Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Desember 2012

SURAT CINTA UNTUK REMAJA MUSLIM


Wahai remaja muslim. Bagaimana kabarmu? Semoga kalian senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat. Bagaimana kabar hatimu? Apakah di dalam hatimu masih ada ruang untuk cintamu kepada Alloh ta’ala? Semoga saja ada dan senantiasa ada. Bukankah Alloh lah tempat kita berasal dan Alloh lah tempat kita kembali kelak?
Wahai remaja muslim, Alloh ta’ala mengundangmu ke surga-Nya. Jagalah dirimu, jagalah tubuh yang telah Alloh ta’ala percayakan kepadamu. Tutuplah aurotmu. Pakailah pakaian yang bersih, baik, pantas, dan menutup aurot. Bagi wanita muslimah, pakaiannya menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Bagi laki-laki muslim, bajunya menutup badan dan celananya sampai di bawah lutut.
Wahai remaja muslim, apakah kalian sudah mengetahui bagaimana seharusnya kita, umat nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam, berpakaian? Yuk, kita belajar bareng-bareng. Bismillah…
Kriteria pakaian yang seharusnya remaja muslim pakai itu ada empat: 
Yang pertama, pakaian kita itu menutup aurot. Apakah aurot itu? Aurot adalah bagian tubuh yang (menurut syariat) harus ditutup. Kita sudah tahu kan batasan aurot itu?       
Aurot wanita muslimah itu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya….” (QS. An Nuur [24] : 31).
Menurut Ibnu Umar RA. yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan.
Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh SAW dengan pakaian yang tipis, lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata : “Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini dan ini [sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan]”. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).
Menutupkan khumur (jilbab) ke dada.
“…. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada…” (QS. An Nuur [24] : 31).
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59).
Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurot yang harus ditutup.
Sedangkan aurot laki-laki muslim adalah antara pusar dan lutut.
Dari Muhammad bin Jahsyi, ia berkata: Rasulullah Saw melewati Ma’mar, sedang kedua pahanya dalam keadaan terbuka. Lalu Nabi bersabda: “Wahai Ma’mar, tutuplah kedua pahamu itu, karena sesungguhnya kedua paha itu aurot.” [HR. Ahmad dan Bukhari, lihat Ahkamush Sholat, Ali Raghib].
Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ali ra: “Janganlah engkau menampakkan pahamu dan janganlah engkau melihat paha orang yang masih hidup atau yang sudah mati.” [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihat Shafwât at-Tafâsir, Muhammad Ali ash-Shabuni].
Yang kedua, pakaian kita itu tidak tipis dan tidak transparan atau menerawang. Artinya ya pakaian yang benar-benar menutup aurot. Yang ketiga, pakaian kita itu juga tidak ketat (memperlihatkan lekuk tubuh). Masih ingat kan nasehat dan peringatan dari Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang sangat mencintai kita, bahwa salah satu penghuni neraka nanti adalah, mereka yang berpakaian tapi telanjang (pakaiannya tipis-transparan / ketat).
“Dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu : Suatu kaum yang memiliki cambuk, seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan ini dan ini.” (HR.Muslim)
Yang keempat, laki-laki tidak memakai pakaian khusus wanita, begitu juga sebaliknya.
Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dia menceritakan : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki yang bersikap seperti wanita dan wanita seperti laki-laki“.
Sedangkan dalam riwayat yang lain disebutkan : “Rasululloh shollallohu alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki“. (H.R. Bukhari).
