Tampilkan postingan dengan label pendidikan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan anak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2013

Belajar Parenting dari Ayah Ibrahim


Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Pada kesempatan yang baik kali ini marilah sejenak kita menengok perjalanan hidup seseorang yang mendapat julukan “kekasih Allah” (khalilullah), seseorang yang menjadi bapaknya para nabi. Bahkan Allah ta’ala memuji beliau sebagai seseorang yang layak menjadi tauladan. Siapakah orang itu? Benar. Beliau adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا (۱٢۵)
“Dan Allah mengangkat Ibrahim sebagai kekasih.” (An-Nisa`: 125)

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
 “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada (Nabi) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia….” [al-Mumtahanah: 4]
Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Namun pada kesempatan yang singkat ini, saya mengajak Anda untuk belajar kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam hal mendidik keluarga. Apa saja pelajaran tentang pendidikan keluarga yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam?
Pertama, berdoa kepada Allah ta’ala agar diberi keturunan yang sholih.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (۱۰۰)  فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (۱۰۱)
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar“ (ash Shoffat: 100-101)
Sudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh orang tua adalah kenakalan anak-anak, terutama ketika mulai memasuki masa remaja. Bahkan ada yang bilang, kenakalan remaja sekarang sungguh di luar batas, sungguh mengherankan, sungguh tak pernah terbayangkan, sungguh mengiris-iris hati, sungguh terlalu..!! Mulai dari suka bolos sekolah, suka berantem, suka ngerokok, suka minum miras, suka narkoba, suka mencuri, suka merampok, suka mendekati zina, suka berbuat zina, suka menjual teman sekolah untuk para pezina, suka ninggalin sholat, dan suka-suka yang lain... Sungguh, Na'udzu billah min dzalik...
Pada bulan Syawwal 1434 H yang lalu, saya mengikuti Istihlal jama'ah pengajian al-Kayyis di ndalem Ust. H. Junaidi Sahal di daerah Jemursari. Di dalam taushiyah acara tersebut, Abina KH. M. Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa seorang mukmin itu sudah diberi senjata yang maha ampuh oleh Allah ta'ala untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup, bahkan sebelum persoalan itu datang. Senjata yang maha ampuh itu adalah DOA. 
Sederhana saja. Kita mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini -semuanya- tidak terlepas dari "tangan" kekuasaan dan kehendak Allah ta'ala. Jika kita datang kepada Allah ta'ala, mengakui ke-sangatkurang-an kita, mengakui ke-sangatlemah-an kita, mengakui ke-sangatbutuh-an kepada -Nya, kemudian kita menghaturkan hajat kita dan Allah ta'ala mengabulkannya, maka bereslah permasalahan hidup kita. Sesederhana itukah?
"Barangsiapa mengetuk pintu terus menerus, niscaya dia bisa memasukinya"
Olehkarena itu, selayaknya kita berdoa kepada Allah ta’ala bukan hanya ketika kita menghadapi masalah saja... tetapi kita berdoa kepada Allah sebelum masalah itu datang, kita berdoa kepada Allah setiap saat, kita berdoa kepada Allah sebagai sarana munajat kita kepada-Nya...
Kembali kepada permasalahan kenakalan remaja yang sering dikeluhkan oleh orang tua. Ada sebuah pertanyaan yang ingin kami sampaikan. Apakah dulu sebelum menikah, ketika menikah, ketika memproses wujudnya anak, ketika hamil, ketika anak baru saja lahir, ketika remaja itu masih balita, ketika remaja itu masih berupa anak yang belum baligh, para ayah dan bunda senantiasa berdoa kepada Allah ta'ala? Berdoa agar Allah ta'ala menjadikan anak-anak ayah-bunda anak-anak yang sholih sholihah, anak-anak yang baik?
