Tampilkan postingan dengan label celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label celoteh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Agustus 2012

CERITA FITHRI



Matahari masih hangat. Burung-burung mensenandungkan tasbihnya masing-masing. Sementara semut, jangkrik, kupu-kupu, kumbang, kelinci, dan kambing tengah mengerjakan dluha mereka. Fithri bergegas menuju kebun di sebelah rumah. Seperti anak tiga tahunan yang lain di desanya, Fithri suka sekali bermain di kebun yang juga bersebelahan dengan rumah tetangganya itu. Dengan muka yang cinuk-cinuk1 si Fithri menuju kebun. Sesampainya di sana ia mendapati Ulfi tengah bermain di comberan yang merupakan tempat favoritnya. Ulfi yang usianya tiga bulan lebih tua dari Fithri itu memang suka sekali bermain dengan sesuatu yang basah-basah, comberan salah satunya.
Fithri pun bergegas mendatangi si Ulfi. Mungkin agak terkejut dengan kedatangan Fithri, si Ulfi tanpa sengaja memuncratkan isi comberan ke badan Fithri. Tak ayal badan Fithri pun basah kuyup plus belepotan dengan lumpur basah karena memang air comberan yang muncrat ke badannya. Fithri terlihat tidak suka dengan perlakuan si Ulfi. Fithri berang “Ulfi, kamu nakal..!!”
“tidak. Ulfi tidak sengaja kok…” Ulfi coba membela diri.
Terjadilah perang mulut antar ke dua anak ingusan itu. Percekcokan semakin panas hingga menimbulkan suara gaduh. Kakak si Fithri yang sedang menyirami bunga di halaman pun mendengar kegaduhan itu.
”ada apa Fithri..??” tanya Kakak kepada Fithri.
”Ulfi nakal kak...”
”nakal gimana..??” tanya Kakak menginterogasi.
”ni badan Fithri kotor semua”
”kenapa kok bisa kotor kayak gitu..??”
”si Ulfi memuncratkan air comberan ke badan Fithri. Kotor deh jadinya...”
”o....alah, kamu ya yang nakal...” sang Kakak menatap Ulfi dengan mata memelotot.
Karuan saja Ulfi ketakutan dan .... ”Huwa... huwa .... huwa ....!!!” si Ulfi menangis dengan sekeras-kerasnya hingga kelinci dan kambing yang sedang ber-dluha di kebun pun menghentikan aktivitas mereka sejenak.
Tangisan Ulfi terdengar hingga ke dapur rumahnya. Ibunya yang sedang mengulek2 sambal pun segera memahami bahwa ini suara tangisan si Ulfi. Si Ibu langsung bergegas menuju tempat sumber suara tangisan. Dilihatnya dari kejauhan di Ulfi menangis dan di depannya berdiri Kakaknya Fithri. Pikir si Ibu pasti si Ulfi diapa-apain sama kakaknya Fithri. Ibu pun langsung melabrak si Kakak.
”kamu apakan anakku..??!! beraninya sama anak kecil..!! ayo lawan aku kalau berani..!!”
”wong Ulfinya yang salah. Dia yang memuncratkan air comberan ke badan adikku” si Kakak coba membela diri.
”gak mungkin. Anakku emang suka comberan. Tapi gak suka memuncratkan comberan” si Ibu gak mau menerima pembelaan si Kakak.
Si Ibu mulai melinting lengan bajunya. Tanda siap bertarung.
Sementara itu Pak Dollah, ayah Fithri, hendak berangkat kerja. Didengarnya su`ra ribut dari kebun sebelah rumah. Ia pun menengoknya. Dan ia melihat Ibunya Ulfi dengan kondisi siap tempur berhadapan dengan Kakaknya Fithri yang masih muda belia. Ia pun bergegas menuju kebun.
”Bu, jangan Cuma berani sama anak muda..!!”
”lalu kamu mau ngelawan aku..??!! ayo..!!” Ibunya Ulfi menantang Pak Dollah. Percekcokan semakin panas. Dan terus memanas hingga menjelang siang.
Sekarang dua kubu sedang berhadapan. Keluarga besar si Fithri berhadapan dengan keluarga besar si Ulfi. Kakak, Bapak, Ibu, Pak Lek, Bu lek, pak De, bu de, kakek, nenek, dan uyut dari kedua belah pihak sudah berkumpul lengkap dengan senjata andalan masing-masing; mulai suthil3, sapu lidi, pemukul lalat, hingga martil.
Situasi semakin memanas. Tidak ada tanda-tanda akan diadakan gencatan senjata. Pertarungan tinggal menunggu waktu saja. Dan....
”assalamu’alaikum...” Kang Udin datang.
”wa’alaikumussalam ...” mereka serentak menjawab salam.
”ada apa ini..?? siang-siang kok pada kumpul di kebun, mau kerja bakti ya...?” Kang Udin memulai pembicaraan. Kang Udin merupakan orang yang cukup disegani oleh masyarakat setempat. Walaupun pernah ke Baitulloh dua kali, penampilannya tetap bersahaja, gaya hidupnya pun sederhana. Pekerjaan harian Kang Udin adalah sebagai pengembala kambing. Tapi kalau sudah waktunya sholat, ia alih profesi menjadi imam sholat. Karena akhlaqnya yang baik itulah, ia disegani warga setempat.
”enggak Kang, ini lho Bapaknya si Fithri ini, ya ini, masak mau ngajak berantem istri saya, istri saya kan wanita”. pak Sarmin, bapaknya Ulfi,  tidak mau didahului.  ”lha masak anak saya yang masih belia dan imut-imut ini mau diajak berantem sama Ibuknya si Ulfi yang tangannya sekeras bambu petung4. Ya gak bisa saya biarkan” Balas pak Dollah gak mau kalah.
”o... gitu...”
Setelah berdiam diri sejenak. Kang Udin mengajukan pertanyaan
”sebenarnya masalahnya apa..? kok bisa sampek dua keluarga besar hendak perang baratayudha seperti ini..?”
Akhirnya Kakaknya si Fithri menjelaskan asal muasal persoalannya. Bahwa tadi pagi ketika Fithri mau bermain di kebun, ia dimuncrati comberan oleh Ulfi.
Kang Udin pun mengangguk-anggukkan kepalanya
”o.. gitu to persoalanya..”
Kang Udin pun tersenyum.
”kenapa Kang, kok tersenyum?” tanya orang-orang itu hanpir bersamaan.
”lihatlah.. dua anak yang kalian katakan sebagai sumber persoalan itu sekarang sedang bermain comberan bersama...”
Orang-orang itu pun memutar-mutar mata mencari kemana perginya si Fithri dan si Ulfi. Kedua mata mereka terhenti di sebuah pemandangan yang membuat mereka geleng-geleng kepala. Fithri dan Ulfi sedang bermain comberan bersama. Sekarang bukan cuma bajunya si Fithri yang terkena comberan. Dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki, semuanya bermandikan comberan. Begitu juga Ulfi. Dan keduanya terlihat sangat menikmati comberan itu. Keduanya bermain dan bahagia bersama. Mereka sudah tidak ingat lagi apa yang terjadi pagi hari tadi. Mereka tidak ingat lagi bahwa pagi tadi Ulfi memuncratkan comberan yang mengotori badan Fithri. Fithri sudah melupakan kesalahan Ulfi. Dan mereka pun tertawa bahagia bermain comberan bersama.
Orang-orang itu hanya bisa melongo dan tertegun melihat pemandangan yang agak aneh itu.
”kita ini, yang suka mengaku dewasa, ternyata masih kalah bijak dengan anak-anak. Anak itu dengan mudah memaafkan dan melupakan kesalahan temannya. Lha kita...??” Kang Udin menutup pembicaraan. Ia bergegas menuju tempat wudlu di sebelah utara musholla. Sebentar lagi waktu sholat dzuhur tiba.
Sementara dua keluarga besar yang semula siap bertempur tadi masih terbengong di kebun. Mereka saling tatap. Lalu membubarkan diri tanpa sepatah kata pun.

