Tampilkan postingan dengan label istighfar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label istighfar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 April 2014

Rojab, Bulan Menanam




Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Marilah kita bersyukur kepada Alloh ta’ala yang tidak henti-hentinya mencurahkan nikmat kepada kita. Nikmat badan sehat, panjang umur, kesempatan beribadah, kecukupan rezeki, dan yang paling utama, nikmat iman.  Saat ini kita memasuki bulan Rojab yang merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Alloh ta’ala.
إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ (رواه البخارى و مسلم )

Sesungguhnya zaman beredar sebagaimana yang telah ditentukan sejak Alloh ta’ala menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan dan diantaranya ada empat bulan haram (mulia), yang tiga berurutan. (keempat bulan tersebut adalah) Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom, dan Rojab Mudhor yang berada diantara Jumada dan Sya’ban.” (HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim)
Pada kesempatan kali kami ingin menyampaikan hikmah dari pengajian yang disampaikan oleh Abina KH. M. Ihya` Ulumiddin pada acara Haflah PP. Ar-Roudhoh dan TPQ al-Irsyad Tulungagung. Acara tersebut bertepatan dengan Harlah Nahdhotul Ulama ke-89 dan Dzikro Rojab 1433 H.
Seorang ‘Alim yang bernama Abu Bakar al-Warroq al-Balakhy, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Lathoiful Ma’arif, mengatakan:
شهر رجب شهر الزرع، وشهر الشعبان شهر السقى للزرع، وشهر رمضان شهر حصاد الزرع.
“Rojab adalah bulan untuk menanam. Sya’ban adalah bulan untuk menyirami (tanaman). Dan Romadlon adalah bulan untuk memanen (tanaman).”
Yang dimaksud ‘tanaman’ dalam perkataan tersebut adalah ‘tanaman kebaikan’. Sedangkan hasil panennya adalah ‘pengampunan dari Alloh ta’ala’.
Kita dianjurkan untuk memperbanyak dan memperbaiki berbagai amal kebaikan di bulan Rojab sebagai upaya dalam ‘menanam kebaikan’. Karena kebanyakan orang yang melalaikan bulan Rojab juga melalaikan bulan Sya’ban dan Romadlon. Harapannya semoga ‘tanaman’ amal-amal kebaikan itu akan semakin tumbuh subur di bulan Sya’ban nanti. Dan pada akhirnya, insyaalloh, kita akan ‘memanen’ pengampunan dari Alloh ta’ala di bulan Romadlon. Adakah panen yang lebih menggembirakan dibanding dengan ‘panen pengampunan’ dari Alloh ta’ala?
Bukankah kita memiliki banyak salah dan dosa? Jika kita mendapatkan pengampunan dari Alloh ta’ala, tentu hal itu merupakan anugerah yang sangat besar. Kita bisa berharap meninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah, nyaman di alam kubur, mendapatkan perlindungan dari Alloh ta’ala di hari kiamat, memperoleh kemudahan di hari perhitungan amal, dan selamat dari siksa neraka jahannam. Hingga bisa tinggal selamanya di surga Alloh yang penuh dengan kenikmatan. Semoga.
Selain itu, saat memasuki bulan Rojab, kita dianjurkan minta keberkahan kepada Alloh ta’ala dengan doa:
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَشَعْبَان َوَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
(Allohumma baarik lanaa fi rojaba wa sya’bana wa ballighnaa Romadlon…)
“Ya Alloh, berkahilah kami di bulan Rojab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Romadlon”.
Sudah tentu, meminta berkah itu ada caranya. Ada yang semestinya dikerjakan dan diamalkan agar doanya benar-benar menjadi doa sungguhan. Ada orang minta kepandaian kepada Alloh ta’ala, sudah tentu dia harus rajin dan serius belajar. Ada orang yang minta kekayaan kepada Alloh ta’ala, sudah tentu dia harus kerja keras dan cerdas. Kalau kita mau minta keberkahan kepada Alloh ta’ala di bulan Rojab ini, kita harus meningkatkan kuantitas dan kualitas amal kebaikan.
Saudaraku yang semoga disayang oleh Alloh ta’ala. Diantara banyak kebaikan yang bisa kita tanam di bulan Rojab ini, ada tiga ‘tanaman kebaikan’ yang selayaknya kita berikan perhatian lebih, yaitu puasa sunnah, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki kualitas sholat.