Kepada siapa saja yang berharap anak-anak yang sholih-sholihah, anak-anak yang baik, Allah ta'ala telah menyiapkan untuk kita semua sebuah senjata yang maha ampuh. Dahulu kala Bapak kita, nabi Ibrahim 'alaihissalam, menggunakan senjata yang maha ampuh ini. Beliau pun terkenal sebagai Bapak para Nabi karena keturunan beliau banyak yang diangkat oleh Allah ta'ala menjadi nabi. Diantaranya adalah Nabi Ishaq, Nabi Ismail, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Ayyub, Nabi Dzul Kifli, Nabi Syu’aib, Nabi Yunus, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Isa, serta Nabi Muhammad ‘alahimush sholatu wassalam. Senjata yang maha ampuh itu adalah doa:
رَبّ هَبْ لِى مِنَ الصَالِحِيْن
"robbi hab li minash-sholihin..."
-wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (anak-anak) yang termasuk orang-orang yang sholih-
Selain itu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga berdoa:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (۴۰)
“robbij’alni muqimash-sholati wa min dzurriyyati robbana wa taqobbal du’a`”
-wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan sholat, dan juga keturunanku. Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doaku- (QS. Ibrahim: 40)
Saya yakin bahwa kita semua menginginkan anak-anak yang sholih-sholihah. Merekalah sumber kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Ketika kita masih hidup, mereka berbakti dengan berbuat baik kepada kita, memandang wajah kita dengan tatapan kasih sayang, berbicara kepada kita dengan bahasa yang menyenangkan dan senantiasa berusaha membahagiakan kita. Ketika kita sudah meninggal dunia, mereka berbakti kepada kita dengan senantiasa berdoa dan memohonkan ampun untuk kita.
Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam pernah bersabda, ” Apabila manusia mati, terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: Shadaqah jariah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan untuk orang tuanya.”(HR.Muslim dari Abu Hurairah)
Lebih lanjut, Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa setelah meninggal dunia, derajat orang masih bisa diangkat. Si mayit yang merasa diangkat derajatnya terkejut dan berkata,” Ya Allah, apa ini?” maka akan dijawab, ” Itu karena anakmu selalu memintakan ampun untukmu.” (HR.Bukhori dalam Adab al-Mufrad, dari Abu Hurairah).
Yakin dalam berdoa
Salah satu hal yang sangat penting adalah, kita harus yakin dalam berdoa. Yakin terhadap ke-MahaBesar-an Alloh ta’ala. Yakin bahwa Alloh ta’ala Maha Mampu mewujudkan doa-doa kita.
Al-‘Alim Sufyan bin Uyainah pernah mengatakan:
“Jangan sekali-kali pesimis dalam berdoa. Optimislah. Iblis saja doanya dikabulkan, ketika dia minta umur yang panjang”.
Nah, Iblis saja doanya dikabulkan oleh Alloh ta’ala. So. Yakin, yakin, yakin..!!
Sabar dalam berdoa
Nabi Ibrahim diberi karunia oleh Alloh ta’ala, berupa anak yang sangat sabar yaitu Nabi Isma’il, ketika beliau berusia 86 tahun. Benar. Sudah cukup sepuh. Namun begitulah. Beliau sangat sabar dalam berdoa. Beliau tidak pernah putus asa. Beliau tidak pernah berhenti. Beliau sangat ngeyel dalam berdoa. Beliau senantiasa berbaik sangka kepada Alloh ta’ala. Sungguh, Alloh ta’ala Maha Mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.
Saudaraku. Marilah kita menteladani Ayah kita, Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala agar diberi keturunan yang sholih-sholihah. Kapan kita berdoa? Kapan pun dan di mana pun. Lebih sering lebih baik. Terutama setiap selesai sholat fardlu karena waktu tersebut merupakan salah satu waktu yang mustajabah.

