Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2013

Belajar Parenting dari Ayah Ibrahim


Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Pada kesempatan yang baik kali ini marilah sejenak kita menengok perjalanan hidup seseorang yang mendapat julukan “kekasih Allah” (khalilullah), seseorang yang menjadi bapaknya para nabi. Bahkan Allah ta’ala memuji beliau sebagai seseorang yang layak menjadi tauladan. Siapakah orang itu? Benar. Beliau adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا (۱٢۵)
“Dan Allah mengangkat Ibrahim sebagai kekasih.” (An-Nisa`: 125)

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
 “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada (Nabi) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia….” [al-Mumtahanah: 4]
Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Namun pada kesempatan yang singkat ini, saya mengajak Anda untuk belajar kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam hal mendidik keluarga. Apa saja pelajaran tentang pendidikan keluarga yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam?
Pertama, berdoa kepada Allah ta’ala agar diberi keturunan yang sholih.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (۱۰۰)  فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (۱۰۱)
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar“ (ash Shoffat: 100-101)
Sudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh orang tua adalah kenakalan anak-anak, terutama ketika mulai memasuki masa remaja. Bahkan ada yang bilang, kenakalan remaja sekarang sungguh di luar batas, sungguh mengherankan, sungguh tak pernah terbayangkan, sungguh mengiris-iris hati, sungguh terlalu..!! Mulai dari suka bolos sekolah, suka berantem, suka ngerokok, suka minum miras, suka narkoba, suka mencuri, suka merampok, suka mendekati zina, suka berbuat zina, suka menjual teman sekolah untuk para pezina, suka ninggalin sholat, dan suka-suka yang lain... Sungguh, Na'udzu billah min dzalik...
Pada bulan Syawwal 1434 H yang lalu, saya mengikuti Istihlal jama'ah pengajian al-Kayyis di ndalem Ust. H. Junaidi Sahal di daerah Jemursari. Di dalam taushiyah acara tersebut, Abina KH. M. Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa seorang mukmin itu sudah diberi senjata yang maha ampuh oleh Allah ta'ala untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup, bahkan sebelum persoalan itu datang. Senjata yang maha ampuh itu adalah DOA. 
Sederhana saja. Kita mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini -semuanya- tidak terlepas dari "tangan" kekuasaan dan kehendak Allah ta'ala. Jika kita datang kepada Allah ta'ala, mengakui ke-sangatkurang-an kita, mengakui ke-sangatlemah-an kita, mengakui ke-sangatbutuh-an kepada -Nya, kemudian kita menghaturkan hajat kita dan Allah ta'ala mengabulkannya, maka bereslah permasalahan hidup kita. Sesederhana itukah?
"Barangsiapa mengetuk pintu terus menerus, niscaya dia bisa memasukinya"
Olehkarena itu, selayaknya kita berdoa kepada Allah ta’ala bukan hanya ketika kita menghadapi masalah saja... tetapi kita berdoa kepada Allah sebelum masalah itu datang, kita berdoa kepada Allah setiap saat, kita berdoa kepada Allah sebagai sarana munajat kita kepada-Nya...
Kembali kepada permasalahan kenakalan remaja yang sering dikeluhkan oleh orang tua. Ada sebuah pertanyaan yang ingin kami sampaikan. Apakah dulu sebelum menikah, ketika menikah, ketika memproses wujudnya anak, ketika hamil, ketika anak baru saja lahir, ketika remaja itu masih balita, ketika remaja itu masih berupa anak yang belum baligh, para ayah dan bunda senantiasa berdoa kepada Allah ta'ala? Berdoa agar Allah ta'ala menjadikan anak-anak ayah-bunda anak-anak yang sholih sholihah, anak-anak yang baik?
Kepada siapa saja yang berharap anak-anak yang sholih-sholihah, anak-anak yang baik, Allah ta'ala telah menyiapkan untuk kita semua sebuah senjata yang maha ampuh. Dahulu kala Bapak kita, nabi Ibrahim 'alaihissalam, menggunakan senjata yang maha ampuh ini. Beliau pun terkenal sebagai Bapak para Nabi karena keturunan beliau banyak yang diangkat oleh Allah ta'ala menjadi nabi. Diantaranya adalah Nabi Ishaq, Nabi Ismail, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Ayyub, Nabi Dzul Kifli, Nabi Syu’aib, Nabi Yunus, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Isa, serta Nabi Muhammad ‘alahimush sholatu wassalam. Senjata yang maha ampuh itu adalah doa:
رَبّ هَبْ لِى مِنَ الصَالِحِيْن
"robbi hab li minash-sholihin..."
-wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (anak-anak) yang termasuk orang-orang yang sholih-
Selain itu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga berdoa:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (۴۰)
“robbij’alni muqimash-sholati wa min dzurriyyati robbana wa taqobbal du’a`”
-wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan sholat, dan juga keturunanku. Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doaku- (QS. Ibrahim: 40)
Saya yakin bahwa kita semua menginginkan anak-anak yang sholih-sholihah. Merekalah sumber kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Ketika kita masih hidup, mereka berbakti dengan berbuat baik kepada kita, memandang wajah kita dengan tatapan kasih sayang, berbicara kepada kita dengan bahasa yang menyenangkan dan senantiasa berusaha membahagiakan kita. Ketika kita sudah meninggal dunia, mereka berbakti kepada kita dengan senantiasa berdoa dan memohonkan ampun untuk kita.
Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam pernah bersabda, ” Apabila manusia mati, terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: Shadaqah jariah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan untuk orang tuanya.”(HR.Muslim dari Abu Hurairah)
Lebih lanjut, Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa setelah meninggal dunia, derajat orang masih bisa diangkat. Si mayit yang merasa diangkat derajatnya terkejut dan berkata,” Ya Allah, apa ini?” maka akan dijawab, ” Itu karena anakmu selalu memintakan ampun untukmu.” (HR.Bukhori dalam Adab al-Mufrad, dari Abu Hurairah).
Yakin dalam berdoa
Salah satu hal yang sangat penting adalah, kita harus yakin dalam berdoa. Yakin terhadap ke-MahaBesar-an Alloh ta’ala. Yakin bahwa Alloh ta’ala Maha Mampu mewujudkan doa-doa kita.
Al-‘Alim Sufyan bin Uyainah pernah mengatakan:
“Jangan sekali-kali pesimis dalam berdoa. Optimislah. Iblis saja doanya dikabulkan, ketika dia minta umur yang panjang”.
Nah, Iblis saja doanya dikabulkan oleh Alloh ta’ala. So. Yakin, yakin, yakin..!!
Sabar dalam berdoa
Nabi Ibrahim diberi karunia oleh Alloh ta’ala, berupa anak yang sangat sabar yaitu Nabi Isma’il, ketika beliau berusia 86 tahun. Benar. Sudah cukup sepuh. Namun begitulah. Beliau sangat sabar dalam berdoa. Beliau tidak pernah putus asa. Beliau tidak pernah berhenti. Beliau sangat ngeyel dalam berdoa. Beliau senantiasa berbaik sangka kepada Alloh ta’ala. Sungguh, Alloh ta’ala Maha Mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.
Saudaraku. Marilah kita menteladani Ayah kita, Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala agar diberi keturunan yang sholih-sholihah. Kapan kita berdoa? Kapan pun dan di mana pun. Lebih sering lebih baik. Terutama setiap selesai sholat fardlu karena waktu tersebut merupakan salah satu waktu yang mustajabah.

