Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Januari 2013

Segera Tinggalkan Sekolah (1)


Udin adalah seorang anak petani di Desa SugihSehat. Sang ayah dan ibu begitu bahagia ketika Udin masuk kelas 1 SD Unggul. Mulai hari itu orang tua Udin yakin bahwa anaknya bakal menjadi orang yang sukses, lebih sukses dari mereka yang mencari nafkah "hanya" sebagai petani.
Udin mulai mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, PPKn, IPA, IPS, dan lain-lain.
Suatu hari Udin bertanya kepada gurunya dengan penuh penasaran;
Udin: Pak Guru, di kelas ini apa saya akan diajari cara mengatasi hama tikus?
Pak Guru: tidak. Di buku paket hal itu tidak dijelaskan. emang kenapa?
Udin: Pak Guru, ayah dan ibu saya adalah seorang petani. Akhir-akhir ini beliau sedih karena sawahnya diserang hama tikus. Bagaimana ya cara mengatasi hama tikus? Saya ingin membantu orang tua saya.
Pak Guru: Sudahlah. Sekarang kerjakan soal-soal di halaman 26.
Udin: iya pak Guru.

Pada kesempatan yang lain Udin yang dipenuhi rasa penasaran bertanya kepada gurunya yang lain.
Udin: Bu Guru, bagaimana caranya agar padi yang ditanam ayah bisa dipanen lebih cepat?
Bu Guru: ayahmu kan petani. tanya saja pada ayahmu.
Udin: justru itu bu... ayah udin tidak tahu. makanya saya tanya kepada ibu.
Bu Guru: emang kenapa kamu tanya seperti itu?
Udin: kalau padinya bisa dipanen lebih cepat, ayahkan bisa lebih sering panen. ayah bisa lebih sering dapat uang.
Bu Guru: kamu ini tanya aneh-aneh. sudahlah. ayo dibaca bukunya halaman 19.
Udin: iya bu Guru.

_____________________

Seringkali, (kebanyakan) sekolah mengajarkan sesuatu yang "jauh" dari kehidupan peserta didik. Anak-anak para petani diajari pelajaran-pelajaran yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanian. Mereka (kebanyakan) diajari hal-hal yang tidak berhubungan dengan dengan kehidupan sehari-harimereka. Mereka pun, sejak masuk kelas 1 SD, mulai tercerabut dari akar budaya mereka. Hingga pada suatu ketika mereka lulus sekolah, anak-anak yang telah menjadi remaja itu memilih untuk pergi ke kota. mencari kerja katanya. sementara orang tua mereka mulai renta. sawah pun terbengkalai dan tak tergarap. tinggal menunggu waktu saja, orangtua mereka menjual sawah tersebut...
maka jangan heran jika saat ini kita menemukan fakta-fakta yang tak layak dibanggakan.
Sepanjang 2012, impor beras Indonesia mencapai 1,95 juta ton, jagung sebanyak 2 juta ton, kedelai sebanyak 1,9 juta ton, daging sapi setara 900.000 ekor sapi, gula sebanyak 3,06 juta ton, dan teh sebesar 11 juta dollar.

Sekolah, masih layakkah dipertahankan?


Kamis, 24 Januari 2013

Segera Tinggalkan Sekolah..!! (introduction)


Suatu hari di Sekolah XXX kelas A

Pak Guru : Assalamua'alaikum anak-anak
Murid-Murid : Wa'alaikumsalam Pak Guru.
Pak Guru : anak-anak hari ini kita belajar Trigonometri. Silahkan buka buku paket halaman 56.
(kemudian pak guru menjelaskan apa itu Trigonometri. Menuliskan rumusnya di papan tulis. memberikan contah soal. mengerjakan contoh soal. kemudian...)
Pak Guru : anak-anak, sudah paham? ada yang ditanyakan?
Murid-Murid : sssttt ........... (diam tidak menjawab)
Pak Guru : anak-anak, silahkan buka LKS. kerjakan soal-soal halaman 24-25.
(dan anak-anak pun segera melaksanakan apa yang Pak Guru perintahkan. sampai ketika...)
Pak Guru : anak-anak. waktu habis. silahkan dikumpulkan. sampai ketemu anak-anak. assalamu'alaikum ...
Murid-Murid : Wa'alaikum salam Pak Guru.