Kedua, mengajarkan ketauhidan kepada anak
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (۱۳۱) وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (۱۳٢)
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (al Baqoroh: 131 – 132)
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Sebagai orang tua, kita wajib untuk memenuhi kebutuhan anak kita. Selain memenuhi kebutuhan berupa baju, makanan dan tempat tinggal, orang tua juga harus memperhatikan pendidikan anak, terutama pendidikan tauhid. Orang tua perlu mengenalkan Allah ta’ala kepada anaknya sedari dini. Orang tua semestinya senantiasa berusaha agar anak-anaknya mengenal Allah ta’ala, mengetahui kewajiban mereka kepada-Nya, memahami hak-hak Allah ta’ala terhadap mereka, sehingga mereka kelak tumbuh di bawah naungan cahaya ketuhanan.
Mari kita jujur. Berapa banyak waktu yang kita luangkan, tenaga dan pikiran yang kita curahkan, serta harta yang kita belanjakan untuk mendidik anak kita agar mengenal dan senentiasa dekat dengan Allah ta’ala? Bandingkan dengan waktu, tenaga, pikiran, dan harta yang kita habiskan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan anak. Padahal, ketauhidan dan keterikatan kepada Allah ta’ala inilah yang akan menjadi kontrol bagi anak-anak kita agar senantiasa melakukan kebaikan dan meninggalkan kema’shiatan. Ketauhidan inilah yang menjanjikan kebahagiaan dan keselamatan anak-anak kita di dunia dan akhirat.
Ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberikan teladan bahwa hendaknya orangtua mengajarkan ketauhidan kepada anaknya. Salah satu efeknya bisa kita lihat dalam ayat berikut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (۱۰٢)
“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada Anda; insyaallah Anda akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As Shofat : 102)
SubhanAllah… Itulah jawaban yang keluar dari mulut seorang anak yang tumbuh dalam bimbingan ketauhidan. Walaupun perintah itu sangat berat, karena keyakinannya kepada Allah ta’ala, karena husnudzonnya kepada Allah ta’ala, sang anak menjawab pertanyaan ayahnya dengan mantap tanpa sedikitpun keraguan, “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan –oleh Allah- kepada Anda”.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Alkisah, ada seorang guru yang memanggil semua muridnya. Guru tersebut memberikan seekor burung kepada setiap murid dan menyuruh mereka menyembelih burung itu. Sang guru mengingatkan, “Kalian harus menyembelihnya di sebuah tempat yang tidak dilihat dan diketahui oleh siapa pun.”
Maka para murid pun berangkat melaksanakan tugas yang diberikan gurunya. Di antara mereka ada yang pergi ke puncak bukit. Ada yang pergi ke gua terpencil. Bahkan ada yang pergi ke balik pepohonan tinggi yang tersembunyi. Ketika merasa tak ada yang melihat, mereka segera menyembelih burung yang dibawanya.
Tak lama kemudian, mereka kembali dengan membawa burung sembelihannya. Kecuali satu murid. Sang Guru lalu bertanya kepadanya," Kenapa kamu tidak menyembelih burung itu?"
Murid tersebut menjawab, "Tadi guru menyuruhku menyembelih burung di tempat yang tak terlihat oleh siapa pun. Tapi, aku tak dapat menemukan tempat seperti itu. Allah kan Maha Melihat dan akan melihat perbuatanku."
Itulah gambaran seorang anak yang hidup dalam keterikatan dengan Allah ta’ala. Kapan pun dan di mana pun, sang anak merasa senantiasa diawasi oleh Allah ta’ala.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Sungguh. Setiap anak lahir dalam keadaan fitroh, memiliki kecenderungan kepada Allah ta’ala. Setiap anak terlahir dengan membawa anugerah berupa kecenderungan berbuat baik. Mungkinkah, ketika anak kita lahir, di benaknya terbesit, “aku ingin menjadi anak nakal”, “aku ingin melawan orang tuaku”, “aku ingin berma’shiat kepada Alloh”? Mungkinkah hal seperti itu terjadi?
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi….
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Marilah kita menteladani ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dalam mendidik anak. Diantaranya adalah dengan senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala agar dianugerahi anak dan keturunan yang sholih serta mengajarkan ketauhidan kepada anak. Semoga Allah ta’ala memberikan pertolongan kepada kita sehingga kita mampu menteladani ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dalam mendidik anak-anak kita. Amin.
[tije/LP2A PBSB Kemenag]


