Rabu, 12 April 2017

Perbaiki Shalat, Jangan Turuti Syahwat

 
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوْا الصَّلَوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ  فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan menuruti syahwat. Maka mereka (pengganti) itu kelak akan menemui ghoyyun.” (QS. Maryam: 59)
Yang dimaksud ‘pengganti’ adalah ‘generasi akhir zaman’. ‘Menyia-nyiakan shalat’ berarti ‘meninggalkan shalat fardlu’. ‘Menuruti syahwat’ berarti ‘melakukan berbagai ma’siat, tidak melaksanakan perintah Allah dan melanggar larangan Allah’. Sedangkan ‘ghoyyun’  bermakna ‘kerugian di akhirat’ atau ‘sebuah jurang di neraka’. (lihat tafsir Ibnu Katsir)
Ketika Shalat Disia-siakan
Sebuah survey yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) bersama Goethe Institute di 33 provinsi di Indonesia pada bulan November 2010. Diantara hasil survei tersebut adalah bahwa kaum muda Islam yang selalu menunaikan shalat 5 waktu (28,7 persen), yang sering shalat 5 waktu (30,2 persen), yang kadang-kadang shalat 5 waktu (39,7 persen), yang tidak pernah shalat 5 waktu (1,2 persen).
Survey tersebut memperlihatkan bahwa kaum muda Islam yang senantiasa melaksanakan shalat fardlu hanya 28,7 persen dan sisanya –mayoritas- tidak selalu menunaikan shalat fardlu lima waktu alias shalatnya bolong. Padahal shalat fardlu adalah tiang agama. Jika rusak shalat fardlunya, rusaklah agamanya.
Pokok semua perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad” (HR. Imam Ahmad, 5/231, dan Imam at-Tirmidzi, 2/1314)
Dalam sebuah kesempatan Rasulullah menyampaikan: “Ada lima shalat yang telah Allah ta’ala wajibkan atas hamba-hambaNya, barangsiapa menunaikannya, tidak mengabaikannya dengan menyepelekan (meremehkan) kedudukannya, maka Allah berjanji untuk memasukkannya ke dalam surga”. (HR. Imam Abu Dawud, 2/62)
"(Malaikat penjaga neraka bertanya kepada penghuni neraka) Apakah yang memasukkan kalian ke dalam Saqar (neraka)?. Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat”. (QS. Al-Muddatstsir : 42-43)
Menuruti Syahwat
Apakah syahwat itu? Syahwat adalah hal-hal yang diingini, disukai, dan disenangi. Ada berbagai macam syahwat. Diantaranya adalah syahwat perut (makan, minum), syahwat farji (memegang, mencium lawan jenis, berhubungan seks), syahwat harta benda (uang, rumah, mobil), dan syahwat kekuasaan (menjadi pimpinan, dihormati, dimuliakan). Kata syahwat ini identik dengan kata ‘hawa’ (biasanya disebut hawa nafsu). Syahwat-syahwat ini harus dikendalikan, diatur dengan menggunakan wahyu dan akal agar senantiasa berada di wilayah ‘halal’, agar senantiasa mengikuti syariat Islam. Mengendalikan syahwat atau hawa nafsu merupakan sebuah kemuliaan dan pangkal dari berbagai macam kebaikan.
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan jiwanya dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)". (QS. An-Nazi’at: 40-41).
Sebaliknya, senantiasa menuruti syahwat (hawa nafsu) adalah sumber kerusakan dan kehinaan bagi manusia.
 “Hai Daud sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu maka ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Saad : 26)
Perbaiki Shalat, Jangan Turuti Syahwat
Ayat 59 surat Maryam di atas mengisyaratkan bahwa kebiasaan ‘menyia-nyiakan shalat’ sangat erat kaitannya dengan ‘menuruti syahwat’. Orang yang menyia-nyiakan shalat biasanya cenderung menuruti syahwat. Orang yang menyia-nyiakan shalat berarti tidak memiliki rasa takut kepada Allah ta’ala, keyakinannya kepada Allah dan hari akhir sangat tipis, dan jauh dari Allah ta’ala. Orang yang tidak punya rasa takut kepada Allah tentu lebih cenderung menuruti keinginan hawa nafsunya.
