Tampilkan postingan dengan label adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adab. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013

Mari Tingkatkan Kualitas Sholat


Saudaraku. Bolehkah saya bertanya? Bagaimana kabar sholat kita? Apakah sholat yang kita kerjakan sehari-hari sudah sesuai tuntunan Rosululloh? Apakah kita sudah mengerti makna gerakan dan bacaan sholat? Apakah sholat kita sudah khusyu’? Apakah kita sudah merasakan nikmatnya sholat? Apakah sholat yang kita kerjakan sudah mencegah kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik?
Sebelum kita memulai diskusi tentang bagaimana cara meningkatkan kualitas sholat, marilah kita sejenak merenungkan dalam-dalam betapa tingginya kedudukan sholat dalam agama kita, agama Islam.
“….. Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (QS. An-Nisa`: 103)
Diriwayatkan oleh sahabat Mu’adz bin Jabal, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رأس الأمر الإسلام, وعـموده الصلاة, وذروة سنامه الجهاد
(yang maksudnya): “Pokok semua perkara adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan puncaknya adalah jihad” (HR. Imam Ahmad, 5/231, dan Imam at-Tirmidzi, 2/1314)
Dalam sebuah kesempatan Rosululloh menyampaikan: “Ada lima sholat yang telah Alloh ta’ala wajibkan atas hamba-hambaNya, barangsiapa menunaikannya, tidak mengabaikannya dengan menyepelekan (meremehkan) kedudukannya, maka Alloh berjanji untuk memasukkannya ke dalam surga”. (HR. Imam Abu Dawud, 2/62)
Abdulloh bin Mas’ud r.a. berkata, “aku bertanya kepada Raosululloh, ‘Amal apa yang paling dicintai oleh Alloh ta’ala?’, beliau menjawab, ‘Sholat tepat waktu’, ……” (HR. Imam Bukhori, Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa`i)
Alloh ta’ala menjelaskan di dalam al-Quran tentang keadaan ahli neraka:
"Apakah yang memasukkan kalian ke dalam Saqor (neraka)?. Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat”. (QS. Al-Muddatstsir : 42-43)
Diriwayatkan dari Abdulloh bib Buroidah, dari bapaknya, dia berkata, Rosululloh bersabda (yang maksudnya): “Janji antara kita dengan mereka adalah sholat. Barangsiapa meninggalkannya, dia benar-benar kafir”. (HR. Imam at-Tirmidzi, an-Nasa`I, Ibnu Majah, dan Hakim)
Demikianlah kedudukan sholat dalam agama Islam. Sangat penting. Sangat istimewa. Sangat mulia. Masih banyak ayat al-Quran dan riwayat hadits yang menjelaskan betapa tingginya kedudukan sholat dalam agama Islam. Bahkan salah satu wasiat terakhir nabi Muhammad sebelum beliau meninggal dunia adalah sholat. (keterangan ini diriwayatkan oleh Imam ath-Thobroniy dalam Majma’ al-Bahroin, 7/263)
Saudaraku yang berbahagia dengan ni’mat Iman dan Islam. Hujjatul Islam Imam al-Ghozali rohimahulloh menyampaikan bahwa sholat itu terdiri dari Shuroh Dhohiroh (sisi lahir) dan bathiniyyah. Kesempurnaan sholat bisa diperoleh dengan menyempurnakan dua sisi tersebut. Sisi lahiriyah sholat adalah gerakan dan bacaan sholat, mulai takbirotul ihrom hingga salam. Dalam hal ini penting bagi kita untuk kembali mempelajari tata cara sholat berdasarkan riwayat hadits dengan harapan kita mampu melaksanakan sholat dengan tata cara yang semirip mungkin dengan sholat yang dipraktekkan oleh Rosululloh. Nabi Muhammad sholaallohu alaihi wa sallam bersabda:
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْانِى أُصَلِى
(maksudnya): ”Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat”. (riwayat Imam Bukhori, dalam Buluhgul Marom hal. 66)
Sedangkan sisi bathiniyyah sholat adalah khusyu` dan menghadirkan hati ketika melaksanakan sholat. Bagaimana agar kita bisa melaksanakan sholat dengan khusyu’? Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan agar sholat kita –semoga- bisa khusyu’.