Kedua, mengajarkan ketauhidan kepada anak
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (۱۳۱) وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (۱۳٢)
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (al Baqoroh: 131 – 132)
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Sebagai orang tua, kita wajib untuk memenuhi kebutuhan anak kita. Selain memenuhi kebutuhan berupa baju, makanan dan tempat tinggal, orang tua juga harus memperhatikan pendidikan anak, terutama pendidikan tauhid. Orang tua perlu mengenalkan Allah ta’ala kepada anaknya sedari dini. Orang tua semestinya senantiasa berusaha agar anak-anaknya mengenal Allah ta’ala, mengetahui kewajiban mereka kepada-Nya, memahami hak-hak Allah ta’ala terhadap mereka, sehingga mereka kelak tumbuh di bawah naungan cahaya ketuhanan.
Mari kita jujur. Berapa banyak waktu yang kita luangkan, tenaga dan pikiran yang kita curahkan, serta harta yang kita belanjakan untuk mendidik anak kita agar mengenal dan senentiasa dekat dengan Allah ta’ala? Bandingkan dengan waktu, tenaga, pikiran, dan harta yang kita habiskan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan anak. Padahal, ketauhidan dan keterikatan kepada Allah ta’ala inilah yang akan menjadi kontrol bagi anak-anak kita agar senantiasa melakukan kebaikan dan meninggalkan kema’shiatan. Ketauhidan inilah yang menjanjikan kebahagiaan dan keselamatan anak-anak kita di dunia dan akhirat.
Ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberikan teladan bahwa hendaknya orangtua mengajarkan ketauhidan kepada anaknya. Salah satu efeknya bisa kita lihat dalam ayat berikut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (۱۰٢)
“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada Anda; insyaallah Anda akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As Shofat : 102)
SubhanAllah… Itulah jawaban yang keluar dari mulut seorang anak yang tumbuh dalam bimbingan ketauhidan. Walaupun perintah itu sangat berat, karena keyakinannya kepada Allah ta’ala, karena husnudzonnya kepada Allah ta’ala, sang anak menjawab pertanyaan ayahnya dengan mantap tanpa sedikitpun keraguan, “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan –oleh Allah- kepada Anda”.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Alkisah, ada seorang guru yang memanggil semua muridnya. Guru tersebut memberikan seekor burung kepada setiap murid dan menyuruh mereka menyembelih burung itu. Sang guru mengingatkan, “Kalian harus menyembelihnya di sebuah tempat yang tidak dilihat dan diketahui oleh siapa pun.”
Maka para murid pun berangkat melaksanakan tugas yang diberikan gurunya. Di antara mereka ada yang pergi ke puncak bukit. Ada yang pergi ke gua terpencil. Bahkan ada yang pergi ke balik pepohonan tinggi yang tersembunyi. Ketika merasa tak ada yang melihat, mereka segera menyembelih burung yang dibawanya.
Tak lama kemudian, mereka kembali dengan membawa burung sembelihannya. Kecuali satu murid. Sang Guru lalu bertanya kepadanya," Kenapa kamu tidak menyembelih burung itu?"
Murid tersebut menjawab, "Tadi guru menyuruhku menyembelih burung di tempat yang tak terlihat oleh siapa pun. Tapi, aku tak dapat menemukan tempat seperti itu. Allah kan Maha Melihat dan akan melihat perbuatanku."
Itulah gambaran seorang anak yang hidup dalam keterikatan dengan Allah ta’ala. Kapan pun dan di mana pun, sang anak merasa senantiasa diawasi oleh Allah ta’ala.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Sungguh. Setiap anak lahir dalam keadaan fitroh, memiliki kecenderungan kepada Allah ta’ala. Setiap anak terlahir dengan membawa anugerah berupa kecenderungan berbuat baik. Mungkinkah, ketika anak kita lahir, di benaknya terbesit, “aku ingin menjadi anak nakal”, “aku ingin melawan orang tuaku”, “aku ingin berma’shiat kepada Alloh”? Mungkinkah hal seperti itu terjadi?
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi….
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Marilah kita menteladani ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dalam mendidik anak. Diantaranya adalah dengan senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala agar dianugerahi anak dan keturunan yang sholih serta mengajarkan ketauhidan kepada anak. Semoga Allah ta’ala memberikan pertolongan kepada kita sehingga kita mampu menteladani ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dalam mendidik anak-anak kita. Amin.
[tije/LP2A PBSB Kemenag]