Pertama, Puasa Sunnah
Puasa adalah ibadah yang disunnahkan secara mutlak kecuali pada bulan Romadlon (karena puasa Romadlon hukumnya adalah fardlu ‘ain) dan pada hari-hari yang di dalamnya diharamkan berpuasa (Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari Tasyrik). Sedangkan dalil puasa di bulan Rojab diantaranya adalah sebagai berikut:
Hadits riwayat Usamah Bin Zaid  
“Aku berkata kepada Rosululloh : Yaa Rosululloh aku tidak  pernah melihatmu berpuasa sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban. Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam menjawab: Bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan di antara bulan Rojab dan Romadlon, dan bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah ta’ala dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaaan aku berpuasa”. (HR. Imam An-Nasa’I Juz 4 Hal. 201)
Imam Syaukani menjelaskan. Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa puasa Rojab adalah sunnah sebab dengan jelas Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengingatkan bahwa mereka lalai dari mengagungkan Sya’ban dengan berpuasa karena mereka sibuk mengagungkan Romadlon dan Rojab dengan berpuasa. (Naylul Author juz 4 hal 291)
Puasa adalah pintu ‘ibadah
Itulah kata hikmah yang disampaikan oleh al-Habib Abuya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki untuk menggambarkan keistimewaan ibadah puasa. Tidak ada ibadah yang lebih ikhlash, lebih aman dari riya` dan sum’ah, dibandingkan puasa. Lebih dari itu, puasa adalah ibadah yang sangat privasi antara seorang hamba dan Alloh ta’ala. Yang dapat menjamin seseorang benar-benar bersabar dalam menahan diri dari makan, minum, jima’ dan segala hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari, tidak lain dan tidak bukan, adalah iman dan rasa takutnya kepada Alloh ta’ala.
Alloh ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi yang maksudnya adalah “Setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat, hingga 700 kali lipat, kecuali puasa karena puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang memberi pahala atasnya”. (HR. Muslim, Ahmad, dan an-Nasa`)
Tersebut dalam hadits qudsi yang lain, “Dia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makannya demi diri-Ku. Puasa adalah untuk-Ku maka Aku lah yang memberi ganjaran kepadanya”. (HR. Bukhari, Ahmad, Imam Malik, Muslim)
Hadits-hadits tersebut mengisyaratkan bahwa pahala ibadah puasa bersifat istimewa dan tak terbatas hitungan. Mari kita bepuasa sunnah di bulan Rojab ini, dengan niat ikhlash, semata-mata mengharap ridlo Alloh ta’ala. 

Kedua, Memperbanyak Istighfar
Istighfar adalah permohonan ampun atas berbagai dosa. Jika istighfar itu disertai dengan penyesalan atas tiap-tiap dosa yang dilakukan, kemudian dengan merendahkan diri meminta ampun atas tiap-tiap dosa tersebut, dan berazam tidak akan mengulanginya lagi, maka hal itu disebut taubat. Istighfar dan taubat ini merupakan sebuah ibadah yang keutamaannya sangat besar.
Firman Alloh ta’ala (yang maksudnya);
“Maka aku (Nuh) berkata kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia kan memberimu kenikmatan yang baik (terus-menerus).” (QS. Hud: 3)
Sabda Nabi Muhammad shollallahu alahi wa sallam (yang maksudnya);
“Barangsiapa istiqomah beristighfar, Allah akan menjadikan kesenangan dari setiap kesusahan, jalan keluar dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dengan cara yang tidak ia duga.” (HR. Abu Dawud).
Bacaan istighfar yang minimal adalah
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم
“Aku minta ampun kepada Alloh yang Maha Agung.”
Sedangkan bacaan istighfar yang lebih utama adalah sayyidul istighfar, rajanya istighfar, istighfarnya Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.
اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّي لاَ اِلَهَ إِلاَّ اَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَاَنَاعَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّمَا صَنَعْتُ أَبُؤُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُؤُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
 “ya Alloh. Engkau Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku berada dalam ikrar dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat. Aku mengakui  nikmat-Mu (yang Engkau berikan) kepadaku. Aku mengakui dosaku. Ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”
Mari kita memperbanyak istighfar di bulan Rojab ini. Semoga Alloh ta’ala mengampuni dosa-dosa kita dan menerima taubat kita.
                                  