"forgiveness is not something we do for others
we do it for ourselves, so we can get well and move on..."
 

Selasa, 07 Agustus 2012

10 Hari Terakhir Bulan Romadlon “bersama” Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam


Sebagaimana sebuah cerita yang diharapkan happy ending, dalam rangkaian kehidupan, kita pun berharap happy ending. Kita berharap husnul khotimah. Mengakhiri hidup dalam keadaan yang baik. Begitu pula dalam bulan Romadlon ini. Kita tentu berharap dengan sangat bisa mengakhiri Romadlon dengan “husnul khotimah”. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Sahl bin Sa’ad radhiallohu anhu
وَإِنَّمَاالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
Maksudnya : “Dan sungguh amalan itu ditentukan dengan penutupannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6117)
Lalu bagaimana cara kita mengakhiri bulan Romadlon dengan baik..? Rasa-rasanya tidak ada orang yang lebih layak untuk kita teladani selain Pujaan kita Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Oleh karena itu, mari kita tengok dan kita teladani bagaimana sikap Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam pada 10 hari terakhir bulan Romadlon.
Diriwayatkan dari Ummul Mu`minin sayyidah ‘Aisyah radhiallahu anha, beliau berkata:
كَانَ النَّبِىُّ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Maksudnya: “Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Romadlon), beliau mengencangkan sarung, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya “. (HR. Al-Bukhari no. 1884 dan Muslim no. 2008)
Jadi ketika memasuki 10 hari terakhir bulan Romadlon, Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam melakukan hal-hal sebagai berikut.
Pertama, beliau mengencangkan sarung. Hal ini berarti beliau menjauhi berhubungan dengan wanita (isteri beliau) karena memfokuskan diri untuk bermunajat kepada Alloh ta’ala. Ada juga yang mengartikan bahwa “mengencangkan sarung” berarti kiasan dari memperbanyak ibadah, fokus untuk menjalankannya, dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Bagi kita hal ini bisa bermakna, selama sepuluh hari terakhir bulan Romadlon hendaknya kita menjahui dan meninggalkan segala macam kenikmatan dunia yang hanya sesaat, seperti nonton TV atau bioskop, berlama-berlama belanja di mall atau pasar, bergurau dengan dengan teman, mendengarkan musik, main game, dan lain sebagainya demi untuk bertaqorrub, mendekat, kepada Alloh ta’ala dengan berbagai macam ibadah. Eling, sebentar lagi “bazaar murah pahala, ampunan, dan ridlo” di bulan Romadlon ini akan segera tutup.
Kedua, beliau menghidupkan malam bulan Romadlon. Maksudnya beliau mengisi malam-malam 10 hari terakhir bulan Romadlon itu dengan memperbanyak ibadah seperti sholat, dzikr, tilawah al-Quran, I’tikaf, dan doa. Hal itu sekaligus bermakna beliau menjahui tidur untuk beribadah di malam hari.
Barang siapa menghendaki kemuliaan
Hendaknya tidak tidur semalaman
Bukankah tidur itu “sudaranya kematian”..?? Masak iya, kita kepingin seperti mati terus..? Eling, sebentar lagi “bazaar murah pahala, ampunan, dan ridlo” di bulan Romadlon ini akan segera tutup. Mari kita maksimalkan untuk beribadah. Mudah-mudahan Alloh ta’ala meridloi kita. Tidurnya dikurangi. Apalagi di sepuluh hari yang terakhir dari bulan Romadlon ini terdapat lailatul qodr, malam yang lebih baik dari pada seribu bulan (1000 bulan= 83,3 tahun). Jadi kalau kita melakukan ibadah di malam lailatul qodr ini, nilainya lebih baik dari pada ibadah 1000 bulan. Tuh, sangat eman (sayang) kan kalau sampai kelewatan. 

Maksudnya:  “lailatul qodr (malam yang mulia) itu lebih baik dari pada seribu bulan” [QS. Al-Qodr: 3]
I’tikaf di masjid: Ibadah yang istimewa.
Pada 10 hari yang terakhir dari bulan Romadlon, kita sangat dianjurkan untuk beri’tikaf. I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan tujuan beribadah dan bertaqorrub kepada Alloh ta’ala. I’tikaf ini adalah ibadah yang istimewa, lebih-lebih di 10 hari terakhir bulan Romadlon.
Dari ‘Aisyah rodliyallohu ‘anha bahwa:
 كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Maksudnya:  “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Romadlon hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sepeninggalnya” (HR. Bukhari).
Di tengah-tengah kehidupan yang seakan-akan memaksa kita untuk terus mengejar kebahagiaan dunia ini rasa-rasanya perlu bagi kita untuk mengasingkan diri sejenak untuk merenungkan kembali makna hakiki dalam kehidupan. Dari manakah sebenarnya kita berasal? Ke mana kita semua akan menuju? Apa sebenarnya yang musti kita perankan di dunia yang fana ini? Kita pun perlu bertafakkur, mawas diri, mengevaluasi diri, apa saja yang telah kita lakukan selama hidup kita sampai hari ini. Seberapa banyak waktu yang kita isi dengan ketaatan dan amal ibadah kepada Alloh ta’ala? Seberapa banyak waktu yang kita isi dengan kedurhakaan dan kema’shiatan kepada Alloh ta’ala? Seberapa banyak waktu yang kita isi dengan aktifitas yang sia-sia belaka??
Mungkin bisa seperti ini, malam hari kita tidur habis sholat tarawih. Bangun tidur jam 12.00 malam. Kemudian beribadah, I’tikaf di masjid, bermunajat kepada Alloh ta’ala hingga waktu sahur. Atau begini, kita tidak tidur di malam hari. Melek terus. Mulai sholat maghrib atau sholat isya’ kita I’tikaf di masjid, sholat sunnah, baca al-Quran, dzikr, bertafakkur, doa, memperdalam ilmu agama, begitu terus menerus bergantian agar tidak bosan hingga waktu sahur. Setelah itu sahur, sholat subuh. Tetap berada di masjid untuk I’tikaf, baca al-Quran, dzikr, dan doa hingga terbit matahari. Kemudian kita sholat Dhuha baru kemudian istirahat (tidur). Kalaupun tidak bisa setiap hari, kita hendaknya melaksanakan I’tikaf dan ibadah-ibadah lain tersebut pada malam-malam ganjil 10 hari terakhir bulan Romadlon. Kalau masih saja tidak bisa karena sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan, misalnya ada kewajiban tertentu, maka hendaknya kita mengusahakan untuk melaksanakan I’tikaf dan ibadah-ibadah lain tersebut di salah satu malam dari 10 malam-malam terakhir bulan Romadlon. Ya, kita berusaha semaksimal mungkin dah…
قال الله تعالى: ﴿ فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ  ﴾
Maksudnya : “Maka bertakwalah kamu kepada Allah sesuai kemampuanmu” (QS. At Taghobun 16).
Ketiga, beliau membangunkan keluarganya. Hal ini berarti bahwa beliau juga membangunkan, mengajak, mendorong, dan memerintah keluarga beliau untuk mengisi malam-malam 10 hari terakhir bulan Romadlon dengan berbagai macam ibadah. Kalau mau masuk surga jangan sendirian..! Ajak serta keluarga, terutama istri/suami dan anak. Eling, sebentar lagi “bazaar murah pahala, ampunan, dan ridlo” di bulan Romadlon ini akan segera tutup. Kita tentu berharap bahwa kita bisa berkumpul dan bahagia bersama keluarga kita di dunia, lebih-lebih di akhirat sana. Jadi untuk urusan mendidik keluarga ini, kita musti menerapkan disiplin yang tinggi, ketegasan yang konsisten, dan mungkin sedikit “paksaan”. Entar kalau sudah terbiasa bangun malam untuk beribadah, insyaalloh qiyamullail itu akan menjadi sesuatu yang ringan.  
Selama bulan Romadlon, lebih-lebih di 10 hari yang terakhir, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
 “Ya Alloh.. sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf. Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Semoga Alloh ta’ala senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita semua sehingga kita mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah kita selama bulan Romadlon ini. Semoga kita mampu memenuhi 10 hari yang terakhir dari bulan Romadlon dengan I’tikaf, sholat, tilawah al-Quran, dzikr, tafakkur, doa, dan ibadah-ibadah yang lain. Semoga bulan Romadlon ini benar-benar menjadi kawah condro dimuko bagi kita untuk bertransformasi menjadi hamba-hamba Alloh ta’ala yang bertaqwa, dan semakin meningkat level taqwanya. Amin. (tj)
 

