Tampilkan postingan dengan label ngaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ngaji. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2013

Belajar Parenting dari Ayah Ibrahim


Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Pada kesempatan yang baik kali ini marilah sejenak kita menengok perjalanan hidup seseorang yang mendapat julukan “kekasih Allah” (khalilullah), seseorang yang menjadi bapaknya para nabi. Bahkan Allah ta’ala memuji beliau sebagai seseorang yang layak menjadi tauladan. Siapakah orang itu? Benar. Beliau adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا (۱٢۵)
“Dan Allah mengangkat Ibrahim sebagai kekasih.” (An-Nisa`: 125)

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
 “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada (Nabi) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia….” [al-Mumtahanah: 4]
Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Namun pada kesempatan yang singkat ini, saya mengajak Anda untuk belajar kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam hal mendidik keluarga. Apa saja pelajaran tentang pendidikan keluarga yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam?
Pertama, berdoa kepada Allah ta’ala agar diberi keturunan yang sholih.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (۱۰۰)  فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (۱۰۱)
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar“ (ash Shoffat: 100-101)
Sudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh orang tua adalah kenakalan anak-anak, terutama ketika mulai memasuki masa remaja. Bahkan ada yang bilang, kenakalan remaja sekarang sungguh di luar batas, sungguh mengherankan, sungguh tak pernah terbayangkan, sungguh mengiris-iris hati, sungguh terlalu..!! Mulai dari suka bolos sekolah, suka berantem, suka ngerokok, suka minum miras, suka narkoba, suka mencuri, suka merampok, suka mendekati zina, suka berbuat zina, suka menjual teman sekolah untuk para pezina, suka ninggalin sholat, dan suka-suka yang lain... Sungguh, Na'udzu billah min dzalik...
Pada bulan Syawwal 1434 H yang lalu, saya mengikuti Istihlal jama'ah pengajian al-Kayyis di ndalem Ust. H. Junaidi Sahal di daerah Jemursari. Di dalam taushiyah acara tersebut, Abina KH. M. Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa seorang mukmin itu sudah diberi senjata yang maha ampuh oleh Allah ta'ala untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup, bahkan sebelum persoalan itu datang. Senjata yang maha ampuh itu adalah DOA. 
Sederhana saja. Kita mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini -semuanya- tidak terlepas dari "tangan" kekuasaan dan kehendak Allah ta'ala. Jika kita datang kepada Allah ta'ala, mengakui ke-sangatkurang-an kita, mengakui ke-sangatlemah-an kita, mengakui ke-sangatbutuh-an kepada -Nya, kemudian kita menghaturkan hajat kita dan Allah ta'ala mengabulkannya, maka bereslah permasalahan hidup kita. Sesederhana itukah?
"Barangsiapa mengetuk pintu terus menerus, niscaya dia bisa memasukinya"
Olehkarena itu, selayaknya kita berdoa kepada Allah ta’ala bukan hanya ketika kita menghadapi masalah saja... tetapi kita berdoa kepada Allah sebelum masalah itu datang, kita berdoa kepada Allah setiap saat, kita berdoa kepada Allah sebagai sarana munajat kita kepada-Nya...
Kembali kepada permasalahan kenakalan remaja yang sering dikeluhkan oleh orang tua. Ada sebuah pertanyaan yang ingin kami sampaikan. Apakah dulu sebelum menikah, ketika menikah, ketika memproses wujudnya anak, ketika hamil, ketika anak baru saja lahir, ketika remaja itu masih balita, ketika remaja itu masih berupa anak yang belum baligh, para ayah dan bunda senantiasa berdoa kepada Allah ta'ala? Berdoa agar Allah ta'ala menjadikan anak-anak ayah-bunda anak-anak yang sholih sholihah, anak-anak yang baik?
Kepada siapa saja yang berharap anak-anak yang sholih-sholihah, anak-anak yang baik, Allah ta'ala telah menyiapkan untuk kita semua sebuah senjata yang maha ampuh. Dahulu kala Bapak kita, nabi Ibrahim 'alaihissalam, menggunakan senjata yang maha ampuh ini. Beliau pun terkenal sebagai Bapak para Nabi karena keturunan beliau banyak yang diangkat oleh Allah ta'ala menjadi nabi. Diantaranya adalah Nabi Ishaq, Nabi Ismail, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Ayyub, Nabi Dzul Kifli, Nabi Syu’aib, Nabi Yunus, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Isa, serta Nabi Muhammad ‘alahimush sholatu wassalam. Senjata yang maha ampuh itu adalah doa:
رَبّ هَبْ لِى مِنَ الصَالِحِيْن
"robbi hab li minash-sholihin..."
-wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (anak-anak) yang termasuk orang-orang yang sholih-
Selain itu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga berdoa:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (۴۰)
“robbij’alni muqimash-sholati wa min dzurriyyati robbana wa taqobbal du’a`”
-wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan sholat, dan juga keturunanku. Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doaku- (QS. Ibrahim: 40)
Saya yakin bahwa kita semua menginginkan anak-anak yang sholih-sholihah. Merekalah sumber kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Ketika kita masih hidup, mereka berbakti dengan berbuat baik kepada kita, memandang wajah kita dengan tatapan kasih sayang, berbicara kepada kita dengan bahasa yang menyenangkan dan senantiasa berusaha membahagiakan kita. Ketika kita sudah meninggal dunia, mereka berbakti kepada kita dengan senantiasa berdoa dan memohonkan ampun untuk kita.
Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam pernah bersabda, ” Apabila manusia mati, terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: Shadaqah jariah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan untuk orang tuanya.”(HR.Muslim dari Abu Hurairah)
Lebih lanjut, Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa setelah meninggal dunia, derajat orang masih bisa diangkat. Si mayit yang merasa diangkat derajatnya terkejut dan berkata,” Ya Allah, apa ini?” maka akan dijawab, ” Itu karena anakmu selalu memintakan ampun untukmu.” (HR.Bukhori dalam Adab al-Mufrad, dari Abu Hurairah).
Yakin dalam berdoa
Salah satu hal yang sangat penting adalah, kita harus yakin dalam berdoa. Yakin terhadap ke-MahaBesar-an Alloh ta’ala. Yakin bahwa Alloh ta’ala Maha Mampu mewujudkan doa-doa kita.
Al-‘Alim Sufyan bin Uyainah pernah mengatakan:
“Jangan sekali-kali pesimis dalam berdoa. Optimislah. Iblis saja doanya dikabulkan, ketika dia minta umur yang panjang”.
Nah, Iblis saja doanya dikabulkan oleh Alloh ta’ala. So. Yakin, yakin, yakin..!!
Sabar dalam berdoa
Nabi Ibrahim diberi karunia oleh Alloh ta’ala, berupa anak yang sangat sabar yaitu Nabi Isma’il, ketika beliau berusia 86 tahun. Benar. Sudah cukup sepuh. Namun begitulah. Beliau sangat sabar dalam berdoa. Beliau tidak pernah putus asa. Beliau tidak pernah berhenti. Beliau sangat ngeyel dalam berdoa. Beliau senantiasa berbaik sangka kepada Alloh ta’ala. Sungguh, Alloh ta’ala Maha Mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.
Saudaraku. Marilah kita menteladani Ayah kita, Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala agar diberi keturunan yang sholih-sholihah. Kapan kita berdoa? Kapan pun dan di mana pun. Lebih sering lebih baik. Terutama setiap selesai sholat fardlu karena waktu tersebut merupakan salah satu waktu yang mustajabah.