Ketiga, Memperbaiki Kualitas Sholat
Sholat adalah tiang agama. Sholat adalah pembeda antara orang muslim dan orang kafir. Sholat merupakan kewajiban pertama yang diperintahkan kepada para Rosul. Sholat merupakan washiat terakhir para Rosul. Sholat dapat menghapus dosa. Sholat dapat menyebabkan pelakunya diangkat derajatnya di sisi Alloh. Sholat merupakan indikator rasa syukur kita kepada Alloh ta’ala. Sholat merupakan media komunikasi antara manusia dengan sang Pencipta, dengan tata cara yang telah digariskan oleh-Nya dan dicontohkan oleh Rosul-Nya. Sholat adalah amal terbaik bagi orang yang beriman. Sholat adalah amal yang pertama kali akan dihisab kelak di akhirat. Jika baik sholatnya, seluruh amal diterima, jadilah ia manusia yang beruntung dan berbahagia. Sebaliknya, jika rusak sholatnya, seluruh amal ditolak, jadilah ia manusia yang paling sengsara.
Itulah sedikit gambaran tentang kemuliaan dan keutamaan sholat fardlu. Memandang betapa pentingnya sholat fardlu bagi seorang muslim, Alloh ta’ala menyampaikan ancaman yang sangat keras bagi orang-orang yang melalaikan sholat.
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ )) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ( )
Maka wail bagi orang-orang yang sholat. Yaitu mereka yang lalai dari sholat mereka.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)
Ahli tafsir al-Qur`an, Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa wail berarti kehancuran dan kebinasaan. Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Ziyad ibn Fayyadh bahwa Abu Fayyadh menyampaikan, ”Wail adalah nanah di dasar neraka jahannam”.
Atha’ bin Yasar berkata, ”Wail adalah lembah di dalam neraka jahannam. Jika gunung-gunung dilewatkan di dalamnya, maka gunung-gunung itu meleleh”. Sedangkan Ibnu Abbas rodliyallohu ’anhu berpendapat bahwa ”Wail adalah siksa berupa api yang menyala-nyala”.
Sedangkan yang dimaksud ’orang yang lalai dari sholatnya’, berdasarkan keterangan dalam kitab Tafsir al-Qur`an al-’adhim li Ibni Katsir, adalah
-         Orang-orang yang lalai dari melaksanakan sholat fardlu lima waktu secara sempurna. Mereka melaksanakan sebagian, dan meninggalkan sebagian.
-         Orang-orang yang suka mengakhirkan atau menunda-menunda sholat.
-         Orang-orang yang tidak menyempurnakan syarat dan rukun sholat.
-         Orang-orang yang melaksanakan sholat tanpa kekhusyu’an. Mereka sholat tapi hatinya tidak sholat, hatinya lalai kepada Alloh ta’ala.
Bagaimana sholat kita? Sudahkah kita melaksanakan sholat fardlu lima waktu secara istiqomah? Sudahkah kita mengerjakan sholat dengan menyempurnakan syarat dan rukunnya? Apakah bacaan dan gerakan sholat kita sudah sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam?  Sudahkah kita senantiasa mengerjakan sholat fardlu di awal waktu? Sudahkah kita mendirikan sholat fardlu dengan hati yang hadir, hati yang khusyu’, hati yang ingat Alloh ta’ala?
Mari kita terus menerus belajar dan berusaha memperbaiki sholat kita, meningkatkan kualitas sholat kita. Ingat!! Sampai detik ini Alloh ta’ala masih memberi kita kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Ayo kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Sebelum ajal menjemput kita.
Setidaknya ada empat hal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kualitas sholat:
1.   Aqimu ash-asholat (tegakkan sholat). Artinya perbaiki bacaan dan gerakan sholat. Bacaannya yang benar dan jelas. Ingat! Sholat itu, walau hanya 5 menit, adalah proses mi’roj seorang mukmin, sowannya seorang mukmin kepada Alloh ta’ala. Jaga adabmu. Jaga sopanmu. Saat sholat, Engkau sedang berhadapan dengan Alloh ta’ala.
2.   Haafidhu... (jagalah sholat). Artinya jagalah sholat Anda. Jangan sampai terlewat. Kerjakan sholat di awal waktu. Jangan menunda sholat.
3.   Khoosyi’un... (sholat dengan khusyu’). Artinya menghadirkan hati ketika sholat. Saat melaksanakan sholat, hendaknya kita merasa sedang sowan kepada Alloh ta’ala. Kita hayati makna setiap gerakan dan bacaan sholat. ”Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu mereka yang khusyu’ di dalam sholat mereka”. (QS. Al-Mu’minun: 1-2)
4.   Daaimun... (rutin, istiqomah). Artinya kita musti terus-menerus, istiqomah, mengerjakan sholat. Jangan sampai bolong.
Terlebih dari itu semua, mari kita membiasakan sholat dengan berjama’ah karena hal itu lebih memungkinkan agar sholat kita diterima. Jika ada salah satu anggota jama’ah yang sholatnya bisa khusyu’ dan diterima oleh Alloh ta’ala, maka anggota jama’ah sholat yang lain tentu sholatnya juga diterima oleh Alloh ta’ala. Lagi pula, bukankah sholat berjama’ah lebih utama dari pada sholat sendirian dengan selisih 27 derajat?
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Mari kita gunakan bulan Rojab ini untuk menanam berbagai macam kebaikan, apapun kebaikan itu, baik yang berhubungan langsung dengan Alloh ta’ala, maupun yang berhubungan dengan sesama makhluq. Khususnya, mari kita menanam amal sholih berupa puasa sunnah, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki sholat. Mari kita jaga dan sirami tanaman-tanaman kebaikan itu hingga kita bisa panen ”pengampunan” kelak di bulan Romadlon, insyaalloh.
Wallohu a’lam bi ash-showab. Semoga Alloh ta’ala senantiasa memberikan pertolongan-Nya kepada kita semua. Amien.