Begitulah seharusnya kita remaja muslim berpakaian. Wah repot banget..! Ribet banget..! Emmm.. Sebenarnya enggak juga. Repot dan ribet enggaknya itu karena kebiasaan. Kalau kita sudah terbiasa memakai pakaian yang menutup aurot dengan sempurna, kita akan merasa gak nyaman ketika memakai pakaian yang terbuka, tipis-transparan, ataupun ketat. Gak percaya?! Coba aja deh. Begitu juga sebaliknya. Kalau kita sudah terbiasa memakai pakaian yang serba terbuka, serba tipis, dan serba ketat, mau ganti pakaian yang menutup aurot, agak tebal dikit, dan agak longgar pada awalnya akan terasa aneh. Kurang nyaman. Namun lama-kelamaan pasti menjadi nyaman. Lagian, kita kan musti ingat. Kita ini hidup bukan hanya di dunia yang fana ini saja, tapi juga di akhirat. Apapun yang kita lakukan di dunia ini akan ada akibatnya di akhirat kelak, mengantarkan kita ke surga yang penuh nikmat, atau menjerembabkan kita ke jurang neraka yang penuh siksa. Dan apapun yang diatur oleh Alloh ta’ala, pastilah itu baik bagi kita, di dunia dan di akhirat. Bukankah kita sudah ridlo bahwa hanya Alloh lah Tuhan kita?? Kalau memang begitu, yuk menjalankan perintah Alloh ta’ala. Coba aja dulu deh… dengan niat yang baik dan bener. Bismillah… semoga Alloh ta’ala ridlo kepada kita. Semoga Alloh ta’ala tambah sayang kepada kita.
Terakhir, saya kutipkan penjelasan dari Prof. Dr. M. Qurais Shihab, MA., penulis tafsir al-Misbah dan direktur Institut Ilmu al-Quran Jakarta, tentang pakaian, aurot, dan keterlibatan syetan terhadap terbukanya aurot manusia.
Al-Quran  surat  Al-'Araf (7): 20 menjelaskan peristiwa ketika Adam dan Hawa berada di surga:
“Setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan pada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu aurotnya, dan setan berkata, "Tuhan kamu melarang kamu mendekati pohon ini, supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (di surga)."
Selanjutnya dijelaskan dalam ayat 22 bahwa:
“...setelah mereka merasakan (buah) pohon (terlarang) itu tampaklah bagi keduanya aurot-aurotnya, dan  mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga...”
Terlihat jelas  bahwa  ide  dasar  yang  terdapat  dalam  diri manusia adalah "tertutupnya aurot", namun karena godaan setan, aurot manusia terbuka. Dari ayat di atas kita juga tahu bahwa ide "membuka aurot" adalah ide setan, dan karenanya tanda-tanda kehadiran  setan  adalah terbukanya aurot.  Sebuah  riwayat  yang  dikemukakan oleh Al-Biqa'i  dalam  bukunya  Shubhat  Waraqah  menyatakan  bahwa ketika  Nabi  Saw. belum memperoleh keyakinan tentang apa yang dialaminya di  Gua  Hira  --apakah  dari  malaikat  atau  dari setan--  beliau  menyampaikan  hal  tersebut  kepada  istrinya Khadijah. Khadijah  berkata,  "Jika  engkau  melihatnya  lagi, beritahulah  aku".  Ketika  di  saat  lain  Nabi  Saw. Melihat (malaikat) yang  dilihatnya  di  Gua  Hira,  Khadijah  membuka pakaiannya  sambi1  bertanya,  "Sekarang,  apakah engkau masih melihatnya?" Nabi  Saw.  menjawab,  "Tidak,  ...  dia  pergi." Khadijah dengan penuh keyakinan berkata, "Yakinlah yang datang bukan setan, ...  (karena  hanya  setan  yang  senang  melihat aurot)".
Dalam hal ini Al-Quran mengingatkan:
“wahai putra-putra Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia (telah menipu orang tuamu Adam dan Hawa) sehingga ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurot mereka berdua” (QS Al-A'raf [7]: 27).
Jadi, marilah kita menutup aurot kita karena pada dasarnya manusia itu sesuai fitrah senang menutup aurotnya. Dan syetanlah yang memiliki ide untuk membuka aurot dan suka melihat aurot manusia. Kita gak mau kan jadi teman dan tontonan syetan setiap hari?
Hanya kepada Alloh lah kita menyembah. Hanya kepada Alloh lah kita memohon pertolongan. Semoga Alloh ta’ala memantapkan hati kita untuk senantiasa menutup aurot. Amin. (tj)