Sabtu, 05 Januari 2013

ZINA, Membawa Sengsara Dunia Akhirat


Wahai remaja muslim di mana pun kalian berada. Bacalah fakta-fakta berikut ini.
Menurut hasil Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia tahun 2002-2003 yang dilakukan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), ditemukan fakta bahwa remaja Indonesia yang mengaku pernah berhubungan seksual sebelum menikah pada usia 14-19 tahun mencapai 34,7% untuk perempuan dan 30,9% untuk laki-laki.
Penelitian Komnas Perlindungan Anak (KPAI) di 33 Provinsi pada bulan Januari-Juni 2008 menyimpulkan empat hal: Pertama, 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno. Kedua, 93,7% remaja SMP dan SMA pernah ciuman, genital stimulation (meraba alat kelamin) dan oral seks. Ketiga, 62,7% remaja SMP tidak perawan. Dan yang terakhir, 21,2% remaja mengaku pernah aborsi.
Pada tahun yang sama Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Penelitian Bisnis dan Humaniora (LSCK-PUSBIH) menemukan fakta yang lebih mengagetkan lagi. LSCK-PUSBIH melakukan penelitian terhadap 1.660 mahasiswi di Yogyakarta. Hasil yang mereka dapatkan, 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang kegadisannya dan 98 orang mengaku pernah melakukan aborsi.
Masih di tahun 2008, Departemen Kesehatan merilis data bahwa dari 15.210 penderita AIDS atau orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Indonesia, 54 persen di antaranya adalah remaja.
Sebuah hasil survey di 9 kota besar pada tahun 2011, membuktikan bahwa 69,9 persen remaja di Indonesia sudah melakukan hubungan seks bebas. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang sudah melakukan perbuatan terlarang ini sejak berusia 14 tahun. Biasanya kegiatan seks bebas ini dibungkus dengan permintaan bukti janji kesetiaan cinta.
Sungguh, fakta-fakta yang menyayat hati…
Astaghfirulloh
Astaghfirulloh
Astaghfirulloh al-‘adhim wa atubu ilaih…
Wahai remaja muslim yang dicintai Alloh ta’ala, menjauhlan dari neraka, menjauhlah dari zina. Bacalah surat cinta dari Tuhanmu.
“Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya perbuatan zina itu adalah keji dan jalan yang paling buruk”. (al-Isro: 32).
Tahukah kamu apa zina itu?
Zina adalah persetubuhan antara pria dan wanita yang tidak memiliki ikatan perkawinan yang sah menurut syariat Islam. Zina adalah salah satu dosa besar yang harus kita hindari dengan segenap jiwa raga dan dengan segala upaya.
Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada dosa yang paling besar di sisi Allah sesudah syirik kepada Allah, dapat melebihi dosa orang yang menumpahkan air mani (sperma)nya pada perempuan yang tidak halal.” (HR Ahmad dan Thabrani).
Kamu tahu apa hukuman orang yang berzina itu? Jika pelakunya belum pernah menikah maka hukumannya adalah dicambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun. Sedangkan jika pelakunya sudah pernah menikah, maka hukumannya adalah dirajam (dilempari batu) sampai mati. Mari kita baca dan resapi peringatan dari Alloh ta’ala, Tuhan kita.
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (QS An Nuur (24): 2).
Dari Ubadah bin Shamit ra, ia berkata: Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Ambillah (hukum) dariku! Ambillah (hukum) dariku! Karena sesungguhnya Allah telah bukakan jalan bagi mereka, yaitu gadis dan jejaka dera seratus kali dan pengasingan setahun, dan yang sudah pernah menikah dengan yang sudah menikah dera seratus kali dan rajam.” (HR Muslim).
Wah kejam banget ya?! Enggak juga. Hal ini disyariatkan agar kita benar-benar menjaga kesucian nasab. Kita kan bukan binatang yang seenaknya saja melakukan “gituan” tanpa ada ikatan nikah sebelumnya. Kita ini manusia. Derajatnya lebih tinggi dari binatang. Kita melakukan “gituan” bukan hanya untuk memenuhi nafsu dan untuk berkembang biak. Kita melakukan “gituan” dalam rangka mencetak generasi yang sholih-sholihah, dengan niatan ibadah kepada Alloh ta’ala. Dan Alloh telah memberikan tuntunan kepada kita bahwa jika kita sudah ingin “gituan”, tidak kuat lagi menahan, dan memiliki kemampuan, ya menikahlah. Iya, menikah. Jadi nanti benar-benar bertanggungjawab. Ada ikatan yang sah. Kalau belum, ya tahan dulu. Puasa.
Sabda Rasulullah SAW: “wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu menanggung beban, hendaklah segera menikah.  Sebab, pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Siapa saja yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah perisai baginya.” (Muttafaqun ‘alihi)
Apa kamu sudah tahu siksa yang disiapkan oleh Alloh ta’ala bagi pelaku zina di akhirat nanti? Mari kita baca bersama-sama peringatan dari Alloh ta’ala.
“Dan orang-orang yang tidak syirik menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal sholeh.” (QS Al Furqan (25): 68-70).
Selanjutnya, mari kita resapi, dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih, nasehat dan peringatan dari kekasih kita, nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam.
Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang berzina itu wajah-wajah mereka akan menyala-nyala api.” (HR Thabrani).
Dan kelak di neraka, para pezina kemaluannya akan membusuk dan mengeluarkan cairan yang paling busuk yang akan menjadi penyuplai minuman bagi para peminum khamer (minuman dan segala hal yang memabukkan). Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan minum khamer, niscaya Alloh akan memberi minuman kepada orang tersebut dari sumber ghutbah, yaitu sumber di dalam neraka yang berasal dari farjinya (kemaluannya) tukang zina.” (HR Abu Ya’ala dan Ahmad).
Samurah bin Jundub ra meriwayatkan, bahwa Nabi Sholallohu ‘alaihi wa sallam telah didatangi malaikat Jibril dan malaikat Mikail, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kita berangkat dan sampailah kepada dapur api, yang sebelah atas sempit sedang sebelah bawah lebih besar, dari dalamnya terdengar suara keras.” Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami lalu menengok ke dalam ruang tungku tersebut, ternyata di situ ada orang-orang laki-laki dan orang -orang perempuan yang banyak tidak berpakaian, tiba-tiba menyalalah api dari bawah mereka dan seketika itu mereka berteriak-teriak yakni menjerit-jerit karena kepanasan, lalu aku bertanya: ‘Siapakah orang-orang itu, wahai Jibril?’ Malaikat Jibril menjawab: ‘Itulah orang laki-laki dan perempuan yang berzina dan itulah siksa mereka di hari kiamat nanti.” (HR Baihaqi).
Wah..!! tak terbayangkan betapa pedihnya siksa bagi pelaku zina itu. Jadi,  menjauhlah dari zina, ayo kita berlari menjauh dari zina seperti kita berlari menjauh dari kejaran api yang berkobar besar. Lalu bagaimana agar kita bisa menjauh dari zina..??