“….. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar…..” (QS. Al-Ankabut: 45)
Begitu juga orang yang mempunyai kebiasaan menuruti syahwat, biasanya cenderung menyia-nyiakan shalat. Bukankah syahwat manusia itu cenderung lebih menyukai hal-hal yang enak dan mudah? Padahal menjaga shalat fardlu itu merupakan sesuatu yang berat.
Kebiasaan menyia-nyiakan shalat dan menuruti syahwat ini sangat berbahaya karena menyebabkan pelakunya berada di dalam kesesatan, menjadi budak hawa nafsu, semakin jauh dari Allah ta’ala, dan akhirnya menderita di neraka. Oleh karena itu, marilah kita dan keluarga kita berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa memperbaiki shalat dan tidak menuruti syahwat. Agar kita sekeluarga tidak berada di dalam kesesatan yang ujungnya adalah neraka jahannam. Na’udzu billah min dzalik.
Saudaraku yang semoga senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Setidaknya ada empat hal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki shalat:
1.   Aqimu ash-ashalat (tegakkan shalat). Artinya penuhi syarat dan rukun shalat. Perbaiki bacaan dan gerakan shalat. Bacaannya yang benar dan jelas. Gerakannya yang benar dan tuma’ninah.
2.   Haafidhu... (jagalah shalat). Artinya jagalah shalat Anda. Jangan sampai terlewat. Kerjakan shalat di awal waktu. Jangan menunda shalat.
3.   Khoosyi’un... (shalat dengan khusyu’). Artinya menghadirkan hati ketika shalat. Saat melaksanakan shalat, hendaknya kita merasa sedang sowan kepada Allah ta’ala. Kita hayati makna setiap gerakan dan bacaan shalat.
4.   Daaimun... (rutin, istiqomah). Artinya kita musti terus-menerus, istiqomah, mengerjakan shalat. Jangan sampai bolong.
Terlebih dari itu semua, mari kita membiasakan shalat dengan berjama’ah karena hal itu lebih memungkinkan agar shalat kita diterima. Lagi pula, bukankah shalat berjama’ah lebih utama dari pada shalat sendirian dengan selisih 27 derajat?
Selanjutnya, marilah kita berusaha semaksimal mungkin untuk mengendalikan syahwat atau hawa nafsu kita dengan berbagai cara, diantaranya: 
     1. Senantiasa gunakan syariat dan akal sehat untuk mempertimbangkan keinginan kita.
Jika syahwat kita mengajak kita untuk melakukan suatu hal, hendaknya kita konsultasikan dulu kepada syariat dan akal sehat. Apakah hal itu halal atau haram? Apakah hal itu bermanfaat di dunia dan akhirat atau malah membahayakan?
Untuk itu kita perlu terus -menerus belajar ilmu-ilmu agama Islam, baik secara langsung kepada kiai atau ustadz maupun dengan membaca buku-buku agama.
2.   Berpuasa sunnah
Dengan berpuasa kita berlatih untuk mengendalikan syahwat atau keinginan-keinginan kita.
“Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu, hendaknya berpuasa, sebab ia dapat menjadi perisai baginya.” (Muttafaq Alaihi)
      3. Memperbaiki hubungan dengan Allah ta’ala dengan memperbaiki shalat, membaca dan mentadabburi al-Qur`an, membiasakan diri berbuat kebaikan, memberi manfaat kepada orang lain, serta memperbanyak dzikrullah.
Jika hubungan kita dengan Allah ta’ala baik, insyaallah Dia kan senantiasa melimpahkan taufiq-Nya kepada kita, sehingga kita diberi kemampuan untuk mengendalikan syahwat atau hawa nafsu kita.      
Semoga Allah ta’ala senantiasa melimpahkan taufiq-Nya kepada kita sekeluarga sehingga kita sekeluarga senantiasa mampu untuk menjaga dan memperbaiki shalat serta mengendalikan syahwat. Amin.
Wallahu a’lam bish-shawab
[M. Tajuddin]