Pertama, mempelajari makna bacaan sholat. Sholat adalah komunikasi antara seorang hamba dengan Alloh. Bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan Alloh ta’ala di dalam sholat jika kita tidak memahami makna bacaan sholat yang kita lafazdkan? Salah satu tujuan sholat adalah agar kita ingat kepada Alloh ta’ala.
“Sesungguhnya Aku ini adalah Alloh, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Ku”. (QS. Thoha: 14)
Lalu bagaimana kita bisa ingat kepada Alloh di dalam sholat jika kita tidak mengerti apa yang kita baca selama kita mengerjakan sholat? Mari kita sempatkan diri untuk mempelajari makna bacaan sholat. Maaf. Sekali lagi saya mohon maaf. Kalau untuk urusan perut saja kita mau bekerja keras, mengerahkan tenaga, waktu dan pikiran. Lalu mengapa kalau urusan dengan Alloh ta’ala kita malas-malasan?
Kedua, menenangkan hati dan pikiran sebelum memulai sholat. Sebelum takbirotul ihrom, hendaknya kita menyiapkan jasad, hati dan pikiran kita untuk menghadap Alloh ta’ala. Kita berusaha membersihkan hati dan pikiran kita dari segala urusan duniawi. Kita berusaha memfokuskan hati dan pikiran kita untuk bermunajat kepada Alloh ta’ala. Mari kita senantiasa mengingat-ingat. Kita ini mau menghadap Alloh ta’ala yang Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita. Betapa buruk adab kita jika jasad kita rukuk dan sujud sementara hati dan pikiran kita masih saja mengurusi perkara-perkara dunia?
Ketiga, mengerjakan sholat dengan tenang (tuma’ninah) dan tidak tergesa-gesa. Saudaraku yang dimuliakan oleh Alloh ta’ala dengan iman. Jika kita mengerjakan sholat dengan tergesa-gesa, sangat besar kemungkinannya kita tidak bisa khusyu`. Kenapa? Karena ‘motion’ (gerakan badan) itu sangat mempengaruhi ‘emotion’ (suasana hati). Selain itu, marilah kita merenung dalam-dalam. Bukankah kita senantiasa memilih yang terbaik untuk diri kita sendiri? Kita pilih pakaian yang terindah, makanan yang ternikmat, tempat tinggal yang ternyaman. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih pakaian yang kita sukai. Lalu mengapa kita melaksanakan sholat seperti ayam yang sedang mematuk-matuk makanan? Mengapa kita mempersembahkan sesuatu yang buruk kepada Alloh ta’ala? Bukankah sholat itu merupakan persembahan kita kepada Alloh ta’ala?
Keempat, mentadabburi makna bacaan sholat. Bacaan-bacaan di dalam sholat merupakan pujian dan doa kepada Alloh ta’ala. Bacaan takbir merupakan pujian terhadap kemahabesaran Alloh ta’ala. Doa iftitah berisi pensucian dan pujian kepada Alloh ta’ala serta ungkapan bahwa kita sedang menghadapkan diri kita kepada Alloh ta’ala. Surat al Fatihah berisi pujian dan doa. Bacaan rukuk, I’tidal dan sujud berupa pujian kepada Alloh ta’ala. Bacaan ketika duduk diantara dua sujud berupa doa kepada Alloh ta’ala. Bacaan tasyahud berupa pujian kepada Alloh kemudian dilanjutkan dengan sholawat kepada Rosululloh. Dan yang terakhir, salam, merupakan doa keselamatan untuk orang-orang yang beriman dan para malaikat yang ikut melaksanakan sholat. Dengan menghayati makna setiap bacaan di dalam sholat, insyaalloh, kita lebih mudah untuk mencapai khusyu’.
Kelima, senantiasa berusaha dengan segenap kemampuan agar bisa terus khusyu’. Seringkali, kita sudah berusaha khusyu’, tapi di tengah-tengah sholat hati dan pikiran kita melayang entah kemana, memikirkan urusan-urusan dunia. Hal tersebut tidak mengapa. Yang penting kita segera berusaha untuk khusyu’ kembali. Namanya aja sedang latihan. Inilah yang disebut jihad melawan hawa nafsu. Memang berat. Tapi dengan usaha dan doa yang sungguh-sungguh dan terus menerus, insyaalloh, dengan pertolongan dari Alloh ta’ala, kita bisa melaksanakan sholat dengan khusyu’, semaksimal mungkin.