Pertama, gunakan mata pemberian Alloh ta’ala itu untuk melihat yang baik-baik, yang dihalalkan oleh syariat. Contoh: untuk membaca al-Quran, belajar, melihat keindahan alam. JANGAN dipakai untuk melihat aurot, itu dilarang Tuhan. JANGAN dipakai melihat gambar atau video yang menunjukkan aurot. Itu dibenci oleh Alloh Tuhanmu. Masih ingatkan batasan aurot..??
Kedua, laki-laki dilarang berdua-dua an dengan wanita yang bukan mahromnya, begitu juga sebaliknya, karena syetan lah yang senantiasa menemani mereka. Mahrom itu, ayah/ibu, kakek/nenek, anak, atau anak-anak ibumu.
Ketiga, laki-laki dilarang menyentuh   wanita yang bukan mahromnya, begitu juga sebaliknya. Kata Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam, kepala ditusuk besi itu lebih baik dari pada menyentuh yang bukan mahrom (HR. at-Thabrani).
Keempat, hindari pacaran. Waduh..! apa? Gak boleh pacaran?! Bentar-bentar, saya tanya dulu, buat apa sih pacaran? Kalau memang sudah cukup umur, punya bekal, dan ingin memiliki pasangan hidup, ya menikahlah. Iya. Menikah adalah solusi yang ditawarkan oleh Alloh ta’ala melalui rosul-Nya yang tercinta. Pacaran merupakan media yang sangat dekat dengan zina. Padahal Alloh ta’ala melarang kita mendekati zina. Itu karena Alloh ta’ala sayang banget kepada kita. Alloh tidak ingin kita terjerumus ke dalam perzinaan. Faktanya, perbuatan zina yang sangat keji ini kebanyakan diawali dari pacaran. Dari sekian responden yang mengaku pernah berhubungan seks di luar nikah, sekitar 95 % mengaku melakukan tindakan asusila tersebut bersama dengan pacarnya. Alasannya, sebagai bukti kesetiaan cinta. Astaghfirulloh. Sahabat, tidak ada yang namanya cinta itu merusak, menyengsarakan dunia akhirat. Tidak ada yang namanya cinta itu menjerumuskan kita ke jurang neraka jahannam. Cinta yang benar adalah cinta yang membangun, cinta yang mengantarkan kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Cinta yang menyebabkan Alloh ta’ala ridlo kepada pelakunya.
Kelima, mari manfaatkan waktu kita untuk belajar. Selain belajar materi pelajaran di sekolah atau di kampus, kita juga semestinya belajar tentang agama kita, agama Islam. Masak orang islam gak mau belajar tentang Islam? Kan aneh bin ajaib tu..! Ayo! Mari kita sempatkan untuk mengkaji isi al-Quran dan al-Hadits. Mari kita hadiri majelis ta’lim, majelis ilmu. Mari kita baca buku-buku agama yang tersebar di toko buku. Belajar agama Islam lewat internet juga bisa. Dan mari kita datangi para kyai dan ustadz di sekitar kita untuk menimba ilmu agama dari beliau-beliau. Kalau bukan kita yang belajar agama Islam, siapa lagi?
Keenam, mari isi waktu kita dengan aktifitas yang bermanfaat. Contoh; olahraga, kerja bakti, bersih-bersih, berkarya, berkreasi, melakukan kegiatan-kegiatan sosial, dan bekerja membantu orang tua mencari nafkah, atau bahkan kalau kita berani menjadi anak yang hebat dan mandiri, kita tidak perlu lagi minta uang ke orang tua, kita bekerja mencari uang sendiri. Apa bisa? Insyaalloh, bisa!! Sudah banyak contohnya. Teman saya ada yang berjualan kerupuk untuk memenuhi biaya kuliah dan biaya hidup sehari-hari. Ada juga yang berjualan tahu-tempe. Kalau waktu kita sudah penuh dengan aktifitas yang positif, kita gak bakalan sempat mikir “gituan”. Biasanya, kita mikir “gituan” karena banyak waktu luang.
Kedelapan, mari kita memperbanyak ibadah kepada Alloh ta’ala. Memperbanyak baca al-Quran, sholat sunnah, puasa sunnah, dan dzikr. Mari kita sering-sering ke masjid untuk mendekatkan diri kepada Alloh ta’ala. Ini ada resep dari guru saya. Silahkan mencoba. Agar kita senantiasa ingat dan dekat kepada Alloh ta’ala, biasakanlah berdzikr di dalam hati. Kapan pun dan di mana pun. Pilihlah dzikr yang paling disukai. Contoh: dzikr “Alloh”. Bacalah dzikr “Alloh” ini di dalam hati, di mana pun dan kapan pun. Ketika berangkat ke sekolah, ketika belajar, ketika berjalan, ketika naik sepeda, ketika bermain, ketika makan, bahkan ketika mandi dan ke kamar kecil. Tapi ingat ya.. dzikrnya di dalam hati. Jadi, seiring dengan detak jantung, seiring dengan hembusan nafas, kita berdzikr “Alloh… Alloh… Alloh….”
Yang terakhir dan yang paling penting, mari kita senantiasa ingat bahwa Alloh ta’ala melarang zina. Sesuatu yang dilarang Alloh ta’ala itu pasti bermudharat bagi kita baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan saking beratnya dosa zina ini, Alloh ta’ala melarang kita mendekatinya. Selain itu, malu juga kita kalau sampai melakukan sesuatu yang dibenci Alloh ta’ala Tuhan kita. Alloh ta’ala kan Maha Melihat dan Maha Mengawasi kita??
Bagaimana jika sudah terlanjur (pernah) berzina?
Jika salah satu diantara kita ada yang terlanjur berbuat zina, maka segeralah bertaubat kepada Alloh ta’ala. Mari kita kembali kepada Alloh yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jika kita benar-benar menyesal, mau minta ampun kepada Alloh dengan segenap jiwa raga, dan berjanji tidak mengulangi lagi perbuatan ma’shiat tersebut, pasti Alloh ta’ala mengampuni kita. Pasti. Dialah Tuhan yang maha luas pengampunan-Nya.
“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Zumar: 53)
Dan sungguh, Alloh ta’ala mencintai orang-orang yang bertaubat.
“… sesungguhnya Alloh ta’ala mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri”. (QS. AL-Baqoroh: 222)
Jadi, tunggu apalagi. Ayo kita segera bertaubat. Sebelum telat!
Tata cara bertaubat:
- Menyesali perbuatan dosa yang terlanjur diperbuat
- Memperbanyak istighfar, mohon ampun kepada Alloh ta'ala
- Bertekad sepenuh hati tidak mengulangi dosa yang dulu diperbuat 
Selain itu, salah satu syarat taubat yang harus dipenuhi adalah melaksanakan amal ibadah semaksimal mungkin. Terutama sholat fardlu lima waktu, jangan sampai ditinggalkan. Kita penuhi sisa hidup kita ini dengan amal kebaikan, amal sholih.
”Dan orang-orang yang tidak menyembah Ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu (syirk, membunuh, berzina), niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka Allah mengganti kejahatan mereka dengan kebajikan. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqon: 68-70)
Remaja muslim kebanggan Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam, mari kita tutup bincang-bincang kita kali ini dengan doa. Semoga Alloh ta’ala senantiasa menjaga diri kita dan menjauhkan diri kita dari zina. Dan semoga Alloh ta’ala menjauhkan diri kita dari penyebab terjadinya zina. Amin. (tj)
Wallohu al-musta’an...