Minggu, 22 Juli 2012

Tiga Orang Yang KEBANGETAN..!!


Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban. Maksud hadits tersebut kurang lebih seperti ini:
Sesungguhnya Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam naik ke mimbar kemudian berkata, "amin, amin, amin". 
Dikatakan: wahai Rosululloh, sesungguhnya tuan naik mimbar kemudian berakata "amin, amin, amin" ..??
Rosululloh bersabda: Sesungguhnya malaikat Jibril mendatangiku dan berkata, 
barangsiapa bertemu bulan Romadlon (namun) dia tidak mendapatkan ampunan, lalu mati dan masuk neraka, semoga Alloh ta'ala menjauhkannya (dari rahmat-Nya), katakan "amin". aku berkata "amin". 
barangsiapa bertemu (jawa: menangi) kedua orang tuanya atau salah satunya (namun) dia tidak berbuat baik kepada mereka, lalu mati dan masuk neraka, semoga Alloh ta'ala menjauhkannya (dari rahmat-Nya), katakan "amin". aku berkata "amin". 
barang siapa namamu disebut disisinya (namun) dia tidak bersholawat kepadamu, lalu dia mati dan masuk neraka, semoga Alloh ta'ala menjauhkannya (dari rahmat-Nya), katakan "amin". aku berkata "amin".

Inilah tiga macam orang yang sungguh sangat KEBANGETAN..!!
1. Macam pertama. Ada orang yang oleh Alloh ta'ala diberi umur panjang, diberi kesehatan, sehingga dia bisa bertemu bulan Romadlon, bulan yang penuh ampunan, bulan yang di dalamnya dibuka lebar-lebar pintu surga, ditutup rapat-rapat pintu neraka, para syaithan pun dibelenggu, setiap amal baik dilipatkan pahalanya, bahkan di dalamnya ada malam lailatul qodr, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, lha dha lha  si orang ini malah tidak mau memanfaatkan bulan yang mulia ini untuk menggapai ampunan dari Alloh ta'ala, justru dia malah bangga dan senang menumpuk dosa. Sungguh Sangat Kebangetan..!!


2. Macam kedua. Ada orang yang oleh Alloh ta'ala diberi kesempatan untuk bertemu ibu-ayahnya dalam keadaan hidup, atau salah satu dari mereka. Sudah tahu bahwa ibu-ayahnya lah yang menjadi sebab ia diwujudkan oleh Alloh ta'ala di dunia ini. Bukankah ia diciptakan oleh Alloh ta'ala melalui sperma ayah dan sel telur ibunya..?? Bukankah ibunyalah yang mengandungnya selama kurang lebih sembilan bulan..?? Bukankah ibunyalah yang mempertaruhkan nyawa ketika berjuang melahirkannya di dunia..?? lha dha lha si orang ini malah tidak mau berbuat baik kepada ibu-ayahnya. Justru dia sering membuat ibu ayahnya menangis sedih karena perilakunya. Sungguh Sangat Kebangetan..!!


3. Macam ketiga. Ada orang yang mendengar nama Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam disebut. Sudah tahu bahwa Nabi Muhammadlah yang mengenalkannya terhadap Tuhannya: Alloh ta'ala robbul 'alamin. Nabi Muhammadlah yang memberitahunya neraka dan surga serta jalan-jalan yang bermuara kepada dua tempat itu. Nabi Muhammadlah yang mengajarkannya syari'at Islam yang merupakan jalan keselamatan dunia akhirat. lha dha lha si orang ini malah tidak mau bersholawat kepada beliau shollallohu alaihi wa sallam. padahal Alloh ta'ala dan para malaikat saja bersholawat kepada nabi Muhammad. dia dengan angkuhnya tidak mau membuka mulut untuk "sekedar" bersholawat. Sungguh Sangat Kebangetan..!!


Inilah tiga profil manusia yang Sungguh Sangat KEBANGETAN. Maka wajar jika tiga macam orang ini meninggal dunia dan masuk neraka, malaikat Jibril berdoa semoga tiga macam orang ini dijauhkan dari rahmat Alloh ta'ala. Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam pun meng-amini. Ya, karena memang KEBANGETAN..!!


Semoga kita tidak termasuk golongan tiga macam orang ini. Semoga kita bisa memanfaatkan bulan Romadlon yang mulia untuk menggapai ampunan Alloh ta'ala dengan memperbanyak amal baik dan istighfar. Semoga kita diberi kekuatan oleh Alloh ta'ala untuk berbuat baik kepada ibu bapak kita, membahagiakan beliau berdua dunia akhirat. Semoga lisan kita dimudahkan oleh Alloh ta'ala untuk senantiasa bersholawat kepada Kekasih kita nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Amin. Amin. Amin.


salam tije ^_^

Minggu, 24 Juni 2012

Tamu Istimewa Itu Semakin Dekat…



Diriwayatkan dari ’Aisyah rodliyallohu ’anha beliau berkata: Nabi shollallohu ’alaihi wasallam tidak berpuasa (sunnah) lebih banyak dari pada (puasa sunnah di) bulan Sya’ban. Sesungguhnya Beliau berpuasa bulan Sya’ban secara penuh. Dalam riwayat lain disebutkan; Beliau berpuasa Sya’ban (secara penuh) kecuali sedikit. (maksudnya hanya sedikit hari dari bulan Sya’ban yang Beliau tidak berpuasa di hari tersebut. -Pnj). (Muttafaqun ’alaihi) [1]

Begitulah Rasululloh shollallohu ’alaihi wa sallam ketika beliau berada di bulan Sya’ban. Beliau memperbanyak amalan terutama puasa sunnah di bulan yang mendapat julukan Syahrun Nabi ini.