قد أفلح المؤمنون (١) الذين هم فى صلوتهم خاشعـــون (٢)
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu’ di dalam sholat mereka”. (QS. Al-Mu`minun: 1-2)
Keenam, senantiasa berdoa kepada Alloh ta’ala agar kita diberi hati yang khusyu’. Bagaimanapun, khusyu’ adalah anugerah yang diberikan oleh Alloh ta’ala kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Mari kita berdoa semoga Alloh ta’ala menjadikan hati kita termasuk hati yang khusyu’.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَـلُـكَ قَلْبًا خَاشِعًا
“Ya Alloh.. sesungguhnya kami memohon kepada-Mu, hati yang khusyu’….”
Saudaraku yang disayang oleh Alloh ta’ala. Jika sampai hari ini kita belum bisa merasakan nikmatnya rukuk dan sujud kepada Alloh ta’ala. Jika sampai hari ini sholat yang kita laksanakan belum bisa mencegah diri kita dari perbuatan keji dan munkar. Kita sholat, tapi masih terus berma’shiat. Padahal Alloh ta’ala berfirman (yang maksudnya)  
“….. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar…..” (QS. Al-Ankabut: 45)
Mungkin saja semua itu dikarenakan sholat kita belum sempurna. Secara dhohir kita belum meniru tata cara sholat Rosululloh. Dan secara bathin, kita belum bisa khusyu’ di dalam sholat.
Saudaraku yang berharap rohmat dari Alloh ta’ala. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Syukur kepada Alloh ta’ala, kita masih diberi kesempatan oleh Alloh ta’ala untuk meningkatkan kualitas sholat kita, kualitas hubungan kita dengan-Nya. Tentu, peningkatan kualitas sholat itu mensyaratkan kemauan yang kuat dalam diri kira untuk terus belajar dan berlatih. Semoga saja, semakin kita dekat dengan ajal kita, semakin kita dekat dengan kematian kita, kualitas sholat kita semakin baik dan semakin baik.
Dari shohabat Anas bin Malik, Rosululloh bersabda:
أوّل ما يحاسب به العبد يوم القيامة الصلاة, فإن صلحت صلح له سائر عمله, وإن فسدت فسد سائر عمله
“Yang paling pertama dihisab pada seorang hamba kelak di hari qiyamat adalah sholat. Jika sholatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Jika sholatnya jelek, maka jeleklah seluruh amalnya”. (HR. Imam ath-Thobroniy)
Semoga Alloh ta’ala senantiasa melimpahkan pertolongan dan petunjuk-Nya kepada kita semua. Wallohu a’lamu bi ash-showab.

[tj/LP2A PBSB]

Kamis, 30 Mei 2013

Adab Seorang GURU


Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Alloh ta’ala. Kita tahu bahwa salah satu pra-syarat pendidikan yang berkualitas adalah adanya guru yang berkualitas. Murid yang cerdas, kreatif, jujur, dan bertanggungjawab biasanya “lahir” dari pembinaan guru yang juga mempunyai kualitas serupa. Jika gurunya malas belajar, suka marah-marah, mempelopori nyontek masal, dan tidak mau inshaf mengakui kesalahan ketika berbuat salah, kita sudah bisa membayangkan, muridnya akan menjadi seperti apa. Memang, guru bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan. Ada faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi perkembangan seorang murid, seperti pendidikan di dalam keluarga, masyarakat tempat dia berdomisili, dan juga teman-teman dekatnya. Namun begitu, seorang guru tentu mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan seorang murid. Hampir setiap hari, rata-rata 5-7 jam, seorang murid belajar bersama gurunya di sekolahan. Jumlah jam itu akan meningkat jika ditambah les privat, bimbingan belajar, serta pengajian di masjid dan mushola. Lalu, bagaimanakah guru yang berkualitas itu? Bagaimanakah guru yang baik itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu ada beragam jawaban, tergantung dari sudut mana dan dengan dasar apa kita memandang. Pada kesempatan kali ini, kami mengajak Anda sekalian untuk menelaah konsep Adab seorang guru, berdasarkan al-Hadits, atsar para sahabat dan hikmah para ulama.
Apakah Adab itu?
Menurut Prof. Naquib al-Attas, pakar filsafat dan sejarah Melayu, adab adalah “pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta.” 
Contoh 1: Manusia yang beradab kepada Alloh ta’ala adalah manusia yang mengenal Alloh dan mengakui hak dan kedudukan Alloh sebagai Pencipta alam semesta, yaitu disembah. Kemudian manusia tersebut merespon dengan melaksanakan sholat sebagai bentuk penyembahan dia kepada Alloh ta’ala. Itulah contoh manusia yang beradab kepada Alloh ta’ala.