Sabtu, 24 November 2012

Mengatasi Anak Yang Punya Senjata Andalan MENANGIS

Bagaimana mengatasi anak yang menggunakan tangisan sebagai senjata andalan?
Saya adalah seorang ibu. Saya memiliki anak yang berusia 5 tahun. Ketika menginginkan sesuatu, anak saya seringkali menangis dengan keras. Anak saya baru berhenti jika keinginannya dipenuhi. Contohnya: setiap pagi anak saya minta dibuatkan mie instan. Sebenarnya saya tahu jika mie instan itu tidak baik bagi anak. Apalagi dalam jumlah yang banyak dan frekuensi yang sering. Tapi mau gimana lagi, anak saya itu selalu merengek minta mie instan setiap pagi. Kalau tidak saya kasih, dia mengangis dengan sangat keras sampai kedengaran dari rumah tetangga. Selain malu dengan tetangga, saya juga tidak tega melihat anak saya yang masih 5 tahun itu menangis sambil meraung-raung di lantai. Bagaimana sebaiknya sikap saya menghadapi anak saya tersebut? Terimakasih.

Jawab:
Ibu yang dirahmati Alloh, ketika anak menggunakan tangisan untuk “memaksa” kita menuruti keinginannya kemudian berhasil, dia akan mengulanginya lagi di lain kesempatan. Dan jika dia berhasil untuk yang ke dua kali dan seterusnya, maka dia benar-benar akan menggunakan tangisan itu sebagai “senjata andalan” untuk memaksa kita menuruti keinginannya.
Lalu bagaimana solusinya?
Ibu yang bijaksana, kita harus tahu dengan pasti mana keinginan anak yang baik dan bermanfaat bagi dia dan mana yang jelek dan berbahaya bagi dia. Jika si anak memiliki keinginan yang berakibat jelek bagi dia, seperti yang Ibu utarakan tersebut, maka kita sebagai orang tua harus “tega” menolak keinginannya. Tentu kita harus menjelaskan dengan lembut kepada si anak bahwa keinginannya itu berbahaya dan berakibat jelek bagi dia. Misalnya, dia nanti bisa sakit.
Biasanya respons anak adalah menangis dan merengek. Tidak mengapa, tetaplah bersikap tenang dan jangan terpacing oleh ulahnya. Katakanlah dengan lembut, “Adik tidak boleh terus-terusan makan mie instan setiap pagi, karena bisa membuat adik sakit. Lebih baik adik makan telur dan minum susu agar badan adik sehat dan kuat. Kalau adik mau nangis, silahkan. Ibu akan tunggu sampai adik selesai menangis…”.
Tetaplah konsisten dengan pendirian Ibu. Jangan lekas luluh dengan tangisan si anak. Ibu juga tidak perlu malu dengan tetangga. Ini kan untuk kebaikan anak Ibu sendiri, buat apa malu? Dan, sebaiknya berilah semangat kepada si anak. Misalnya dengan mengatakan, “Ibu tahu adik anak yang baik, adik anak yang pandai, nanti kalau sudah selesai menangis, bilang ke ibu ya…”.
Memang, kebanyakan orang tua kesusahan menerapkan metode ini. Mereka berpikir alangkah kejamnya orang tua yang membiarkan anaknya menangis dan meraung-raung seperti itu. padahal, inilah yang dinamakan ketegasan. Bukan berarti tidak sayang. Justru inilah wujud kasih sayang orang tua yang sebenarnya kepada anak. Apa Ibu mau nantinya anak ibu sakit-sakitan dan terganggu perkembangannya? Kita seharusnya mengajari anak kita tentang hal yang benar dan hal yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.
Dengan bersikap tegas dan konsisten, lama-kelamaan si anak akan menyadari bahwa dia tidak bisa memaksakan kehendaknya dengan menggunakan tangisan. Sekali kita berhasil menyadarkan si anak, dia akan berhenti untuk memaksakan kehendaknya kepada orang tua.
Setelah tenang dan berhenti menangis, biasanya seorang anak akan menunjukkan sinyal-sinyal perdamaian dengan orang tua. Dia akan mendekati orang tua dan mulai mengajak komunikasi. Tentu saja, karena memang dia membutuhkan orang tuanya. Jika tanda-tanda itu muncul, segeralah sambut anak Anda dengan pelukan dan ciuman yang penuh dengan kasih sayang. Pujilah anak Anda dengan mengatakan, “adik memang anak yang baik”, atau, “anak mama hebat ya..”. Saya yakin anak Anda pun akan menyambut baik sikap Ibu tersebut.
Sebagai orang tua, kita perlu menhindari ucapan yang melemahkan seperti, “dasar kamu anak cengeng”, “kamu bikin repot mama saja..!”, atau ancaman-ancaman kosong, seperti, “awas ya, nanti kalau mama pergi adik tidak diajak lagi”. Ucapan yang melemahkan dan ancaman kosong seperti itu tidak akan bisa merubah sikap si anak menjadi lebih baik. Hindarilah, sekali lagi hindari kata-kata seperti itu.
Jika suatu ketika si anak mengulangi lagi jurus menangis seperti itu, kita tidak perlu menyalahkan si anak. Kita hendaknya mengulangi lagi cara-cara yang tegas dan konsisten tersebut. Tentu saja cara-cara tersebut kita lakukan dengan lembut. Bagaimanapun dia adalah anak manusia yang masih berusia 5 tahun dan masih butuh banyak belajar. Mungkin saja teknik ini memerlukan pengulangan beberapa kali hingga si anak benar-benar memahami dan menyadari. Bersabarlah… demi kebaikan buah hati Anda.
Terakhir, ingatlah untuk senantiasa berdoa. Mintalah kepada Allo ta’ala agar melembutkan hati anak-anak kita sehingga kita mudah mendidik mereka untuk menjadi anak-anak yang baik. (tj) 
(Disarikan dari buku Ayah Edy Menjawab: 100 persoalan sehari-hari orang tua yang tidak ada jawabannya di kamus manapun, hal 3-5. 2012. Jakarta: Noura Books. Dengan beberapa modifikasi dan tambahan)