Sabtu, 24 November 2012

Mengatasi Anak Yang Punya Senjata Andalan MENANGIS

Bagaimana mengatasi anak yang menggunakan tangisan sebagai senjata andalan?
Saya adalah seorang ibu. Saya memiliki anak yang berusia 5 tahun. Ketika menginginkan sesuatu, anak saya seringkali menangis dengan keras. Anak saya baru berhenti jika keinginannya dipenuhi. Contohnya: setiap pagi anak saya minta dibuatkan mie instan. Sebenarnya saya tahu jika mie instan itu tidak baik bagi anak. Apalagi dalam jumlah yang banyak dan frekuensi yang sering. Tapi mau gimana lagi, anak saya itu selalu merengek minta mie instan setiap pagi. Kalau tidak saya kasih, dia mengangis dengan sangat keras sampai kedengaran dari rumah tetangga. Selain malu dengan tetangga, saya juga tidak tega melihat anak saya yang masih 5 tahun itu menangis sambil meraung-raung di lantai. Bagaimana sebaiknya sikap saya menghadapi anak saya tersebut? Terimakasih.

Jawab:
Ibu yang dirahmati Alloh, ketika anak menggunakan tangisan untuk “memaksa” kita menuruti keinginannya kemudian berhasil, dia akan mengulanginya lagi di lain kesempatan. Dan jika dia berhasil untuk yang ke dua kali dan seterusnya, maka dia benar-benar akan menggunakan tangisan itu sebagai “senjata andalan” untuk memaksa kita menuruti keinginannya.
Lalu bagaimana solusinya?
Ibu yang bijaksana, kita harus tahu dengan pasti mana keinginan anak yang baik dan bermanfaat bagi dia dan mana yang jelek dan berbahaya bagi dia. Jika si anak memiliki keinginan yang berakibat jelek bagi dia, seperti yang Ibu utarakan tersebut, maka kita sebagai orang tua harus “tega” menolak keinginannya. Tentu kita harus menjelaskan dengan lembut kepada si anak bahwa keinginannya itu berbahaya dan berakibat jelek bagi dia. Misalnya, dia nanti bisa sakit.
Biasanya respons anak adalah menangis dan merengek. Tidak mengapa, tetaplah bersikap tenang dan jangan terpacing oleh ulahnya. Katakanlah dengan lembut, “Adik tidak boleh terus-terusan makan mie instan setiap pagi, karena bisa membuat adik sakit. Lebih baik adik makan telur dan minum susu agar badan adik sehat dan kuat. Kalau adik mau nangis, silahkan. Ibu akan tunggu sampai adik selesai menangis…”.
Tetaplah konsisten dengan pendirian Ibu. Jangan lekas luluh dengan tangisan si anak. Ibu juga tidak perlu malu dengan tetangga. Ini kan untuk kebaikan anak Ibu sendiri, buat apa malu? Dan, sebaiknya berilah semangat kepada si anak. Misalnya dengan mengatakan, “Ibu tahu adik anak yang baik, adik anak yang pandai, nanti kalau sudah selesai menangis, bilang ke ibu ya…”.
Memang, kebanyakan orang tua kesusahan menerapkan metode ini. Mereka berpikir alangkah kejamnya orang tua yang membiarkan anaknya menangis dan meraung-raung seperti itu. padahal, inilah yang dinamakan ketegasan. Bukan berarti tidak sayang. Justru inilah wujud kasih sayang orang tua yang sebenarnya kepada anak. Apa Ibu mau nantinya anak ibu sakit-sakitan dan terganggu perkembangannya? Kita seharusnya mengajari anak kita tentang hal yang benar dan hal yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.
Dengan bersikap tegas dan konsisten, lama-kelamaan si anak akan menyadari bahwa dia tidak bisa memaksakan kehendaknya dengan menggunakan tangisan. Sekali kita berhasil menyadarkan si anak, dia akan berhenti untuk memaksakan kehendaknya kepada orang tua.
Setelah tenang dan berhenti menangis, biasanya seorang anak akan menunjukkan sinyal-sinyal perdamaian dengan orang tua. Dia akan mendekati orang tua dan mulai mengajak komunikasi. Tentu saja, karena memang dia membutuhkan orang tuanya. Jika tanda-tanda itu muncul, segeralah sambut anak Anda dengan pelukan dan ciuman yang penuh dengan kasih sayang. Pujilah anak Anda dengan mengatakan, “adik memang anak yang baik”, atau, “anak mama hebat ya..”. Saya yakin anak Anda pun akan menyambut baik sikap Ibu tersebut.
Sebagai orang tua, kita perlu menhindari ucapan yang melemahkan seperti, “dasar kamu anak cengeng”, “kamu bikin repot mama saja..!”, atau ancaman-ancaman kosong, seperti, “awas ya, nanti kalau mama pergi adik tidak diajak lagi”. Ucapan yang melemahkan dan ancaman kosong seperti itu tidak akan bisa merubah sikap si anak menjadi lebih baik. Hindarilah, sekali lagi hindari kata-kata seperti itu.
Jika suatu ketika si anak mengulangi lagi jurus menangis seperti itu, kita tidak perlu menyalahkan si anak. Kita hendaknya mengulangi lagi cara-cara yang tegas dan konsisten tersebut. Tentu saja cara-cara tersebut kita lakukan dengan lembut. Bagaimanapun dia adalah anak manusia yang masih berusia 5 tahun dan masih butuh banyak belajar. Mungkin saja teknik ini memerlukan pengulangan beberapa kali hingga si anak benar-benar memahami dan menyadari. Bersabarlah… demi kebaikan buah hati Anda.
Terakhir, ingatlah untuk senantiasa berdoa. Mintalah kepada Allo ta’ala agar melembutkan hati anak-anak kita sehingga kita mudah mendidik mereka untuk menjadi anak-anak yang baik. (tj) 
(Disarikan dari buku Ayah Edy Menjawab: 100 persoalan sehari-hari orang tua yang tidak ada jawabannya di kamus manapun, hal 3-5. 2012. Jakarta: Noura Books. Dengan beberapa modifikasi dan tambahan)

Rabu, 03 Oktober 2012

Mengapa anak suka berbohong?