Kedua, mengajarkan ketauhidan kepada anak
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (۱۳۱) وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (۱۳٢)
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (al Baqoroh: 131 – 132)
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Sebagai orang tua, kita wajib untuk memenuhi kebutuhan anak kita. Selain memenuhi kebutuhan berupa baju, makanan dan tempat tinggal, orang tua juga harus memperhatikan pendidikan anak, terutama pendidikan tauhid. Orang tua perlu mengenalkan Allah ta’ala kepada anaknya sedari dini. Orang tua semestinya senantiasa berusaha agar anak-anaknya mengenal Allah ta’ala, mengetahui kewajiban mereka kepada-Nya, memahami hak-hak Allah ta’ala terhadap mereka, sehingga mereka kelak tumbuh di bawah naungan cahaya ketuhanan.
Mari kita jujur. Berapa banyak waktu yang kita luangkan, tenaga dan pikiran yang kita curahkan, serta harta yang kita belanjakan untuk mendidik anak kita agar mengenal dan senentiasa dekat dengan Allah ta’ala? Bandingkan dengan waktu, tenaga, pikiran, dan harta yang kita habiskan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan anak. Padahal, ketauhidan dan keterikatan kepada Allah ta’ala inilah yang akan menjadi kontrol bagi anak-anak kita agar senantiasa melakukan kebaikan dan meninggalkan kema’shiatan. Ketauhidan inilah yang menjanjikan kebahagiaan dan keselamatan anak-anak kita di dunia dan akhirat.
Ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberikan teladan bahwa hendaknya orangtua mengajarkan ketauhidan kepada anaknya. Salah satu efeknya bisa kita lihat dalam ayat berikut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (۱۰٢)
“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada Anda; insyaallah Anda akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As Shofat : 102)
SubhanAllah… Itulah jawaban yang keluar dari mulut seorang anak yang tumbuh dalam bimbingan ketauhidan. Walaupun perintah itu sangat berat, karena keyakinannya kepada Allah ta’ala, karena husnudzonnya kepada Allah ta’ala, sang anak menjawab pertanyaan ayahnya dengan mantap tanpa sedikitpun keraguan, “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan –oleh Allah- kepada Anda”.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Alkisah, ada seorang guru yang memanggil semua muridnya. Guru tersebut memberikan seekor burung kepada setiap murid dan menyuruh mereka menyembelih burung itu. Sang guru mengingatkan, “Kalian harus menyembelihnya di sebuah tempat yang tidak dilihat dan diketahui oleh siapa pun.”
Maka para murid pun berangkat melaksanakan tugas yang diberikan gurunya. Di antara mereka ada yang pergi ke puncak bukit. Ada yang pergi ke gua terpencil. Bahkan ada yang pergi ke balik pepohonan tinggi yang tersembunyi. Ketika merasa tak ada yang melihat, mereka segera menyembelih burung yang dibawanya.
Tak lama kemudian, mereka kembali dengan membawa burung sembelihannya. Kecuali satu murid. Sang Guru lalu bertanya kepadanya," Kenapa kamu tidak menyembelih burung itu?"
Murid tersebut menjawab, "Tadi guru menyuruhku menyembelih burung di tempat yang tak terlihat oleh siapa pun. Tapi, aku tak dapat menemukan tempat seperti itu. Allah kan Maha Melihat dan akan melihat perbuatanku."
Itulah gambaran seorang anak yang hidup dalam keterikatan dengan Allah ta’ala. Kapan pun dan di mana pun, sang anak merasa senantiasa diawasi oleh Allah ta’ala.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Sungguh. Setiap anak lahir dalam keadaan fitroh, memiliki kecenderungan kepada Allah ta’ala. Setiap anak terlahir dengan membawa anugerah berupa kecenderungan berbuat baik. Mungkinkah, ketika anak kita lahir, di benaknya terbesit, “aku ingin menjadi anak nakal”, “aku ingin melawan orang tuaku”, “aku ingin berma’shiat kepada Alloh”? Mungkinkah hal seperti itu terjadi?
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi….
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Marilah kita menteladani ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dalam mendidik anak. Diantaranya adalah dengan senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala agar dianugerahi anak dan keturunan yang sholih serta mengajarkan ketauhidan kepada anak. Semoga Allah ta’ala memberikan pertolongan kepada kita sehingga kita mampu menteladani ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dalam mendidik anak-anak kita. Amin.
[tije/LP2A PBSB Kemenag]


