. Abu Dawud).
Bacaan istighfar yang minimal adalah
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم
“Aku minta ampun kepada Alloh yang Maha Agung.”
Sedangkan bacaan istighfar yang lebih utama adalah sayyidul istighfar, rajanya istighfar, istighfarnya Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.
اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّي لاَ اِلَهَ إِلاَّ اَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَاَنَاعَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّمَا صَنَعْتُ أَبُؤُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُؤُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
 “ya Alloh. Engkau Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku berada dalam ikrar dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat. Aku mengakui  nikmat-Mu (yang Engkau berikan) kepadaku. Aku mengakui dosaku. Ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”
Mari kita memperbanyak istighfar di bulan Rojab ini. Semoga Alloh ta’ala mengampuni dosa-dosa kita dan menerima taubat kita.
                                  
Ketiga, Memperbaiki Kualitas Sholat
Sholat adalah tiang agama. Sholat adalah pembeda antara orang muslim dan orang kafir. Sholat merupakan kewajiban pertama yang diperintahkan kepada para Rosul. Sholat merupakan washiat terakhir para Rosul. Sholat dapat menghapus dosa. Sholat dapat menyebabkan pelakunya diangkat derajatnya di sisi Alloh. Sholat merupakan indikator rasa syukur kita kepada Alloh ta’ala. Sholat merupakan media komunikasi antara manusia dengan sang Pencipta, dengan tata cara yang telah digariskan oleh-Nya dan dicontohkan oleh Rosul-Nya. Sholat adalah amal terbaik bagi orang yang beriman. Sholat adalah amal yang pertama kali akan dihisab kelak di akhirat. Jika baik sholatnya, seluruh amal diterima, jadilah ia manusia yang beruntung dan berbahagia. Sebaliknya, jika rusak sholatnya, seluruh amal ditolak, jadilah ia manusia yang paling sengsara.
Itulah sedikit gambaran tentang kemuliaan dan keutamaan sholat fardlu. Memandang betapa pentingnya sholat fardlu bagi seorang muslim, Alloh ta’ala menyampaikan ancaman yang sangat keras bagi orang-orang yang melalaikan sholat.
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ )) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ( )
Maka wail bagi orang-orang yang sholat. Yaitu mereka yang lalai dari sholat mereka.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)
Ahli tafsir al-Qur`an, Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa wail berarti kehancuran dan kebinasaan. Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Ziyad ibn Fayyadh bahwa Abu Fayyadh menyampaikan, ”Wail adalah nanah di dasar neraka jahannam”.
Atha’ bin Yasar berkata, ”Wail adalah lembah di dalam neraka jahannam. Jika gunung-gunung dilewatkan di dalamnya, maka gunung-gunung itu meleleh”. Sedangkan Ibnu Abbas rodliyallohu ’anhu berpendapat bahwa ”Wail adalah siksa berupa api yang menyala-nyala”.
Sedangkan yang dimaksud ’orang yang lalai dari sholatnya’, berdasarkan keterangan dalam kitab Tafsir al-Qur`an al-’adhim li Ibni Katsir, adalah
-         Orang-orang yang lalai dari melaksanakan sholat fardlu lima waktu secara sempurna. Mereka melaksanakan sebagian, dan meninggalkan sebagian.
-         Orang-orang yang suka mengakhirkan atau menunda-menunda sholat.
-         Orang-orang yang tidak menyempurnakan syarat dan rukun sholat.
-         Orang-orang yang melaksanakan sholat tanpa kekhusyu’an. Mereka sholat tapi hatinya tidak sholat, hatinya lalai kepada Alloh ta’ala.
Bagaimana sholat kita? Sudahkah kita melaksanakan sholat fardlu lima waktu secara istiqomah? Sudahkah kita mengerjakan sholat dengan menyempurnakan syarat dan rukunnya? Apakah bacaan dan gerakan sholat kita sudah sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam?  Sudahkah kita senantiasa mengerjakan sholat fardlu di awal waktu? Sudahkah kita mendirikan sholat fardlu dengan hati yang hadir, hati yang khusyu’, hati yang ingat Alloh ta’ala?
Mari kita terus menerus belajar dan berusaha memperbaiki sholat kita, meningkatkan kualitas sholat kita. Ingat!! Sampai detik ini Alloh ta’ala masih memberi kita kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Ayo kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Sebelum ajal menjemput kita.
Setidaknya ada empat hal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kualitas sholat:
1.   Aqimu ash-asholat (tegakkan sholat). Artinya perbaiki bacaan dan gerakan sholat. Bacaannya yang benar dan jelas. Ingat! Sholat itu, walau hanya 5 menit, adalah proses mi’roj seorang mukmin, sowannya seorang mukmin kepada Alloh ta’ala. Jaga adabmu. Jaga sopanmu. Saat sholat, Engkau sedang berhadapan dengan Alloh ta’ala.
2.   Haafidhu... (jagalah sholat). Artinya jagalah sholat Anda. Jangan sampai terlewat. Kerjakan sholat di awal waktu. Jangan menunda sholat.
3.   Khoosyi’un... (sholat dengan khusyu’). Artinya menghadirkan hati ketika sholat. Saat melaksanakan sholat, hendaknya kita merasa sedang sowan kepada Alloh ta’ala. Kita hayati makna setiap gerakan dan bacaan sholat. ”Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu mereka yang khusyu’ di dalam sholat mereka”. (QS. Al-Mu’minun: 1-2)
4.   Daaimun... (rutin, istiqomah). Artinya kita musti terus-menerus, istiqomah, mengerjakan sholat. Jangan sampai bolong.
Terlebih dari itu semua, mari kita membiasakan sholat dengan berjama’ah karena hal itu lebih memungkinkan agar sholat kita diterima. Jika ada salah satu anggota jama’ah yang sholatnya bisa khusyu’ dan diterima oleh Alloh ta’ala, maka anggota jama’ah sholat yang lain tentu sholatnya juga diterima oleh Alloh ta’ala. Lagi pula, bukankah sholat berjama’ah lebih utama dari pada sholat sendirian dengan selisih 27 derajat?
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Mari kita gunakan bulan Rojab ini untuk menanam berbagai macam kebaikan, apapun kebaikan itu, baik yang berhubungan langsung dengan Alloh ta’ala, maupun yang berhubungan dengan sesama makhluq. Khususnya, mari kita menanam amal sholih berupa puasa sunnah, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki sholat. Mari kita jaga dan sirami tanaman-tanaman kebaikan itu hingga kita bisa panen ”pengampunan” kelak di bulan Romadlon, insyaalloh.
Wallohu a’lam bi ash-showab. Semoga Alloh ta’ala senantiasa memberikan pertolongan-Nya kepada kita semua. Amien.