Rabu, 03 Oktober 2012

Mengapa anak suka berbohong?



Ayah bunda yang bijaksana, dibandingkan dengan tindak kejahatan lain, berbohong sebenarnya berada pada level teratas. Mengapa demikian? Mari kita lihat kondisi bangsa ini, berapa banyak orang yang melakukan korupsi? Dan kita tahu, korupsi itu berawal dari sebuah kebohongan. Kebohongan adalah awal dari berbagai kerusakan dan hanya membawa kita kepada keburukan.
Oleh karena itu, jika anak (suka) berbohong, orang tua perlu segera mencari solusinya karena dampaknya berat sekali. Tekankan dan pahamkan kepada anak bahwa berbohong adalah kebiasaan yang sangat buruk dan berakibat buruk baik di dunia dan akhirat. Di dunia, pembohong tidak akan dipercaya oleh orang lain. Di akhirat, pembohong mendapatkan siksa karena berbohong itu termasuk perbuatan dosa.
Berdasarkan pengalaman ayah Edy, seoarang pakar parenting, anak (suka) berbohong karena pada  awalnya mencontoh orang-orang terdekatnya, siapapun orang itu dan sekecil apa pun kebohongan itu. Salah satu contoh kebohongan kecil  yang (mungkin) sering dilakukan orang tua adalah ketika ada tamu tak diundang yang bernama pengemis, orang tua berkata, “Dek, bilang mama gak ada ya…”. Karena melihat orang-orang terdekatnya berbohong, si anak mengira bahwa bebohong itu wajar-wajar saja dan boleh dilakukan. Akhirnya si anak pun mulai berbohong. Jadi, faktor pertama anak (suka) berbohong adalah karena ada yang dicontoh. Tidak mungkin seorang anak tiba-tiba suka berbohong jika tidak ada yang dicontoh.
Faktor kedua, orang tua seringkali ingin jawaban yang bagus-bagus dari sang anak. Jika anak cerita tantang sesuatu yang jelek, yang tidak menyenangkan, sering kali orang tua marah-marah. Orang tua tidak siap dengan jawaban yang tidak bagus. Jadinya, kejujuran anak seringkali dibalas dengan emosi. Contoh: suatu hari sang anak bolos sekolah, lalu orang tua mengatahui kalau anaknya bolos sekolah.
“adek tadi bolos sekolah ya?”   
“iya” jawab sang anak
“Adek ini, mama sudah susah-susah nyekolahin, malah sekolah gak bener..!! mau jadi apa kamu!!”
Nah, kebanyakan orang tua suka marah-marah seperti ini. Jadinya di kesempatan berikutnya si anak berbohong karena takut dimarahi orang tuanya. Sebenarnya si anak tidak memiliki niat jahat. Ia hanya ingin cari aman saja. Padahal kalau orang tua gak marah-marah, orang tua mau mencari penyebab kenapa anak bolos sekolah, kemudian membantu anak untuk menyelesaikan permasalahannya, malah orang tua mau menasehati sang anak dengan lembut dan memotivasi anak agar lebih giat belajar, kemungkinan besar anak tidak akan berbohong.
Lalu bagaimana solusinya?
Kalau penyebabnya karena ada yang dicontoh, solusinya adalah mengubah sikap yang dicontoh. Jika bunda merasa pernah berbohong kepada anak, katakana pada anak, “sayang, kalau kamu berbohong karena mencontoh mama, maafkan mama ya. Mama berjanji tidak akan berbohong lagi. Tolong bantu mama ya.. kalau mama berbohong, tolong adek ingatkan”. Jadi memang harus ada komitmen yang dibangun oleh orang tua untuk mengoreksi diri. Kalau orang tua mau berubah, insyaalloh anak pun akan berubah.
Kemudian, jika selama ini orang tua sering marah-marah kalau mendengar atau mengetahui bahwa si anak (mungkin) melakukan kesalahan, maka mulai sekarang kebiasaan ini harus dirubah. Dengarkan jawaban anak tanpa memarahinya. Apapun jawabannya. Kita sebagai orang tua mestinya bersyukur jika anak kita masih mau berkata jujur kepada kita. Jadi anak kita masih percaya kepada kita. Ingat..!! marah tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Bayangkan kalau anak sudah terlanjur memakai narkoba. Kalau orang tuanya marah-marah saja, apa ini akan menyelesaikan masalah?! Justru melihat orang tuanya marah, mungkin ia malah akan terus melakukannya. Sebaliknya, jika orang tua mau menerima si anak apa adanya, orang tua mau membantu anak menyelesaikan masalahnya, orang tua mau bekerja sama dengan anak, kemungkinan besar “kerusakan” itu bisa diperbaiki sedikit demi sedikit.
Cara bepikir seperti ini seringkali luput dari pemikiran orang tua karena kebanyakan orang tua merasa diri mereka paling benar. Kalau anaknya salah, mereka pikir itu hanya kesalahan anak semata. Padahal kesalahan anak adalah kesalahan orang tua juga; mungkin si anak kurang mendapat perhatian dan kasih sayang, akhirnya si anak mencari teman, nah tanpa sengaja si anak mendapat teman yang salah, teman yang buruk, lama-kelamaan si anak mengikuti apa yang dilakukan temannya itu karena ia merasa nyaman bersama mereka.  Oleh karena itu, STOP marah ya Ayah Bunda.
Kalau anak melakukan sesuatu yang dinilai salah, sebaiknya kita cari tahu dulu apa penyebabnya. Anak bolos sekolah mungkin saja disebabkan karena ada gurunya yang galak, ada temannya yang suka menyakiti, atau sebab yang lain. Kita cari tahu dulu penyebabnya apa, kemudian kita bantu anak kita untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Seperti ini lebih baik dan insyaalloh si anak akan tetap berkata jujur kepada orang tua.
Bagaimana kalau si anak masih berbohong?
Kita sebaiknya membuat kesepakatan dengan anak. Kalau anak masih berbohong, kita perlu memberikan sanksi yang tegas. Contoh, “adek tidak boleh berbohong, karena berbohong itu dosa. Kalau adek berbohong lagi, akhir bulan ini adek tidak boleh ikut rekreasi ke kebun binatang”. Jika kemudian si anak “ketangkap” berbohong lagi, sanksi ini harus dijalankan. Konsistenlah agar anak mengerti bahwa berbohong itu adalah perbuatan buruk yang harus dihindari.
Selain itu, biasakanlah memberikan apresiasi kepada anak ketika dia berkata jujur. Orang tua bisa mengucapkan, “terimakasih adek berkata jujur. Bunda akan tambah sayang kepada adek”. Dan sesekali boleh juga kita, orang tua, memberikan hadiah kepada anak karena sang anak konsisten berkata jujur. Insyaalloh dengan cara seperti ini anak-anak kita akan terbiasa dan termotivasi untuk senantiasa berkata jujur. Ingat, biasakan setiap hari berdoa agar Alloh ta’ala membersihkan hati anak-anak kita, agar Alloh ta’ala menolong kita dan anak-anak kita menjadi orang-orang yang jujur. Semoga. 
                                                                                       