Sabtu, 29 Juni 2013

Mari Tingkatkan Kualitas Sholat


Saudaraku. Bolehkah saya bertanya? Bagaimana kabar sholat kita? Apakah sholat yang kita kerjakan sehari-hari sudah sesuai tuntunan Rosululloh? Apakah kita sudah mengerti makna gerakan dan bacaan sholat? Apakah sholat kita sudah khusyu’? Apakah kita sudah merasakan nikmatnya sholat? Apakah sholat yang kita kerjakan sudah mencegah kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik?
Sebelum kita memulai diskusi tentang bagaimana cara meningkatkan kualitas sholat, marilah kita sejenak merenungkan dalam-dalam betapa tingginya kedudukan sholat dalam agama kita, agama Islam.
“….. Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (QS. An-Nisa`: 103)
Diriwayatkan oleh sahabat Mu’adz bin Jabal, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رأس الأمر الإسلام, وعـموده الصلاة, وذروة سنامه الجهاد
(yang maksudnya): “Pokok semua perkara adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad” (HR. Imam Ahmad, 5/231, dan Imam at-Tirmidzi, 2/1314)
Dalam sebuah kesempatan Rosululloh menyampaikan: “Ada lima sholat yang telah Alloh ta’ala wajibkan atas hamba-hambaNya, barangsiapa menunaikannya, tidak mengabaikannya dengan menyepelekan (meremehkan) kedudukannya, maka Alloh berjanji untuk memasukkannya ke dalam surga”. (HR. Imam Abu Dawud, 2/62)
Abdulloh bin Mas’ud r.a. berkata, “aku bertanya kepada Raosululloh, ‘Amal apa yang paling dicintai oleh Alloh ta’ala?’, beliau menjawab, ‘Sholat tepat waktu’, ……” (HR. Imam Bukhori, Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa`i)
Alloh ta’ala menjelaskan di dalam al-Quran tentang keadaan ahli neraka:
"Apakah yang memasukkan kalian ke dalam Saqor (neraka)?. Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat”. (QS. Al-Muddatstsir : 42-43)
Diriwayatkan dari Abdulloh bib Buroidah, dari bapaknya, dia berkata, Rosululloh bersabda (yang maksudnya): “Janji antara kita dengan mereka adalah sholat. Barangsiapa meninggalkannya, dia benar-benar kafir”. (HR. Imam at-Tirmidzi, an-Nasa`I, Ibnu Majah, dan Hakim)
Demikianlah kedudukan sholat dalam agama Islam. Sangat penting. Sangat istimewa. Sangat mulia. Masih banyak ayat al-Quran dan riwayat hadits yang menjelaskan betapa tingginya kedudukan sholat dalam agama Islam. Bahkan salah satu wasiat terakhir nabi Muhammad sebelum beliau meninggal dunia adalah sholat. (keterangan ini diriwayatkan oleh Imam ath-Thobroniy dalam Majma’ al-Bahroin, 7/263)
Saudaraku yang berbahagia dengan ni’mat Iman dan Islam. Hujjatul Islam Imam al-Ghozali rohimahulloh menyampaikan bahwa sholat itu terdiri dari Shuroh Dhohiroh (sisi lahir) dan bathiniyyah. Kesempurnaan sholat bisa diperoleh dengan menyempurnakan dua sisi tersebut. Sisi lahiriyah sholat adalah gerakan dan bacaan sholat, mulai takbirotul ihrom hingga salam. Dalam hal ini penting bagi kita untuk kembali mempelajari tata cara sholat berdasarkan riwayat hadits dengan harapan kita mampu melaksanakan sholat dengan tata cara yang semirip mungkin dengan sholat yang dipraktekkan oleh Rosululloh. Nabi Muhammad sholaallohu alaihi wa sallam bersabda:
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْانِى أُصَلِى
(maksudnya): ”Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat”. (riwayat Imam Bukhori, dalam Buluhgul Marom hal. 66)
Sedangkan sisi bathiniyyah sholat adalah khusyu` dan menghadirkan hati ketika melaksanakan sholat. Bagaimana agar kita bisa melaksanakan sholat dengan khusyu’? Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan agar sholat kita –semoga- bisa khusyu’.
Pertama, mempelajari makna bacaan sholat. Sholat adalah komunikasi antara seorang hamba dengan Alloh. Bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan Alloh ta’ala di dalam sholat jika kita tidak memahami makna bacaan sholat yang kita lafazdkan? Salah satu tujuan sholat adalah agar kita ingat kepada Alloh ta’ala.
“Sesungguhnya Aku ini adalah Alloh, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Ku”. (QS. Thoha: 14)
Lalu bagaimana kita bisa ingat kepada Alloh di dalam sholat jika kita tidak mengerti apa yang kita baca selama kita mengerjakan sholat? Mari kita sempatkan diri untuk mempelajari makna bacaan sholat. Maaf. Sekali lagi saya mohon maaf. Kalau untuk urusan perut saja kita mau bekerja keras, mengerahkan tenaga, waktu dan pikiran. Lalu mengapa kalau urusan dengan Alloh ta’ala kita malas-malasan?
Kedua, menenangkan hati dan pikiran sebelum memulai sholat. Sebelum takbirotul ihrom, hendaknya kita menyiapkan jasad, hati dan pikiran kita untuk menghadap Alloh ta’ala. Kita berusaha membersihkan hati dan pikiran kita dari segala urusan duniawi. Kita berusaha memfokuskan hati dan pikiran kita untuk bermunajat kepada Alloh ta’ala. Mari kita senantiasa mengingat-ingat. Kita ini mau menghadap Alloh ta’ala yang Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita. Betapa buruk adab kita jika jasad kita rukuk dan sujud sementara hati dan pikiran kita masih saja mengurusi perkara-perkara dunia?