Contoh 2: Anak yang beradab kepada orang tuanya adalah anak yang mengenal dan mengakui bahwa Alloh menciptakan dia melalui perantara orangtuanya. Ia menyadari bahwa orangtuanya telah merawat, menjaga, dan mendidiknya hingga dia cukup umur. Olehkarena itu orangtua berhak mendapatkan baktinya. Kemudian si anak merespon dengan berbakti dan berbuat baik kepada orang tua. Itulah contoh anak yang beradab kepada orangtua.
Seberapa pentingkah adab itu?
Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita merenungkan dalam-dalam, perkataan dan pernyataan para ulama terkait dengan adab.
‘Abdurrahman bin al-Qasim berkata, “Saya berkhidmat kepada Imam Malik selama 20 tahun. Dua tahun diantaranya (saya habiskan) untuk mempelajari ilmu, sedangkan 18 tahun lainnya untuk mempelajari adab. Duh, andai saja saya habiskan seluruh masa itu untuk mempelajari adab!”
Abdulloh Ibnu Mubarok, seorang ahli hadits, berkata, “Barangsiapa yang meremehkan adab-adab, maka ia akan dihukum dengan terhalang dari sunnah-sunnah. Barangsiapa yang meremehkan sunnah-sunnah, maka ia akan dihukum dengan terhalang dari  fardhu-fardhu.  Dan barangsiapa yang meremehkan  fardhu-fardhu, maka  ia akan dihukum dengan terhalang dari ma’rifat (mengenal Allah)”.
Imam Syafii, imam mazhab yang banyak menjadi panutan kaum Muslim di Indonesia, pernah ditanya, bagaimana upayanya dalam meraih adab? Sang Imam menjawab, bahwa ia selalu mengejar adab laksana seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.
Dengan merenungkan perkataan dan pernyataan para ulama di atas, yang kualitas keilmuannya tidak diragukan lagi, kita bisa menyimpulkan bahwa adab ini merupakan perkara yang sangat penting. Oleh karena itu, patut bagi kita untuk senantiasa memperhatikan adab dalam setiap tindakan kita.
Adab-adab Seorang Guru
Diantara adab bagi seorang guru adalah berniat untuk mendapatkan ridlo Alloh ta’ala, berhati-hati dan tidak serampangan dalam menjawab pertanyaan, jika berbuat salah mau mengakui dan memperbaiki (inshaf), tawadlu dan tidak sombong, simpatik dan penuh kasing sayang kepada murid, senantiasa belajar untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri.
1.     Berniat untuk mendapatkan ridlo dari Alloh ta’ala
Seorang guru hendaknya meniatkan diri belajar dan mengajar untuk mendapatkan ridlo dari Alloh ta’ala, menyebarkan ilmu, menghidup-hidupkan agama, menegakkan kebenaran, berharap menumbuhkan bibit-bibit ulama yang menerangi manusia, serta mengharap pahala dari Alloh ta’ala. Seorang guru hendaknya tidak merendahkan dirinya dengan hanya mencari kemuliaan di dunia saja, hanya untuk mendapatkan harta benda, popularitas, kekuasaan dan tujuan duniawi lainnya. Mari belajar dari para maha guru pendahulu kita.
Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dawuh, “Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. …” (riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim)
Imam Syafi'i rahimahullah pernah berkata, "Aku sangat berharap orang-orang mempelajari ilmu ini dariku, sementara tidak satu hurufpun yang dinisbatkan kepadaku."
Imam al-Ghazali menyatakan, bahwa seorang ‘alim (berilmu) namun dia termasuk salah seorang dari budak-budak dunia, maka dia lebih rendah posisinya dan lebih berat siksanya dibanding orang yang jahil (tidak berilmu).
Al-Hasan al-Bashri berkata, “Hukuman untuk para ulama’ adalah matinya hati. Dan kematian hati (akan terjadi ketika) mereka memburu dunia dengan amal-amal akhirat.”