Sabtu, 17 November 2012

‘ASYURO = MOMENTUM TAUBAT NASIONAL

                                           
Saudaraku sekalian.
Pernahkah kita menghitung-hitung, berapa banyak dosa yang telah kita lakukan? Pernahkah kita berhenti sejenak untuk memikirkan perjalanan hidup kita. Sudah sampai manakah kita? Apakah kita sudah berada di jalan yang benar, jalan menuju keselamatan dunia akhirat?
Amirul Mu`minin ‘Umar ibn Khoththob r.a. pernah menyampaikan sebuah nasihat yang sangat berarti,
“hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum amal itu ditimbang”
Karena kelak di hari pembalasan amal…
Maksudnya:
“maka barangsiapa melakukan kebaikan seberat dzarroh pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa melakukan kejelekan seberat dzarroh pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. (QS. Al-Zalzalah : 7-8)
Marilah kita semua mawas diri, menginstropeksi diri kita. Mumpung kita masih diberi kesempatan oleh Alloh ta’ala menikmati hidup di dunia. Mumpung jantung ini masih berdetak, mumpung kita masih bisa bernafas…
Maksudnya:
“wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu sekalian kepada Alloh ta’ala. Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (akhirat). Bertaqwalah kepada Alloh ta’ala, sungguh Alloh Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”. (QS. Al-Hasyr : 18)
Saudaraku sekalian.
Tentu kita sudah tahu bahwa bulan Muharrom ini adalah salah satu bulan yang mulia. Bahkan bulan ini mendapat julukan “Syahrulloh” (bulannya Alloh). Dan kita juga tahu bahwa di bulan Muharrom ini ada sebuah hari yang sangat istimewa. Benar. Hari itu adalah hari ‘Asyuro. Hari tanggal sepuluh (10) bulan Muharrom.
Ada beberapa peritstiwa penting yang terjadi di hari ‘‘Asyuro, diantaranya:
1. ‘Asyuro adalah hari pertama sejarah peradaban manusia dimulai, yakni ketika Nabiyulloh Adam alaihissalam bersama istrinya, sayyidatuna Hawwa turun kedunia.
2. Pada hari itu Alloh ta’ala banyak sekali menerima taubat hamba-hambaNya yang bersalah, diantaranya pada hari itu Alloh menerima taubat Nabiyulloh Adam alaihissalam, taubat kaum Nabiyulloh Yunus alaihissalam dan taubat kaum Nabi Musa alaihissalam.
3. Pada hari itu Nabiyulloh Musa alahissalam dan kaumnya selamat dari kejaran Fir’aun dan tentaranya, sekaligus hari tengelam dan kematian Fir’aun beserta pasukannya di laut Merah.
4. Pada hari itu pula, perahu Nabiyulloh Nuh alaihissalam berlabuh di gunung Judiy.
Sebagai rasa syukur, maka Nabiyulloh Nuh dan Nabiyulloh Musa alaihimassalam pun berpuasa pada hari itu.
Sejenak marilah kita simak kabar dari baginda Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam terkait dengan hari ‘Asyuro.
Ketika Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam telah berhijrah dan tiba di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah ternyata juga bershaum pada hari tersebut. Maka beliau bertanya kepada mereka. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas rodliyallahu ’anhuma:
Bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyuro. Maka beliau bertanya (kepada mereka) : “Hari apakah ini yang kalian berpuasa padanya?” Maka mereka menjawab : “Ini merupakan hari yang agung, yaitu pada hari tersebut Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun bersama kaumnya. Maka Musa bepuasa pada hari tersebut dalam rangka bersyukur (kepada Allah). Maka kami pun bepuasa pada hari tersebut” Maka Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan (para shahabat) untuk berpuasa pada hari tersebut. [HR. Al-Bukhari 2004, 3397, 3943, 4680, 4737. Muslim 1130]
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Romadlon adalah puasa pada bulan Alloh, Muharrom. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)
Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura`, maka beliau menjawab : “(puasa tersebut) menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat.” [HR. Muslim 1162)
Oleh karena itu, marilah kita semua hendaknya melaksanakan puasa sunnah pada hari ‘Asyuro ini. Marilah kita mengumumkan puasa sunnah ‘Asyuro di masjid, musholla, dan khalayak ramai. Kita ajak keluarga, anak-anak, dan juga tetangga kita untuk melaksanakan puasa sunnah ini. Agar lebih bersemangat dan sekaligus sebagai syiar Islam, bolehlah kita mengadakan buka puasa bersama di masjid dan di musholla.