Ketiga, mengerjakan sholat dengan tenang (tuma’ninah) dan tidak tergesa-gesa. Saudaraku yang dimuliakan oleh Alloh ta’ala dengan iman. Jika kita mengerjakan sholat dengan tergesa-gesa, sangat besar kemungkinannya kita tidak bisa khusyu`. Kenapa? Karena ‘motion’ (gerakan badan) itu sangat mempengaruhi ‘emotion’ (suasana hati). Selain itu, marilah kita merenung dalam-dalam. Bukankah kita senantiasa memilih yang terbaik untuk diri kita sendiri? Kita pilih pakaian yang terindah, makanan yang ternikmat, tempat tinggal yang ternyaman. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih pakaian yang kita sukai. Lalu mengapa kita melaksanakan sholat seperti ayam yang sedang mematuk-matuk makanan? Mengapa kita mempersembahkan sesuatu yang buruk kepada Alloh ta’ala? Bukankah sholat itu merupakan persembahan kita kepada Alloh ta’ala?
Keempat, mentadabburi makna bacaan sholat. Bacaan-bacaan di dalam sholat merupakan pujian dan doa kepada Alloh ta’ala. Bacaan takbir merupakan pujian terhadap kemahabesaran Alloh ta’ala. Doa iftitah berisi pensucian dan pujian kepada Alloh ta’ala serta ungkapan bahwa kita sedang menghadapkan diri kita kepada Alloh ta’ala. Surat al Fatihah berisi pujian dan doa. Bacaan rukuk, I’tidal dan sujud berupa pujian kepada Alloh ta’ala. Bacaan ketika duduk diantara dua sujud berupa doa kepada Alloh ta’ala. Bacaan tasyahud berupa pujian kepada Alloh kemudian dilanjutkan dengan sholawat kepada Rosululloh. Dan yang terakhir, salam, merupakan doa keselamatan untuk orang-orang yang beriman dan para malaikat yang ikut melaksanakan sholat. Dengan menghayati makna setiap bacaan di dalam sholat, insyaalloh, kita lebih mudah untuk mencapai khusyu’.
Kelima, senantiasa berusaha dengan segenap kemampuan agar bisa terus khusyu’. Seringkali, kita sudah berusaha khusyu’, tapi di tengah-tengah sholat hati dan pikiran kita melayang entah kemana, memikirkan urusan-urusan dunia. Hal tersebut tidak mengapa. Yang penting kita segera berusaha untuk khusyu’ kembali. Namanya aja sedang latihan. Inilah yang disebut jihad melawan hawa nafsu. Memang berat. Tapi dengan usaha dan doa yang sungguh-sungguh dan terus menerus, insyaalloh, dengan pertolongan dari Alloh ta’ala, kita bisa melaksanakan sholat dengan khusyu’, semaksimal mungkin.
قد أفلح المؤمنون (١) الذين هم فى صلوتهم خاشعـــون (٢)
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu’ di dalam sholat mereka”. (QS. Al-Mu`minun: 1-2)
Keenam, senantiasa berdoa kepada Alloh ta’ala agar kita diberi hati yang khusyu’. Bagaimanapun, khusyu’ adalah anugerah yang diberikan oleh Alloh ta’ala kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Mari kita berdoa semoga Alloh ta’ala menjadikan hati kita termasuk hati yang khusyu’.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَـلُـكَ قَلْبًا خَاشِعًا
“Ya Alloh.. sesungguhnya kami memohon kepada-Mu, hati yang khusyu’….”
Saudaraku yang disayang oleh Alloh ta’ala. Jika sampai hari ini kita belum bisa merasakan nikmatnya rukuk dan sujud kepada Alloh ta’ala. Jika sampai hari ini sholat yang kita laksanakan belum bisa mencegah diri kita dari perbuatan keji dan munkar. Kita sholat, tapi masih terus berma’shiat. Padahal Alloh ta’ala berfirman (yang maksudnya)  
“….. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar…..” (QS. Al-Ankabut: 45)
Mungkin saja semua itu dikarenakan sholat kita belum sempurna. Secara dhohir kita belum meniru tata cara sholat Rosululloh. Dan secara bathin, kita belum bisa khusyu’ di dalam sholat.
Saudaraku yang berharap rohmat dari Alloh ta’ala. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Syukur kepada Alloh ta’ala, kita masih diberi kesempatan oleh Alloh ta’ala untuk meningkatkan kualitas sholat kita, kualitas hubungan kita dengan-Nya. Tentu, peningkatan kualitas sholat itu mensyaratkan kemauan yang kuat dalam diri kira untuk terus belajar dan berlatih. Semoga saja, semakin kita dekat dengan ajal kita, semakin kita dekat dengan kematian kita, kualitas sholat kita semakin baik dan semakin baik.
Dari shohabat Anas bin Malik, Rosululloh bersabda:
أوّل ما يحاسب به العبد يوم القيامة الصلاة, فإن صلحت صلح له سائر عمله, وإن فسدت فسد سائر عمله
“Yang paling pertama dihisab pada seorang hamba kelak di hari qiyamat adalah sholat. Jika sholatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Jika sholatnya jelek, maka jeleklah seluruh amalnya”. (HR. Imam ath-Thobroniy)
Semoga Alloh ta’ala senantiasa melimpahkan pertolongan dan petunjuk-Nya kepada kita semua. Wallohu a’lamu bi ash-showab.