2.     Berhati-hati, tidak serampangan menjawab pertanyaan
Ketika mendapatkan pertanyaan dari murid, biasanya seorang guru berhasrat untuk menjawabnya. Ini adalah hal yang wajar. Menjadi tidak wajar ketika, karena merasa malu jika dikatakan tidak bisa menjawab pertanyaan, seorang guru selalu menjawab setiap pertanyaan murid, padahal dia sendiri tidak memahami persoalan tersebut. Hal ini tentu berakibat buruk. Para ulama memberi teladan bahwa seorang guru sebaiknya mengatakan “aku tidak tahu”, jika memang tidak memahami persoalan yang dilontarkan oleh seorang penanya.  
Ada sebuah atsar yang dikutip dari Ibnu ‘Umar, bahwa beliau berkata, “Ilmu itu ada tiga: Kitab Allah yang berbicara, Sunnah yang sudah berlaku tetap, dan la adriy (saya tidak tahu).” – dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalam al- Awsath.
Imam an-Nawawi berkata, “Diantara bentuk ilmu yang dimiliki seorang ‘alim adalah pernyataan ‘saya tidak tahu’ atau ‘Alloh lebih tahu’ dalam persoalan-persoalan yang tidak diketahuinya.”  Beliau juga berkata, “Ketahuilah, menurut keyakinan muhaqqiqin (orang-orang yang sangat mantap ilmunya) bahwa pernyataan ‘saya tidak tahu’ dari seorang ‘alim tidak akan menjatuhkan martabatnya. Sebaliknya, hal itu menunjukkan hebatnya kedudukan, ketakwaan dan kesempurnaan pengetahuannya. Sebab, orang yang sudah sangat mantap ilmunya, tidak masalah jika dia tidak mengetahui beberapa persoalan. Bahkan, pernyataannya: ‘saya tidak tahu’ itu bisa menjadi petunjuk atas ketaqwaannya, dan bahwasanya dia tidak sembarangan/ngawur dalam berfatwa.” – dari: Muqaddimah Syarh al-Muhadzdzab.
3.     Jika berbuat salah, mengakui dan mau memperbaiki (inshaf)
Kadangkala kita temui ada seorang guru yang merasa dirinya paling pandai dan paling benar. Dia tidak mau menerima kritikan dan saran dari orang lain. Ada juga yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi guru sehingga dia merasa dirinya paling berpengalaman. Ketika ada yang memberi saran kepada dia akan suatu hal, dia malah berkata, “aku ini sudah jadi guru 30 tahun, kamu anak kemarin sore gak usah banyak omong”. Apakah sikap seperti itu selayaknya ada pada diri seorang guru?
Imam Ibnu ‘Abdil Barr, semoga Alloh merahmatinya, berkata, “Diantara berkah dan adab ilmu adalah inshaf.”
Diantara contoh inshaf adalah: ada seorang wanita yang membantah pernyataan ‘Umar ibnu al-Khotthob dan mengingatkan beliau mana yang benar, padahal ketika itu beliau sedang berkhutbah di hadapan khalayak ramai. Apakah beliau menyangkal? Justru beliau berkata, “Wanita itu benar, dan laki-laki ini keliru.”
Pada kesempatan yang lain, ada seorang laki-laki yang bertanya kepada ‘Ali, dan beliau menjawabnya. Kemudian, ada orang lain yang berkata, “Bukan begitu, wahai Amirul Mu’minin. Tetapi, begini dan begitu.” Maka, beliau berkomentar, “Kamu benar, dan aku keliru. Dan diatas setiap yang berilmu itu adalah yang lebih pandai (darinya).” – dikutip dari al-Ihya’.
4.     Tawadlu dan tidak sombong, tidak menolak kebenaran dari orang lain, walaupun lebih muda usianya.
Seorang guru layaknya menjadi teladan bagi muridnya bahwa belajar itu bisa dari siapa saja, termasuk orang yang usianya lebih muda. Jangan mentang-mentang sudah jadi guru, lalu enggan belajar dari orang yang lebih muda, bahkan muridnya sendiri pun. Mari kita saksikan bagaimana para maha guru kita memberikan teladan.
Diriwayatkan dari al-Fudhail bin ‘Iyadh, “Sesungguhnya Alloh mencintai orang ‘alim yang rendah hati dan membenci orang ‘alim yangangkuh. Dan, barangsiapa yang bersikap rendah hati semata-mata karena Alloh, maka Alloh akan mewariskan hikmah kepadanya.”
Imam an-Nawawi berkata, “Dulu, banyak sekali ulama’ salaf yang mau belajar dari murid-muridnya,untuk persoalan-persoalan yang tidak mereka mengerti.”