Bulan Sya’ban berarti; bulan depan adalah bulan Romadlon, bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Tamu istimewa itu semakin dekat.
Sabda Nabi shollallohu ’alaihi wa sallam :
telah tiba kepada kalian bulan Romadlon, bulan yang penuh berkah, Alloh telah mewajibkan puasa atas kalian, di dalamnya dibuka pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka jahim, diborgollah dedengkot-dedengkot syeitan, dan di dalamnya ada malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Barang siapa terhalang kebaikan bulan itu maka ia terhalang dari rohmat Alloh.” (H.R. Ahmad dan An Nasa`i) [2]

Mari kita perhatikan ”... Barang siapa terhalang kebaikan bulan itu maka ia terhalang dari rohmat Alloh.” Oleh karena itu sudah selayaknya kita mempersiapkan sejak dini agar ketika bulan Romadlon benar-benar hadir, kita bisa maksimal, optimal, dan total. Karena ”al-ajru bi qodrit ta’ab”. Kalau usahanya setengah-setengah, kemungkinan besar hasilnya pun setengah-setengah. Kalau usahanya 100%, maksimal, optimal, dan total, insyaalloh hasilnya pun juga maksimal sehingga derajat ”al-muttaquun” bisa diraih. Amien.

Ada beberapa hal yang BISA DICOBA untuk menyambut bulan Romadlon:
  1. Menjaga dan meng-up grade kesehatan. Hal  ini bisa dilakukan dengan makan makanan yang sehat, olahraga rutin, dan memperbanyak shodaqoh.
  2. Memperbanyak puasa sunnah; sekaligus sebagai sarana latihan.
  3. Segera bertaubat kepada Alloh ta’ala. Untuk hal ini harus dilakukan saat ini juga!!
  4. Segera memohon maaf kepada orang-orang yang pernah didzolimi. Segera berdamai dengan orang-orang yang pernah dianggap musuh. Mempererat tali silaturrahim kepada semua orang.
  5. Pelajari kembali ilmu tentang puasa. Apa saja syarat rukunnya, sunnah-sunnahnya, apa saja yang dapat membatalkan puasa, apa saja yang dimakruhkan ketika berpuasa, apa saja amalan-amalan utama di bulan romadlon, dll.
  6. Buat rencana amal-amal terbaik. Contoh: sholat fardlu jama’ah full sebulan, menghatamkan al-Quran 3 kali di bulan Romadlon, berinfaq untuk kegiatan islam sebesar … , puasa full hingga hari terakhir Romadlon, tarawih aktif sampai malam terakhir romadlon, tadarrus tiap malam, tahajjud minimal lima kali dalam sepekan, sholat dluha setiap pagi, bershodaqoh kepada keluarga dan sanak famili terdekat sebesar …., bershodaqoh kepada tetangga sebesar … , bersedekah makanan untuk buka puasa di masjid/mushola, hadiah terbaik untuk bapak dan ibu, serta amal-amal lainnya.
  7. Membiasakan amalan-amalan yang telah direncanakan tersebut mulai sekarang sehingga ketika Ramadhan benar-benar datang kita mampu mengamalkan amalan-amalan itu dengan ringan karena kita telah terbiasa mengamalkan.
  8. Memperbanyak doa : Allohumma baarik lanaa fii rojaba wa sya’bana wa ballighna romadlon… ”ya Alloh berkahilah kami di bulan Rojab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami kepada bulan Romadlon” [3]
  9. Ketika bulan Romadlon sudah sangat dekat, kurang satu atau dua hari, kita mengucapkan “marhaban ya Romadlon, marhaban ya romadlon, marhaban ya romadlon, jud lana bil-ghufron” (selamat datang wahai Romadlon. Selamat datang wahai Romadlon. Selamat datang wahai Romadlon. (Ya Alloh) berilah kami kemurahan dengan ampunan-Mu)

Semoga Alloh ta’ala menyampaikan kita semua kepada bulan Romadlon. Semoga kita semua diberi taufiq oleh Alloh ta’ala untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita. Amien. Marhaban ya Romadlon...





[1] Imam Nawawi. Riyadlush sholihin hal:496
[2] K.H. Muhammad Ihya Ulumiddin. 1428 H. Risalah Ringkas Puasa Romadlon. Surabaya : Vde Press. Hal: 5-6
[3] Ibid

Selasa, 22 Mei 2012

Memaknai Bulan Rajab: Tingkatkan Kualitas Sholat..!!



 Segala puji bagi Alloh ta’ala yang menganugerahi umat nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dengan sholat wajib yang lima.
Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpah kepada sang shohibusy syafa’ah nabiyulloh Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam beserta keluarga, shohabat, dan seluruh umat beliau hingga hari qiamat.

“Allohumma baarik lanaa fii rojaba wa sya’bana wa ballighna romadlon…”

“ya alloh berkahilah kami di bulan Rojab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Romadlon…”

Begitulah do’a yang pernah diajarkan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dan senantiasa dilantunkan oleh umat islam di seluruh penjuru dunia ketika bulan Rojab tiba. Bahkan di beberapa masjid dan musholla di Indonesia, doa tersebut dijadikan pujian yang senantiasa dilantunkan setelah adzan dan sebelum iqomah selama bulan rajab dan pertengahan awal bulan sya’ban.

Rojab menjadi salah satu bulan yang mulia dikarenakan pada bulan ini terjadi peristiwa yang sangat mulia. Peristiwa tersebut adalah Isro’ Mi’roj nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Dari sowan kepada Alloh ta’ala tersebut beliau membawakan “oleh-oleh” untuk umat Islam berupa sholat wajib lima waktu. “Oleh-oleh” ini menjadi istimewa dikarenakan Alloh ta’ala memanggil rosul-Nya yang mulia untuk menghadap secara langsung tanpa perantara siapapun.
“Anugerah-anugerah” Alloh ta’ala yang lain seperti zakat, puasa dan haji, semuanya disampaikan kepada Nabi melalui perantara Ruhul Amin Malaikat Jibril ‘alaihis salam Tetapi untuk yang satu ini (baca: sholat), Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menerimanya langsung dari Alloh ta’ala.

Pada kesempatan kali ini, marilah kita meluangkan waktu sejenak untuk memaknai “oleh-oleh” nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dari isro’ mi’roj beliau tersebut.


Sholat

Secara bahasa, sholat merupakan padanan kata dari “ad-du’aa” yang berarti doa. Istilah ini dipakai karena di dalam sholat banyak sekali terkandung aktifitas do’a. Sedangkan menurut istilah syara’, sholat diartikan sebagai suatu ibadah mahdhoh (khusus) yang dimulai dengan takbirotul ihrom dan diakhiri dengan salam, dengan syarat, rukun dan tata cara tertentu. Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam sendirilah yang mencontohkan bagaimana cara sholat yang benar dan memerintahkan kita umat islam untuk meniru cara sholat beliau.
Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “shollu kamaa roaitumuuni usholli”
Artinya: sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.
(Silahkan merujuk ke Buku ”Kaifa Tusholli”: Tuntunan Sholat Menurut Riwayat Hadits yang ditulis oleh K.H. Muhammad Ihya Ulumiddin dan diterbitkan oleh Yayasan Al-Haromain Surabaya, untuk mempelajari lebih detail tentang tata cara sholat sesuai dengan riwayat hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam).


Sholat; Anugerah terbesar umat nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam

Kenapa sholat begitu istimewa?
Sholat adalah tiang agama. Yang membedakan orang muslim dan orang kafir adalah sholat. Sholat merupakan kewajiban pertama yang diperintahkan kepada para Rosul. Sholat merupakan washiat terakhir para Rosul. Sholat dapat menghapus dosa. Sholat dapat menyebabkan pelakunya diangkat derajatnya di sisi Alloh. Sholat merupakan indikator rasa syukur kita kepada Alloh ta’ala. Sholat merupakan media komunikasi antara manusia dengan sang Pencipta, dengan tata cara yang telah digariskan oleh-Nya dan disampaikan melalui Rosul-Nya.