Selain itu, kita juga “sangat” dianjurkan untuk memperbanyak istighfar di hari ‘Asyuro ini, terutama istighfar-istighfar yang dulunya pernah dibaca oleh para nabi. Dipilihnya istighfar para nabi terutama sayyidul istighfar adalah dalam rangka mengambil ibroh, semangat dan manfaat. Atau dalam istilah ulama yang lain disebut dengan tafa’ulan ; تفاؤلا ; (ngalap ketularan, bahasa jawa). Para Nabi yang ma’shum aja beristighfar kepada Alloh, minta ampun kepada Alloh ta’ala, masak kita yang banyak dosa ini enggan beristighfar, kan kebangetan tu..!!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat yang lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
Saudaraku yang disayang oleh Alloh ta’ala. Mungkin saja, kita sering dilanda kesusahan, kesempitan, banyak masalah yang tidak terselesaikan, dan ketidaktenangan hidup dikarenakan kita ini banyak berdosa kepada Alloh ta’ala. Marilah kita resapi ayat-ayat Alloh ta’ala berikut ini…
Maksudnya:
"dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Tuhan kalian dan bertobatlah kalian kepada-Nya. Niscaya Dia ‘kan memberikan kenikmatan yang baik (terus menerus) kepada kalian sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia ‘kan memberikan kepada tia-tiap orang yang memiliki keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kalian berpaling, maka aku kawatir kalian akan ditimpa siksa di hari qiyamat”. (QS. Hud: 3) 
Teladan dan idola kita, Nabi Muhammad shollallohualaihi wa sallam, bersabda: 
“Barangsiapa yg istiqomah beristighfar, Allah akan menjadikan kesenangan dari setiap kesusahan, jalan keluar dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dengan cara yang tidak ia duga” (HR. Abu Dawud).
(Al-Misbah Al Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 199 : 509).
Selain itu, ada sebuah atsar yang menerangkan bahwa suatu waktu kemarau panjang menerpa negeri muslimin. Amirul mukminin, ‘Umar bin al-Khotthob tidak tinggal diam. Beliau segera berinisiatif memohonkan hujan. Akan tetapi, bukannya salat istisqa’ yang dicanangkan oleh Abu Hafshoh seperti pada galibnya. Kali ini, beliau, seorang diri, “hanya” melafalkan kalimat-kalimat istighfar. Tak lama kemudian, hujan deras menggerojok tanah muslimin. Seseorang yang keheranan langsung melempar tanya, “bagaimana bisa Anda memohon hujan hanya dengan menggumamkan istighfar?” Dengan enteng, sayyidina ‘Umar menukasi, “Aku memohon hujan dengan kunci-kunci langit”.
Maksudnya:
“Maka aku berkata (kepada mereka), mohon ampunlah kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia ‘kan menurunkan hujan yang lebat untuk kalian. Dan Dia ‘kan memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan menjadikan kebun serta sungai-sungai untuk kalian”. (QS. Nuh: 10-12)
Sebagai penutup, guru kami, KH.M. Ihya’ Ulumiddin dalam sebuah kesempatan pernah menyampaikan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz terbiasa mengumpulkan kaum Muslimin di Hari ‘Asyuro untuk bersama-sama melakukan pertaubatan dengan membaca istighfarot para Nabi. “Dosa akan membuat hidup kita susah. Dengan diampuninya dosa, maka akan banyak kelancaran dalam banyak hal. Para ulama berkata bahwa mengakui dosa akan menghapus dosa”. Kami menyarankan hendaknya para pemimpin, ketua RT, Wali Kota, Bupati, Gubernur, Presiden, para Kyai, para kepala sekolah, dan para pimpinan lembaga sosial kemasyarakatan, agar mentauladani Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Mari kita mengumpulkan karyawan, staff, anggota, anak-anak, murid, santri, dan jama’ah kita untuk melaksanakan taubat nasional. Mari kita ajak mereka untuk melaksanakan puasa sunnah ‘Asyuro. Mari kita ajak mereka untuk beristighfar bersama-sama, memohon ampun kepada Alloh ta’ala… kita ini sudah kebanyakan dosa…
“… dan bertobatlah kalian semua kepada Alloh ta’ala wahai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung”. (QS. An-nur: 31) 
“… sesungguhnya Alloh ta’ala mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri”. (QS. AL-Baqoroh: 222)