Al-Humaydi – salah seorang murid Imam Syafi'i – bercerita, "Saya menemani Imam Syafi'i dari Makkah ke Mesir. Maka saya belajar dari beliau tentang persoalan-persoalan (fiqh), sedangkan beliau belajar hadits dari saya."
Imam Ahmad bin Hanbal juga bercerita tentang guru beliau, "Imam Syafi'i pernah berkata kepada kami: “Anda lebih memahami hadits dibanding saya. Jika menurut Anda sebuah hadits itu shahih, maka katakanlah kepada saya, supaya saya dapat berpegang kepadanya."
5.     Bersikap simpatik dan penuh kasih sayang kepada murid
Bagaimana mungkin seseorang mau belajar dari orang yang dia benci? Begitu juga seorang murid, dia akan cenderung malas dan menolak belajar dari guru yang dia tidak sukai. Oleh karena itu, hendaknya seorang guru bersikap simpatik kepada murid. Seorang guru hendaknya senantiasa mencurahkan kasih sayangnya dan bersikap lembut kepada murid.
Tersebut dalam riwayat Imam Ahmad, at-Thobroni dan Ibnu Hibban bahwasanya sahabat Shofwan bin ‘Asal al-Murodi mendatangi Nabi dan berkata, “wahai Rosululloh, saya datang untuk menuntut ilmu”, Nabi shollallohu alaihi wa sallam pun menyambut dengan ucapan, “selamat datang wahai penuntut ilmu! Sesungguhnya penuntut ilmu dinaungi oleh para malaikat dengan sayapnya. Kemudian mereka menumpuk hingga langit dunia, karena kecintaan mereka terhadap apa yang dicari oleh penuntut ilmu tersebut”.
Dalam Muqaddimah Syarh al-Muhadzdzab, Imam an-Nawawi berkata, “Dianjurkan kepada seorang guru agar bersikap simpatik kepada murid dan berbuat baik kepadanya semaksimal mungkin.
Diriwayatkan dari Abu Harun al-‘Abdiy, beliau berkata: “Dulu kami pernah mendatangi Abu Sa’id al-Khudry, maka beliau pun berkata: ‘Selamat datang wasiat Rasulullah! Sungguh beliau bersabda,‘Sesungguhnya manusia akan mengikuti kalian. Akan ada orang-orang yang datang dari berbagai penjuru untuk mendalami urusan agamanya. Jika mereka datang kepada kalian, maka perlakukanlah mereka sebaik-baiknya.” – dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.
6.     Senantiasa belajar untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri
Seorang ahli ilmu adalah pembelajar sejati. Dia tidak pernah berhenti belajar. Seorang guru pun demikian, hendaknya senantiasa belajar dan belajar untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri. Menurut Pak Munif Chatib, praktisi pendidikan berbasis Multiple Intelligences, konsultan pendidikan, serta penulis buku Sekolahnya Manusia dan Gurunya Manusia, idealnya guru itu 40% belajar, 60% mengajar. Ingat! Senjata yang tidak pernah diasah, lama-lama akan menjadi tumpul.
Sa'id bin Jubair berkata, "Seseorang itu selalu disebut 'alim selama dia mau untuk terus belajar. Jika ia meninggalkan belajar dan menyangka bahwa dia telah kelebihan dan merasa cukup dengan apa yang sudah diketahuinya, maka diapun menjadi orang yang lebih bodoh disbanding sebelumnya."
Saya pernah mendengar guru saya, KH. Ihya Ulumiddin bercerita, suatu ketika beliau berjalan bersama guru beliau Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki. Waktu itu guru saya mendapatkan sambutan yang hangat dari banyak orang. Tangan beliau diciumi. (Tentu hal tersebut karena memang beliau telah mencapai derajat tertentu sehingga banyak orang yang mengagungkan beliau). Apa yang dikatakan Abuya melihat hal ini? Abuya berkata kepada guru saya, “maa zilta tholiban” (Anda, tetap seorang pelajar).
Itulah beberapa adab bagi guru yang kami nukil dari hadits, atsar dan hikmah para ulama. Semoga kita semua, khususnya para guru, diberi hidayah dan pertolongan oleh Alloh ta’ala, untuk memahami dan mengamalkan adab-adab ini.
“Ilmu yang tak diamalkan, laksana pohon tak berbuah”

Wallohu a’lam. [tije/LP2A PBSB]