Saudaraku yang semoga senantiasa
dijaga oleh Allah ta’ala. Pada kesempatan yang baik kali ini marilah sejenak
kita menengok perjalanan hidup seseorang yang mendapat julukan “kekasih Allah”
(khalilullah), seseorang yang menjadi bapaknya para nabi. Bahkan Allah
ta’ala memuji beliau sebagai seseorang yang layak menjadi tauladan. Siapakah
orang itu? Benar. Beliau adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ
خَلِيلًا (۱٢۵)
“Dan
Allah mengangkat Ibrahim sebagai kekasih.” (An-Nisa`: 125)
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang
baik bagimu pada (Nabi) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia….” [al-Mumtahanah:
4]
Ada banyak pelajaran yang bisa kita
petik dari kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Namun pada
kesempatan yang singkat ini, saya mengajak Anda untuk belajar kepada Nabi Ibrahim
‘alaihissalam dalam hal mendidik keluarga. Apa saja pelajaran tentang
pendidikan keluarga yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam?
Pertama, berdoa kepada
Allah ta’ala agar diberi keturunan yang sholih.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
(۱۰۰) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (۱۰۱)
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah
kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka
Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar“ (ash Shoffat: 100-101)
Sudaraku yang semoga
senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh orang tua adalah
kenakalan anak-anak, terutama ketika mulai memasuki masa remaja. Bahkan ada
yang bilang, kenakalan remaja sekarang sungguh di luar batas, sungguh
mengherankan, sungguh tak pernah terbayangkan, sungguh mengiris-iris hati,
sungguh terlalu..!! Mulai dari suka bolos sekolah, suka berantem, suka
ngerokok, suka minum miras, suka narkoba, suka mencuri, suka merampok, suka
mendekati zina, suka berbuat zina, suka menjual teman sekolah untuk para
pezina, suka ninggalin sholat, dan suka-suka yang lain... Sungguh, Na'udzu
billah min dzalik...
Pada bulan Syawwal 1434 H yang lalu, saya mengikuti Istihlal
jama'ah pengajian al-Kayyis di ndalem Ust. H. Junaidi Sahal di daerah
Jemursari. Di dalam taushiyah acara tersebut, Abina KH. M. Ihya Ulumiddin
menjelaskan bahwa seorang mukmin itu sudah diberi senjata yang maha ampuh oleh Allah
ta'ala untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup, bahkan sebelum persoalan
itu datang. Senjata yang maha ampuh itu adalah DOA.
Sederhana saja. Kita mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi
di dunia ini -semuanya- tidak terlepas dari "tangan" kekuasaan dan
kehendak Allah ta'ala. Jika kita datang kepada Allah ta'ala, mengakui
ke-sangatkurang-an kita, mengakui ke-sangatlemah-an kita, mengakui ke-sangatbutuh-an
kepada -Nya, kemudian kita menghaturkan hajat kita dan Allah ta'ala
mengabulkannya, maka bereslah permasalahan hidup kita. Sesederhana itukah?
"Barangsiapa mengetuk pintu terus menerus, niscaya dia bisa
memasukinya"
Olehkarena itu, selayaknya kita berdoa kepada Allah ta’ala bukan
hanya ketika kita menghadapi masalah saja... tetapi kita berdoa kepada Allah
sebelum masalah itu datang, kita berdoa kepada Allah setiap saat, kita berdoa
kepada Allah sebagai sarana munajat kita kepada-Nya...
Kembali kepada permasalahan kenakalan remaja yang sering dikeluhkan
oleh orang tua. Ada sebuah pertanyaan yang ingin kami sampaikan. Apakah dulu
sebelum menikah, ketika menikah, ketika memproses wujudnya anak, ketika hamil,
ketika anak baru saja lahir, ketika remaja itu masih balita, ketika remaja itu
masih berupa anak yang belum baligh, para ayah dan bunda senantiasa berdoa
kepada Allah ta'ala? Berdoa agar Allah ta'ala menjadikan anak-anak ayah-bunda
anak-anak yang sholih sholihah, anak-anak yang baik?