Berikut ini adalah kumpulan istighfar para Nabi yang diabadikan Alloh Ta’ala dalam Al-Qur’an; istighfar Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Yunus serta istighfar Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang warid. Mari kita baca bersama-sama dengan penuh penghayatan dan pengharapan agar Alloh ta’ala mengampuni dosa-dosa kita. Bismillah…

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

Istighfar Nabi Adam (QS. Al-A’rof : 23)
“wahai Tuhan kami, kami telah berbuat dzolim kepada diri kami, jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami, sungguh kami termasuk golongan orang-orang yang merugi”          

وَإِلاَّ تَغْفِرْلِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
Istighfar Nabi Nuh (QS. Hud: 47)
“jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi ku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi”
رَبِّيْ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْلِي
Istighfar Nabi Musa (QS. Al-Qoshosh: 16)
“wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat dzolim kepada diriku sendiri, mohon ampunilah aku”

لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ
Istighfar Nabi Yunus (QS. Al-Anbiya`: 87)
“tidak ada Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sungguh aku termasuk orang yang dzolim”
 اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي
إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Istighfar Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam
“ya Alloh, Engkau Tuhanku, tidak Tuhan selain Engkau. Aku berbuat dzolim kepada diriku, aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang (bisa) mengampuni dosa-dosaku kecuali Engkau”

اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّي لاَ اِلَهَ إِلاَّ اَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَاَنَاعَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّمَا صَنَعْتُ أَبُؤُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُؤُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Istighfar Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam (sayyidul istighfar).
“ya Alloh. Engkau Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku berada dalam ikrar dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat. Aku mengakui  nikmat-Mu (yang Engkau berikan) kepadaku. Aku mengakui dosaku. Mohon ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”

Saudaraku yang dicintai oleh Alloh ta’ala.
Marilah kita jadikan bulan Muharrom ini, terutama hari ‘Asyuro, sebagai momentum untuk puasa sunnah dan beristighfar bersama, MOMENTUM TAUBAT NASIONAL. Semoga dengan puasa sunnah dan istighfar kita semua, Alloh ta’ala berkenan mengampuni kita yang banyak berlinang dosa ini. Semoga Alloh ta’ala menerima taubat kita sebagaimana Alloh ta’ala menerima taubat Nabi Adam ‘alaihissalam. Amin. (tj)

http://alumnipbsbunair.blogspot.com/

Selasa, 13 November 2012

Ke Mana Tujuan Kita..?? (Renungan Akhir Tahun)