[tije/alumni PBSB Kemenag RI]

Kamis, 07 November 2013

Istighfar; Solusi Berbagai Masalah

Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa suatu ketika Abdullah bin Abbas, sepupu Nabi Muhammad shollAllahu alaihi wa sallam yang ahli di bidang tafsir al-Qur`an, didatangi oleh 3 tamu yang ingin mendapatkan solusi dari masalah yang sedang mereka hadapi.
Tamu pertama berkata, “Wahai Abdullah, saya punya kebun yang hanya bergantung pada air hujan. Sudah lama hujan tidak turun. Berikan kepadaku ayat al-Qur`an untuk doa minta hujan agar tanamanku tidak musnah.” Abdullah bin Abbas menjawab, “perbanyaklah istighfar.”
Tamu yang kedua datang dan mengadukan masalahnya. “Saya punya kebun yang diairi dengan air sungai . Namun sungai tersebut sekarang kering. Berilah saya ayat al-Qur`an yang dapat mengembalikan air sungai itu”. Abdullah bin Abbas menjawab, “perbanyaklah istighfar.”
Selanjutnya giliran tamu yang ketiga datang untuk mengadu. Ia telah lama menikah namun belum diberi keturunan. Ia pun minta ayat al-Qur`an agar dia segera mendapatkan keturunan. Lagi-lagi Abdullah bin Abbas menjawab, “perbanyaklah istighfar.”
Tanpa diduga, ketiga tamu tersebut bertemu di sebuah tempat. Mereka saling bercerita dan akhirnya mereka memutuskan untuk menghadap kepada Abdullah bin Abbas bersama-sama. Mereka merasa tidak puas karena mendapatkan jawaban yang sama, padahal permasalahan mereka berbeda. Mereka pun mengadu, “Wahai Abdullah, kami tidak mengerti atas jawaban tuan yang sederhana dan sama untuk permasalahan kami yang pelik dan berbeda-beda?” Dengan tersenyum Abdullah bin Abbas menjawab dengan sebuah pertanyaan balik, “tidakkah kalian membaca firman Allah ta’ala surat Nuh ayat 10-12?”
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (۱۰)
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (۱۱)
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (۱۲)
(10) Maka aku (Nuh) berkata kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia Maha Pengampun-,
(11) Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
(12) Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.
Mendengar jawaban dari Abdullah bin Abbas, ketiga orang tersebut saling memandang. Mereka terheran atas kandungan ayat tentang manfaat istighfar. (Moh. Ali Aziz (2013): 112-123)
Dalam sebuah riwayat yang lain dikisahkan bahwa pada suatu ketika umat Islam dilanda kekeringan. Amirul mukminin, ‘Umar bin al-Khotthob tidak tinggal diam. Beliau segera berinisiatif memohonkan hujan. Akan tetapi, bukannya salat istisqa’ yang dicanangkan oleh Abu Hafshoh seperti pada ghalibnya. Kali ini, beliau, seorang diri, “hanya” melafalkan kalimat-kalimat istighfar. Tak lama kemudian, hujan deras menggerojok tanah muslimin. Seseorang yang keheranan langsung melempar tanya, “bagaimana bisa Anda memohon hujan hanya dengan istighfar?” Dengan enteng, khalifah ‘Umar menukasi, “Aku memohon hujan dengan kunci-kunci langit”. Beliau kemudian membaca surat Nuh ayat 10-12.
Itulah sekelumit kisah tentang manfaat istighfar. Kenapa bisa seperti itu?
Dosa: Akar dari Segala Masalah
Saudaraku yang semoga senantiasa dicintai oleh Allah ta’ala. Saat ini, mungkin ada diantara kita yang sedang menghadapi masalah hidup. Ada diantara kita yang sedang merasa sumpek dan susah. Rasa sumpek dan susah itu mungkin disebabkan oleh hubungan antar keluarga yang tidak harmonis, masalah kesehatan, rezeki sedang seret, jodoh yang tak kunjung ketemu, fitnah yang datang silih berganti, hati yang selalu tidak tenang, atau karena sebab yang lain. Pertanyaannya; Apa akar masalah dari berbagai macam rasa sumpek dan susah tersebut?
Guru kami, KH. M. Ihya Ulumiddin, dalam sebuah forum kajian hadits Riyadlush sholihin, menyampaikan bahwa, “Jika kamu mendapatkan kesengsaraan, rasa sumpek dan susah, itu artinya kamu sedang menggembol dosa”.
قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ
“Katakanlah; ‘mengapa Allah menyiksa kalian karena (sebab) dosa-dosa kalian’…”  [QS. Al-Maidah: 18]