Ayah bunda yang bijaksana, dibandingkan dengan tindak kejahatan lain, berbohong sebenarnya berada pada level teratas. Mengapa demikian? Mari kita lihat kondisi bangsa ini, berapa banyak orang yang melakukan korupsi? Dan kita tahu, korupsi itu berawal dari sebuah kebohongan. Kebohongan adalah awal dari berbagai kerusakan dan hanya membawa kita kepada keburukan.
Oleh karena itu, jika anak (suka) berbohong, orang tua perlu segera mencari solusinya karena dampaknya berat sekali. Tekankan dan pahamkan kepada anak bahwa berbohong adalah kebiasaan yang sangat buruk dan berakibat buruk baik di dunia dan akhirat. Di dunia, pembohong tidak akan dipercaya oleh orang lain. Di akhirat, pembohong mendapatkan siksa karena berbohong itu termasuk perbuatan dosa.
Berdasarkan pengalaman ayah Edy, seoarang pakar parenting, anak (suka) berbohong karena pada  awalnya mencontoh orang-orang terdekatnya, siapapun orang itu dan sekecil apa pun kebohongan itu. Salah satu contoh kebohongan kecil  yang (mungkin) sering dilakukan orang tua adalah ketika ada tamu tak diundang yang bernama pengemis, orang tua berkata, “Dek, bilang mama gak ada ya…”. Karena melihat orang-orang terdekatnya berbohong, si anak mengira bahwa bebohong itu wajar-wajar saja dan boleh dilakukan. Akhirnya si anak pun mulai berbohong. Jadi, faktor pertama anak (suka) berbohong adalah karena ada yang dicontoh. Tidak mungkin seorang anak tiba-tiba suka berbohong jika tidak ada yang dicontoh.
Faktor kedua, orang tua seringkali ingin jawaban yang bagus-bagus dari sang anak. Jika anak cerita tantang sesuatu yang jelek, yang tidak menyenangkan, sering kali orang tua marah-marah. Orang tua tidak siap dengan jawaban yang tidak bagus. Jadinya, kejujuran anak seringkali dibalas dengan emosi. Contoh: suatu hari sang anak bolos sekolah, lalu orang tua mengatahui kalau anaknya bolos sekolah.
“adek tadi bolos sekolah ya?”   
“iya” jawab sang anak
“Adek ini, mama sudah susah-susah nyekolahin, malah sekolah gak bener..!! mau jadi apa kamu!!”
Nah, kebanyakan orang tua suka marah-marah seperti ini. Jadinya di kesempatan berikutnya si anak berbohong karena takut dimarahi orang tuanya. Sebenarnya si anak tidak memiliki niat jahat. Ia hanya ingin cari aman saja. Padahal kalau orang tua gak marah-marah, orang tua mau mencari penyebab kenapa anak bolos sekolah, kemudian membantu anak untuk menyelesaikan permasalahannya, malah orang tua mau menasehati sang anak dengan lembut dan memotivasi anak agar lebih giat belajar, kemungkinan besar anak tidak akan berbohong.
Lalu bagaimana solusinya?
Kalau penyebabnya karena ada yang dicontoh, solusinya adalah mengubah sikap yang dicontoh. Jika bunda merasa pernah berbohong kepada anak, katakana pada anak, “sayang, kalau kamu berbohong karena mencontoh mama, maafkan mama ya. Mama berjanji tidak akan berbohong lagi. Tolong bantu mama ya.. kalau mama berbohong, tolong adek ingatkan”. Jadi memang harus ada komitmen yang dibangun oleh orang tua untuk mengoreksi diri. Kalau orang tua mau berubah, insyaalloh anak pun akan berubah.
Kemudian, jika selama ini orang tua sering marah-marah kalau mendengar atau mengetahui bahwa si anak (mungkin) melakukan kesalahan, maka mulai sekarang kebiasaan ini harus dirubah. Dengarkan jawaban anak tanpa memarahinya. Apapun jawabannya. Kita sebagai orang tua mestinya bersyukur jika anak kita masih mau berkata jujur kepada kita. Jadi anak kita masih percaya kepada kita. Ingat..!! marah tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Bayangkan kalau anak sudah terlanjur memakai narkoba. Kalau orang tuanya marah-marah saja, apa ini akan menyelesaikan masalah?! Justru melihat orang tuanya marah, mungkin ia malah akan terus melakukannya. Sebaliknya, jika orang tua mau menerima si anak apa adanya, orang tua mau membantu anak menyelesaikan masalahnya, orang tua mau bekerja sama dengan anak, kemungkinan besar “kerusakan” itu bisa diperbaiki sedikit demi sedikit.
Cara bepikir seperti ini seringkali luput dari pemikiran orang tua karena kebanyakan orang tua merasa diri mereka paling benar. Kalau anaknya salah, mereka pikir itu hanya kesalahan anak semata. Padahal kesalahan anak adalah kesalahan orang tua juga; mungkin si anak kurang mendapat perhatian dan kasih sayang, akhirnya si anak mencari teman, nah tanpa sengaja si anak mendapat teman yang salah, teman yang buruk, lama-kelamaan si anak mengikuti apa yang dilakukan temannya itu karena ia merasa nyaman bersama mereka.  Oleh karena itu, STOP marah ya Ayah Bunda.
Kalau anak melakukan sesuatu yang dinilai salah, sebaiknya kita cari tahu dulu apa penyebabnya. Anak bolos sekolah mungkin saja disebabkan karena ada gurunya yang galak, ada temannya yang suka menyakiti, atau sebab yang lain. Kita cari tahu dulu penyebabnya apa, kemudian kita bantu anak kita untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Seperti ini lebih baik dan insyaalloh si anak akan tetap berkata jujur kepada orang tua.
Bagaimana kalau si anak masih berbohong?
Kita sebaiknya membuat kesepakatan dengan anak. Kalau anak masih berbohong, kita perlu memberikan sanksi yang tegas. Contoh, “adek tidak boleh berbohong, karena berbohong itu dosa. Kalau adek berbohong lagi, akhir bulan ini adek tidak boleh ikut rekreasi ke kebun binatang”. Jika kemudian si anak “ketangkap” berbohong lagi, sanksi ini harus dijalankan. Konsistenlah agar anak mengerti bahwa berbohong itu adalah perbuatan buruk yang harus dihindari.
Selain itu, biasakanlah memberikan apresiasi kepada anak ketika dia berkata jujur. Orang tua bisa mengucapkan, “terimakasih adek berkata jujur. Bunda akan tambah sayang kepada adek”. Dan sesekali boleh juga kita, orang tua, memberikan hadiah kepada anak karena sang anak konsisten berkata jujur. Insyaalloh dengan cara seperti ini anak-anak kita akan terbiasa dan termotivasi untuk senantiasa berkata jujur. Ingat, biasakan setiap hari berdoa agar Alloh ta’ala membersihkan hati anak-anak kita, agar Alloh ta’ala menolong kita dan anak-anak kita menjadi orang-orang yang jujur. Semoga. 
                                                                                       