(Dikutip dari buku Ayah Edy Menjawab: 100 persoalan sehari-hari orang tua yang tidak ada jawabannya di kamus manapun, hal 31-35. 2012. Jakarta: Noura Books. Dengan beberapa modifikasi dan tambahan)

Selasa, 07 Agustus 2012

10 Hari Terakhir Bulan Romadlon “bersama” Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam


Sebagaimana sebuah cerita yang diharapkan happy ending, dalam rangkaian kehidupan, kita pun berharap happy ending. Kita berharap husnul khotimah. Mengakhiri hidup dalam keadaan yang baik. Begitu pula dalam bulan Romadlon ini. Kita tentu berharap dengan sangat bisa mengakhiri Romadlon dengan “husnul khotimah”. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Sahl bin Sa’ad radhiallohu anhu
وَإِنَّمَاالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
Maksudnya : “Dan sungguh amalan itu ditentukan dengan penutupannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6117)
Lalu bagaimana cara kita mengakhiri bulan Romadlon dengan baik..? Rasa-rasanya tidak ada orang yang lebih layak untuk kita teladani selain Pujaan kita Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Oleh karena itu, mari kita tengok dan kita teladani bagaimana sikap Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam pada 10 hari terakhir bulan Romadlon.
Diriwayatkan dari Ummul Mu`minin sayyidah ‘Aisyah radhiallahu anha, beliau berkata:
كَانَ النَّبِىُّ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Maksudnya: “Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Romadlon), beliau mengencangkan sarung, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya “. (HR. Al-Bukhari no. 1884 dan Muslim no. 2008)
Jadi ketika memasuki 10 hari terakhir bulan Romadlon, Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam melakukan hal-hal sebagai berikut.
Pertama, beliau mengencangkan sarung. Hal ini berarti beliau menjauhi berhubungan dengan wanita (isteri beliau) karena memfokuskan diri untuk bermunajat kepada Alloh ta’ala. Ada juga yang mengartikan bahwa “mengencangkan sarung” berarti kiasan dari memperbanyak ibadah, fokus untuk menjalankannya, dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Bagi kita hal ini bisa bermakna, selama sepuluh hari terakhir bulan Romadlon hendaknya kita menjahui dan meninggalkan segala macam kenikmatan dunia yang hanya sesaat, seperti nonton TV atau bioskop, berlama-berlama belanja di mall atau pasar, bergurau dengan dengan teman, mendengarkan musik, main game, dan lain sebagainya demi untuk bertaqorrub, mendekat, kepada Alloh ta’ala dengan berbagai macam ibadah. Eling, sebentar lagi “bazaar murah pahala, ampunan, dan ridlo” di bulan Romadlon ini akan segera tutup.
Kedua, beliau menghidupkan malam bulan Romadlon. Maksudnya beliau mengisi malam-malam 10 hari terakhir bulan Romadlon itu dengan memperbanyak ibadah seperti sholat, dzikr, tilawah al-Quran, I’tikaf, dan doa. Hal itu sekaligus bermakna beliau menjahui tidur untuk beribadah di malam hari.
Barang siapa menghendaki kemuliaan
Hendaknya tidak tidur semalaman
Bukankah tidur itu “sudaranya kematian”..?? Masak iya, kita kepingin seperti mati terus..? Eling, sebentar lagi “bazaar murah pahala, ampunan, dan ridlo” di bulan Romadlon ini akan segera tutup. Mari kita maksimalkan untuk beribadah. Mudah-mudahan Alloh ta’ala meridloi kita. Tidurnya dikurangi. Apalagi di sepuluh hari yang terakhir dari bulan Romadlon ini terdapat lailatul qodr, malam yang lebih baik dari pada seribu bulan (1000 bulan= 83,3 tahun). Jadi kalau kita melakukan ibadah di malam lailatul qodr ini, nilainya lebih baik dari pada ibadah 1000 bulan. Tuh, sangat eman (sayang) kan kalau sampai kelewatan. 