Kata “adzab” pada dasarnya berarti “sengsara”. Jadi setiap jenis kesengsaraan yang melanda kita, sebenarnya itu adalah adzab yang dikirim oleh Allah ta’ala. Untuk orang-orang yang sholih, kesengsaraan yang dikirim oleh Allah tersebut merupakan salah satu cara Allah ta’ala mengangkat derajat mereka. Sementara untuk saya dan –mungkin- Anda, kesengsaraan (rasa sumpek dan susah) yang dikirim oleh Allah tersebut merupakan peringatan dari Allah ta’ala bahwa diri kita penuh dengan dosa.
Istighfar: Solusi untuk Berbagai Masalah
Saudaraku yang semoga senantiasa disayang oleh Allah ta’ala. Sebagaimana kita tahu bahwa akar masalah dari berbagai rasa sumpek dan susah yang kita alami adalah dosa, baik dosa kepada Allah maupun dosa kepada sesama manusia. Oleh karena itu, salah satu cara agar kita bisa terlepas dari berbagai masalah tersebut adalah kita harus meperbanyak istighfar; minta ampun kepada Allah ta’ala atas dosa-dosa yang kita lakukan.
Mari kita renungkan sabda nabi Muhammad shollallahu alahi wa sallam berikut ini: “Barangsiapa istiqomah beristighfar, Allah akan menjadikan kesenangan dari setiap kesusahan, jalan keluar dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dengan cara yang tidak ia duga.” (HR. Abu Dawud).
Di dalam karyanya yang berjudul al-Hayah at-Thayyibah, Syeikh A’idh al Qarni menjelaskan secara detail bahwa istighfar adalah kunci dari 5 macam kesuksesan.
1.     Apakah Anda ingin hidup tenang, mendapatkan rezeki yang lapang, dan hidup penuh dengan kenikmatan? Jika ya, maka perbanyaklah istighfar. “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia kan memberimu kenikmatan yang baik (terus-menerus).” [QS. Hud: 3]
Nabi Muhammad bersabda: “Sungguh, seorang hamba tertahan rezekinya, akibat dosa yang dilakukannya”. [HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Majah]
2.     Apakah Anda ingin berbadan sehat, kuat, dijauhkan dari bencana dan penyakit? Jika ya, maka perbanyaklah istighfar. “Dan Nabi Hud berkata: ‘wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” [QS. Hud: 52]
3.     Apakah Anda ingin dijauhkan dari bencana, fitnah, dan cobaan yang berat? Jika ya, maka perbanyaklah istighfar. “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka selama kamu (Muhammad) berada diantara mereka. Dan tidaklah pula Allah akan mengadzab mereka selama mereka meminta ampun.” [QS. Al Anfal: 33]
4.     Apakah Anda ingin terbebas dari kekeringan, memiliki keturunan (yang baik), harta melimpah dan penuh berkah? Jika ya, maka perbanyaklah istighfar. Firman Allah ta’ala: “Maka aku (Nuh) berkata kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” [QS. Nuh: 10-12]
5.     Apakah Anda ingin menghapus dosa-dosa, memperbanyak kebaikan, dan meningkatkan ketakwaan? Jika ya, maka perbanyaklah istighfar. “Katakanlah: ‘bebaskanlah kami dari dosa’. Niscaya Aku ampuni kesalahan-kesalahanmu dan kelak Aku akan menambah pemberianKu kepada orang-orang yang berbuat baik.” [QS. Al Baqarah: 58]
Saudaraku yang semoga senantiasa istiqomah berada di jalan kebaikan. Dengan beristighfar, minta ampun kepada Allah ta’ala, para Nabi terdahulu menyelesaikan berbagai persoalan yang beliau-beliau hadapi. Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Yunus, serta nabi-nabi yang lain beristighfar. Padahal para Nabi tersebut mendapatkan jaminan dari Allah ta’ala, diampuni segala dosa mereka. Begitulah, di hapadan Allah ta’ala, beliau-beliau merendahkan diri, mengakui kesalahan yang telah diperbuat, dan memohon maaf. Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun gemar beristighfar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat yang lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
Dan benar. Alloh ta’ala memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang beliau hadapi. Oleh karena itu, marilah kita memperbanyak istighfar. Marilah kita mengakui kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat. Marilah kita minta ampun kepada Alloh atas dosa-dosa kita yang sangat banyak. Semoga Alloh ta’ala mengampuni dosa-dosa kita dan menerima tobat kita. Semoga Alloh ta’ala memberikan solusi dan jalan keluar atas berbagai masalah yang sedang kita hadapi. Amin.
“Barangsiapa istiqomah beristighfar, Allah akan menjadikan kesenangan dari setiap kesusahan, jalan keluar dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dengan cara yang tidak ia duga” (HR. Abu Dawud).