Saudaraku yang dicintai Alloh ta’ala,
Mari kita berhitung, andaikan saja kita diberi oleh Alloh ta’ala “jatah hidup” di dunia selama 60 tahun. Kalau kita terbiasa tidur selama 8 jam setiap hari, makan-minum selama 2 jam setiap hari, bekerja mencari nafkah selama 8 jam setiap hari, menonton TV selama 2 jam setiap hari, ngobrol-ngobrol ringan selama 2 jam tiap hari, maka hal itu berarti kita…
Tidur selama 8/24 x 60 tahun = 20 tahun seumur hidup
Makan minum selama 2/24 x 60 tahun = 5 tahun seumur hidup
Bekerja mencari nafkah selama 8/24 x 60 tahun = 20 tahun seumur hidup
Menonton TV selama 2/24 x 60 tahun = 5 tahun seumur hidup
Ngobrol-ngobrol ringan selama 2/24 x 60 tahun = 5 tahun seumur hidup

Lalu,
Berapa jam (dalam sehari), atau berapa tahun (dari jatah umur kita di dunia) yang kita pergunakan untuk sholat, membaca al-Quran, berdzikir, berdoa, bertaubat, dan mendekat kepada Alloh ta’ala?
Berapa jam (dalam sehari), atau berapa tahun  (dari jatah usia kita di dunia) yang kita pergunakan untuk bershodaqoh, berinfaq, membantu saudara kita yang kesulitan, menanam pohon, membersihkan bumi dari polusi, dan menebar manfa’at serta maslahat kepada sesama manusia dan alam semesta?
Berapa pula waktu yang kita sediakan untuk mempelajari agama Islam, agama kita sendiri, agama yang kita yakini bisa mengantarkan kita untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat?
Saudaraku, umat Islam kebanggaan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam,
Marilah kita instropeksi, marilah kita mengevaluasi diri kita, apa sebenarnya tujuan akhir hidup kita ini?
Kesejahteraan di dunia saja?
Atau kebahagiaan di akhirat?
Mari kita simak baik-baik, dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih, surat cinta dari Kekasih sejati kita, Alloh ta’ala…
Maksudnya:
“siapa menghendaki keuntungan akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya. Dan siapa yang menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), dan dia tidak akan mendapatkan bagian di akhirat” (Q.S. asy-Syuro [42]: 20)
Perhatikan baik-baik. Ayat tersebut dengan jelas mengingatkan kita bahwa jika kita menjadikan kebahagiaan akhirat sebagai tujuan hidup kita, sebagai prioritas utama kita, maka kita ‘kan mendapatkan kebahagiaan akhirat tersebut plus tambahan, yaitu kebahagiaan di dunia. Sebaliknya, jika kita menjadikan keuntungan dunia sebagai tujuan akhir hidup kita, sebagai prioritas utama kita, maka kita ‘kan mendapatkan sebagian (tidak semuanya) dari keuntungan di dunia tersebut dan kelak di akhirat kita tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, alias rugi..!!
Nabi kita tercinta, Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Maksudnya:

Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.” (H.R. Imam at-Tirmidzi)

Dzul Hijjah berarti "yang mempunyai tujuan". Marilah kita semua, di akhir bulan Dzul Hijjah ini, yang juga berarti akhir tahun 1433 H ini, menentukan tujuan hidup kita di dunia secara jelas. Apa sih sebenarnya tujuan kita hidup di dunia?  Kalau saya boleh usul, tujuan kita adalah tinggal di surga dan bertemu Alloh ta'ala. 