(Dikutip dari buku Ayah Edy Menjawab: 100 persoalan sehari-hari orang tua yang tidak ada jawabannya di kamus manapun, hal 31-35. 2012. Jakarta: Noura Books. Dengan beberapa modifikasi dan tambahan)

Sabtu, 04 Agustus 2012

3 Hal Yang Menyebabkan Anak Suka Melawan dan Susah Diatur

Dalam buku “37 Kebiasaan Buruk Orang Tua yang Menghasilkan Prilaku Buruk pada Anak”, Ayah Edy, seorang pakar parenting, menjelaskan beberapa kebiasaan orang tua yang berakibat negatif terhadap prilaku sang anak. Kebiasaan-kebiasaan orang tua tersebut setelah dicermati ternyata justru menjadikan sang anak suka melawan dan suah diatur. Diantara kebiasaan-kebiasaan buruk orang tua tersebut adalah selalu menuruti permintaan anak, berbohong kecil dan sering, dan ayah-ibu tidak kompak.
Kebiasaan buruk pertama adalah “selalu menuruti permintaan anak”. Apakah anak kita anak tunggal? Atau anak laki-laki satu-satunya? Atau anak yang sudah 10 tahun lebih kita tunggu kehadirannya? Fenomena ini sering menyebabkan orang tua menuruti apa saja keinginan si anak. Orang tua berusaha untuk membuat si anak senantiasa mendapatkan apa saja yang diinginkannya. Hati-hati..!! Seperti seorang raja kecil, semakin hari tuntutan anak akan semakin aneh-aneh dan kuat. Lama-lama orang tua sudah tak mampu lagi untuk membendung keinginan si anak, padahal keinginan itu sebenarnya berefek buruk pada masa depan si anak. Lagipula anak yang dididik dengan cara seperti ini akan menjadi anak super egois, tidak kenal toleransi, dan tidak bisa bersosialisasi. Istilah umumnya anak manja.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Betapapun sayangnya kita kepada anak, kita tidak boleh selalu menuruti kemauan si anak. Jika kita memang benar-benar sayang kepada anak, semestinya kita mengajari anak kita tentang nilai baik dan buruk, tentang benar dan salah, tentang manfaat dan bahaya, tentang apa yang boleh dan tidak boleh. Kita semestinya senantiasa mengarahkan dan mendukung anak kita kepada hal-hal yang baik bagi mereka dan masa depan mereka. Kalau anak kita meminta sesuatu yang tidak baik, kita harus mampu menolaknya. Tentunya dengan cara yang baik. Contoh. Ketika waktu belajar, sang anak minta nonton TV. Kemudian sang anak mengeluarkan jurus andalannya; menangis dengan keras. Kita sebagai orang tua tidak boleh kalah dengan anak. Kita tidak boleh menuruti kemauan anak yang tidak baik seperti itu. karena kalau kita “kalah” dengan tangisan si anak, dia akan menjadikannya sebagai pola. Dia akan menandai bahwa orang tua pasti akan mau menuruti keinginannya jika dia menangis keras. Semestinya kita menasehati anak kita agar belajar ketika waktunya belajar. Sang anak hanya boleh meonton TV pada jam-jam yang ditentukan sesuai kesepakatan, misalnya hari ahad jam 07.00-09.00. Kalau si anak menangis terus? Ya kita tunggu saja sampai berhenti. Toh lama-lama berhenti juga kalau sudah capek. Waduh, kok tega banget sama si anak? Iya, memang seharusnya seperti itu. Kita semestinya mengajari anak kita untuk berdisiplin. Ya memang membutuhkan kesabaran dan waktu yang cukup lama. Namun semua itu kan demi kebaikan anak kita tersayang, demi masa depan mereka yang lebih baik.
Kebiasaan buruk yang kedua adalah “berbohong kecil dan sering”. Tanpa sadar, sebagai orang tua kita sering berbohong kepada anak. Contohnya pada saat kita mau berangkat ke kantor, anak kita minta ikut. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskan kepada anak dengan jujur? Atau kita malah mengalihkan perhatian si anak kemudian pergi begitu saja? Atau bahkan kita mengatakan, “sebentar ya sayang, papa/mama hanya ke depan, sebentaaaaar saja”. Tapi ternyata kita pulang malam.
Hati-hati..!! Anak kita itu pandai sekali. Ia akan belajar dengan sangat cepat. Dia akan menandai bahwa ayah atau ibunya berbohong. Lama-lama ia tidak akan percaya terhadap apa yang dikatakan oleh ayah atau ibunya, minimal dia akan selalu curiga. Hal ini dapat mengakibatkan sang anak tidak mau menuruti apa yang orang tua katakan.