Kalau manusia sudah tidak mau ”berkomunikasi” dengan Alloh robbul’alamin..?? Kalau manusia sudah tidak punya ”rasa” kepada Alloh yang memberinya hidup..?? Kalau manusia sudah lupa dari mana asalnya, untuk apa ia dicipta, dan akan ke mana ia kembali..??  Sudah tentu hilanglah sisi ”robbaniyah”nya. Hakekatnya ia tidak jauh beda dengan makhluk yang hidup hanya untuk memuaskan nafsunya; nafsu makan, seks, kuasa, dan nafsu-nasfu lainnya. Bahkan ”hum adholl..”.

Dengan sifat welas asih-Nya, Alloh ta’ala memberikan media kepada manusia agar ia senantiasa connect dengan-Nya. Agar ia senantiasa ingat kepada Sang Penciptanya. Agar ia senantiasa terjaga dari perbutan keji dan munkar. Agar ia dapat meraih kebahagiaan baik yang sementara (di dunia) maupun yang abadi (di akhirat). Media tersebut adalah sholat fardhu yang lima.
Ayo kita jaga..! ^_^

 Agar sholat benar-benar nikmat

Pernahkah kita merasakan nikmatnya sholat? Pernahkah kita merasa benar-benar sedang menghadap kepada Alloh ta’ala ketika sholat?

Menurut mbah Imam Ghozali, sholat itu terdiri dari sisi lahiriah dan sisi bathiniah. Kesempurnaan sholat bisa didapat dengan menyempurnakan kedua sisi tersebut. Sisi lahiriah adalah gerakan-gerakan dan bacaan-bacaan yang terdapat dalam sholat seperti yang diajarkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berupa takbirotul ihrom, bacaan surat al-fatihah, rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahhud, sholawat, dan salam. Mari kita sempatkan untuk mengecek; sudahkah sholat yang kita lakukan selama ini –gerakan dan bacaannya- sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam?? Ayo semangat belajar. Mumpung kita masih hidup dan masih diberi kesempatan oleh Allah ta’ala untuk menyembah-Nya di muka bumi ini.

OJO MALAS..!! Jangan-jangan sholat kita belum benar. Jangan-jangan sholat kita belum sempurna. Jangan-jangan... Ayo semangat mempelajari sholat. Mumpung masih sempat. Jangan sampai, karena kita malas belajar, seumur hidup kita yang disebut orang sebagai umat Islam ini melaksanakan sholat yang ternyata tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Tidak apa-apa kalau sekarang kita sudah dewasa. Tidak mengapa kalau sekarang kita sudah tua menjadi seorang ayah atau ibu bahkan kakek atau nenek. Yang penting sekarang kita mau belajar agar besok sholat yang kita kerjakan menjadi sholat yang lebih berkualitas. Sekarang ini banyak sekali buku yang menerangkan tentang tata cara sholat yang sudah diterbitkan. Kita tinggal beli salah satu saja di toko buku terdekat. Belajarnya sedikit demi sedikit aja. Kita mulai dari syarat sah sholat. Lalu rukun-rukun nya. Kemudian kita coba –kalau punya kesempatan dan sebaiknya menyempatkan diri- mempraktekkan sholat di depan ustadz atau kyai. Kemudian minta pendapat beliau agar membetulkan sholat kita jika memang ada yang kurang tepat. Kita belajar sedikit demi sedikit. Yang penting istiqomah dan berkelanjutan. Insyaalloh semakin hari sholat yang kita laksanakan semakin berkualitas.

Sedangkan sisi bathiniyah sholat adalah meresapi makna bacaan dan gerakan dalam sholat, khusyu’, dan menghadirkan hati ketika sholat. Untuk memahami makna bacaan dalam sholat diperlukan usaha yang sungguh-sungguh disertai dengan kesabaran. Kita bisa mempelajarinya dengan membaca buku-buku terjemahan bacaan sholat dan dengan ngaji secara langsung kepada Ustadz atau Kyai. Sekali lagi. Tidak masalah jika hari ini kita belum mengerti makna bacaan sholat. Tidak apa-apa. Itu masa lalu. Tapi akan jadi masalah besar jika kita seumur hidup dan sampai menghadap Allah ta’ala nanti tidak mengerti sedikit  pun  dari apa yang kita baca dalam sholat. Padahal Allah ta’ala sampai hari ini memberi kesempatan agar kita belajar. Ayo belajar sedikit demi sedikit. Contohnya; hari ini kita belajar arti takbirotul ihrom ”Allohu akbar”, kemudian besok kita mulai belajar arti surat al fatihah, cukup satu ayat saja. Besoknya satu ayat lagi dan begitu seterusnya hingga akhir ayat surat al fatihah. Selanjutnya pekan depan kita belajar arti bacaan rukuk, ”subhana robbiy al-’adhim (wa bihamdihi)”. Kemudian kita belajar makna bacaan i’tidal dan seterusnya sampai bacaan tasyahud dan salam. Dengan begitu, semoga kualitas sholat yang kita kerjakan meningkat dari hari ke hari. Dan insyaalloh tahun depan –semoga Alloh ta’ala memberi panjang umur- kita sudah mengerti arti bacaan dalam sholat yang kita kerjakan.
                                               
                  
Khusyu’ dan menghadirkan hati ketika sholat insya_alloh bisa dicapai dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam meresapi makna bacaan sholat dan dengan menyempurnakan sunnah-sunnah serta keutamaan-keutamaan dalam sholat, seperti menyempurnakan wudlu, menyempurnakan rukuk, i’tidal, sujud dan duduk, sholat dengan berjama’ah di masjid serta sholat di waktu awal. Selain itu juga didukung dengan memperbanyak serta memperbagus sholat-sholat sunnah seperti sunnah rowatib (sebelum dan sesudah sholat fardlu), sunnah Dhuha, Tahajjud, Witir, dan lain-lain. 

Terakhir dan yang paling penting, ketika kita akan dan sedang melaksanakan sholat, mari kita fokuskan hati dan pikiran kita kepada Alloh ta’ala. Kita tanamkan dalam hati dan pikiran bahwa kita sedang menghadap Alloh ta’ala, Tuhan seru sekalian alam. Bukankah Allah ta’ala senantiasa mengetahui apa yang sedang kita pikirkan dan sedang kita batin..?? Bukankah Allah ta’ala senantiasa memandang pikiran dan hati kita..??

Mari kita memaknai bulan Rajab ini dengan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas sholat kita. Semoga kita senantiasa diberi pertolongan dan kekuatan oleh Alloh ta’ala agar kita dapat mengerjakan sholat dengan memenuhi sisi lahir dan bathinnya sehingga sholat kita menjadi lebih sempurna. Sehingga kita dapat merasakan nikmatnya sholat. Amien.

Ayo... semangat..!
Bisa..!!
^_^

(tj)

Kamis, 26 April 2012

Pak Guru, Bu Guru, Jangan Beri Aku Contekan


Pak Guru, Bu Guru, jangan beri aku contekan
Biarkan aku tahu kemampuanku yang sebenarnya
Biarkan aku tahu hasil belajarku di sekolah selama tiga tahun ini
Biarkan aku tahu hasil les privatku
Biarkan aku tahu hasil belajarku di rumah
Biarkan aku berlaku jujur kepada diriku


Pak Guru, Bu Guru, jangan beri aku contekan
Jangan engkau remehkan aku
Bukankah selama tiga tahun ini aku bersusah payah belajar?
Jangan engkau meremehkan dirimu
Bukankah selama tiga tahun ini engkau bersusah payah mengajar?