Saudaraku, di sisa “jatah hidup” yang diberikan oleh Alloh ta’ala ini, marilah kita meningkatkan semangat beribadah kita. Marilah kita meningkatkan kualitas ibadah kita, baik berupa ibadah yang berhubungan langsung kepada Alloh ta’ala seperti sholat fardlu, sholat sunnah rowatib, tahajjud, witr, dan dluha, dzikr, istighfar, membaca al-Quran, memahami dan mengamalkan al-Quran, dan doa, maupun berupa ibadah yang berhubungan dengan sesama manusia seperti shodaqoh, berdamai, membantu keluarga dan tetangga yang sedang kesulitan, berkontribusi dalam pembangunan dan pengelolaan masjid, madrasah, dan pesantren.
Saudaraku, marilah kita meningkatkan semangat kita dalam mempelajari agama kita ini, agama Islam. Mari kita sempatkan untuk menghadiri kajian, membaca buku agama islam, dan berkonsultasi dengan ahli agama, ustadz atau Kyai yang ada di sekitar kita. Kalau bukan kita yang belajar agama kita sendiri, siapa lagi?
Saudaraku, kita tidak tahu kapan habisnya jatah hidup kita di dunia ini. Yang jelas, pergantian hari, bulan, dan tahun berarti bahwa jatah umur kita semakin berkurang. Kita semakin dekat dengan kematian. Marilah kita memperbanyak minta ampun kepada Alloh ta’ala. Mari kita membaca istighfar dengan penuh ketundukan dan kerendahan hati kepada Alloh ta’ala…
Astaghfirulloh….
Astaghfirulloh…
Astaghfirulloh…
Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita membaca doa yang diajarkan oleh ulama-ulama kita. Kami mendapatkan doa ini dari guru kami, Abina K.H.M. Ihya Ulumiddin, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haromain Pujon, Malang, dan Ketua Umum Hai`ah ash-Shofwah. Mari kita baca bersama-sama…
éNi äi ée=ZUã å<
 é^æ  äj~Y énÏZ1ãp
Robbighfir li ma madlo
Wahfadzni fi ma baqiy..
“Wahai Tuhanku, ampunilah aku, atas dosa-dosa yang telah aku lakukan. Dan jagalah aku di sisa umurku”.
Semoga Alloh ta’ala senantiasa membimbing kita menuju jalan yang diridloi-Nya. Semoga Alloh ta’ala senantiasa menjaga iman yang ada di sanubari kita ini. Semoga Alloh ta’ala menolong kita agar kita bisa menjadikan keuntungan dan kebahagiaan di akhirat sebagai tujuan utama kita hidup di dunia yang fana ini. Amin. (tj)

Kamis, 01 November 2012

Cita Yang Tertunda

Sekitar empat tahun yang lalu saya pernah memiliki "krentek" untuk mengumpulkan kisah-kisah perjuangan saya dan teman-teman dalam berjuang dan paserah meraih dan menerima beasiswa PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) Kemenag RI dalam sebuah buku. Pikiran saya pada waktu itu, kumpulan kisah-kisah tersebut tentu bisa menambah rasa syukur kami karena telah mendapatkan anugerah yang besar dari Alloh ta'ala berupa full-scholarship sekaligus -mungkin- dapat menjadi sumber inspirasi bagi adik-adik kami di pesantren yang belum atau sudah punya keinginan untuk meraih beasiswa serupa. Minimal, kisah-kisah tersebut dapat menjadi salah satu kenangan indah dalam sejarah hidup kami.

Alhamdulillah, "krentek" saya itu belum bisa terwujud bahkan sampai saya lulus dari Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya pada Oktober 2011 yang lalu. Ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam mewujudkan "krentek" saya itu. Diantaranya adalah
- saya terlalu sibuk di organisasi, tercatat selama kurun 2008-2010 saya aktif di sedikitnya 6 organisasi baik yang level fakultas, universitas, maupun nasional. Kesibukan dan keterlenaan saya di beberapa organisasi tersebut membuat saya "lupa" terhadap "krentek" saya untuk mengumpulkan kisah-kisah itu.
- pada waktu itu saya belum begitu gandrung dengan dunia tulis-menulis. 
- dasarnya saya yang memang belum pantas menerima anugerah keberhasilan menulis dan mengumpulkan kisah-kisah perjuangan itu.