Apa yang seharusnya kita lakukan?
Berkatalah jujur kepada anak. Jelaskan dengan lembut dan penuh pengertian. “Sayang, Papa/Mama mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Kalau Papa/Mama pergi ke kebun binatang Kamu bisa ikut”.
Tentu hal ini memerlukan waktu dan kesabaran. Anak-anak memerlukan waktu yang lebih untuk memahami bahwa orang tuanya harus pergi ke kantor di pagi hari untuk bekerja dan dia tidak bisa ikut. Dia bisa ikut orang tuanya jika pergi ke kebun binatang atau tempat rekreasi. Pastikan kita senantiasa jujur dalam setiap perkataan. Insyaalloh, lambat laun anak kita akan mampu memahami dan menuruti apa yang kita katakan.
Kebiasaan buruk yang ketiga adalah “ayah dan ibu tidak kompak”. Mendidik anak bukanlah tugas ayah saja atau ibu saja, tapi keduanya. Anak akan sulit menjadi baik jika ayah dan ibu tidak kompak dalam mendidik anak. Contoh: Ibu meminta anak untuk mematikan TV dan mengajaknya mengerjakan tugas sekolah karena memang waktunya belajar. Si anak kemudian menolak dan bahkan menangis. Pada saat yang bersamaan si ayah membela sang anak dengan dengan mengatakan bahwa tidak apa-apa menonton TV terus agar tidak stres.
Jika hal ini terjadi, biasanya sang anak akan menilai ibunya jahat dan ayahnya baik. Akibatnya setiap kali ibu mengajak anak untuk melakukan sesuatu yang seharusnya ia kerjakan, ia menolak dan berlindung di balik pembelaan ayah. Perlahan tapi pasti, anak akan belajar untuk terus melawan ibunya.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Ayah dan ibu harus kompak dalam mendidik anak. Semestinya ayah dan ibu senantiasa menjalin komunikasi yang intensif terkait pola asuh yang akan diterapkan kepada sang buah hati. Di hadapan anak, jangan sampai berbeda pendapat untuk hal-hal yang berhubungan langsung dengan sang anak. Saat salah satu di antara kita sedang mendidik anak, pasangan harus senantiasa mendukung. Kalau ada pandangan yang berbeda terkait pola asuh anak, kendaknya dibicarakan secara pribadi dengan pasangan kita, bukan di depan sang anak.
Contoh lagi. Ibu ingin mendidik anaknya untuk berlaku baik terhadap kakaknya. Tidak boleh menang sendiri. Ayah hendaknya tidak merusak pola asuh ini dengan berkata, “Kakak sih yang buat gara-gara…”. Padahal kenyataannya tidak. Seharusnya si ayah mendukung ibu dengan mengatakan, “Benar kata mama, Dik. Kakak kan juga musti kamu hormati dan kamu sayangi. Kalau kamu hormat dan sayang kepada orang lain, orang lain juga akan hormat dan sayang kepadamu”.
Itulah beberapa kebiasaan buruk orang tua yang bisa menyebabkan sang anak suka melawan dan susah diatur. Semoga kita bisa menghindarinya. Dalam hal pendidikan buah hati, kita memang musti sabar dan tidak tergesa-gesa mengharapkan hasil yang instan. Semuanya perlu proses. Biarkan anak kita belajar untuk menjadi anak yang baik. Dan mari kita juga senantiasa belajar untuk menjadi orang tua yang baik. Satu hal lagi yang sangat penting, hendaknya kita sebagai orang tua setiap hari berdoa kepada Alloh ta’ala agar menjadikan buah hati kita anak-anak yang sholih-sholihah, cinta kepada Alloh dan Nabi Muhammad, berbakti kepada orang tua, sehat badannya, cerdas akalnya, bersih hatinya dan baik akhlaqnya. Amin. (tj)

Minggu, 01 April 2012

Mendidik Anak Sepenuh Hati

Beberapa waktu yang lalu saya bersilaturrahim ke warga jama’ah musholla di Kalisari. Pada hari Sabtu malam Ahad tersebut, bapak-bapak dan ibu-ibu menyelenggarakan pengajian dan pembinaan yang disponsori oleh salah satu LAZIS terbesar di Jawa Timur. Pematerinya adalah pak Bagoes Sanyoto yang merupakan Psikolog Anak dari Fakultas Psikologi Unair. Saya pernah bertemu dengan beliau sekali ketika beliau mengisi pelatihan untuk guru TPA di Masjid Nuruzzaman Unair. Pada malam itu Pak Bagoes berbagi tips dan trik dalam mendidik anak.