Suatu hari di Sekolah XXX kelas B

Bu Guru : Assalamu'alaikum anak-anak
Murid-murid : wa'alaikum salam bu Guru.
Bu Guru : anak-anak, hari ini kita belajar Past Tense. Rumus Past Tense adalah S + V2. contoh... I went to school.
(begitulah seterusnya... kemudian bu Guru menjelaskan apa kegunaan PastTense itu)
Bu Guru : anak-anak. PastTense digunakan untuk menyatakan aktifitas yang terjadi pada masa lampau.
(Bu Guru pun menunjukkan beberapa contoh kalimat yang semula Present Tense kemudian dirubah menjadi PastTense. kemudian...)
Bu Guru : anak-anak, ada pertanyaan?
Murid-Murid : ssstttt.... (diam tidak bersuara)
Bu Guru : baiklah. sekarang buka LKS kalian. kerjakan soal-soal halaman 35-36. nanti dikumpulkan sebelum bel istirahat.
(murid-murid pun mengerjakan soal-soal di LKS, hingga pada saat...)
Bu Guru : oke anak-anak. waktu habis. silahkan LKSnya dikumpulkan. see you... assalamualaikum
Murid-murid : wa'alaikumsalam. Horey!! istirahat..


Seperti itulah proses yang disebut sebagai "belajar - mengajar" yang terjadi di sekolahan XXX. Bagaimana dengan sekolah Anda? Seperti itukah?
Lalu apa yang diharapkan dari sekolah jika yang dilakukan di dalam kelas-kelas hanyalah aktifitas semacam itu? Apakah hal-hal tersebut bermanfaat bagi murid di kehidupannya saat itu dan di masa depannya? Apakah model pengajaran seperti itu bisa membekali murid untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan hidupnya?


Tahan sebentar....
Sampai ketemu di kesempatan selanjutnya. Semoga kita diberi Alloh ta'ala panjang umur yang barokah. Amin.


Sabtu, 24 November 2012

Mengatasi Anak Yang Punya Senjata Andalan MENANGIS

Bagaimana mengatasi anak yang menggunakan tangisan sebagai senjata andalan?
Saya adalah seorang ibu. Saya memiliki anak yang berusia 5 tahun. Ketika menginginkan sesuatu, anak saya seringkali menangis dengan keras. Anak saya baru berhenti jika keinginannya dipenuhi. Contohnya: setiap pagi anak saya minta dibuatkan mie instan. Sebenarnya saya tahu jika mie instan itu tidak baik bagi anak. Apalagi dalam jumlah yang banyak dan frekuensi yang sering. Tapi mau gimana lagi, anak saya itu selalu merengek minta mie instan setiap pagi. Kalau tidak saya kasih, dia mengangis dengan sangat keras sampai kedengaran dari rumah tetangga. Selain malu dengan tetangga, saya juga tidak tega melihat anak saya yang masih 5 tahun itu menangis sambil meraung-raung di lantai. Bagaimana sebaiknya sikap saya menghadapi anak saya tersebut? Terimakasih.