Pada awal tahun 2012, hasrat untuk mengumpulkan kisah-kisah itu kembali muncul di benak saya. Kemunculan hasrat tersebut terjadi karena beberapa stimulus. Diantaranya adalah
- adik angkatan saya di FIB yang bernama Huda menjadi inspirator bagi teman-temannya sesama peraih beasiswa Bidik Misi dalam membuat buku kumpulan kisah perjuangan meraih beasiswa Bidik Misi
- setelah saya membaca buku yang berjudul Dermaga Impian tersebut, tercetuk di pikiran saya, bahwa saya dan teman-teman saya di PBSB (organisasi mahasiswanya bernama CSS MoRA) sangat bisa membuat buku serupa dengan kualitas yang lebih baik
- saya memiliki anggota keluarga baru yang ternyata seorang novelist muda berbakat, namanya Azri KD 2010.

Saya pun kemudian menghubungi novelist muda tersebut dan mengutarakan "krentek" saya. Gayung bersambut, dia pun setuju dan mendukung. Tidak hanya itu, teman-teman di organisasi CSS MoRA pun ikut mendukung dan menyatakan siap menyediakan modal untuk mencetak naskahnya nanti. Langsung saja kami umumkan dan kami ajak teman-teman kami di CSS MoRA Unair untuk menulis kisah mereka ketika berjuang untuk mendapatkan beasiswa PBSB. Kami berusaha untuk meyakinkan kepada teman-teman bahwa mereka bisa dan layak menuliskan kisah hidup mereka. Sekitar dua bulan kemudian, terkumpul lebih dari 30 kisah di team kami. Selanjutnya kami pun melakukan seleksi dan editing dasar. Kami membuat tiga kriteria (1) Accepted (2) Doubt (3) Sorry. Yang pertama untuk naskah yang 99% "masuk kotak". Yang kedua untuk naskah yang kami masih perlu pertimbangkan lagi. Dan yang ketiga untuk naskah yang "mohon maaf tidak masuk kotak". Proses seleksi pun berlanjut dan akhirnya terpilih 13 kisah pilihan. Selain kualitas tulisan, isi, teknik menulis, kami pun juga mempertimbangkan nilai keunikan, kekhasan santri, dan persebaran wilayah.

Langkah selanjutnya adalah masuk di dapur penerbitan. Setelah mencari dan menilik beberapa penerbit, kami (atas jasa Azri) memutuskan untuk memilih Khalista, penerbit buku-buku pesantren, untuk menerbitkan naskah kami. Namun Abah Ma'ruf, owner Khalista, menyatakan bahwa beliau tidak bisa menerbitkan naskah dengan oplah di bawah 3000, padahal budget kami hanya cukup untuk menyetak 1000 eksemplar. Tapi beliau memberikan jalan keluar dengan mengenalkan kami kepada salah satu murid beliau yang juga bergerak di bidang percetakan. Adalah mas Rijal dengan Imtiyaznya yang bersedia menjadi patner kami dalam menerbitkan naskah kami itu. Karena sama-sama santri, kami pun cepat akrab. Setelah melalui proses meeting beberapa kali, editing beberapa kali, dan sedikit penundaan, akhirnya dengan penuh rasa syukur, buku berjudul Mahasantri Airlangga tersebut berhasil dicetak dan diterbitkan di bulan Oktober 2012.



Dan pada hari Ahad 14 Oktober 2012, kami berhasil menyerahkan 1 eksemplar buku Mahasantri Airlangga tersebut kepada Pak Ruchman Basori yang merupakan Kasi PBSB di lingkungan Kemenag RI pada saat acara Istihlal CSS MoRA se Jawa Timur di SAC IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kami juga menitipkan 2 eks untuk Kasubdit Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Pak Imam Syafi'i dan Direktur PD Pontren, Bapak Saifudin. Semoga buku tersebut bisa membuat bapak-ibu kami di Kemenag tersenyum. hehehe

Selanjutnya, kami berencana melakukan tour dan bedah buku di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. Semoga lancar dan barokah.

salam pengabdian
-mas tije-
link
http://www.alumnipbsbunair.blogspot.com/