Pak Guru, Bu Guru, jangan beri aku contekan
Jikalau memang aku tidak lulus
Karena ketidakmampuanku
Biarlah aku merasakan kegagalan itu
Biarlah aku tahu sakitnya sebuah kegagalan
Biarlah aku belajar dari kegagalan itu
Biarlah aku belajar lagi untuk satu tahun
Demi masa depanku yang lebih baik


Pak Guru, Bu Guru, jangan beri aku contekan
Jikalau aku bisa lulus ujian
Biarlah aku merasa puas atas usaha kerasku selama ini
Dan bukankah itu juga hasil kerasmu?
Biarlah aku berlaku jujur terhadap kelulusanku
Biarlah aku seumur hidup merasa tenang
Karena lulus itu hasil usaha kerasku
Juga usaha kerasmu...


Pak Guru, Bu Guru, jangan beri aku contekan
Aku hanya ingin berbuat jujur
Jujur kepada diriku sendiri
Jujur kepada bapak-ibu yang menyekolahkanku
Jujur kepada Pak-Ibu Guru yang mengajariku ilmu
Jujur kepada mereka teman-temanku
Jujur kepada Nabiku yang bergelar "orang yang jujur"
Jujur kepada Allah ta'ala Tuhanku
yang Maha Mengetahui segala sesuatu

[tj]





Selasa, 24 April 2012

Memaknai Hari Pendidikan Nasional


“Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya” (Dr. G. J. Niewenhuis)

Setiap tanggal 2 Mei kita bangsa Indonesia memperingati hari pendidikan nasional. Sebenarnya bukan peringatan seremonialnya saja yang perlu kita rayakan dengan kegiatan-kegiatan bertema pendidikan; seperti menulis artikel-artikel, membuat poster pendidikan, lomba-lomba bertema pendidikan dan karnaval pendidikan. Namun yang lebih penting –setidaknya menurut saya- adalah evaluasi yang serius apakah proses pendidikan kita sudah benar dan tepat sehingga memungkinkan untuk mengantarkan anak didik menuju tujuan pendidikan yang telah dicanangkan. 

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU SISDIKNAS), Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan tujuan besar tersebut Kementerian Pendidikan Nasional pada periode 2010-2014 menetapkan visi Terselenggaranya Layanan Prima Pendidikan Nasional untuk Membentuk Insan Indonesia Cerdas Komprehensif. Insan Indonesia cerdas komprehensif adalah insan yang cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual dan cerdas kinestetis. 

Menurut saya tujuan pendidikan yang dicanangkan oleh pemerintah melalui undang-unadang kita ini sungguh sangat mulia karena tujuan akhirnya adalah membentuk pribadi yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan dalam konsep Islam yaitu membentuk manusia menjadi hamba Allah dan khalifatullah. Tujuan pendidikan Islam adalah mengantarkan manusia menjadi pribadi yang shalih ritual dan shalih sosial; manusia yang dekat dengan Allah ta’ala dan senantiasa menebar manfaat kepada sesama manusia. Selain itu, visi yang dicanangkan oleh kementrian pendidikan nasional pun terlihat sudah mempertimbangkan keberadaan konsep Multiple Intelligences yang diprakarsai oleh Dr. Howard Gardner dari Universitas Harvard dan juga konsep Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) yang di Indonesia dipopulerkan oleh DR. Ari Ginanjar. 

Pertanyaannya sekarang adalah apakah proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah dan juga di rumah sudah mencerminkan tujuan dan visi yang telah dicanangkan tersebut? Apakah manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlaq mulia benar-benar menjadi goal proses pembelajaran di sekolah? Apakah para Bapak dan Ibu guru sebagai panutan dan idola bagi para siswa di sekolah sudah memerankan diri sebagai orang yang beriman dan bertaqwa serta berakhlaqul karimah? Apakah siswa yang jujur dan bertanggungjawab dihargai sama dengan (atau lebih dari pada) anak yang mendapatkan nilai 100 untuk pelajaran IPA? 

Apakah bapak ibu di rumah selain memperhatikan nilai Matematika dan Bahasa Inggris sang anak juga mementingkan sholat dan ngaji si buah hati tersebut?? Apakah bapak ibu di rumah sudah mencontohkan akhlaq mulia seperti jujur, berkata sopan, lembut dalam bersikap, dan disiplin kepada anak sehingga anak lebih mudah untuk meniru akhlaq mulia dan menjadikannya sebagai sesuatu yang “biasa” dalam kehidupan sehari-hari di rumah? Apakah bapak ibu di rumah mau meluangkan waktu yang cukup untuk “dekat” dengan sang buah hati sehingga si anak senantiasa menjadikan bapak ibunya sebagai “tempat kembali”?? 

Apakah para pengajar di sekolah masih memandang dan meyakini bahwa ada murid yang pintar dan ada murid yang bodoh? Atau justru beliau memandang dan meyakini bahwa setiap murid adalah cerdas; ada yang cerdas bahasa, ada yang cerdas logika-matematika, ada yang cerdas kinestetik, ada yang cerdas musik, ada yang cerdas interpersonal, ada yang cerdas intrapersonal, dan ada juga yang cerdas natural?? Setiap anak memiliki bakat dan potensi yang unik. Setiap anak juga memiliki kecenderungan dan gaya belajar masing-masing yang berbeda satu dengan yang lain. 

Apakah proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah memperlakukan dan mengajar peserta didik sesuai dengan potensi mereka masing-masing? Apakah sistem penilaian guru di sekolah tidak hanya mementingkan aspek “hafalan”, tetapi juga aspek praktek dan prilaku sehari-hari? Apakah para guru “masih” suka marah kepada anak didik jika ada anak didik yang bandel dan tidak bisa mengerjakan soal? Apakah para guru mau dengan ikhlash menjadi “teman dekat” si anak didik sehingga beliau bisa mengetahui penyebab kenapa seorang murid bersikap kurang baik atau kesulitan dalam memahami pelajaran?? 

Tujuan pendidikan yang mulia di atas hanya akan menjadi angan-angan jika tidak dibarengi dengan perbaikan yang serius di berbagai aspek pendidikan. Tujuan pendidikan untuk membentuk pribadi yang beriman, bertaqwa, dan berkhlak mulia itu hanya akan menjadi slogan jika tidak didukung dengan sepenuh hati oleh semua komponen bangsa terutama para pengajar di sekolah, orang tua di rumah, dan tentunya para pemimpin baik di masyarakat maupun di pemerintahan. Semoga anak-anak didik kita kelak menjadi pribadi yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Semoga buah hati kita kelak menjadi manusia yang cerdas spiritual, emosional, dan intelektual. Amien. [tj]

Senin, 09 April 2012

Kesan Baca: Mengikat Makna Sehari-hari

Beberapa hari yang lalu saya baru saja selesai membaca buku karangan Pak Hernowo yang berjudul “Mengikat Makna Sehari-hari”. Buku ini bukan buku baru. Buku ini diterbitkan oleh MLC pada tahun 2005. Hanya saja saya baru bertemu dengannya akhir bulan Maret 2012 yang lalu. Saya tertarik untuk membeli buku ini karena saya –sudah lama- mempunyai keinginan untuk bisa menulis lebih baik; lebih banyak dan lebih berkualitas.