Jawab:
Ibu yang dirahmati Alloh, ketika anak menggunakan tangisan untuk “memaksa” kita menuruti keinginannya kemudian berhasil, dia akan mengulanginya lagi di lain kesempatan. Dan jika dia berhasil untuk yang ke dua kali dan seterusnya, maka dia benar-benar akan menggunakan tangisan itu sebagai “senjata andalan” untuk memaksa kita menuruti keinginannya.
Lalu bagaimana solusinya?
Ibu yang bijaksana, kita harus tahu dengan pasti mana keinginan anak yang baik dan bermanfaat bagi dia dan mana yang jelek dan berbahaya bagi dia. Jika si anak memiliki keinginan yang berakibat jelek bagi dia, seperti yang Ibu utarakan tersebut, maka kita sebagai orang tua harus “tega” menolak keinginannya. Tentu kita harus menjelaskan dengan lembut kepada si anak bahwa keinginannya itu berbahaya dan berakibat jelek bagi dia. Misalnya, dia nanti bisa sakit.
Biasanya respons anak adalah menangis dan merengek. Tidak mengapa, tetaplah bersikap tenang dan jangan terpacing oleh ulahnya. Katakanlah dengan lembut, “Adik tidak boleh terus-terusan makan mie instan setiap pagi, karena bisa membuat adik sakit. Lebih baik adik makan telur dan minum susu agar badan adik sehat dan kuat. Kalau adik mau nangis, silahkan. Ibu akan tunggu sampai adik selesai menangis…”.
Tetaplah konsisten dengan pendirian Ibu. Jangan lekas luluh dengan tangisan si anak. Ibu juga tidak perlu malu dengan tetangga. Ini kan untuk kebaikan anak Ibu sendiri, buat apa malu? Dan, sebaiknya berilah semangat kepada si anak. Misalnya dengan mengatakan, “Ibu tahu adik anak yang baik, adik anak yang pandai, nanti kalau sudah selesai menangis, bilang ke ibu ya…”.
Memang, kebanyakan orang tua kesusahan menerapkan metode ini. Mereka berpikir alangkah kejamnya orang tua yang membiarkan anaknya menangis dan meraung-raung seperti itu. padahal, inilah yang dinamakan ketegasan. Bukan berarti tidak sayang. Justru inilah wujud kasih sayang orang tua yang sebenarnya kepada anak. Apa Ibu mau nantinya anak ibu sakit-sakitan dan terganggu perkembangannya? Kita seharusnya mengajari anak kita tentang hal yang benar dan hal yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.
Dengan bersikap tegas dan konsisten, lama-kelamaan si anak akan menyadari bahwa dia tidak bisa memaksakan kehendaknya dengan menggunakan tangisan. Sekali kita berhasil menyadarkan si anak, dia akan berhenti untuk memaksakan kehendaknya kepada orang tua.
Setelah tenang dan berhenti menangis, biasanya seorang anak akan menunjukkan sinyal-sinyal perdamaian dengan orang tua. Dia akan mendekati orang tua dan mulai mengajak komunikasi. Tentu saja, karena memang dia membutuhkan orang tuanya. Jika tanda-tanda itu muncul, segeralah sambut anak Anda dengan pelukan dan ciuman yang penuh dengan kasih sayang. Pujilah anak Anda dengan mengatakan, “adik memang anak yang baik”, atau, “anak mama hebat ya..”. Saya yakin anak Anda pun akan menyambut baik sikap Ibu tersebut.
Sebagai orang tua, kita perlu menhindari ucapan yang melemahkan seperti, “dasar kamu anak cengeng”, “kamu bikin repot mama saja..!”, atau ancaman-ancaman kosong, seperti, “awas ya, nanti kalau mama pergi adik tidak diajak lagi”. Ucapan yang melemahkan dan ancaman kosong seperti itu tidak akan bisa merubah sikap si anak menjadi lebih baik. Hindarilah, sekali lagi hindari kata-kata seperti itu.
Jika suatu ketika si anak mengulangi lagi jurus menangis seperti itu, kita tidak perlu menyalahkan si anak. Kita hendaknya mengulangi lagi cara-cara yang tegas dan konsisten tersebut. Tentu saja cara-cara tersebut kita lakukan dengan lembut. Bagaimanapun dia adalah anak manusia yang masih berusia 5 tahun dan masih butuh banyak belajar. Mungkin saja teknik ini memerlukan pengulangan beberapa kali hingga si anak benar-benar memahami dan menyadari. Bersabarlah… demi kebaikan buah hati Anda.
Terakhir, ingatlah untuk senantiasa berdoa. Mintalah kepada Allo ta’ala agar melembutkan hati anak-anak kita sehingga kita mudah mendidik mereka untuk menjadi anak-anak yang baik. (tj) 
(Disarikan dari buku Ayah Edy Menjawab: 100 persoalan sehari-hari orang tua yang tidak ada jawabannya di kamus manapun, hal 3-5. 2012. Jakarta: Noura Books. Dengan beberapa modifikasi dan tambahan)

Rabu, 26 September 2012

Surat Cinta untuk Pak Haji dan Bu Hajah



Pak Haji dan Bu Hajah yang semoga dirahmati Alloh ta’ala. Bolehkah saya bertanya? Tahun ini bapak/ibu berangkat haji untuk yang ke berapa? Dua, tiga, atau empat? Semoga haji Anda diterima oleh Alloh ta’ala. Pak Haji dan Bu Hajah, tahun ini berapa kali Anda berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan umroh..? Selama ini sudah berapa kali Anda berangkat umroh? Dua, empat, enam..? Semoga umroh Anda diterima oleh Alloh ta’ala. 