Maksudnya:  “lailatul qodr (malam yang mulia) itu lebih baik dari pada seribu bulan” [QS. Al-Qodr: 3]
I’tikaf di masjid: Ibadah yang istimewa.
Pada 10 hari yang terakhir dari bulan Romadlon, kita sangat dianjurkan untuk beri’tikaf. I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan tujuan beribadah dan bertaqorrub kepada Alloh ta’ala. I’tikaf ini adalah ibadah yang istimewa, lebih-lebih di 10 hari terakhir bulan Romadlon.
Dari ‘Aisyah rodliyallohu ‘anha bahwa:
 كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Maksudnya:  “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Romadlon hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sepeninggalnya” (HR. Bukhari).
Di tengah-tengah kehidupan yang seakan-akan memaksa kita untuk terus mengejar kebahagiaan dunia ini rasa-rasanya perlu bagi kita untuk mengasingkan diri sejenak untuk merenungkan kembali makna hakiki dalam kehidupan. Dari manakah sebenarnya kita berasal? Ke mana kita semua akan menuju? Apa sebenarnya yang musti kita perankan di dunia yang fana ini? Kita pun perlu bertafakkur, mawas diri, mengevaluasi diri, apa saja yang telah kita lakukan selama hidup kita sampai hari ini. Seberapa banyak waktu yang kita isi dengan ketaatan dan amal ibadah kepada Alloh ta’ala? Seberapa banyak waktu yang kita isi dengan kedurhakaan dan kema’shiatan kepada Alloh ta’ala? Seberapa banyak waktu yang kita isi dengan aktifitas yang sia-sia belaka??
Mungkin bisa seperti ini, malam hari kita tidur habis sholat tarawih. Bangun tidur jam 12.00 malam. Kemudian beribadah, I’tikaf di masjid, bermunajat kepada Alloh ta’ala hingga waktu sahur. Atau begini, kita tidak tidur di malam hari. Melek terus. Mulai sholat maghrib atau sholat isya’ kita I’tikaf di masjid, sholat sunnah, baca al-Quran, dzikr, bertafakkur, doa, memperdalam ilmu agama, begitu terus menerus bergantian agar tidak bosan hingga waktu sahur. Setelah itu sahur, sholat subuh. Tetap berada di masjid untuk I’tikaf, baca al-Quran, dzikr, dan doa hingga terbit matahari. Kemudian kita sholat Dhuha baru kemudian istirahat (tidur). Kalaupun tidak bisa setiap hari, kita hendaknya melaksanakan I’tikaf dan ibadah-ibadah lain tersebut pada malam-malam ganjil 10 hari terakhir bulan Romadlon. Kalau masih saja tidak bisa karena sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan, misalnya ada kewajiban tertentu, maka hendaknya kita mengusahakan untuk melaksanakan I’tikaf dan ibadah-ibadah lain tersebut di salah satu malam dari 10 malam-malam terakhir bulan Romadlon. Ya, kita berusaha semaksimal mungkin dah…
قال الله تعالى: ﴿ فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ  ﴾
Maksudnya : “Maka bertakwalah kamu kepada Allah sesuai kemampuanmu” (QS. At Taghobun 16).
Ketiga, beliau membangunkan keluarganya. Hal ini berarti bahwa beliau juga membangunkan, mengajak, mendorong, dan memerintah keluarga beliau untuk mengisi malam-malam 10 hari terakhir bulan Romadlon dengan berbagai macam ibadah. Kalau mau masuk surga jangan sendirian..! Ajak serta keluarga, terutama istri/suami dan anak. Eling, sebentar lagi “bazaar murah pahala, ampunan, dan ridlo” di bulan Romadlon ini akan segera tutup. Kita tentu berharap bahwa kita bisa berkumpul dan bahagia bersama keluarga kita di dunia, lebih-lebih di akhirat sana. Jadi untuk urusan mendidik keluarga ini, kita musti menerapkan disiplin yang tinggi, ketegasan yang konsisten, dan mungkin sedikit “paksaan”. Entar kalau sudah terbiasa bangun malam untuk beribadah, insyaalloh qiyamullail itu akan menjadi sesuatu yang ringan.  
Selama bulan Romadlon, lebih-lebih di 10 hari yang terakhir, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
 “Ya Alloh.. sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf. Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Semoga Alloh ta’ala senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita semua sehingga kita mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah kita selama bulan Romadlon ini. Semoga kita mampu memenuhi 10 hari yang terakhir dari bulan Romadlon dengan I’tikaf, sholat, tilawah al-Quran, dzikr, tafakkur, doa, dan ibadah-ibadah yang lain. Semoga bulan Romadlon ini benar-benar menjadi kawah condro dimuko bagi kita untuk bertransformasi menjadi hamba-hamba Alloh ta’ala yang bertaqwa, dan semakin meningkat level taqwanya. Amin. (tj)