Kepada siapa saja yang berharap anak-anak yang sholih-sholihah,
anak-anak yang baik, Allah ta'ala telah menyiapkan untuk kita semua sebuah
senjata yang maha ampuh. Dahulu kala Bapak kita, nabi Ibrahim 'alaihissalam,
menggunakan senjata yang maha ampuh ini. Beliau pun terkenal sebagai Bapak para
Nabi karena keturunan beliau banyak yang diangkat oleh Allah ta'ala menjadi
nabi. Diantaranya adalah Nabi Ishaq, Nabi Ismail, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi
Ayyub, Nabi Dzul Kifli, Nabi Syu’aib, Nabi Yunus, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi
Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Isa, serta Nabi Muhammad ‘alahimush
sholatu wassalam. Senjata yang maha ampuh itu adalah doa:
رَبّ هَبْ لِى مِنَ الصَالِحِيْن
"robbi hab li minash-sholihin..."
-wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (anak-anak) yang termasuk
orang-orang yang sholih-
Selain itu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga berdoa:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ
وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (۴۰)
“robbij’alni muqimash-sholati wa min dzurriyyati robbana wa
taqobbal du’a`”
-wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan sholat, dan
juga keturunanku. Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doaku- (QS. Ibrahim: 40)
Saya yakin bahwa kita semua menginginkan anak-anak yang
sholih-sholihah. Merekalah sumber kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Ketika
kita masih hidup, mereka berbakti dengan berbuat baik kepada kita, memandang
wajah kita dengan tatapan kasih sayang, berbicara kepada kita dengan bahasa
yang menyenangkan dan senantiasa berusaha membahagiakan kita. Ketika kita sudah
meninggal dunia, mereka berbakti kepada kita dengan senantiasa berdoa dan
memohonkan ampun untuk kita.
Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam pernah bersabda, ” Apabila manusia
mati, terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: Shadaqah jariah, Ilmu
yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan untuk orang tuanya.”(HR.Muslim
dari Abu Hurairah)
Lebih lanjut, Rasulullah shollAllahu alaihi wa sallam menjelaskan
bahwa setelah meninggal dunia, derajat orang masih bisa diangkat. Si mayit yang
merasa diangkat derajatnya terkejut dan berkata,” Ya Allah, apa ini?” maka akan
dijawab, ” Itu karena anakmu selalu memintakan ampun untukmu.” (HR.Bukhori
dalam Adab al-Mufrad, dari Abu Hurairah).
Yakin dalam berdoa
Salah satu hal yang sangat penting
adalah, kita harus yakin dalam berdoa. Yakin terhadap ke-MahaBesar-an Alloh
ta’ala. Yakin bahwa Alloh ta’ala Maha Mampu mewujudkan doa-doa kita.
Al-‘Alim Sufyan bin Uyainah pernah
mengatakan:
“Jangan sekali-kali pesimis dalam
berdoa. Optimislah. Iblis saja doanya dikabulkan, ketika dia minta umur yang
panjang”.
Nah, Iblis saja doanya dikabulkan
oleh Alloh ta’ala. So. Yakin, yakin, yakin..!!
Sabar dalam berdoa
Nabi Ibrahim diberi karunia oleh
Alloh ta’ala, berupa anak yang sangat sabar yaitu Nabi Isma’il, ketika beliau
berusia 86 tahun. Benar. Sudah cukup sepuh. Namun begitulah. Beliau
sangat sabar dalam berdoa. Beliau tidak pernah putus asa. Beliau tidak pernah
berhenti. Beliau sangat ngeyel dalam berdoa. Beliau senantiasa berbaik
sangka kepada Alloh ta’ala. Sungguh, Alloh ta’ala Maha Mengabulkan doa
hamba-hamba-Nya.
Saudaraku. Marilah kita
menteladani Ayah kita, Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Marilah kita
senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala agar diberi keturunan yang
sholih-sholihah. Kapan kita berdoa? Kapan pun dan di mana pun. Lebih sering
lebih baik. Terutama setiap selesai sholat fardlu karena waktu tersebut
merupakan salah satu waktu yang mustajabah.
Kedua, mengajarkan ketauhidan
kepada anak
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ
قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (۱۳۱) وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ
بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا
تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (۱۳٢)
“Ketika Tuhannya
berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku
tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". Dan Ibrahim telah mewasiatkan
ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata):
"Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka
janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (al Baqoroh: 131 –
132)
Saudaraku yang semoga
senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Sebagai orang tua, kita
wajib untuk memenuhi kebutuhan anak kita. Selain memenuhi kebutuhan berupa
baju, makanan dan tempat tinggal, orang tua juga harus memperhatikan pendidikan
anak, terutama pendidikan tauhid. Orang tua perlu mengenalkan Allah ta’ala
kepada anaknya sedari dini. Orang tua semestinya senantiasa berusaha agar
anak-anaknya mengenal Allah ta’ala, mengetahui kewajiban mereka kepada-Nya,
memahami hak-hak Allah ta’ala terhadap mereka, sehingga mereka kelak tumbuh di
bawah naungan cahaya ketuhanan.