Pak Haji dan Bu Haji, tahukah Anda bahwa berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2012, di Indonesia ada warga yang tergolong miskin sebanyak 29,13 juta orang (11.96%)..? Dengan garis kemiskinan 248.707 perkapita . Artinya orang di Indonesia yang penghasilan rata-ratanya lebih kecil dari pada 248.707 rupiah per bulan (atau 8.290 rupiah per hari) berjumlah 29,13 juta jiwa . Sedangkan penduduk yang tergolong hampir miskin berjumlah 27,82 juta jiwa (11,5 %). Jadi total penduduk yang miskin dan hampir miskin sejumlah sekitar 57 juta jiwa (surabaya.okezone.com). Sementara itu, jumlah penduduk yang tergolong miskin di Jawa Timur ada 5,071 juta jiwa (13,40 %) dengan garis kemiskinan 233.202 per kapita. Artinya warga Jawa Timur yang berpenghasilan rata-rata lebih kecil dari pada 233.202 rupiah per bulan (7.773 ribu per hari) berjumlah 5,071 juta jiwa (jatim.bps.go.id). Kesimpulan sederhana, orang miskin (secara ekonomi) di Indonesia masih “cukup” banyak, orang miskin di Jawa Timur juga masih “cukup” banyak. 

Jika Anda warga Surabaya, silahkan berkunjung ke Kecamatan Semampir, tepatnya Kelurahan Ujung, Pegirian, Wonokusumo dan Sidotopo. Anda bisa juga menengok saudara Anda di Kelurahan Gading Kecamatan Tambaksari dan Kelurahan Simokerto Kecamatan Simokerto. Atau jika Anda berada di daerah Surabaya Utara, silahkan bersilaturrahim ke warga pesisir di daerah Bulak. Di sana Anda akan bertemu dengan saudara-saudara Anda yang sangat membutuhkan “sedikit” bantuan dari Anda.

Pak Haji dan Bu Hajah, bolehkah saya bertanya, sudahkah Anda membayar zakat tahun ini? Sudahkah Anda menyisihkan sebagian kecil (hanya 2,5 %) dari harta Anda untuk diberikan kepada mereka yang berhak; orang-orang miskin? Untuk berangkat haji dibutuhkan dana tidak kurang dari 35 juta. Dan untuk yang haji plus dibutuhkan biaya dua kali lipat, sekitar 70 juta. Sedangkan untuk umroh (sunnah) diperlukan uang tidak kurang dari 15 juta. Kita tentu sudah mengerti bahwa mengeluarkan zakat itu hukumya wajib, fardlu ‘ain. Sedangkan berhaji untuk yang ke-dua, tiga, dan seterusnya itu hukumya sunnah. Berangkat umroh pun demikian, hukumnya sunnah. Memang, uang itu milik Anda sendiri. Namun, bukankah Alloh ta’ala yang memberikan rizki kepada Anda? Dan bukankah kita tahu bahwa Alloh ta’ala memerintahkan kita untuk membayar zakat? 

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)
Semoga dengan membayar zakat, Alloh ta’ala menerima haji dan umroh Bapak-Ibu sekalian. Semoga zakat itu bisa membantu saudara-saudara kita yang sedang kesusahan untuk sekolah dan berobat, bahkan untuk sekedar makan. Tentu jauh lebih baik dan lebih mulia jika Bapak-Ibu bukan hanya mengeluarkan zakat, tetapi juga berinfaq dan bershodaqoh. Contoh, Bapak-Ibu berinfaq/bershodaqoh 5%, 10%, 20%, atau 40% dari harta yang Bapak-Ibu miliki. Bukankah senantiasa berinfaq, menganggarkan sebagian harta untuk dinafkahkan di jalan Alloh ta’ala, atau untuk membatu saudaranya yang sedang kesusahan, itu merupakan ciri orang yang bertaqwa..?

Mari kita baca bersama surat Ali Imron ayat 133-134 (yang maksudnya): “dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.
Selain menjanjikan surga bagi orang-orang yang bertaqwa, Alloh ta’ala juga menjajikan anugerah-anugerah yang lain bagi mereka. Dan inilah sebagian anugerah Alloh ta’ala yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa.
“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah jadikan baginya jalan keluar (dari setiap permasalahannya). Dan Dia (Allah) akan memberi rizji dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.
Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam setiap urusannya .
Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia (Allah) akan melebur kesalahan-kesalahannya dan melipat gandakan pahala baginya.”
(QS. At- Tholaq [65] : 2 -5 )

Semoga Alloh ta’ala senantiasa menolong kita semua untuk menjadi bagian dari golongan orang-orang yang bertaqwa. Amin. (tj)

Minggu, 09 September 2012

Makna Istihlal (bukan halal bi halal)

Pada bulan Syawwal jamak dijumpai umat Islam di Indonesia menyelenggarakan Istihlal. Saya menggunakan kata "istihlal" karena memang kata ini lebih tepat untuk digunakan daripada frase "halal bi halal". Saya tanya, "halal bi halal" itu artinya apa..?? 
halal = halal, bi = dengan, halal = halal.
Jadi "halal bi halal" berarti halal dengan halal, boleh dengan boleh. Maksudnya apa..?? Nah lho... (???)