[tj/LP2A PBSB]

Sabtu, 17 November 2012

‘ASYURO = MOMENTUM TAUBAT NASIONAL

                                           
Saudaraku sekalian.
Pernahkah kita menghitung-hitung, berapa banyak dosa yang telah kita lakukan? Pernahkah kita berhenti sejenak untuk memikirkan perjalanan hidup kita. Sudah sampai manakah kita? Apakah kita sudah berada di jalan yang benar, jalan menuju keselamatan dunia akhirat?
Amirul Mu`minin ‘Umar ibn Khoththob r.a. pernah menyampaikan sebuah nasihat yang sangat berarti,
“hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum amal itu ditimbang”
Karena kelak di hari pembalasan amal…
Maksudnya:
“maka barangsiapa melakukan kebaikan seberat dzarroh pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa melakukan kejelekan seberat dzarroh pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. (QS. Al-Zalzalah : 7-8)
Marilah kita semua mawas diri, menginstropeksi diri kita. Mumpung kita masih diberi kesempatan oleh Alloh ta’ala menikmati hidup di dunia. Mumpung jantung ini masih berdetak, mumpung kita masih bisa bernafas…
Maksudnya:
“wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu sekalian kepada Alloh ta’ala. Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (akhirat). Bertaqwalah kepada Alloh ta’ala, sungguh Alloh Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”. (QS. Al-Hasyr : 18)
Saudaraku sekalian.
Tentu kita sudah tahu bahwa bulan Muharrom ini adalah salah satu bulan yang mulia. Bahkan bulan ini mendapat julukan “Syahrulloh” (bulannya Alloh). Dan kita juga tahu bahwa di bulan Muharrom ini ada sebuah hari yang sangat istimewa. Benar. Hari itu adalah hari ‘Asyuro. Hari tanggal sepuluh (10) bulan Muharrom.
Ada beberapa peritstiwa penting yang terjadi di hari ‘‘Asyuro, diantaranya:
1. ‘Asyuro adalah hari pertama sejarah peradaban manusia dimulai, yakni ketika Nabiyulloh Adam alaihissalam bersama istrinya, sayyidatuna Hawwa turun kedunia.
2. Pada hari itu Alloh ta’ala banyak sekali menerima taubat hamba-hambaNya yang bersalah, diantaranya pada hari itu Alloh menerima taubat Nabiyulloh Adam alaihissalam, taubat kaum Nabiyulloh Yunus alaihissalam dan taubat kaum Nabi Musa alaihissalam.
3. Pada hari itu Nabiyulloh Musa alahissalam dan kaumnya selamat dari kejaran Fir’aun dan tentaranya, sekaligus hari tengelam dan kematian Fir’aun beserta pasukannya di laut Merah.
4. Pada hari itu pula, perahu Nabiyulloh Nuh alaihissalam berlabuh di gunung Judiy.
Sebagai rasa syukur, maka Nabiyulloh Nuh dan Nabiyulloh Musa alaihimassalam pun berpuasa pada hari itu.
Sejenak marilah kita simak kabar dari baginda Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam terkait dengan hari ‘Asyuro.
Ketika Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam telah berhijrah dan tiba di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah ternyata juga bershaum pada hari tersebut. Maka beliau bertanya kepada mereka. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas rodliyallahu ’anhuma:
Bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyuro. Maka beliau bertanya (kepada mereka) : “Hari apakah ini yang kalian berpuasa padanya?” Maka mereka menjawab : “Ini merupakan hari yang agung, yaitu pada hari tersebut Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun bersama kaumnya. Maka Musa bepuasa pada hari tersebut dalam rangka bersyukur (kepada Allah). Maka kami pun bepuasa pada hari tersebut” Maka Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan (para shahabat) untuk berpuasa pada hari tersebut. [HR. Al-Bukhari 2004, 3397, 3943, 4680, 4737. Muslim 1130]
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Romadlon adalah puasa pada bulan Alloh, Muharrom. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)
Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura`, maka beliau menjawab : “(puasa tersebut) menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat.” [HR. Muslim 1162)
Oleh karena itu, marilah kita semua hendaknya melaksanakan puasa sunnah pada hari ‘Asyuro ini. Marilah kita mengumumkan puasa sunnah ‘Asyuro di masjid, musholla, dan khalayak ramai. Kita ajak keluarga, anak-anak, dan juga tetangga kita untuk melaksanakan puasa sunnah ini. Agar lebih bersemangat dan sekaligus sebagai syiar Islam, bolehlah kita mengadakan buka puasa bersama di masjid dan di musholla.
Selain itu, kita juga “sangat” dianjurkan untuk memperbanyak istighfar di hari ‘Asyuro ini, terutama istighfar-istighfar yang dulunya pernah dibaca oleh para nabi. Dipilihnya istighfar para nabi terutama sayyidul istighfar adalah dalam rangka mengambil ibroh, semangat dan manfaat. Atau dalam istilah ulama yang lain disebut dengan tafa’ulan ; تفاؤلا ; (ngalap ketularan, bahasa jawa). Para Nabi yang ma’shum aja beristighfar kepada Alloh, minta ampun kepada Alloh ta’ala, masak kita yang banyak dosa ini enggan beristighfar, kan kebangetan tu..!!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat yang lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
Saudaraku yang disayang oleh Alloh ta’ala. Mungkin saja, kita sering dilanda kesusahan, kesempitan, banyak masalah yang tidak terselesaikan, dan ketidaktenangan hidup dikarenakan kita ini banyak berdosa kepada Alloh ta’ala. Marilah kita resapi ayat-ayat Alloh ta’ala berikut ini…
Maksudnya:
"dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Tuhan kalian dan bertobatlah kalian kepada-Nya. Niscaya Dia ‘kan memberikan kenikmatan yang baik (terus menerus) kepada kalian sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia ‘kan memberikan kepada tia-tiap orang yang memiliki keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kalian berpaling, maka aku kawatir kalian akan ditimpa siksa di hari qiyamat”. (QS. Hud: 3) 
Teladan dan idola kita, Nabi Muhammad shollallohualaihi wa sallam, bersabda: 
“Barangsiapa yg istiqomah beristighfar, Allah akan menjadikan kesenangan dari setiap kesusahan, jalan keluar dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dengan cara yang tidak ia duga” (HR. Abu Dawud).
(Al-Misbah Al Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 199 : 509).
Selain itu, ada sebuah atsar yang menerangkan bahwa suatu waktu kemarau panjang menerpa negeri muslimin. Amirul mukminin, ‘Umar bin al-Khotthob tidak tinggal diam. Beliau segera berinisiatif memohonkan hujan. Akan tetapi, bukannya salat istisqa’ yang dicanangkan oleh Abu Hafshoh seperti pada galibnya. Kali ini, beliau, seorang diri, “hanya” melafalkan kalimat-kalimat istighfar. Tak lama kemudian, hujan deras menggerojok tanah muslimin. Seseorang yang keheranan langsung melempar tanya, “bagaimana bisa Anda memohon hujan hanya dengan menggumamkan istighfar?” Dengan enteng, sayyidina ‘Umar menukasi, “Aku memohon hujan dengan kunci-kunci langit”.
Maksudnya:
“Maka aku berkata (kepada mereka), mohon ampunlah kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia ‘kan menurunkan hujan yang lebat untuk kalian. Dan Dia ‘kan memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan menjadikan kebun serta sungai-sungai untuk kalian”. (QS. Nuh: 10-12)
Sebagai penutup, guru kami, KH.M. Ihya’ Ulumiddin dalam sebuah kesempatan pernah menyampaikan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz terbiasa mengumpulkan kaum Muslimin di Hari ‘Asyuro untuk bersama-sama melakukan pertaubatan dengan membaca istighfarot para Nabi. “Dosa akan membuat hidup kita susah. Dengan diampuninya dosa, maka akan banyak kelancaran dalam banyak hal. Para ulama berkata bahwa mengakui dosa akan menghapus dosa”. Kami menyarankan hendaknya para pemimpin, ketua RT, Wali Kota, Bupati, Gubernur, Presiden, para Kyai, para kepala sekolah, dan para pimpinan lembaga sosial kemasyarakatan, agar mentauladani Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Mari kita mengumpulkan karyawan, staff, anggota, anak-anak, murid, santri, dan jama’ah kita untuk melaksanakan taubat nasional. Mari kita ajak mereka untuk melaksanakan puasa sunnah ‘Asyuro. Mari kita ajak mereka untuk beristighfar bersama-sama, memohon ampun kepada Alloh ta’ala… kita ini sudah kebanyakan dosa…
“… dan bertobatlah kalian semua kepada Alloh ta’ala wahai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung”. (QS. An-nur: 31) 
“… sesungguhnya Alloh ta’ala mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri”. (QS. AL-Baqoroh: 222)