[tije/alumni PBSB Kemenag RI]

Sabtu, 27 Juli 2013

RISALAH RINGKAS PUASA ROMADLON

RISALAH RINGKAS PUASA ROMADLON
(disarikan dari buku Risalah Ringkas Puasa Romadlon karya KH. M. Ihya Ulumiddin dan Ringkasan Ihya Ulumiddin karya Imam Ghozali)

“Dan setiap yang beramal tanpa ilmu asasnya – Amalan-amalannya tertolak tidak diterima” (Matn Zubad)

Keistimewaan Bulan Romadlon
1. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan dedengkot-dedengkot syaitan dibelenggu. (HR. Bukhori dan Muslim)
2. Amal sunnah di bulan Romadlon laksana amal fardlu di bulan lain. Satu amal fardlu di bulan Romadlon laksana 70 amal fardlu di bulan yang lain. (HR. Ibnu Khuzaimah)
Dengan berbagai keutamaan tersebut, sangat eman jika kita tidak bisa memaksimalkan bulan Romadlon dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam mengingatkan (yang maksudnya kurang lebih), “Jauh dari rohmat Alloh ta’ala, orang yang menjumpai Romadlon tapi dosanya tidak terampuni”. (HR. al Hakim)

Pengertian Puasa
Puasa, dalam bahasa Arab disebut “shiyam”, berarti “menahan” (padanan kata dari “imsak”). Menurut syara’, puasa adalah menahan diri dari syahwat perut dan farj (makan, minum, dan hubungan biologis) dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar shodiq sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu.

Hukum Puasa Romadlon
Puasa Romadlon hukumnya fardlu ‘ain bagi orang islam yang aqil, baligh, sehat-kuat, tidak bepergian jauh, dan suci dari haidh dan nifas (bagi wanita).