Mari kita jujur. Berapa
banyak waktu yang kita luangkan, tenaga dan pikiran yang kita curahkan, serta
harta yang kita belanjakan untuk mendidik anak kita agar mengenal dan
senentiasa dekat dengan Allah ta’ala? Bandingkan dengan waktu, tenaga, pikiran,
dan harta yang kita habiskan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan
anak. Padahal, ketauhidan dan keterikatan kepada Allah ta’ala inilah yang akan
menjadi kontrol bagi anak-anak kita agar senantiasa melakukan kebaikan dan
meninggalkan kema’shiatan. Ketauhidan inilah yang menjanjikan kebahagiaan dan
keselamatan anak-anak kita di dunia dan akhirat.
Ayah kita, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
memberikan teladan bahwa hendaknya orangtua mengajarkan ketauhidan kepada
anaknya. Salah satu efeknya bisa kita lihat dalam ayat berikut:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى
فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ
افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (۱۰٢)
“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha
bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat
dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia
menjawab: “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada Anda; insyaallah
Anda akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As Shofat : 102)
SubhanAllah… Itulah jawaban yang keluar dari
mulut seorang anak yang tumbuh dalam bimbingan ketauhidan. Walaupun perintah
itu sangat berat, karena keyakinannya kepada Allah ta’ala, karena husnudzonnya
kepada Allah ta’ala, sang anak menjawab pertanyaan ayahnya dengan mantap tanpa
sedikitpun keraguan, “wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan –oleh Allah-
kepada Anda”.
Saudaraku yang semoga
senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Alkisah, ada seorang guru
yang memanggil semua muridnya. Guru tersebut memberikan seekor burung kepada
setiap murid dan menyuruh mereka menyembelih burung itu. Sang guru
mengingatkan, “Kalian harus menyembelihnya di sebuah tempat yang tidak dilihat
dan diketahui oleh siapa pun.”
Maka
para murid pun berangkat melaksanakan tugas yang diberikan gurunya. Di antara
mereka ada yang pergi ke puncak bukit. Ada yang pergi ke gua terpencil. Bahkan
ada yang pergi ke balik pepohonan tinggi yang tersembunyi. Ketika merasa tak
ada yang melihat, mereka segera menyembelih burung yang dibawanya.
Tak lama
kemudian, mereka kembali dengan membawa burung sembelihannya. Kecuali satu
murid. Sang Guru lalu bertanya kepadanya," Kenapa kamu tidak menyembelih
burung itu?"
Murid tersebut
menjawab, "Tadi guru menyuruhku menyembelih burung di tempat yang tak
terlihat oleh siapa pun. Tapi, aku tak dapat menemukan tempat seperti itu. Allah
kan Maha Melihat dan akan melihat perbuatanku."
Itulah gambaran seorang
anak yang hidup dalam keterikatan dengan Allah ta’ala. Kapan pun dan di mana
pun, sang anak merasa senantiasa diawasi oleh Allah ta’ala.
Saudaraku yang semoga
senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala.
Sungguh. Setiap anak
lahir dalam keadaan fitroh, memiliki kecenderungan kepada Allah ta’ala. Setiap
anak terlahir dengan membawa anugerah berupa kecenderungan berbuat baik.
Mungkinkah, ketika anak kita lahir, di benaknya terbesit, “aku ingin menjadi
anak nakal”, “aku ingin melawan orang tuaku”, “aku ingin berma’shiat kepada
Alloh”? Mungkinkah hal seperti itu terjadi?
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak
mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang
yahudi atau nasrani atau majusi….
Saudaraku yang semoga
senantiasa dijaga oleh Allah ta’ala. Marilah kita menteladani ayah kita, Nabi Ibrahim
‘alaihissalam, dalam mendidik anak. Diantaranya adalah dengan senantiasa
berdoa kepada Allah ta’ala agar dianugerahi anak dan keturunan yang sholih
serta mengajarkan ketauhidan kepada anak. Semoga Allah ta’ala memberikan
pertolongan kepada kita sehingga kita mampu menteladani ayah kita, Nabi Ibrahim
‘alaihissalam, dalam mendidik anak-anak kita. Amin.
[tije/LP2A PBSB
Kemenag]
sebuah renungan yang bagus buat kita calon orang tua....:-)
BalasHapusizin share Mas.
Rizqi Harwinda