Berikut ini adalah kumpulan istighfar para Nabi yang diabadikan Alloh Ta’ala dalam Al-Qur’an; istighfar Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Yunus serta istighfar Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang warid. Mari kita baca bersama-sama dengan penuh penghayatan dan pengharapan agar Alloh ta’ala mengampuni dosa-dosa kita. Bismillah…

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

Istighfar Nabi Adam (QS. Al-A’rof : 23)
“wahai Tuhan kami, kami telah berbuat dzolim kepada diri kami, jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami, sungguh kami termasuk golongan orang-orang yang merugi”          

وَإِلاَّ تَغْفِرْلِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
Istighfar Nabi Nuh (QS. Hud: 47)
“jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi ku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi”
رَبِّيْ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْلِي
Istighfar Nabi Musa (QS. Al-Qoshosh: 16)
“wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat dzolim kepada diriku sendiri, mohon ampunilah aku”

لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ
Istighfar Nabi Yunus (QS. Al-Anbiya`: 87)
“tidak ada Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sungguh aku termasuk orang yang dzolim”
 اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي
إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Istighfar Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam
“ya Alloh, Engkau Tuhanku, tidak Tuhan selain Engkau. Aku berbuat dzolim kepada diriku, aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang (bisa) mengampuni dosa-dosaku kecuali Engkau”

اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّي لاَ اِلَهَ إِلاَّ اَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَاَنَاعَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّمَا صَنَعْتُ أَبُؤُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُؤُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Istighfar Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam (sayyidul istighfar).
“ya Alloh. Engkau Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku berada dalam ikrar dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat. Aku mengakui  nikmat-Mu (yang Engkau berikan) kepadaku. Aku mengakui dosaku. Mohon ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”

Saudaraku yang dicintai oleh Alloh ta’ala.
Marilah kita jadikan bulan Muharrom ini, terutama hari ‘Asyuro, sebagai momentum untuk puasa sunnah dan beristighfar bersama, MOMENTUM TAUBAT NASIONAL. Semoga dengan puasa sunnah dan istighfar kita semua, Alloh ta’ala berkenan mengampuni kita yang banyak berlinang dosa ini. Semoga Alloh ta’ala menerima taubat kita sebagaimana Alloh ta’ala menerima taubat Nabi Adam ‘alaihissalam. Amin. (tj)

http://alumnipbsbunair.blogspot.com/

Selasa, 13 November 2012

Ke Mana Tujuan Kita..?? (Renungan Akhir Tahun)