Keistimewaan Ibadah Puasa
Alloh ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi yang maksudnya adalah “setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat, hingga 700 kali lipat, kecuali puasa karena puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang memberi pahala atasnya”. (HR. Muslim, Ahmad, dan an-Nasa`)
Tersebut dalam hadits qudsi yang lain, “dia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makannya demi diri-Ku. Puasa adalah untuk-Ku maka Aku lah yang memberi ganjaran kepadanya”. (HR. Bukhari, Ahmad, Imam Malik, Muslim)
Jadi bisa dikatakan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat privasi antara seorang hamba dengan Alloh ta’ala. Yang bisa menjamin bahwa seseorang benar-benar bersabar dalam menahan diri dari makan, minum, jima’ dan segala hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari, tidak lain dan tidak bukan, adalah iman dan rasa “takut”nya kepada Alloh ta’ala. Oleh karena itu pahalanya pun bersifat “privasi”, khusus, dan istimewa dari Alloh ta’ala.
Selain itu masih banyak keistemawan-keistemawaan bagi orang yang berpuasa, antara lain:
1. Bau tidak sedap yang keluar dari mulut orang yang berpuasa lebih enak di sisi Alloh ta’ala dibandingkan dengan bau wanginya minyak misk. Hal ini merupakan isyarat keridloan Alloh ta’ala kepada orang yang berpuasa.
2. Para malaikat memohonkan ampun bagi orang-orang yang berpuasa.
3. Orang-orang yang berpuasa doanya mustajab. (QS. Al-Baqoroh ayat 186 mengisyaratkan anjuran memperbanyak doa pada bulan Romadlon). “Ada tiga orang yang doanya tidak tertolak, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, penguasa yang adil dan orang yang dizhalimi” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
4. Disiapkan pintu ar-royyan di surga bagi orang-orang yang berpuasa. (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad)
5. Makan sahurnya orang yang berpuasa mengandung keberkahan. (HR. Bukhori dan Muslim)
6. Dosa orang yang berpuasa diampuni, jika ia berpuasa imaanan wah tisaban (karena iman dan mengharap pahala dari Alloh ta’ala). (HR. Ahmad)
7. Dosa orang yang berpuasa dilebur, jika ia berpuasa dengan serta menjaga diri dari hal-hal yang bertentangan dengan puasanya, baik yang dhohir maupun yang bathin. (HR. Ibnu Hibban dan Baihaqi)
8. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan; ketika berbuka puasa dan kelak ketika bertemu Alloh ta’ala. (HR. Bukhori)

Rukun Puasa
Agar puasa Romadlon kita sah secara hukum syara’ kita harus melaksanakan dua rukunnya, yaitu 1) Niat, 2) Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar shodiq sampai matahari terbenam. Perhatikan hal-hal berikut:
1. Niat puasa dilakukan sebelum terbit fajar setiap malam sepanjang bulan Romadlon (HR. Ahmad). Pada saat malam pertama bulan Romadlon, dianjurkan niat puasa untuk satu bulan penuh, di samping niat puasa di setiap malam, untuk menjaga diri dari kemungkinan lupa.
2. Dalam niat tidak diharuskan talaffudz (melafadzkan), karena letak niat itu ada di qalbu. Niat dengan menggunakan bahasa yang dipahami, misalkan bahasa Indonesia atau Jawa. Namun kalau sudah mengerti bahasa Arab, sebaiknya berniat menggunakan bahasa Arab. Sekali lagi, niat itu adalah amalan qalbu, amalan hati, bukan lisan. Kita melafadzkan niat puasa hanya untuk membantu agar hati kita turut meniatkan puasa. Contoh niat bahasa Indonesia: “aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Romadlon di tahun ini karena Alloh ta’ala”.
3. Agar puasa kita tidak batal, hendaknya berhati-hati ketika makan sahur dan berbuka puasa. Hendaknya kita benar-benar memperhatikan ketepatan waktu. Segera berhenti makan jika sudah terbit fajar shodiq (di Indonesia biasanya ditandai dengan dikumandangkannya adzan subuh). Hanya berbuka puasa jika matahari benar-benar sudah terbenam (di Indonesia biasanya ditandai dengan berkumandangnya adzan untuk sholat maghrib).

Hal-hal yang Membatalkan Puasa
Hal-hal yang membatalkan puasa Romadlon ada dua macam, 1) membatalkan puasa, mewajibkan qodlo` (mengganti puasa di hari yang lain), 2) membatalkan puasa, mewajibkan qodlo` dan kaffarat (denda).
Hal-hal yang membatalkan puasa yang mewajibkan qodlo`
1. Makan dan minum dengan sengaja
2. Masuknya sesuatu ke dalam kerongkongan melalui mulut walaupun yang ditelan bukanlah makanan atau minuman
3. Sengaja muntah
4. Haidh atau nifas
5. Istimta’ (sengaja mengeluarkan air mani) disebabkan oleh mencium atau mendekap pasangan, perbuatan onani atau masturbasi.
6. Berniat membatalkan puasa

Hal yang membatalkan puasa yang mewajibkan qodlo` dan kaffarat
Orang yang jima’ (bersenggama) di siang hari bulan Romadlon maka puasanya batal. Dia wajib mengqodlo` puasanya dan wajib membayar kaffarat (tebusan). Kaffaratnya yaitu memerdekakan seorang budak muslim. Bila tidak mampu atau tidak ada maka dengan berpuasa dua bulan berturut-turut. Bila tidak mampu maka dengan memberi makan untuk 60 orang miskin masing-masing 1 mud (= 6 ons).