Sekarang kita beralih ke kata "istihlal". Kata istihlal merupakan bentuk masdar dari kata istahlala ('ala wazni istaf'ala) yang berfaedah "tholab", artinya "minta halal". Sama dengan kata istighfar (istaghfaro) yang berarti minta ampun. Jadi "istihlal" berarti minta halal (atas kesalahan yang pernah diperbuat).


Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah –shallallohu ‘alaihu wa sallam- bersabda: “Barang siapa melakukan kezhaliman kepada saudaranya, hendaklah meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya; karena di sana (akhirat) tidak ada lagi perhitungan dinar dan dirham, sebelum kebaikannya diberikan kepada saudaranya, dan jika ia tidak punya kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya itu akan diambil dan diberikan kepadanya”. (HR. al-Bukhari nomor 6.169)

Namun memang, minta halal (minta dimaafkan) atas kesalahan atau kedzaliman yang telah diperbuat ini hendaknya tidak hanya kita lakukan ketika momen idul fithri atau bulan Syawwal, tetapi kapan saja kita berbuat salah atau dzalim, hendaknya kita segera minta dihalalkan (dimaafkan).

Kemarin, Ahad 9 September 2012, saya menghadiri Istihlal yang diselenggarakan oleh Persyadha (Persyarikatan Dakwah al-Haromain), di Ketintang Barat I Surabaya. Selain agar bisa bertemu dengan Asatidz dan sahabat saya untuk beristihlal, tujuan saya datang ke acara tersebut adalah untuk "ngaji" kepada Abina K.H. M. Ihya Ulumiddin yang merupakan Aminul 'Am Persyadha. Taushiyah dari Abi adalah acara yang paling saya nantikan karena memang beliau adalah sumber ilmu dan adab yang "langka". Keluasan dan kedalaman ilmunya, tawadlu'nya, kesabarannya, kegigihannya, ruarrr biasa. 

Abi Ihya menjelaskan bahwa Ihtihlal itu marilah kita maknai sebagai momentum "pengakuan". Iya, pengakuan. Kita mengakui bahwa kita banyak dosa dan salah kepada Alloh ta'ala. Kita mengakui bahwa kita punya banyak kesalahan dan kedzaliman kepada saudara dan sahabat kita. Kita ngaku, dan kemudian minta maaf. 

Selanjutnya kita ngaku bahwa ketika bulan Romadlon yang lalu kita belum bisa maksimal dalam memanfaatkan madrasah Romadlon. Kita masih bolong jama'ah sholat fardlunya. Kita masih bolong qiyamul-lailnya. Kita masih bolong tilawah al-Qurannya. Kita masih bolong infaq-shodaqohnya. Iya, memang benar kita berpuasa, menahan lapar dan haus. Tapi kita belum bisa maksimal untuk menahan diri dari perkataan kotor, perkataan yang tidak berguna, perkataan yang menyakitkan orang lain. Kita belum bisa berpuasa dari "ngerasani" (ghibah) dan dusta. Kita masih sering berbohong (kecil). Kita belum bisa berpuasa dari iri-dengki. Kita belum bisa berpuasa dari riya` dan sum'ah, 'ujub dan takabbur. Ayo kita NGAKU..!!

Astaghfirullohal'adhim...

Faidah.



Sementara orang menganggap bahwa frase ‘Id al-Fithri berarti “kembali ke suci”. Hal ini –mungkin- didasarkan kepada sebuah hadits yang menjelaskan bahwa barang siapa berpuasa Romadlon dengan iman dan ihstisab maka diampunilah dosanya yang telah lampau. Sehingga beberapa orang tersebut mengganggap bahwa orang yang dia beri ucapan selamat ‘Id al-Fithri adalah orang yang diampuni segala dosa-dosanya yang telah lampau. Apakah hal tersebut benar? Agaknya kita tidak bisa membenarkan argumen tersebut begitu saja. Karena Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam pun mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa yang tidak memperoleh pahala apa pun kecuali hanya lapar dan dahaga karena dia tidak menjaga diri dari berkata kotor, berbohong, dan memfitnah ketika dia berpuasa.