[tije/LP2A PBSB Kemenag RI]

Sabtu, 17 November 2012

‘ASYURO = MOMENTUM TAUBAT NASIONAL

                                           
Saudaraku sekalian.
Pernahkah kita menghitung-hitung, berapa banyak dosa yang telah kita lakukan? Pernahkah kita berhenti sejenak untuk memikirkan perjalanan hidup kita. Sudah sampai manakah kita? Apakah kita sudah berada di jalan yang benar, jalan menuju keselamatan dunia akhirat?
Amirul Mu`minin ‘Umar ibn Khoththob r.a. pernah menyampaikan sebuah nasihat yang sangat berarti,
“hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum amal itu ditimbang”
Karena kelak di hari pembalasan amal…
Maksudnya:
“maka barangsiapa melakukan kebaikan seberat dzarroh pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa melakukan kejelekan seberat dzarroh pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. (QS. Al-Zalzalah : 7-8)
Marilah kita semua mawas diri, menginstropeksi diri kita. Mumpung kita masih diberi kesempatan oleh Alloh ta’ala menikmati hidup di dunia. Mumpung jantung ini masih berdetak, mumpung kita masih bisa bernafas…
Maksudnya:
“wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu sekalian kepada Alloh ta’ala. Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (akhirat). Bertaqwalah kepada Alloh ta’ala, sungguh Alloh Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”. (QS. Al-Hasyr : 18)
Saudaraku sekalian.
Tentu kita sudah tahu bahwa bulan Muharrom ini adalah salah satu bulan yang mulia. Bahkan bulan ini mendapat julukan “Syahrulloh” (bulannya Alloh). Dan kita juga tahu bahwa di bulan Muharrom ini ada sebuah hari yang sangat istimewa. Benar. Hari itu adalah hari ‘Asyuro. Hari tanggal sepuluh (10) bulan Muharrom.
Ada beberapa peritstiwa penting yang terjadi di hari ‘‘Asyuro, diantaranya:
1. ‘Asyuro adalah hari pertama sejarah peradaban manusia dimulai, yakni ketika Nabiyulloh Adam alaihissalam bersama istrinya, sayyidatuna Hawwa turun kedunia.
2. Pada hari itu Alloh ta’ala banyak sekali menerima taubat hamba-hambaNya yang bersalah, diantaranya pada hari itu Alloh menerima taubat Nabiyulloh Adam alaihissalam, taubat kaum Nabiyulloh Yunus alaihissalam dan taubat kaum Nabi Musa alaihissalam.
3. Pada hari itu Nabiyulloh Musa alahissalam dan kaumnya selamat dari kejaran Fir’aun dan tentaranya, sekaligus hari tengelam dan kematian Fir’aun beserta pasukannya di laut Merah.
4. Pada hari itu pula, perahu Nabiyulloh Nuh alaihissalam berlabuh di gunung Judiy.
Sebagai rasa syukur, maka Nabiyulloh Nuh dan Nabiyulloh Musa alaihimassalam pun berpuasa pada hari itu.
Sejenak marilah kita simak kabar dari baginda Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam terkait dengan hari ‘Asyuro.
Ketika Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam telah berhijrah dan tiba di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah ternyata juga bershaum pada hari tersebut. Maka beliau bertanya kepada mereka. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas rodliyallahu ’anhuma:
Bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyuro. Maka beliau bertanya (kepada mereka) : “Hari apakah ini yang kalian berpuasa padanya?” Maka mereka menjawab : “Ini merupakan hari yang agung, yaitu pada hari tersebut Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun bersama kaumnya. Maka Musa bepuasa pada hari tersebut dalam rangka bersyukur (kepada Allah). Maka kami pun bepuasa pada hari tersebut” Maka Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan (para shahabat) untuk berpuasa pada hari tersebut. [HR. Al-Bukhari 2004, 3397, 3943, 4680, 4737. Muslim 1130]
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Romadlon adalah puasa pada bulan Alloh, Muharrom. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)
Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura`, maka beliau menjawab : “(puasa tersebut) menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat.” [HR. Muslim 1162)
Oleh karena itu, marilah kita semua hendaknya melaksanakan puasa sunnah pada hari ‘Asyuro ini. Marilah kita mengumumkan puasa sunnah ‘Asyuro di masjid, musholla, dan khalayak ramai. Kita ajak keluarga, anak-anak, dan juga tetangga kita untuk melaksanakan puasa sunnah ini. Agar lebih bersemangat dan sekaligus sebagai syiar Islam, bolehlah kita mengadakan buka puasa bersama di masjid dan di musholla.