Adab puasa
Ketika berpuasa Romadlon kita dianjurkan untuk melaksanakan adab-adab puasa sebagai berikut:
1. Mengakhirkan makan sahur hinga menjelang terbit fajar. Kira-kira 15 menit sebelum waktu sholat subuh tiba.
2. Menyegerakan berbuka puasa jika sudah yakin kalau matahari terbenam (masuk waktu sholat maghrib). Dalam berbuka hendaknya mendahulukan kurma, air, atau sesuatu yang manis. Agar aktifitas berbuka tidak menggannggu sholat Maghrib di waktu awal, hendaknya berbuka dengan makanan dan minuman secukupnya, makanan ringan. Nanti setelah selesai sholat Maghrib baru menyantap makan malam atau hidangan utama. Hendaknya ketika berbuka puasa ini tidak berlebih-lebihan karena tujuan utama puasa adalah untuk berlatih mengendalikan diri.
3. Ketika berbuka puasa jangan lupa membaca doa mau makan seperti biasanya, minimal dengan membaca “bismillah”. Dan setelah berbuka puasa membaca doa buka puasa.
اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ
“Ya Alloh, untuk-Mu aku berpuasa, dengan rizki-Mu aku berbuka.” (HR. Abu Dawud 2011)
ذَهَبَتْ الظَّمَـأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْاَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ
“Dahaga telah hilang, kerongkongan telah segar, dan mudah-mudahan pahalanya ditetapkan, jika Alloh ta’ala menghendaki” (HR. Abu Dawud 2357)
4. Menjauhi hal-hal yang menjurus pada bangkitnya kehendak nafsu yang mengasyikkan apakah itu dengan mendengar, mencium, menyentuh, ataupun melihat karena hal-hal itu tidak sesuai dengan tujuan berpuasa, yaitu untuk mendidik diri mengendalikan hawa nafsu.
5. Tidak mencaci, tidak berkata kotor, tidak misuh, tidak ghibah (ngerasani), tidak bertengkar, tidak berdusta, tidak memandang dengan syahwat dan tidak mengumbar amarah karena hal-hal tersebut dapat mengurangi bahkan membatalkan pahala puasa.
6. Sangat dianjurkan untuk mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat seperti memperbanyak membaca al-Quran dan meresapi maknanya, memperbanyak dzikr, membaca buku, memperdalam pengetahuan agama, berkarya, dan lain sebagainya.

Amalan-amalan di bulan Romadlon
Selain puasa yang fardlu hukumnya, ada beberapa amalan penting yang hendaknya juga dikerjakan selama bulan Romadlon.
1. Menghidupkan malam Romadlon dengan qiyamu Romadlon (sholat malam, sholat tarawih, sholat witr)
2. I’tikaf terutama di sepuluh malam terakhir bulan Romadlon
3. Tadarrus al-Quran, mengusahakan dengan maksimal bisa menghatamkan al-Quran di bulan Romadlon, minimal satu kali, dalam rangka mensyukuri ni’mat turunya al-Quran di bulan Romadlon
4. Muhasabah (instropeksi diri), segera bertaubat, mengharap ampunan Alloh ta’ala
5. Memperbanyak doa syahadat, istighfar, memohon surga dan minta dijauhkan dari neraka
6. Memperbanyak berderma dengan infaq dan shodaqoh terutama kepada sanak family dan tetangga yang kurang mampu
7. Memberikan bekal puasa kepada orang yang berpuasa, terutama mereka yang dari kalangan kurang mampu
8. Menyibukkan diri dengan aktifitas menuntut ilmu

Hikmah Ibadah Puasa
Di dalam ibadah puasa terdapat banyak hikmah yang bisa mengantarkan manusia menuju derajat taqwa, di antaranya adalah:
1. Puasa melatih kesabaran, disiplin waktu, kuat kemauan, dan menepati janji.
2. Puasa menimbulkan sikap kasih sayang kepada sesama.
3. Puasa adalah perisai dari neraka.
4. Puasa dapat meredam dari dari berbagai perbuatan ma’shiat.
5. Puasa menjadikan tubuh sehat
6. Puasa dapat mensucikan hati.
7. Puasa dapat meningkatkan sisi ruhani manusia.

Demikian sajian ringkas tentang puasa, semoga kita senantiasa bersemangat untuk belajar dan memahami ajaran Islam tentang ibadah puasa ini, sehingga kualitas puasa kita semakin baik dari tahun ke tahun. Amin. [tije/LP2A PBSB]