Secara ilmu bahasa, pendapat yang menyatakan bahwa Id al-Fithri berarti “kembali ke suci” adalah tidak benar. Frase ‘Id al-Fithri terbentuk dari dua kata, ‘Id yang berarti kembali, dan al-Fithri (afthoro – yufthiru – ifthoron) yang berarti sarapan atau berbuka. Bukan al-fithroh (yang berarti; asal kecenderungan yang baik, asal kejadian, agama yang lurus, dan kesucian). Jadi frase Id al-Fithri tersebut bermakna “selamat sarapan atau berbuka kembali” yang menandai bahwa bulan Romadlon telah usai dan tibalah tanggal 1 Syawwal. Bukankah ketika hari Raya ‘Id al-Fithri kita diharomkan untuk berpuasa dan disunnahkan untuk sarapan? Agaknya makna seperti ini lebih rasional dan mendekatkan kita kepada pemahaman yang benar.



Selanjutnya, setelah kita ngaku akan kesalahan dan kekurangan kita, marilah kita senantiasa berdoa dan mendoakan saudara kita dengan doa:

"taqobbalallohu minna wa minkum"

(semoga Alloh menerima [ibadah, khususnya di bulan Romadlon] dari kami dan kalian)

Konon, dulu para sahabat Nabi mengamalkan doa ini selama kurang lebih 6 bulan. Jadi mulai tanggal 1 Syawwal sampai bulan Robi'ul Awwal, para sahabat Nabi, jika bertemu saudara dan sahabatnya, beliau mengucapkan doa "taqobbalallohu minna wa minkum".
Kenapa beliau-beliau sampek segitunya..??

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthni.

"idza salimat al-jum'ah, salimat al-ayyam. idza salima Romadlon, salimat as-sanah"

(jika hari jum'at selamat, selamatlah hari-hari selama sepekan. jika bulan Romadlon selamat, selamatlah tahun).

Perhatikan dengan seksama. Muslim itu, jika jum'at nya selamat, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang pekan. Ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi kita umat Islam di Indonesia. Salah satu kegagalan terbesar kita adalah jum'at tidak menjadi hari libur. Sehingga kita tidak bisa menggunakan hari jum'at untuk fokus mendekatkan diri kepada Alloh ta'ala. Kita masih disibukkan oleh sekolah dan pekerjaan. Kita pun akhirnya melaksanakan sholat jum'at dengan kurang sempurna; telat, ngantuk pisan. Walaupun memang ada sekolah yang menjadikan hari jum'at sebagai hari libur. Biasanya sekolah-sekolah itu dikelola oleh yayasan pendidikan islam seperti Pondok Pesantren. Contohnya sekolah MTs dan MA Walisongo tempat saya belajar dahulu kala. Namun jumlahnya tidak banyak. Masih banyak yang liburnya hari Ahad. Pada saat saudara kita umat Kristiani melaksanakan ibadah di Gereja.

Selanjutnya, mari kita perhatikan sabda Nabi kita tercinta. Muslim itu, jika bulan Romadlonnya selamat, bisa diartikan jika ibadah-ibadahnya di bulan Romadlon diterima oleh Alloh ta'ala, maka insyaalloh, selamatlah ia di sepanjang tahun. Nah, inilah rahasianya kenapa para sahabat Nabi itu dengan segitunya mengamalkan doa "taqobbalallohu minna wa minkum" sampai 6 bulan pasca Romadlon. Jadi jika doa tersebut dikabulkan oleh Alloh ta'ala, maka efeknya akan ruarrr biasa bagi kehidupan para sahabat itu; selamat sepanjang tahun. Siapa yang gak mau..??

Maka, marilah kita mentauladai para sahabat Nabi yang mulia itu. Mari kita senantisa berdoa dan mendoakan saudara dan sahabat kita dengan doa "taqobbalallohu minna wa minkum". Semoga doa kita dikabulkan oleh Alloh ta'ala. Amin.

"idza salimat al-jum'ah, salimat al-ayyam. idza salima Romadlon, salimat as-sanah"

Semoga bermanfaat. Wallohu a'lam bish-showab. 
(tj)