Kamis, 21 Juli 2016

Idul Fitri BUKAN Kembali Suci


Sebagian orang menerjemahkan kata Idul Fitri ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘kembali suci’. Apakah penerjemahan tersebut benar?
Kata Idul Fitri berasal dari bahasa arab ‘id al-fihtr (عِيْدُ الْفِطْرِ). Kata ‘id (عِيْدٌ) berarti hari raya (Kamus Muthahar, hal. 783-784).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا أَبَا بَكْرِ، إِنَّ لِكُلَّ قَوْم عِيْدًا، وَهَذَا عِيْدُنَا
“Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap umat memiliki hari raya. Dan (hari) ini adalah hari raya kita”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hari Raya Natal dalam bahasa arab disebut ‘idul milad (عيد الميلاد), artinya Hari Raya Kelahiran. Hari Raya Kemerdekaan disebut ‘idul istiqlal (عيد الاستقلال). Jadi ‘id bukan berarti ‘kembali’. Hari Raya disebut ‘Id karena hari tersebut dirayakan berulang-ulang setiap tahun. Selain Idul Fitri, umat Islam memiliki hari raya yang lain, yaitu ‘Id al-Adlha (عِيْدُ الْأضحى). Idul Adha berarti Hari Raya Hewan Sembelihan, bukan ‘kembali kepada hewan sembelihan’.  
Kata ‘kembali’ dalam bahasa arab adalah ‘ada – ya’udu – ‘audatan (عاد – يعود - عودة). Sekilas hurufnya memang ada kemiripan, tetapi makna kata ‘id dan ‘audah jauh berbeda dan penggunaanya pun tidak sama.
Selanjutnya, kata fithr (فِطْرٌ) berarti makan, buka, sarapan (Kamus Muthahar, hal. 827-828). Lihatlah penggunaan kata al-fithr dalam beberapa hadits di bawah ini.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan; bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika berjumpa Tuhannya” . (HR. Bukhari Muslim)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الصَّوْمُ يَوْمٌ تَصُوْمُوْنَ وَالْفِطْرُ يَوْمٌ تُفْطِرُوْنَ وَالْأَضْحَى يَوْمٌ تضحون
“Shaum/puasa adalah hari kalian berpuasa, (‘Id) al-Fithri adalah hari kalian berbuka, dan (‘Id) al-Adlha adalah hari kalian menyembelih.” (Sunan at-Tirmidzi no. 697)
Kata fithr berbeda dengan fithrah (فِطْرَةٌ). Sekilas hurufnya memang mirip, tetapi makna dan penggunaannya berbeda. Kata fithrah bermakna kesucian, agama yang lurus, dan naluri. Lihatlah penggunaan kata fithrah dalam beberapa hadits di bawah ini. Bandingkan dengan penggunaan kata fithr di atas.
عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأْظْفَارِ وَغَسْل الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإْبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ
“Ada sepuluh hal dari fithrah (kesucian), yaitu memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan istinjak (cebok) dengan air.” (HR. Muslim).
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ وُلِدَ عَلىَ الفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِهِ
Tidak ada bayi yang terlahir kecuali lahir dalam keadaan fithrah (beragama lurus, yakni muslim). Lalu kedua orang tuanya yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi. (HR. Muslim)
Oleh karena itu, kata ‘id al-fihtri jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti Hari Raya Makan atau Hari Raya Berbuka. Pada hari Idul Fitri (tanggal 1 Syawwal) umat Islam diperintahkan untuk makan dan diharamkan berpuasa. Bahkan salah satu sunnah pada hari raya Idul Fitri adalah makan (sarapan) sebelum melaksanakan shalat ‘id.
Diriwayatkan dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
كَانَ النَّبِيُّ لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ
“Nabi tidak keluar (untuk shalat ‘Id) pada hari Idul Fitri sehingga beliau makan terlebih dahulu”. (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibu Majah)
Kesalahan penerjemahan kata Idul Fitri ternyata mengakibatkan kekeliruan pemahaman akan makna Idul Fitri dan munculnya tradisi dan kepercayaan yang kurang sesuai, bahkan bertentangan, dengan ajaran Islam. Karena mengartikan Idul Fitri sebagai ‘kembali suci’, banyak orang Islam yang menyangka bahwa pada hari Idul Fitri mereka kembali suci, dosa-dosa mereka semuanya diampuni. Kemudian orang-orang ini mengadakan berbagai macam pesta pora; pesta petasan, kembang api, musik, film spesial, belanja, dan pesta-pesta yang lain.
Kami ingin bertanya, dari mana Anda bisa merasa bahwa Anda kembali suci? Apakah Anda bisa memastikan bahwa puasa dan amal ibadah Anda selama di bulan Ramadhan diterima oleh Allah ta’ala? Apakah Anda bisa memastikan bahwa dosa-dosa Anda sudah diampuni oleh Allah ta’ala? Apakah amal ibadah yang Anda lakukan benar-benar sudah sesuai dengan syari’at? Apakah amal ibadah yang Anda lakukan benar-benar ikhlash HANYA karena Allah ta’ala?
Bukankah pada bulan Ramadhan kemarin Anda masih saja berbuat dosa? Masih melihat sesuatu yang diharamkan oleh Allah, masih berbohong, masih menggunjing (ngerasani), masih berkata keji dan kasar, masih menyakiti orang lain? Bukankah di dalam hati masih ada riya` (ingin dilihat orang lain) ketika shalat di masjid, bersedekah, berinfaq, ataupun membayar zakat? AYO JUJUR..!!
Jangan sombong..!! Jangan merasa sok suci. Allah ta’ala mengingatkan kita.
﴿...فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى﴾ {النجم: ٣٢}
“…Janganlah kalian merasa suci. Dia Maha Mengetahui siapa yang bertaqwa”. (QS. An-Najm: 32)
Justru setelah Ramadhan berakhir kita dianjurkan, dengan penuh rasa rendah hati, memperbanyak do’a:
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Taqobbalallohu minna wa minkum
Semoga Allah menerima (ibadah) kami dan kalian”. (Diriwayatkan dari Jubair bin Nufair. Lihat Fiqhussunnah: I/274)
Dalam Lathaiful Ma’arif, hal. 264, Ibnu Rajab al-Hanbali mengutip perkataan Mu’alla bin Fadl;
 “Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka ketika di bulan Ramadhan.”
Merasa senang dengan hadirnya Hari Raya boleh-boleh saja. Namun jangan sampai kelewat batas. Jangan sampai malah memperbanyak dosa melalui acara-acara yang mengandung ma’shiat. Jangan sampai malah lupa dari apa yang dianjurkan oleh agama; memperbanyak takbir, tahlil, dan tahmid, serta doa:
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Wallahu a’lam bish-shawab.

(M. Tajuddin, S.Hum. –Staf Pengajar Pesma Baitul Hikmah)