Ketika masa MI (Madrasah Ibtidaiyah) saya belajar menulis tentang pelajaran di sekolah dan pelajaran di TPA (Taman Pendidikan al-Quran). Saya SS (sungguh sangat) jarang menulis selain materi pelajaran yang ditulis oleh guru saya atau tertulis di buku pelajaran kecuali corat- coret abstrak di buku yang saya pun sampai hari ini tidak tahu apa artinya. Ketika beranjak usia MTs (Madrasah Tsanawiyah) saya masih istiqomah dengan kegiatan menulis. Iya. Menulis pelajaran di sekolah dan di madrasah diniyyah serta ngesahi (memberi makna) kitab kuning. Selain itu tentu tugas PR dari guru saya. Sampai pada waktu itu saya –seingat saya- tidak pernah mengarang puisi, cerpen, prosa, atau artikel. Kegiatan belajar menulis saya berlanjut hingga masa remaja di MA (Madrasah Aliyah). Pada masa ini, materi yang saya tulis semakin beragam; terjemah kitab, murod, pidato, catatan kecil, cerita drama, rencana kerja di OSIS dan pramuka, dan rencana kerja di OSMA (organisasi siswa madrasah).

Pada puncaknya saya terlibat penulisan, lebih tepatnya pengetikan, sebuah buku karya senior,  guru nahwu dan bahasa arab, teman ngopi dan makan, sahabat di kala susah dan senang, pembimbing spiritual yang mengajarkan saya makna “ikhlash”, tempat saya curhat, seorang kepala keamanan pondok yang bukan hanya ditakuti dan disegani oleh santri, tetapi juga disegani oleh sesama guru di pesantren, bahkan oleh warga sekitar pesantren. Tubuhnya kekar besar, pahanya sangat pendek karena cacat sejak lahir, kakinya pernah patah karena tertabrak motor. Beliau seorang yang multi talent. Ngaji al-Quran oke, kabarnya (rahasia) beliau hafidz, walaupun belum 30 juz, tapi beliau tidak pernah mengatakannya. Ngaji kitab oke. Mulai sulam munajat sampai fathul wahab. Mulai jurumiyah sampai al-fiyah. Mulai nashoihul ibad sampai ihya ulumiddin. Mulai arba’in nawawi sampai shohih bukhori-muslim. Jadi tukang bangunan bisa, elektro bisa, jadi petani nggarap sawah bisa, masak bisa, seni kaligrafi bisa. Ilmu dalam pun beliau menguasai. Di pondok saya dulu, seorang kepala keamanan harus siap setiap saat menghadapi “musuh” baik yang nampak maupun yang tidak, baik dari dalam maupun dari luar. Dan yang langka di pesantren, beliau juga penulis yang produktif. Puisi, cerpen, kata-kata hikmah, sampai buku pun pernah beliau tulis. Beliau bernama Imam Syafi’i. Beliau adalah seorang Arek Malang yang beliau sebut sebagai “Kera Ngalam”. Para santri memanggil beliau “mbah pi’i”. Dan buku yang saya terlibat dalam penulisannya itu berjudul “Hawaijul maghfulat”. Artinya kebutuhan-kebutuhan yang terlupakan. Buku ini berisi tentang tuntunan dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan pendekatan tasawwuf yang kental. Buku ini ditulis dengan bahasa jawa menggunakan huruf arab pego. Jadi kalau dipandang dari agak  jauh kelihatan tulisannya arab. Kalau dibaca dari dekat bunyinya bahasa jawa. Beliau menjadi inspirasi bagi saya hingga saat ini. Kabarnya beliau sekarang menjadi seorang kyai di Jambi. 

Ketika masa awal kuliah di Universitas Airlangga Surabaya jurusan sastra Inggris, saya mempunyai hobi baru. Yaitu menulis puisi dan corat-coret di buku kecil. Kemudian saya mulai belajar nulis prosa bulanan yang saya print dan saya photocopy sendiri lalu saya tempel di papan pengumuman di kampus. Saya mulai belajar menulis cerpen. Saya pernah menulis sebuah cerpen tentang perjuangan seorang pemuda dalam bergelut dengan kehidupan. Seingat saya itu adalah cerpen satu-satunya yang saya tulis sampai saya jadi sarjana. Kemudian saya belajar menulis di blog www.muhtartajuddin.blogspot.com. Di sini saya bisa menulis apa pun sesuka hati saya. Puisi, artikel, komentar, cerita kehidupan sehari-hari. Pokok’e nulis. Selanjutnya saya pun mulai belajar menulis prosa dan artikel ringan di buletin Dirosati yang diterbitkan oleh Pesma Baitul Hikmah dan buletin musholla Nurul Hidayah. Dan tentu saya menulis skripsi sebagai syarat mendapatkan gelar S.Hum. sarjana humor…. Hehe. Sarjana Humaniora.

Saya merasa bahwa saya semakin butuh untuk menulis. Semakin banyak menulis saya merasa semakin mengerti seperti apa diri saya sebenarnya dan menyadari apa sebenarnya yang saya pahami dan saya tidak pahami. Saya pun pernah mengikuti pelatihan menulis artikel. Pelatihan ini mengobarkan semangat menulis yang membara di dalam diri saya namun sayangnya saya –sampai sekarangpun- kurang bisa mengaplikasikan isi pelatihan itu. Mungkin karena materinya berat bagi saya yang belum terbiasa menulis artikel serius; menulis artikel di koran. Tu ..tu.. yang biasanya ada di rubrik opini. Atau sayanya aja yang kurang serius belajar menulis opini yang logis dan sistematis. Hingga saya bertemu Kostas Retsikas. Seorang dosen antropologi dari SOAS London yang berkwarganegaraan Yunani. Saya ditawari menjadi asisten penelitiannya dan saya pun mau. Pikir saya, beruntung sekali saya bisa belajar langsung dengan seorang Doktor antropologi yang disertasinya tentang Orang Padalungan di Probolinggo meraih penghargaan sebagai disertasi di bidang Antropologi terbaik se United Kingdom sepuluh tahun yang lalu. Hampir setiap hari saya melihat dia menulis fieldnotes tentang apapun yang dia alami selama penelitian. Apakah ketika ketemu aku, ketika menonton acara TV yang menarik, ketika refreshing di mall, ketika melihat poster yang bagus atau ketika mengikuti kegiatan bersama lembaga-lemabaga zakat di Surabaya. Saya melihatnya asik sekali punya tulisan seperti itu. Saya pun mencoba mempraktekkannya sedikit demi sedikit. Dan sejak awal Maret 2012 yang lalu saya berazam untuk menulis setiap hari, menimal dua hari sekali. Menulis apa pun yang saya alami sehari-hari. Insyaallohu ta'ala.

Beruntung sekali akhir Maret 2012 yang lalu saya bertemu dengan buku Mengikat Makna Sehari-hari di salah satu toko buku yang berlokasi di Ngagel. Apalagi pas dapat diskon 40%, langsung saya beli buku ini dan sampai rumah langsung mulai saya baca. Ternyata Pak Hernowo menawarkan sesuatu yang benar-benar menyenangkan bagi orang seperti saya yang baru belajar menulis. Di bagian awal buku ini Pak Hernowo menceritakan manfaat kegiatan “membaca-menulis” bagi beliau pribadi sesuai dengan apa yang beliau alami.

Sebenarnya saya bisa disebut sebagai orang yang cukup keranjingan dalam membaca. Saya membaca koran; Republika dan Kompas, akhir-akhir ini malah bertambah Jawa Pos, membaca majalah; majalah Islamia, Hidayatullah, Aula, al-Wa’i, dan beberapa bulan terakhir majalah Tempo yang saya dapat dari Kostas, buletin, artikel dan berita di internet dan tentunya al-Quran, kitab tafsir, hadits, fiqh, akhlaq dan tasawwuf, buku filsafat, buku pendidikan, buku tentang belajar dan mengajar, buku tentang manajemen dan kepemimpinan, novel, cerpen, buku-buku agama Islam, fatwa-fatwa, dan tentunya buku pelajaran ketika kuliah di Sastra Inggris Unair. Hampir setiap bulan saya berkunjung ke toko buku untuk mengicipi buku-buku di sana dan membeli beberapa buku sesuai dengan kapasitas kantong saya. Dan sekarang pun buku-buku itu tertata di dua buah lemari yang ada di Pesma Baitul Hikmah. Sebagian sudah saya pulangkan ke Madiun sehingga menjejali lemari di rumah dan sebagian yang lain saya bawa ke pondok pesantren Darul Hikmah tempat saya mukim sekarang. Namun entah mengapa saya merasa ada yang kurang dalam diri saya. 