Saudaraku yang dicintai Alloh ta’ala,
Mari kita berhitung, andaikan saja kita diberi oleh Alloh ta’ala “jatah hidup” di dunia selama 60 tahun. Kalau kita terbiasa tidur selama 8 jam setiap hari, makan-minum selama 2 jam setiap hari, bekerja mencari nafkah selama 8 jam setiap hari, menonton TV selama 2 jam setiap hari, ngobrol-ngobrol ringan selama 2 jam tiap hari, maka hal itu berarti kita…
Tidur selama 8/24 x 60 tahun = 20 tahun seumur hidup
Makan minum selama 2/24 x 60 tahun = 5 tahun seumur hidup
Bekerja mencari nafkah selama 8/24 x 60 tahun = 20 tahun seumur hidup
Menonton TV selama 2/24 x 60 tahun = 5 tahun seumur hidup
Ngobrol-ngobrol ringan selama 2/24 x 60 tahun = 5 tahun seumur hidup

Lalu,
Berapa jam (dalam sehari), atau berapa tahun (dari jatah umur kita di dunia) yang kita pergunakan untuk sholat, membaca al-Quran, berdzikir, berdoa, bertaubat, dan mendekat kepada Alloh ta’ala?
Berapa jam (dalam sehari), atau berapa tahun  (dari jatah usia kita di dunia) yang kita pergunakan untuk bershodaqoh, berinfaq, membantu saudara kita yang kesulitan, menanam pohon, membersihkan bumi dari polusi, dan menebar manfa’at serta maslahat kepada sesama manusia dan alam semesta?
Berapa pula waktu yang kita sediakan untuk mempelajari agama Islam, agama kita sendiri, agama yang kita yakini bisa mengantarkan kita untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat?
Saudaraku, umat Islam kebanggaan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam,
Marilah kita instropeksi, marilah kita mengevaluasi diri kita, apa sebenarnya tujuan akhir hidup kita ini?
Kesejahteraan di dunia saja?
Atau kebahagiaan di akhirat?
Mari kita simak baik-baik, dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih, surat cinta dari Kekasih sejati kita, Alloh ta’ala…
Maksudnya:
“siapa menghendaki keuntungan akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya. Dan siapa yang menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), dan dia tidak akan mendapatkan bagian di akhirat” (Q.S. asy-Syuro [42]: 20)
Perhatikan baik-baik. Ayat tersebut dengan jelas mengingatkan kita bahwa jika kita menjadikan kebahagiaan akhirat sebagai tujuan hidup kita, sebagai prioritas utama kita, maka kita ‘kan mendapatkan kebahagiaan akhirat tersebut plus tambahan, yaitu kebahagiaan di dunia. Sebaliknya, jika kita menjadikan keuntungan dunia sebagai tujuan akhir hidup kita, sebagai prioritas utama kita, maka kita ‘kan mendapatkan sebagian (tidak semuanya) dari keuntungan di dunia tersebut dan kelak di akhirat kita tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, alias rugi..!!
Nabi kita tercinta, Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Maksudnya:

Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.” (H.R. Imam at-Tirmidzi)

Dzul Hijjah berarti "yang mempunyai tujuan". Marilah kita semua, di akhir bulan Dzul Hijjah ini, yang juga berarti akhir tahun 1433 H ini, menentukan tujuan hidup kita di dunia secara jelas. Apa sih sebenarnya tujuan kita hidup di dunia?  Kalau saya boleh usul, tujuan kita adalah tinggal di surga dan bertemu Alloh ta'ala. 

Saudaraku, di sisa “jatah hidup” yang diberikan oleh Alloh ta’ala ini, marilah kita meningkatkan semangat beribadah kita. Marilah kita meningkatkan kualitas ibadah kita, baik berupa ibadah yang berhubungan langsung kepada Alloh ta’ala seperti sholat fardlu, sholat sunnah rowatib, tahajjud, witr, dan dluha, dzikr, istighfar, membaca al-Quran, memahami dan mengamalkan al-Quran, dan doa, maupun berupa ibadah yang berhubungan dengan sesama manusia seperti shodaqoh, berdamai, membantu keluarga dan tetangga yang sedang kesulitan, berkontribusi dalam pembangunan dan pengelolaan masjid, madrasah, dan pesantren.
Saudaraku, marilah kita meningkatkan semangat kita dalam mempelajari agama kita ini, agama Islam. Mari kita sempatkan untuk menghadiri kajian, membaca buku agama islam, dan berkonsultasi dengan ahli agama, ustadz atau Kyai yang ada di sekitar kita. Kalau bukan kita yang belajar agama kita sendiri, siapa lagi?
Saudaraku, kita tidak tahu kapan habisnya jatah hidup kita di dunia ini. Yang jelas, pergantian hari, bulan, dan tahun berarti bahwa jatah umur kita semakin berkurang. Kita semakin dekat dengan kematian. Marilah kita memperbanyak minta ampun kepada Alloh ta’ala. Mari kita membaca istighfar dengan penuh ketundukan dan kerendahan hati kepada Alloh ta’ala…
Astaghfirulloh….
Astaghfirulloh…
Astaghfirulloh…
Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita membaca doa yang diajarkan oleh ulama-ulama kita. Kami mendapatkan doa ini dari guru kami, Abina K.H.M. Ihya Ulumiddin, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haromain Pujon, Malang, dan Ketua Umum Hai`ah ash-Shofwah. Mari kita baca bersama-sama…
éNi äi ée=ZUã å<
 é^æ  äj~Y énÏZ1ãp
Robbighfir li ma madlo
Wahfadzni fi ma baqiy..
“Wahai Tuhanku, ampunilah aku, atas dosa-dosa yang telah aku lakukan. Dan jagalah aku di sisa umurku”.
Semoga Alloh ta’ala senantiasa membimbing kita menuju jalan yang diridloi-Nya. Semoga Alloh ta’ala senantiasa menjaga iman yang ada di sanubari kita ini. Semoga Alloh ta’ala menolong kita agar kita bisa menjadikan keuntungan dan kebahagiaan di akhirat sebagai tujuan utama kita hidup di dunia yang fana ini. Amin. (tj)