Anak yang sholeh merupakan dambaan bagi orang tua. Anak yang sholeh adalah anak yang mencintai Alloh dan Rosululloh serta berbakti kepada bapak dan -terutama- ibunya. Anak sholeh seperti ini merupakan amal jariyah bagi bapak-ibunya. Amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang sholeh otomatis akan mengangkat derajat bapak-ibunya di dunia dan akhirat. Contoh sederhana; kalau ada anak yang berakhlaq baik, suka menolong, bertutur kata dan berlaku sopan, senang membantu bapak-ibunya, biasanya masyarakat akan bertanya-tanya, “anak baik itu putranya siapa ya..??”

Selain itu kita tahu bahwa doa anak yang sholeh adalah mustajab. Doa yang dipanjatkan oleh anak yang sholeh di setiap ba’da sholat akan bermanfaat bagi bapak-ibunya. Doa anak yang sholeh merupakan pelebur dosa bagi bapak-ibunya sekaligus sebagai “pendongkrak” derajat bapak-ibunya di akhirat. Beruntunglah bapak-ibu yang memiliki anak yang sholeh. Beruntung di dunia dan di akhirat.

Pak Bagoes menyatakan bahwa langkah pertama untuk mendidik anak menjadi sholeh adalah dengan senantiasa memberikan contoh perilaku yang baik di rumah. Ada dikatakan, “seorang anak mungkin gagal dalam memahami apa yang orang tua katakan, tapi seorang anak tidak pernah gagal dalam meniru prilaku”. Benar. Anak adalah peniru yang ulung. Sejak usia sangat dini, bayi, seorang anak meniru apapun yang dia lihat dan dia dengar. Kalau seorang ibu atau bapak memperlihatkan diri mereka “berjalan”, sang anak pun akan mencoba meniru agar bisa berjalan. Kalau ibu-bapak sering memukul anaknya, si anakpun akan suka memukul orang lain. Kalau ibu-bapak berkata halus dan sopan kepada anak, si anak pun akan berkata halus dan sopan. Namun jika orang tuanya mengajari berkata kotor, misuh, maka bisa dipastikan, sang anak pun mahir berkata kotor (misuh). Anak adalah peniru yang hebat. Bahkan anak lebih suka meniru daripada mendengarkan omongan. Mari kita menjadi contoh yang baik bagi anak-anak. Toh kalau kelak mereka menjadi anak yang baik, yang sholeh, ibu-bapaknya lah yang paling beruntung mendapatkan baktinya. Begitu juga sebaliknya.

Tips selanjutnya adalah bangun ke”dekat”an dengan anak. Kesibukan dalam bekerja dan mengurus keperluan rumah tangga bukanlah penghalang bagi ibu-bapak untuk memiliki kedekatan dengan buah hatinya. Ajak anak Anda ngobrol. Ketika anak pulang sekolah, eluslah kepalanya dengan lembut sambil bertanya, “anak mama yang manis, tadi di sekolah diajari bu guru apa?”. Lihatlah, anak Anda akan merasa senang. Buat anak Anda merasa aman dan nyaman di rumah. Ibu-bapak dianjurkan dengan sangat agar sering-sering memeluk dan mengelus anak-anaknya.

Pak Bagoes menyampaikan bahwa kebiasaan menepuk pundak anak dengan lembut bisa menjadikan sang anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tidak mudah menyerah. Mengelus-elus kepala dengan lembut membuat anak memiliki hati yang lembut, tidak gampang marah. Anak-anak yang sering dielus-elus pundak kirinya akan tumbuh menjadi orang yang percaya diri.

Hindari berlaku keras dan kasar kepada anak..!! Suatu ketika ada seorang sahabat yang dikencingi oleh anaknya. Sahabat tersebut hendak memarahi sang anak. Rosululloh saw yang melihat hal tersebut langsung menegur sahabat tadi. “bajumu bisa dicuci dengan air dan air kencing anakmu itu akan hilang. Namun kata kasar yang kamu ucapkan kepada anakmu, akan dia ingat sampai dewasa”.
Bersikap keras dan kasar tidak akan menyelesaikan masalah. Yang akan terjadi justru sang anak akan menjadi keras dan kasar juga. Jadi jangan salahkan anak jika ketika ibu bapaknya sudah tua renta, sang anak justru malah bersikap keras dan kasar kepada ibu-bapaknya. Itu kemungkinan besar terjadi karena dia dulu sering dikasari dan dikerasi, sehingga ia meniru “keras dan kasar”. Si anak pun tumbuh dewasa menjadi orang yang keras dan kasar. Memang boleh menghukum anak jika si anak melakukan kesalahan, tetapi dengan hukuman yang baik dan mendidik. Hukuman yang membuat anak sadar bahwa dia salah dan dia mau memperbaiki kesalahannya.

Semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh-sholehah. Anak yang mencintai Alloh ta’ala dan Rosululloh, serta berbakti kepada ibu-bapak mereka. (tj)