Lebih lagi, saya juga merupakan pembicara yang –menurut orang- cukup bagus. Kalau tidak, kenapa mereka yang pernah mengundang saya untuk mengisi materi kok mengundang lagi di lain waktu? Selain mengajar dan mbalah ngaji, saya punya hobi mendongeng, terutama sejak bertemu dengan guru dongeng saya; Ki Heru Cokro. Saya juga termasuk orang yang disebut banyak ngomong, suka diskusi, dan beberapa kali  mengisi materi tentang manajemen dan kepemimpinan, tentang remaja, dan motivasi pendidikan. Namun lagi-lagi, saya merasa ada yang kurang dalam diri saya. Beberapa waktu saya cari-cari apa kekurangan itu. Ternyata yang kurang itu adalah mengamalkan..!! Ya, harusnya buku-buku yang saya baca itu benar-benar bisa menggerakkan saya menjadi lebih baik. Lebih bermanfaat. Harusnya apa-apa yang saya katakan itu sudah saya amalkan dengan konsisten. Kalau saya saja belum mengerjakannya dengan istiqomah, kenapa saya berani-beraninya menyarankan orang lain untuk mengamalkannya?!

Kemudian, ini juga sangat penting, yang kurang lagi dalam diri saya adalah menulis..!! Saya bisa baca dan bicara, tapi saya lemah dalam menulis. Entah mengapa, sejak beberapa bulan ini, saya merasa bahwa saya perlu untuk belajar lebih keras lagi agar bisa menulis lebih baik dan lebih banyak. Saya pun akhirnya bertemu dengan buku Mengikat Makna Sehari-hari ini. Di dalam buku ini Pak Hernowo menyebutkan manfaat membaca-menulis yang sudah beliau rasakan sendiri. Jadi buku ini memang sangat subjektif, apalagi penulisnya menggunakan kata ganti orang pertama “saya”, namun dengan begitu justru buku ini sangat jujur. Menjelaskan apa adanya. Bukan hanya bersumber dari teori saja tapi juga pengalaman hidup sang penulis yang benar-benar penulis alami sendiri.

Pak Hernowo menyampaikan bahwa membaca-menulis itu bisa menata pikiran, memahami diri sendiri, memberikan sugesti positif, merumuskan argumen, dan menajamkan pikiran. Hal yang menurut saya pribadi penting bagi saya adalah bahwa membaca dan terutama menulis akan bisa membantu saya memahami diri saya sendiri. Siapa sebenarnya saya, apa sebenarnya yang saya pikirkan dan saya rasakan, dan apa sebenarnya yang saya benar-benar pahami dan tidak.

Kata Pak Hernowo, membaca-menulis bisa mengasah daya ingat, merekam memori penting, meninggalkan jejak pikiran yang jelas dan menyembuhkan diri. Selain itu membaca-menulis juga bisa meningkatkan kemampuan komunikasi, mengenal detail diri dan mendidik sang penulis untuk jujur. Ketika menulis, saya hanya berkomunikasi dengan diri saya sendiri, apa yang saya tulis itu benar-benar ada pada diri saya apa tidak, hanya saya, dan Allah ta’ala tentunya, yang tahu. Hal ini melatih saya untuk jujur apa adanya dalam menyampaikan sesuatu. Namun yang paling penting, saya jujur kepada diri saya sendiri.

Lebih lanjut Pak Hernowo mengatakan bahwa manfaat membaca-menulis yang pernah beliau rasakan adalah mengefektifkan pengelolaan diri. Yang masuk dalam hal ini adalah menulis rencana, impian, target, dan  tujuan hidup. Dengan menuliskan secara detail apa yang sebenarnya ingin beliau capai dalam hidup, lebih mudah bagi beliau untuk mengerti apa sebenarnya yang beliau inginkan dan dengan begitu lebih mudah juga bagi beliau dalam mencapai target-target hidupnya itu. Terakhir, manfaat yang didapat oleh Pak Hernowo dari membaca-menulis adalah menjadikan beliau lebih bermakna. Bermakna bagi diri sendiri dan orang lain. Sedikit bukti, dalam rentang tahun 2000-2005, tak kurang dari 24 buku berkualitas yang beliau tulis dan memiliki tempat istimewa di hati para pembaca.

Pak Hernowo sebenarnya ingin berbagi pengalaman bahwa kegiatan membaca-menulis itu adalah kegiatan yang ringan-menyenangkan serta penuh manfaat. Kemudian kegiatan membaca-menulis ini terkait erat dengan apa yang namanya kreatifitas. Kreatifitas, menurut beliau adalah sebuah keunikan yang membedakan seseorang dengan orang lain. Kreatifitas yang menawarkan ide baru, terus berkembang dan dapat mempengaruhi orang lain merupakan kreatifitas yang bernilai tinggi. Kegiatan membaca-menulis  inilah yang disebut Pak Hernowo sebagai “Mengikat Makna”.

Agar bisa memulai kegiatan membaca-menulis dengan ringan dan menyenangkan, temukan dulu AMBAK-nya. Apa Manfaatnya BAgi Ku..??!! Semakin banyak manfaat yang diketahui dan disadari akan bisa didapat, semakkin bagus. Hal itu akan membantu kita untuk mensetting pikiran bahwa kegiatan membaca-menulis yang kata sebagian orang merupakan kegiatan yang berat itu menjadi sesuatu yang ringan karena toh kita akan mendapatkan manfaat yang banyak, manfaat yang besar..!!


Bacalah bahan bacaan yang kamu sukai. Membaca bukan hanya merupakan proses mengumpulkan informasi tetapi lebih pada proses diskusi. Ketika membaca kita melibatkan pengetahuan, pengalaman hidup, dan bahkan perasaan kita. Bacalah bahan bacaan yang manfaatnya bisa langsung kamu rasakan. Pastikan bahwa kamu mendapatkan manfaat dari bacaanmu. Kemudian tulislah manfaat dari bacaan itu. 


Menulis sesungguhnya tidak semata-mata bertujuan untuk menerbitkan tulisan di media masa atau menerbitkan buku. Hal itu terlalu berat. Menulis adalah untuk mengenal diri sendiri lebih dalam dan lebih dekat. Menulis adalah untuk mengembangkan diri. 


Miliki buku harian. Menulislah setiap hari di buku harian itu. Tulislah tentang apa saja yang kamu alami pada hari itu. Tulislah apa yang kamu pikirkan dan kamu rasakan. Selain membantu kita untuk menulis dengan flow, menulis buku harian juga bisa melembutkan hati sekaligus meneguhkan diri. Kita bisa melihat perkembangan diri kita dari hari ke hari dengan membaca buku harian kita.


Menulislah..!!
Praktekkan. Praktekkan. Praktekkan.
Kerjakan. Kerjakan. Kerjakan..!!
Jadikan kegiatan membaca dan terutama menulis sebagai kegiatan rutin setiap hari. Dan rasakan manfaatnya..!!
Semoga bermanfaat. [tj]