Rabu, 26 September 2012

Surat Cinta untuk Pak Haji dan Bu Hajah



Pak Haji dan Bu Hajah yang semoga dirahmati Alloh ta’ala. Bolehkah saya bertanya? Tahun ini bapak/ibu berangkat haji untuk yang ke berapa? Dua, tiga, atau empat? Semoga haji Anda diterima oleh Alloh ta’ala. Pak Haji dan Bu Hajah, tahun ini berapa kali Anda berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan umroh..? Selama ini sudah berapa kali Anda berangkat umroh? Dua, empat, enam..? Semoga umroh Anda diterima oleh Alloh ta’ala. 

Pak Haji dan Bu Haji, tahukah Anda bahwa berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2012, di Indonesia ada warga yang tergolong miskin sebanyak 29,13 juta orang (11.96%)..? Dengan garis kemiskinan 248.707 perkapita . Artinya orang di Indonesia yang penghasilan rata-ratanya lebih kecil dari pada 248.707 rupiah per bulan (atau 8.290 rupiah per hari) berjumlah 29,13 juta jiwa . Sedangkan penduduk yang tergolong hampir miskin berjumlah 27,82 juta jiwa (11,5 %). Jadi total penduduk yang miskin dan hampir miskin sejumlah sekitar 57 juta jiwa (surabaya.okezone.com). Sementara itu, jumlah penduduk yang tergolong miskin di Jawa Timur ada 5,071 juta jiwa (13,40 %) dengan garis kemiskinan 233.202 per kapita. Artinya warga Jawa Timur yang berpenghasilan rata-rata lebih kecil dari pada 233.202 rupiah per bulan (7.773 ribu per hari) berjumlah 5,071 juta jiwa (jatim.bps.go.id). Kesimpulan sederhana, orang miskin (secara ekonomi) di Indonesia masih “cukup” banyak, orang miskin di Jawa Timur juga masih “cukup” banyak. 

Jika Anda warga Surabaya, silahkan berkunjung ke Kecamatan Semampir, tepatnya Kelurahan Ujung, Pegirian, Wonokusumo dan Sidotopo. Anda bisa juga menengok saudara Anda di Kelurahan Gading Kecamatan Tambaksari dan Kelurahan Simokerto Kecamatan Simokerto. Atau jika Anda berada di daerah Surabaya Utara, silahkan bersilaturrahim ke warga pesisir di daerah Bulak. Di sana Anda akan bertemu dengan saudara-saudara Anda yang sangat membutuhkan “sedikit” bantuan dari Anda.

Pak Haji dan Bu Hajah, bolehkah saya bertanya, sudahkah Anda membayar zakat tahun ini? Sudahkah Anda menyisihkan sebagian kecil (hanya 2,5 %) dari harta Anda untuk diberikan kepada mereka yang berhak; orang-orang miskin? Untuk berangkat haji dibutuhkan dana tidak kurang dari 35 juta. Dan untuk yang haji plus dibutuhkan biaya dua kali lipat, sekitar 70 juta. Sedangkan untuk umroh (sunnah) diperlukan uang tidak kurang dari 15 juta. Kita tentu sudah mengerti bahwa mengeluarkan zakat itu hukumya wajib, fardlu ‘ain. Sedangkan berhaji untuk yang ke-dua, tiga, dan seterusnya itu hukumya sunnah. Berangkat umroh pun demikian, hukumnya sunnah. Memang, uang itu milik Anda sendiri. Namun, bukankah Alloh ta’ala yang memberikan rizki kepada Anda? Dan bukankah kita tahu bahwa Alloh ta’ala memerintahkan kita untuk membayar zakat? 

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)
Semoga dengan membayar zakat, Alloh ta’ala menerima haji dan umroh Bapak-Ibu sekalian. Semoga zakat itu bisa membantu saudara-saudara kita yang sedang kesusahan untuk sekolah dan berobat, bahkan untuk sekedar makan. Tentu jauh lebih baik dan lebih mulia jika Bapak-Ibu bukan hanya mengeluarkan zakat, tetapi juga berinfaq dan bershodaqoh. Contoh, Bapak-Ibu berinfaq/bershodaqoh 5%, 10%, 20%, atau 40% dari harta yang Bapak-Ibu miliki. Bukankah senantiasa berinfaq, menganggarkan sebagian harta untuk dinafkahkan di jalan Alloh ta’ala, atau untuk membatu saudaranya yang sedang kesusahan, itu merupakan ciri orang yang bertaqwa..?

Mari kita baca bersama surat Ali Imron ayat 133-134 (yang maksudnya): “dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.
Selain menjanjikan surga bagi orang-orang yang bertaqwa, Alloh ta’ala juga menjajikan anugerah-anugerah yang lain bagi mereka. Dan inilah sebagian anugerah Alloh ta’ala yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa.
“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah jadikan baginya jalan keluar (dari setiap permasalahannya). Dan Dia (Allah) akan memberi rizji dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.
Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam setiap urusannya .
Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia (Allah) akan melebur kesalahan-kesalahannya dan melipat gandakan pahala baginya.”
(QS. At- Tholaq [65] : 2 -5 )

Semoga Alloh ta’ala senantiasa menolong kita semua untuk menjadi bagian dari golongan orang-orang yang bertaqwa. Amin. (tj)