Selain itu, kita juga “sangat” dianjurkan untuk memperbanyak istighfar di hari ‘Asyuro ini, terutama istighfar-istighfar yang dulunya pernah dibaca oleh para nabi. Dipilihnya istighfar para nabi terutama sayyidul istighfar adalah dalam rangka mengambil ibroh, semangat dan manfaat. Atau dalam istilah ulama yang lain disebut dengan tafa’ulan ; تفاؤلا ; (ngalap ketularan, bahasa jawa). Para Nabi yang ma’shum aja beristighfar kepada Alloh, minta ampun kepada Alloh ta’ala, masak kita yang banyak dosa ini enggan beristighfar, kan kebangetan tu..!!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat yang lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
Saudaraku yang disayang oleh Alloh ta’ala. Mungkin saja, kita sering dilanda kesusahan, kesempitan, banyak masalah yang tidak terselesaikan, dan ketidaktenangan hidup dikarenakan kita ini banyak berdosa kepada Alloh ta’ala. Marilah kita resapi ayat-ayat Alloh ta’ala berikut ini…
Maksudnya:
"dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Tuhan kalian dan bertobatlah kalian kepada-Nya. Niscaya Dia ‘kan memberikan kenikmatan yang baik (terus menerus) kepada kalian sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia ‘kan memberikan kepada tia-tiap orang yang memiliki keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kalian berpaling, maka aku kawatir kalian akan ditimpa siksa di hari qiyamat”. (QS. Hud: 3) 
Teladan dan idola kita, Nabi Muhammad shollallohualaihi wa sallam, bersabda: 
“Barangsiapa yg istiqomah beristighfar, Allah akan menjadikan kesenangan dari setiap kesusahan, jalan keluar dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dengan cara yang tidak ia duga” (HR. Abu Dawud).
(Al-Misbah Al Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 199 : 509).
Selain itu, ada sebuah atsar yang menerangkan bahwa suatu waktu kemarau panjang menerpa negeri muslimin. Amirul mukminin, ‘Umar bin al-Khotthob tidak tinggal diam. Beliau segera berinisiatif memohonkan hujan. Akan tetapi, bukannya salat istisqa’ yang dicanangkan oleh Abu Hafshoh seperti pada galibnya. Kali ini, beliau, seorang diri, “hanya” melafalkan kalimat-kalimat istighfar. Tak lama kemudian, hujan deras menggerojok tanah muslimin. Seseorang yang keheranan langsung melempar tanya, “bagaimana bisa Anda memohon hujan hanya dengan menggumamkan istighfar?” Dengan enteng, sayyidina ‘Umar menukasi, “Aku memohon hujan dengan kunci-kunci langit”.
Maksudnya:
“Maka aku berkata (kepada mereka), mohon ampunlah kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia ‘kan menurunkan hujan yang lebat untuk kalian. Dan Dia ‘kan memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan menjadikan kebun serta sungai-sungai untuk kalian”. (QS. Nuh: 10-12)
Sebagai penutup, guru kami, KH.M. Ihya’ Ulumiddin dalam sebuah kesempatan pernah menyampaikan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz terbiasa mengumpulkan kaum Muslimin di Hari ‘Asyuro untuk bersama-sama melakukan pertaubatan dengan membaca istighfarot para Nabi. “Dosa akan membuat hidup kita susah. Dengan diampuninya dosa, maka akan banyak kelancaran dalam banyak hal. Para ulama berkata bahwa mengakui dosa akan menghapus dosa”. Kami menyarankan hendaknya para pemimpin, ketua RT, Wali Kota, Bupati, Gubernur, Presiden, para Kyai, para kepala sekolah, dan para pimpinan lembaga sosial kemasyarakatan, agar mentauladani Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Mari kita mengumpulkan karyawan, staff, anggota, anak-anak, murid, santri, dan jama’ah kita untuk melaksanakan taubat nasional. Mari kita ajak mereka untuk melaksanakan puasa sunnah ‘Asyuro. Mari kita ajak mereka untuk beristighfar bersama-sama, memohon ampun kepada Alloh ta’ala… kita ini sudah kebanyakan dosa…
“… dan bertobatlah kalian semua kepada Alloh ta’ala wahai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung”. (QS. An-nur: 31) 
“… sesungguhnya Alloh ta’ala mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri”. (QS. AL-Baqoroh: 222)

Berikut ini adalah kumpulan istighfar para Nabi yang diabadikan Alloh Ta’ala dalam Al-Qur’an; istighfar Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Yunus serta istighfar Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang warid. Mari kita baca bersama-sama dengan penuh penghayatan dan pengharapan agar Alloh ta’ala mengampuni dosa-dosa kita. Bismillah…

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

Istighfar Nabi Adam (QS. Al-A’rof : 23)
“wahai Tuhan kami, kami telah berbuat dzolim kepada diri kami, jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami, sungguh kami termasuk golongan orang-orang yang merugi”          

وَإِلاَّ تَغْفِرْلِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
Istighfar Nabi Nuh (QS. Hud: 47)
“jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi ku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi”
رَبِّيْ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْلِي
Istighfar Nabi Musa (QS. Al-Qoshosh: 16)
“wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat dzolim kepada diriku sendiri, mohon ampunilah aku”

لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ
Istighfar Nabi Yunus (QS. Al-Anbiya`: 87)
“tidak ada Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sungguh aku termasuk orang yang dzolim”
 اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي
إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Istighfar Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam
“ya Alloh, Engkau Tuhanku, tidak Tuhan selain Engkau. Aku berbuat dzolim kepada diriku, aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang (bisa) mengampuni dosa-dosaku kecuali Engkau”

اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّي لاَ اِلَهَ إِلاَّ اَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَاَنَاعَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّمَا صَنَعْتُ أَبُؤُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُؤُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Istighfar Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam (sayyidul istighfar).
“ya Alloh. Engkau Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku berada dalam ikrar dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat. Aku mengakui  nikmat-Mu (yang Engkau berikan) kepadaku. Aku mengakui dosaku. Mohon ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”

Saudaraku yang dicintai oleh Alloh ta’ala.
Marilah kita jadikan bulan Muharrom ini, terutama hari ‘Asyuro, sebagai momentum untuk puasa sunnah dan beristighfar bersama, MOMENTUM TAUBAT NASIONAL. Semoga dengan puasa sunnah dan istighfar kita semua, Alloh ta’ala berkenan mengampuni kita yang banyak berlinang dosa ini. Semoga Alloh ta’ala menerima taubat kita sebagaimana Alloh ta’ala menerima taubat Nabi Adam ‘alaihissalam. Amin. (tj)

http://alumnipbsbunair.blogspot.com/